Sang Musafir

Sang Musafir
Mantingan Menggila


__ADS_3

“Sebuah kehormatan besar bisa bercakap-cakap denganmu, Nyai Dara.” Perempuan yang mengakui diri sebagai Chitra Anggini itu tersenyum. “Tetapi bisakah engkau meminta kepada para pengawalmu untuk membagikan sehelai kain lebar pada para pengungsi untuk menutupi hidung dan mulut?”


Dara hampir tidak percaya bahwa orang asing yang baru saja dikenalnya itu langsung menyuruhnya tanpa berbasa-basi. Tetapi bagaimanapun juga, Dara masih bisa menerimanya.


“Baiklah ... ini saatnya menyebar keharuman.” Chitra Anggini mengeluarkan sebuah bumbung kecil dari dalam pundi-pundinya. Terlihat senyuman di bibirnya semakin melebar.


***


SETELAH menyebarkan nafsu pembunuh, Mantingan kembali mengayunkan pedangnya dengan Jurus Tarian Seribu Pedang. Dalam sekali tebas, ia dapat membunuh belasan musuhnya, sebab Jurus Tarian Seribu Pedang itu telah dipadukannya dengan Jurus Membelah Angin, sehingga angin yang berasal dari sabetan pedang itu cukup tajam untuk dapat menciptakan luka gores mematikan.


Mantingan tidak kesulitan menghadapi pendekar-pendekar di sekitarnya. Mereka sungguh tiada dapat berdaya selama masih berada di bawah tekanan nafsu pembunuh yang dikeluarkan Mantingan. Lebih-lebih, tekanan nafsu pembunuh itu semakin besar adanya setelah Mantingan membunuh lebih banyak pendekar di tempat itu.


Pemimpin pasukan yang berada cukup jauh dari tempat Mantingan berada pun merasakan kengerian yang dialami para pendekar musuh. Meskipun nafsu pembunuh itu tidak menyentuhnya sama sekali, tetapi pemandangan Mantingan yang membantai musuhnya bagaikan hewan buas tak berperasaan itu tetap saja amat sangat mengerikan.


Ini benar-benar sebuah pembantaian!


Tetapi Mantingan masih merasa kurang. Dilihatnya bahwa senjakala semakin meremang hingga pergerakan apa pun menjadi buyar adanya, sedangkan jumlah pendekar musuh masihlah banyak di pelabuhan itu. Mantingan tidak ingin membuang-buang waktu dengan cara kemanusiaan, ia yakin bahwa yang dihadapinya kali ini bukanlah manusia.


Maka di tengah-tengah lautan musuh yang tidak berdaya, badannya berputar berputar barang satu kali. Semua pendekar yang kiranya berada dalam jarak tiga tombak dari tempatnya berdiri langsung terpental jauh, yang tentunya dengan nyawa terpisah dari raga. Begitu cepatnya, bahkan musuh-musuhnya tidak sempat mengeluarkan teriakan sebelum kematian.


Mantingan berkelebat ke muka, melakukan hal itu sekali lagi. Mengirim puluhan Tapak Angin Darah yang terkenal amat sangat mematikan ke arah musuh-musuhnya. Membuat puluhan pendekar musuh melayang tinggi dengan nyawa yang juga melayang pergi.


Pasukan Macan Gunung lantas menyadari bahwa yang gila di tempat ini bukan lagi mereka, melainkan Mantingan!


Maka mereka yang awalnya maju serta memusatkan serangan hanya kepada Mantingan, kini berbondong-bondong mundur menjauhinya dan memilih untuk berhadapan dengan Pasukan Topeng Putih yang jauh lebih lemah.


Namun, tentu saja Mantingan tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Jika ratusan pendekar musuh dengan kemampuan tingkat menengah hingga tinggi menyerang puluhan pendekar Pasukan Topeng Putih secara bersamaan, maka sudah tentu hanya akan menghasilkan kekalahan bagi Pasukan Topeng Putih.


Maka tanpa lagi mengucap kata-kata, Mantingan berkelebat cepat menyusul musuh-musuhnya yang mendur. Kembali dimainkannya Jurus Tarian Seribu Pedang yang berpadu sedemikian rupa dengan Jurus Membelah Angin. Tiada lupa Mantingan menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui serangan-serangan berbahaya mana saja yang menyasar dirinya.


Mantingan menyerang dengan cara berputar-putar bagai angin beliung. Sekeliling tubuhnya bagaikan diselimuti ribuan batang pedang yang berputar cepat tiada hentinya. Angin ribut yang tercipta pun terasa begitu tajam, dapat dengan mudah sekali merobek kulit dan mengoyak daging. Darah berhamburan di mana-mana.

__ADS_1


Pakaian Mantingan yang semulanya berwarna putih itu pun tiada luput dari cipratan darah, sehingga kini warnanya telah benar-benar semerah darah. Bahkan tubuhnya pun telah benar-benar berwarna merah pekat, dan seolah-olah saja menyatu dengan pakaiannya yang berwarna sedemikian merahnya pula.


