
“Dan jikalau daku tidak membohongi Saudara, sudah pasti Saudara memiliki anggapan yang buruk tentang puyer itu. Anggapan yang buruk seringkali tidak berbuah manis.”
MANTINGAN MENGANGGUK kecil meski dengan perasaan terpaksa. Ia mengetahui apa yang Bidadari Sungai Utara katakan. Anggapan yang buruk akan berbuah keburukan, dan anggapan yang baik akan berbuah kebaikan. Maka apa pun yang sudah terjadi dan akan yang akan terjadi, seseorang mestilah memiliki anggapan baik. Tetapi barang tentu tidak dengan puyer itu!
Pada akhirnya, Mantingan hanya bisa menelan segala kepahitan puyer itu. Namun, mendapat sebuah kemanisan yang tidak ia rasakan secara langsung. Bidadari Sungai Utara lalu berkata bahwa pengobatan sudah selesai untuk hari ini.
“Jangan lupa untuk datang besok,” tambahnya. “Walaupun itu sebenarnya tidak perlu diingat. Bukankah mulai tadi kita tinggal di satu rumah? Dengan mudah daku dapat mengingatkanmu esok.”
Mantingan mengangguk. “Itulah salah satu dari banyaknya keuntungan yang kita dapatkan.”
Bidadari Sungai Utara turut mengangguk, dirinya kembali berkata, “Daku berharap kamarku ada di sebelah kamarmu. Agar diriku bisa memantaumu hampir di setiap waktu.”
“Bukan masalah. Masih tersisa tiga ruangan di lantai atas.”
Mantingan membantu Bidadari Sungai Utara untuk memindahkan barang-barang yang dibutuhkannya ke lantai dua. Ia melakukannya dengan sangat cepat, berkelebat laksana pendekar pada umumnya. Sehingga, Kana dan Kina yang masih duduk di belakang meja ruangan utama itu pun tidak menyadari kehadirannya.
Bidadari Sungai Utara hanya perlu berjalan santai menuju kamarnya, tanpa perlu membawa barang apa pun. Bahkan dia masih sempat menyapa Kana dan Kina sebelum menaiki anak tangga menuju atas.
Setelah gadis itu sampai di kamar barunya, Mantingan lekas meninggalkannya sendiri. Tidak baik muda-mudi berada di dalam satu ruangan untuk urusan yang tidak penting. Mantingan kembali ke dalam kamarnya dan duduk, membaca Kitab Teratai.
***
KINI DIRINYA telah mencapai bagian ketiga dari lima bagian Kitab Teratai. Berbeda dengan bagian pertama dan kedua, bagian ketiga itu cukup membuatnya pusing. Bahkan dari judulnya saja sulit untuk diartikan secara pasti.
“Menyembuhkan Kebutaan Diri” ialah judul dari bagian ketiga Kitab Teratai. Dan setelah Mantingan memeriksa bagian keempat, memiliki nama yang hampir sama, yaitu “Menyembuhkan Kebutaan Manusia”.
Secara garis besarnya, Mantingan mengetahui bahwa sebelum menyembuhkan manusia lain, maka ia harus menyembuhkan diri sendiri. Namun tentang kebutaan, apakah Kitab Teratai adalah kitab pengobatan? Awalnya Mantingan berpikir kebutaan yang dimaksud adalah kebutaan yang sebenar-benarnya. Akan tetapi, setelah mempelajari bagian Menyembuhkan Kebutaan Diri, Mantingan sama sekali tidak menemukan cara atau resep obat apa pun untuk menyembuhkan penyakit apa pun pula.
...Seseorang buta dapat menuntun orang buta lain...
...yang hanya berbuah ketersesatan...
...ibaratkannya engkau berjalan...
...dalam keadaan buta, di gelapnya malam...
__ADS_1
...yang barang sebutir bintang pun tak ada...
...matamu harus terbuka...
...barulah cahaya menunjuki engkau dua jalan...
Lalu, bagaimanakah cara menyembuhkan penyakit buta? Di ayat pertama itu, tiadalah cara menyembuhkan buta. Pada kalimat akhir, ayat itu hanya menjelaskan untuk membuka mata.
