
MENGETAHUI bahwa pendekar-pendekar itu memutuskan untuk menyerang langsung setelah serangan sebelumnya tidak berhasil, Mantingan segera berpikir cepat.
Untuk saat ini, setidaknya ia memiliki tiga pilihan, yang masing-masingnya memiliki keuntungan serta kekurangan tersendiri.
Pilihan pertama adalah berkelebat maju dan menyerang musuh-musuhnya sebelum mereka melancarkan serangan. Hal ini dapat membuatnya menang lebih cepat serta mudah, sebab mereka sama sekali tidak mengenali jurus-jurus mendadak yang dikeluarkan olehnya, tetapi di sisi lain juga dapat membuatnya kalah seketika jikalau musuh berhasil membaca jurus-jurusnya.
Pilihan kedua adalah dengan mundur dan menghindari serangan musuh. Bukan hal yang sulit untuk melarikan diri dari mereka jika Mantingan menginginkannya, tetapi hal itu dapat berdampak buruk di masa mendatang sebab jaringan pendekar-pendekar itu telah pasti akan terus memburunya, dengan begitu dirinya tidak akan bisa lagi tinggal di Pemukiman Miskin Kotaraja dengan cukup aman.
Sedangkan pilihan terakhir adalah dengan bertahan di tempat. Tidak bergerak maju dan tidak pula bergerak mundur. Membuat musuh-musuhnya menyerah sebab kehabisan tenaga. Namun siasat ini ibarat pisau bermata dua, sebab akan buruk jadinya jika Mantingan yang lebih dulu kehabisan tenaga.
Namun sebelum Mantingan sempat memikirkan pilihan terbaik yang dapat diambilnya saat ini, tetiba saja ratusan bayangan berukuran kecil berkelebatan ke arah sepuluh sosok bayang-bayang hitam yang berniat menyerangnya itu.
Ratusan kelebat bayangan berukuran kecil-kecil itu bila diperhatikan dengan lebih saksama, maka akan terlihat menyerupai bentuk dedaunan. Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang dapat menerjemahkan suara menjadi bentuk pun menunjukkan hal sedemikian rupa. Mungkinkah ....
“Mundur!”
Tidak banyak berpikir lagi, Mantingan segera mengentakkan kakinya kuat-kuat! Sejurus tubuhnya melesat ke belakang, menghindari ribuan pisau terbang yang berlesatan ke tempat dirinya berdiri tadi.
Jika Mantingan tetap memutuskan untuk bertahan atau justru maju menyerang, maka akan teramat mustahil bila tubuhnya tidak terajam satu-dua pisau beracun yang dapat melayangkan nyawanya dalam sekedip mata. Benar-benar gila!
Beruntunglah suara itu muncul tepat waktu untuk memperingatinya, sehingga ia sama sekali tidak terlambat untuk melesat ke belakang. Mantingan mengetahuinya dengan teramat pasti, suara itu berasal dari Chitra Anggini!
Pertarungan masih belum usai sepenuhnya. Ribuan daun terbang yang dikendalikan oleh Chitra Anggini masih berlesatan di langit malam. Menangkis pisau-pisau terbang yang mengincar dirinya di balik kekelaman. Ratusan lelatu api tercipta hanya dalam waktu sekedip mata. Dentang-dentang logam yang beradu bersamaan dalam satu waktu membuatnya terdengar seperti suara gong yang dipukul keras-keras.
__ADS_1
Mantingan tetap memasang kuda-kuda dengan kewaspadaan yang bukan main tingkatannya. Baru kali ini dirinya merasa sama sekali tidak berdaya di hadapan musuh! Ribuan pisau dan jarum beracun yang berlesatan dengan kecepatan tinggi bukanlah sesuatu yang dapat dihadapinya!
Hingga dalam beberapa kejap mata kemudian, setelah lebih dari ribuan kali pertukaran serangan antara Chitra Anggini dengan pendekar-pendekar itu, berbarengan dengan sempurnanya matahari tenggelam; pertarungan usai.
Tidak lagi terlihat lelatu api. Tidak lagi terdengar dentang logam. Gelap dan sunyi. Tiada lagi yang dapat dilihat maupun didengar selain kehampaan. Benar-benar sunyi yang terlalu sunyi sehingga terasa amat mencekam.
“Ini hanya sekadar peringatan untuk kalian agar tidak berpikiran untuk mengacau di sini.” Setelah terdengar suara itu, disusullah dengan kelebatan-kelebatan yang bergerak menjauh. Baik Mantingan maupun Chitra Anggini tahu bahwa mengejar mereka adalah pilihan yang sangat buruk.
Tak lama kemudian, Chitra Anggini berjalan keluar dari persembunyiaannya. Mendekati Mantingan. Memanglah sebelumnya gadis itu bersembunyi di balik bayangan sebuah pohon rindang yang ada di pinggiran jalan. Bagi pengendali sihir seperti dirinya, menampakkan diri secara terang-terangan pada musuh adalah tindakan bodoh yang dapat membawa kematian.
