
MANTINGAN berhenti tepat di halaman sebuah bangunan besar yang terletak di pinggiran jalan kotaraja yang pun besar juga. Bangunan itu kiranya memiliki ketinggian hingga sepuluh depa, yang berarti ada sekitar sepuluh tingkatan lantai di dalamnya. Hampir semua bagian bangunan itu adalah kayu, yang betapa pun tampak amat mengilap dan rapi. Pada sisi depan bangunan, terdapat sebuah plakat besar yang bertuliskan “Penginapan Barisan Bintang”.
Setelah sedikit menurunkan bagian depan capingnya, agar wajahnya tidak akan mudah untuk dikenali sebab betapa pun rupa wajah Pahlawan Man telah tersebar luas di telaga dan jaringan rahasia persilatan, dirinya mulai berjalan memasuki bangunan tersebut.
Setibanya di pintu masuk, seorang pelayan perempuan langsung menyambutnya. Mantingan balas pula dengan mengangguk dan tersenyum ramah, meskipun ia lihat betul betapa pelayan perempuan itu tidak terlalu menyukai penampilannya.
Maka begitulah Mantingan dengan lekas berjalan menuju meja penerimaan tamu. Namun nyata-nyatanya, bukan hanya pelayan perempuan yang bertugas menyambut tamu di dekat pintu penginapan itu saja yang memandangnya dengan tatapan tidak suka, pelayan-pelayan lain yang ada di belakang meja penerimaan pun melempar tatapan yang sedemikian pula.
Bahkan, mereka mengungkapkannya dengan cukup terang-terangan.
“Maafkan kami, Penginapan Barisan Bintang tidak menyediakan kamar murah untuk astacandala.”
Mantingan tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan pelayan itu. Betapa dirinya telah dianggap sebagai astacandala; golongan orang tanpa kasta yang biasanya hidup tanpa keterikatan norma!
Andaikata tempat ini adalah penginapan yang lain, Mantingan akan segera angkat kaki tanpa perlu diusir, tetapi tempat yang didatanginya sekarang ini adalah Penginapan Barisan Bintang, tempat di mana Rashid menunggunya.
“Daku memiliki uang.” Mantingan mengeluarkan belasan keping emas dari dalam pundi-pundi lalu meletakkannya di atas meja. “Dengan semua keping emas ini, berapa lama diriku bisa menginap?”
Melihat bahwa Mantingan bukanlah orang sembarangan terlepas dari penampilannya, pelayan-pelayan itu segera mengubah sikap. Salah satu ri mereka segera menjawab dengan teramat sangat sopan, “Ah, Tuan, dengan semua uang ini Tuan bisa mendapatkan kamar paling bagus yang kami miliki selama tiga malam lamanya ....”
Mantingan mengeluarkan belasan keping emas lagi, membuat pelayan itu tidak bisa menutup mulutnya. Tercengang. “Daku menginginkan kamar itu untuk tujuh malam. Mungkin akan lebih, jadi jangan menjanjikan kamar itu pada orang lain sebelum waktuku habis. Apakah bisa?”
__ADS_1
Berbeda dengan pelayan yang berbicara kepadanya itu, suara Mantingan terdengar sangat dingin. Ia bukanlah golongan orang yang akan tetap memberi rasa hormat kepada siapa pun yang tidak menghormatinya. Terlebih lagi, Mantingan sangat tidak menyukai orang yang mengambil penilaian atas seseorang berdasarkan penampilannya.
Mengeluarkan puluhan keping emas sekaligus memanglah disengaja olehnya, itu untuk menunjukkan kepada pelayan-pelayan itu bahwa orang-orang yang berpenampilan buruk seringkali memiliki kekuatan yang jauh di atas mereka. Jangan pernah meremehkan orang berdasarkan penampilannya. Bukankah tidak masalah memberi sedikit pelajaran pada orang lain yang tidak mengerti?
“Tentu, tentu saja bisa Tuan!” Tidak mau tertinggal, pelayan yang lainnya pun turut menjawab. “Dengan semua uang ini, Tuan akan menerima sejumlah kembalian. Tetapi jika Tuan mau membelanjakan semuanya di penginapan ini, kami akan memberikan pelayanan lebih kepada Tuan.”
“Itu akan bagus.” Mantingan mengangguk pelan. “Temanku akan datang kemari, bersama seekor kerbau nantinya. Jika dia mencariku, maka antar dirinya ke kamarku. Tetapi jika dia tidak mencariku, maka enyahkan saja dirinya. Dan kuharap, kalian juga menyediakan kandang yang bisa dipakai untuk kerbauku.”
