Sang Musafir

Sang Musafir
Jebakan yang Seolah Bukan Jebakan


__ADS_3

“Pahlawan Man mestinya sudah mengetahui mengenai Pemangku Langit, bukan?”


MANTINGAN sekadar menganggukkan kepala sebagai balasan.


“Desas-desus kabar dari dunia persilatan, Istana Koying membuka pintu selebar-lebarnya untukmu.”


Toko ini nyatanya sangat luas, berbanding terbalik dengan apa yang tampak dari luar. Terdapat banyak sekat-seka. Di dalam sekat-sekat itulah tersimpan beragam macam tetumbuhan herbal. Aromanya sangat pekat dan menusuk. Terdapat pula ruangan bawah tanah, dan ke sanalah Wilguna membawa Mantingan.


“Apakah dikau akan menerimanya?” tanya Wilguna sambil terus menuruni anak tangga.


“Kurasa tidak, Nenek. Daku tidak terbiasa menetap di satu tempat untuk waktu yang terlalu lama. Dan daku tidak ingin terlibat dengan urusan ketatanegaraan yang kerumitannya bagai tiada dapat terurai.” Mantingan berkata halus, seakan dirinya sama sekali tidak membicarakan penolakan.


“Memang begitulah yang terjadi di kerajaan. Seperti katamu tadi, banyak sekali kerumitan yang seolah tidak dapat terselesaikan. Namun di sana, hidup dikau sudah pasti akan senang terus. Uang melimpah, makanan-makanan enak, gundik-gundik jelita, dayang-dayang penurut, pasukan yang bersedia melindungi dengan nyawa. Ah, pokoknya banyaklah.”


Mantingan menggeleng. Itu terdengar sangat mengerikan di telinganya. Gundik-gundik jelita? Dia hanya ingin satu wanita. Dia hanya ingin Sasmita-nya ....


Sedangkan berguna apa pula pasukan pelindung? Mantingan tahu betul bahwa Kerajaan Koying justru akan memanfaatkannya untuk melindungi seluruh kerajaan, tidak terbatas pada istana saja.


Mantingan pula tidak ingin hidup bergelimangan harta. Selagi uangnya masih cukup untuk keperluan mengembara, maka semuanya dapat dianggap telah baik-baik saja.


Makanan-makanan enak? Sungguh, Mantingan lebih senang memakan hidangan sejuta pengembara: dendeng yang diasapi hingga kering.


Mereka selesai menuruni tangga. Di ruangan bawah tanah ini, terdapat empat lorong yang mengarah ke empat jurusan. Wilguna lekas menuntun Mantingan memasuki lorong yang mengarah ke barat.


“Tetapi betapa pun, daku senang sekali mendengar keputusanmu. Sebagai pendekar, kita memang hidup di dunia persilatan, bukan dunia awam. Memang harus sedikit banyak memisahkan diri, jika tidak ingin terjadi kekacauan yang tiada diperlukan.” Wilguna terkekeh pelan dengan suara seraknya. “Para pendekar sama sekali tidak membutuhkan raja di dunia awam, termasuk pula Pemangku Langit, itu hanya siasat raja-raja untuk memusnahkan dunia persilatan.”


Kali ini Mantingan menganggukkan kepalanya. Perkataan wanita tua itu banyak benarnya. Pemangku Langit hanya akan menghancurkan dunia persilatan, biar lambat tetapi pasti.


Wilguna berhenti tepat di hadapan salah satu pintu ruangan yang tersambung dengan lorong itu. Dia menggenggam gagang pintu dengan tangan keriputnya, tetapi urung membukanya. Ditatapnya Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh.


Mantingan menatap datar sebelum berkata dengan datar pula, “Nenek, mengapa dikau masih mau menjebakku?”


Wilguna tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Terpampang jelas di wajahnya. Bibirnya bergetar. Matanya tidak berani menatap Mantingan dengan langsung, sehingga hanya menatap kering lantai lorong.

__ADS_1


“Siapa yang menunggu di dalam sana, Nenek?” Mantingan kembali bertanya.


“Ketua jaringan kami.” Wilguna menjawab singkat.


Mantingan menganggukkan kepalanya. Sedari awal, dirinya memang telah menduga bahwa toko ini memiliki keterlibatan dengan jaringan bawah tanah dunia persilatan. Untuk apakah kiranya sebuah toko kecil memiliki bangunan bawah tanah yang begitu luasnya sehingga mampu menampung belasan ruangan berukuran sedang di dalamnya?


“Apa urusan kalian denganku?” Mantingan mulai menggenggam hulu Pedang Savrinadeya di sabuk pinggangnya, pula membuka kuncian Pedang Kiai Kedai.


“Kami membutuhkan bantuanmu, jika dikau berkenan. Kami tidak akan memaksamu, tetapi dengarkanlah terlebih dahulu apa yang akan disampaikan oleh ketua jaringan kami di dalam ruangan ini. Kami sudah lama menunggumu.”