“Apa yang terjadi?!” Mantingan cepat-cepat bertanya, tentulah sebab apa-apa yang baru dialaminya barusan sangat tidak masuk akal!
“Mereka menggunakan sihir untuk mengendalikan senjata-senjata itu,” balas Chitra Anggini pula dengan cepat, “sama seperti diriku.”
“Mereka juga menggunakan sihir untuk melakukan itu.” Chitra Anggini hampir menyamai jawabannya tadi. “Sihir perpindahan—mereka menguasai sihir itu. Seluruh senjata yang mereka pakai sebenarnya berada di tempat lain, tetapi kemudian dipindahkan dengan teramat cepat ke tangan mereka.” Chitra Anggini kemudian menunjuk sekitarnya. “Lihatlah, senjata-senjata mereka sudah tidak ada di sini lagi.”
Mantingan mengusap wajahnya. Tampak teramat musykil. “Bagaimana bisa ada sihir seperti itu ....”
Mantingan lunglai. Jatuh. Bersimpuh. Dirinya merasa telah terkalahkan. Jika bukan karena Chitra Anggini, sudah tentu dirinya akan mati saat ini. Tinggal tersisa mayat dengan kulit menghintam dan mulut berbusa sebab racun ganas. Tetapi betapa takdir masih memberikannya kesempatan hidup.
Mantingan melirik Chitra Anggini yang dengan heran berdiri di hadapannya.
“Kau baik-baik saja, Mantingan?” Chitra Anggini merasa terdapat sesuatu yang salah, sebab tidak biasanya ia melihat seorang pendekar bersimpuh tak berdaya hanya karena mengetahui dirinya telah lolos dari kematian.
__ADS_1
Namun sejurus kemudian, Mantingan berdiri dan memeluk Chitra Anggini. Begitu eratnya, bagai tiada lagi sesuatu apa yang dapat lebih erat daripada itu.
Chitra Anggini, tentu saja, mematung di tempatnya. Betapa dirinya sama sekali tidak menduga bahwa Mantingan akan memeluknya tiba-tiba! Sehingga dirinya tidak membalas pelukan itu. Hanya terdiam, dan memang benar-benar terdiam seperti sebuah patung.
“Aku sudah mati, Chitra. Aku sudah mati. Aku sudah mati ....” Mantingan menggumamkan kalimat berulang.
“Tidak, kau masih hidup. Jantungmu masih berdetak, napasmu masih berembus!” Chitra Anggini berbisik tegas. Tentu dalam keadaan Mantingan memeluknya, ia dapat merasakan degup jantung pemuda itu menggedor-gedor dadanya; ia pula dapat merasakan deru napas pemuda itu menggelitik leher jenjangnya. Bukankah dengan semua itu, Mantingan jelas-jelas masih dalam keadaan hidup?
“Tidak! Aku telah mati. Hanya saja tanpa dirimu, aku akan terbaring menjadi bangkai. Aku merasa telah mati betapa pun adanya.” Mantingan melepas rangkulannya. Kini menatap Chitra Anggini sambil memegangi kedua pundak gadis itu. “Chitra, utang budimu kepadaku telah dapat dianggap selesai. Dikau tidak perlu merasa harus membayarnya lagi. Tuntas semua! Sekarang pergilah, jalani pengembaraan yang dikau inginkan. Pergilah ke utara, menemui peradaban yang bernama Kutai itu. Penuhi panggilan hatimu. Tidak perlu pusingkan daku di sini, tidak perlu pula dikau merasa terbebani dengan menjaga diriku.”
Chitra Anggini memapas kedua lengan Mantingan. Menatap langsung ke arah matanya dengan teramat tajam.
“Apa yang dikau tatap, Chitra? Apa pula yang dikau tunggu? Pergilah, sebelum jadi terlambat. Sangat berbahaya di sini!”
“Aku akan tetap di sini!” Chitra Anggini setengah membentak. “Jika selama ini kauanggap diriku hanya ingin membalas budi, maka kau salah besar! Lupakah dirimu bahwa kita adalah teman seperjalanan? Aku bukanlah pembantumu, dan kau bukanlah pembantuku. Tidak ada yang akan memberi bantuan tanpa menerima bantuan. Tidakkah kauingat bahwa itu semua adalah perkataanmu sendiri yang pernah kauberikan kepadaku dulu?”
Langit mengeluarkan guntur. Satu-dua titik air meluncur. Menghantam tanah, terserap tuntas. Lantas titik-titik air lainnya menyusul. Menjadi ratusan, lantas ribuan, lantas jutaan. Kilatan petir menyambar-nyambar. Namun tidak satupun dari mereka berhasil menggoyahkan dua muda-mudi yang berdiri teguh sambil saling bertatap-tatapan itu.
____
catatan:
Drama lagi, drama lagi. Bukan fiksi namanya bila tiada drama.
__ADS_1
Episode bulan ini: 10/40