“Tentu, Tuan! Semua itu akan kami siapkan. Marilah sekarang biar sahaya antar Tuan menuju kamar.”
Pelayan itu baru hendak bergerak meninggalkan meja penerimaan tamu, sampai seorang pelayan lain tetiba saja datang memapas lengan Mantingan.
“Marilah Tuan, biar diri murahan sahaya yang bernama Lika ini mengantar Tuan.”
“Lika, bukankah tugas dikau hanya menyambut pengunjung-pengunjung yang datang?” Pelayan yang masih berada di belakang meja penerimaan tamu itu tampak tidak terima.
“Memangnya di tempat ini ada aturan untuk itu?” Pelayan yang bernama Lika untuk mendelik tajam. Senyum hangat di bibirnya hilang seketika. “Lagi pula, bukankah diriku adalah satu-satunya perempuan yang pantas menemani Tuan Muda ini?”
Mantingan mengerutkan dahi. Mengapakah hanya dirinya saja? Apakah karena Lika menganggap dirinya memiliki penampilan di atas rerata, sehingga merasa amat pantas menemani Mantingan yang sayangnya tidak begitu tertarik pada kecantikan lahiriah? Namun meskipun begitu, dirinya masih tetap diam. Bukankah untuk sekarang, bersikap diam adalah satu-satunya yang terbaik?
“Baiklah! Lakukan apa saja yang dikau suka, tetapi kami akan tetap melaporkan ini kepada—”
__ADS_1
“Kepada siapa?” Sekali lagi, perempuan itu memotong tajam. “Kepada atasan kita, hah?”
“Jika benar sedemikian, memangnya mengapa?”
“Hahaha! Tidakkah dikau sadar bahwa dia akan teramat setuju denganku? Jika tamu merasa puas bersenang-senang bersama diriku, maka sudah pasti dirinya akan kembali berkunjung ke penginapan ini di kemudian hari, bukan?” Perempuan itu mengelus punggung tangan Mantingan dengan lembut sambil tersenyum lebar. “Marilah Tuan, kita tidak perlu berlama-lama di sini, atau mereka akan tambah mengganggu kesenangan kita berdua.”
Setelah punggung tangannya diperlakukan seperti itu, bukannya merasa senang, Mantingan justru kesal. Bahkan Bidadari Sungai Utara tidak pernah melakukan hal seperti itu kepadanya, bagaimana perempuan ini begitu lancang mendahului orang yang teramat sangat dicintainya itu?
Kali ini, Mantingan tidak dapat diam dan menahan diri lebih lama lagi. Dikibaskanlah lengannya agar terlepas segera dari gaitan perempuan itu.
“Memangnya siapa yang hendak bersenang-senang denganmu?” Mantingan menyalak. Kali ini dirinya sungguh kesal, sebenar-benarnya kesal dari kesal! “Cukup antarkan daku menuju kamar yang telah kupesan, daku tidak menuntut lebih dan tidak pula menuntut kurang.”
“Memangnya apakah kurangnya daku, Tuan?” Lika menatap Mantingan dengan mata mengerjap-erjap, membuat Mantingan ingin segera berkelebat pergi dari tempat ini sekarang pula.
“Jika kalian tidak keberatan, maka daku bisa mengantarkannya ke kamar. Telah kukenali seluk-beluk penginapan ini dengan teramat baik.”
Sesuara muncul. Semua orang, termasuk Mantingan, menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Seorang pria berjanggut lebar berjalan santai ke arah mereka sambil tersenyum lebar. Betapa dapat Mantingan kenali bahwa orang itu adalah Rashid!
“Nah, biarkan saja Tuan Raksa yang mengantar tamu kita ini. Sudah berpuluh-puluh kali dirinya berkunjung ke Penginapan Barisan Bintang, beratus-ratus hari lamanya dia menginap, menjadi hal yang teramat mustahil jika dirinya sampai tersesat di sini.” Seorang pelayan yang sedari tadi diam kini berujar dengan semangat, seolah saja persoalan telah selesai semua.
__ADS_1
Pelayan lainnya saling berpandangan. Meskipun mereka tidak suka, tetapi betapa pun perkataan yang diucapkan kawannya itu adalah benar. Itulah penyelesaian masalahnya. Maka pada akhirnya, mereka menunjukkan rasa setuju dengan mengangguk.
“Baguslah. Sekarang katakanlah ada di urutan keberapa kamarnya?”