“Menungguku?” Mantingan melipat dahi. “Jadi kalian telah mengetahui tentang perjalananku? Dengan pertanyaan lain, apakah kalian telah lama memata-mataiku?”


“Tidak sama sekali, Pahlawan Man jangan salah paham.” Wilguna menelan ludah, betapa hawa pembunuh yang tidak sengaja Mantingan keluarkan telah menekannya. “Alangkah baiknya jika Pahlawan Man masuk terlebih dahulu. Ketua akan menjelaskan semuanya kepadamu.”


Wilguna mendorong pintu. Memperlihatkan sebuah ruangan gelap-gulita di dalamnya. Wajahnya terlihat meyakinkan.


Melirik kecurigaan di wajah Mantingan, Wilguna mulai menunduk amat rendah. Hampir-hampir bersujud. “Perempuan tua ini memohon kepadamu, Pahlawan Man.”


Mantingan melangkah masuk, sementara Wilguna masih terus menunduk dalam-dalam di tempatnya. Teramat sangat bersyukur.


Pintu tertutup tepat setelah Mantingan melangkah masuk. Tetapi tidak berdebam. Melainkan teramat sangat lembut dan halus. Hampir-hampir tidak menimbulkan suara. Muncul sebuah segel sihir bercahaya kehijauan di badan pintu, Mantingan ketahui bahwa itu adalah mantra kedap suara. Bukan suatu bahaya.


Empat obor di setiap sudut ruangan menyala. Memampangkan isi ruangan. Lenggang. Hanya ada dua bangku yang saling berhadapan di antara sebuah meja. Di salah satu bangku tersebut, terdapat seseorang berjubah hitam lebar dan panjang, bersarung tangan hitam, dan bercaping lebar dengan kain hitam di pinggirannya—sehingga wajahnya telah benar-benar tertutupi.


Mantingan mengernyitkan dahi. Orang itu teramat sangat tertutup dengan warna serba hitam. Tidak sedikitpun Mantingan melihat tampang aslinya. Bahkan sepotong kulitnya pun tidak.


Dengan tangannya, orang itu menunjuk bangku yang berseberangan dengan tempatnya duduk. Meminta Mantingan untuk duduk di sana. Pemuda itu pun menurut saja.


“Selamat datang, Pahlawan Man.”


Rupa-rupanya suara wanita! Dari yang terdengar, suara itu halus dan lembut, meski si pemilik suara mencoba untuk menampilkan ketegasannya. Jelas masih muda.


Mantingan terdiam sambil menatap datar. Tidak tahu harus membalas apa. Terlebih lagi, dirinya sedang mencari tahu mengapa Ilmu Mendengar Tetesan Embun tidak dapat melihat rupa orang di depannya itu, seolah hanya ada bangku kosong saja di sana.

__ADS_1


“Sepertinya dikau tidak terlalu senang.”


Betapa merdu, lembut, dan syahdu suara perempuan itu! Mantingan yang semulanya keras, entah mengapa jadi melunak. Suara itu membuainya.


“Daku memang tidak senang.” Begitulah Mantingan membalas. Suaranya terdengar jauh lebih berat jika dibandingkan dengan suara perempuan di depannya. “Kalian boleh dianggap telah menculikku. Siapakah kiranya yang senang diculik?”


“Kami terpaksa melakukannya, wahai Pahlawan Man yang gagah perkasa. Jika dikau tidak senang, maka sungguh maafkanlah kami. Segala macam—”


“Ceritakan seperlunya saja. Daku sedang terburu-buru.” Mantingan memotong dengan halus. Tidak begitu tajam.


Terdengar helaan napas dari perempuan di depannya itu. Lalu terdengarlah dia berkata, “Kami berhasil mengumpulkan segala macam kabar tentang dirimu. Kami tahu bahwa dikau memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tapa Balian. Dan kini, setelah pak tua itu diculik, dikau sedang bergerak menuju Koying. Tetapi kami hanya dapat menebak apa yang akan dikau lakukan untuk membebaskan Tapa Balian. Mungkin, dikau juga tidak terlalu mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Maka di sini, daku ingin menawarkan dikau sesuatu yang mungkin saja dapat disebut sebagai kerjasama. Dan jika dikau setuju nantinya, kupastikan dikau akan berhasil membebaskan Tapa Balian.”


Mantingan menegakkan punggungnya. Dengan pandangan mata antara penasaran dengan keterkejutan.


___


catatan:


Jangan lupa untuk vote dan share.


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 April 2022.


Favorit 1370\= 2 episode


Favorit 1400\= 5 episode


Vote 950\= 2 episode


Vote 1000\= 5 episode


Tunggu apalagi? Vote & share sekarang dan dapatkan bonus episodenya!


__ADS_1


__ADS_2