Namun sesaat kemudian, terdengar suara panggilan menyebut namanya berulang kali. Sebuah bisikan, yang suaranya amat sangat kecil hingga hampir-hampir tidak terdengar di antara suara jerit kematian.


“... Mantingan ... Mantingan ....”


Jelas saja Mantingan mendengar suara panggilan itu. Tetapi di manakah asalnya? Mantingan melihat ke sekeliling tanpa menghentikan gerakannya yang menyambar musuh-musuhnya bagai elang kelaparan itu.


“... berhentilah, Mantingan ....”


Seseorang menyuruhnya berhenti, tetapi di manakah kiranya orang itu? Siapakah kiranya? Untuk apakah dia meminta Mantingan berhenti?


Di antara jerit kematian yang sama sekali memenuhi telinganya, Mantingan sangat kesulitan untuk memperkirakan dari manakah dan dari siapakah suara itu. Bahkan ia kesulitan untuk sekadar mengenal apakah suara itu merupakan suara wanita ataupun pria.


Tentu saja Mantingan tidak akan mengorbankan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk dipakainya mencari asal-usul suara tersebut, sebab ilmu tersebut masih digunakannya untuk melacak ratusan serangan yang mengarah kepadanya hanya dalam sekejap mata saja.


“... berhentilah ... yang kauperbuat ini adalah pembantaian keji ....”


“Sudah benar-benar lupakah dikau akan daku, Mantingan?”


Ketika suara itu jelas adanya, dan ketika perkataannya terasa begitu mencekam, Mantingan baru menyadari dari mana dan dari siapa suara itu berasal. Seketika saja raut wajahnya menjadi buruk, tetapi masih tidak menghentikan gerakannya.


“Rara, diriku mengira engkau telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya ....” Mantingan membalas dengan lirih. Jika orang lain mendengarnya, maka akan diketahui betapa suara itu mengandung kedukaan yang teramat-amat mendalam.


“Selama abu itu masih bersama dirimu, daku tidak akan pernah bisa berlepas diri darimu.”


Suara yang begitu menyayat hati Mantingan. Betapa pemuda itu mengingat bahwa Rara pernah memintanya untuk melarung abu jenazahnya, sebab dia tidak ingin lagi berkelana bersamanya. Mungkinkah Rara mengungkit hal itu kembali?


“Kurasa kau tak akan pernah mau melarung abuku di manapun. Daku sebenarnya sama sekali tidak suka, bahkan membencinya. Tetapi apakah daku punya daya untuk melawan makhluk beraga seperti dirimu?”


Sekali lagi kata-kata itu bagaikan telah menghancurkan perasaannya.

__ADS_1


“Sekarang yang kubisa hanya memperingatkan dirimu untuk berhenti melakukan pembantaian gila ini.”


“Rara, engkau mengetahui bahwa aku harus melakukan ini demi Tarumanagara ....”


“Kau tidak melakukannya demi Tarumanagara atau negeri manapun itu. Kau melakukan ini semata-mata hanya demi gadis Champa yang bersamamu itu.”


“Sama sekali tidak, Rara. Engkau pasti memahami bahwa kepergiannya ....” Mantingan menahan ucapannya. Bukankah rahasia tentang penyergapan para pengacau setelah kepergian Bidadari Sungai Utara sama sekali tidak boleh diungkapkan pada siapa pun termasuk Rara yang telah tiada beraga dan berjiwa sekalipun?


“Memahami apa?” Bertanyalah gadis yang tak berwujud itu.


Mantingan masih terus berkelebat menyambar musuhnya dan pula menangkis serangan berupa jarum beracun dan pisau terbang yang mengarah kepadanya. Ia terjebak dalam kebimbangan untuk sejenak.


“Jika engkau terus berada di dalam jiwaku,” katanya pada akhirnya, “maka engkau pasti memahaminya.”


“Daku telah memahaminya, tetapi kuingin engkau mengucapkannya langsung kepadaku.”


“Tidak.” Mantingan tegas kepada keputusannya. “Tidak untuk sekarang.”


Suara itu hilang barang sekejap sebelum akhirnya muncul kembali. “Hentikan perbuatanmu ini. Sudah berapa banyak nyawa yang engkau terbangkan?”


“Kuyakin bahwa mereka memang pantas untuk mati, Rara.” Mantingan menjawab tanpa berhenti.


“Engkau hanyalah manusia biasa, Mantingan, dan manusia terkadang salah mengartikan sebuah kebenaran.”


“Kali ini, kuyakin apa yang kulakukan ini tidak salah. Dan jikapun salah, setidaknya diriku telah berbuat kebaikan untuk orang banyak.”


Mantingan lalu berkelebat lebih cepat, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya tidak akan mendengarkan perkataan Dara lagi.


Namun dari lautan musuh di depannya, Mantingan melihat sekelebat bayangan yang begitu cepat bergerak ke arahnya. Mantingan sudah menarik tubuhnya surut ke belakang sebab mengira bahwa bayangan itu hendak menyerangnya, hinggalah ia sadar bahwa bayangan tersebut berhenti di udara beberapa langkah darinya. Ketika itu pula Mantingan menghela napas panjang di balik topengnya.


__ADS_1


__ADS_2