Di sanalah Mantingan berpikir, orang buta bukanlah orang yang tidak bisa membuka kelopak matanya. Orang buta bisa membuka kelopak matanya, tetapi matanya yang rusak tidak akan bisa melihat apa pun.
Lama berpikir, Mantingan mulai menemukan jawabannya.
***
YANG dimaksud dengan buta bukanlah buta dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan pula sebuah penyakit mata. Kebutaan yang dimaksud di dalam ayat tersebut adalah kebutaan batin.
Batin seolah menjadi mata ketiga bagi manusia. Mata batin tidaklah terlihat, maka mata tersebut hanya bisa melihat apa yang tidak terlihat.
Jalan yang dilihatnya bukanlah jalan menuju Sundapura, bukan pula jalan menuju Tanjung Kalapa, melainkan jalan kehidupan. Cahaya yang dilihatnya pun bukanlah cahaya surya, bukan pula cahaya rembulan atau bintang-gemintang, cahaya yang dilihatnya adalah ilmu pengetahuan. Karena selayaknya mata di kepala, mata batin pun membutuhkan cahaya untuk dapat melihat segala sesuatu dan jalanan untuk meraih sesuatu.
Tidak semua orang dapat menyadari kehadiran mata batin, itulah yang membuatnya merasa cukup bangga.
Namun, Mantingan tidak akan bisa menyembuhkan kebutaan orang lain jika dirinya sendiri belum sembuh dari kebutaan itu. Pada kalimat awal, ayat yang dibacanya itu menyebutkan bahwa orang buta bisa menuntun orang buta lainnya, tetapi hasilnya hanya ketersesatan.
Maka sebelum Mantingan mengajarkan ilmu itu pada orang lain, terlebih dahulu Mantingan harus memastikan bahwa dirinya sudah benar-benar paham terhadap ilmu tersebut. Jika tidak begitu, dirinya hanya akan menyesatkan orang lain.
Bagian ketiga dari Kitab Teratai itu Mantingan pelajari perlahan-lahan. Begitu pula pemahamannya meningkat secara perlahan-lahan dan sedikit-sedikit. Meskipun begitu, pemahaman yang ia dapatkan sangatlah berharga.
Seperti yang salah satu ayat yang ia pelajari:
...Dan di antara limpahan manusia...
...mereka buta dan mereka tidak memahami...
...segala bentuk di langit dan segala bentuk di bumi...
__ADS_1
...beserta pertandanya...
...akibatnya mereka menjadi manusia yang berangan-angan...
Yang dimaksud berangan-angan bukanlah duduk termenung tanpa melakukan apa-apa tetapi pikirannya melayang-layang entah ke mana tempat. Berangan-angan yang dimaksud adalah berkhayal tentang kebenaran. Mereka yang berangan-angan menciptakan sesuatu yang mereka anggap benar. Itulah orang-orang buta yang diperumpamakan menuntun orang buta lainnya, yang hanya akan berbuah kesesatan semata meski dianggapnya telah benar.
Lalu Mantingan pula mendapatkan suatu pemahaman di ayat selanjutnya:
...Mereka orang-orang buta dan tuli tidak dapat melihat tanda...
...mereka mengira bahwa tidak terjadi bencana apa pun...
...*hingga datang seorang anak manusia yang menerima pengampunan...
...yang menebus...
...atas dosa-dosa mereka*...
...yang membacakan mereka pertanda-pertanda...
Mantingan menganggukkan kepalanya. Seorang anak manusia yang disebutkan di ayat itu pernah disinggung Kiai Guru Kedai. Tetapi siapakah dirinya? Itu masih tidak diketahui, sampai masanya tiba.
***
SETELAH BERHARI-HARI berlalu, pemahaman Mantingan tentang mata batin meningkat pesat. Tak terbayangkan pengetahuan yang menumpuk di kepalanya. Pemuda itu telah memahami cara peramal-peramal membaca tanda. Ia juga memahami bagi bagaimana pawang hujan mengetahui kapan hujan akan turun. Mereka membaca tanda-tanda alam yang tersirat, bahasa-bahasa alam yang tidak terucapkan, lalu mereka menerapkannya ke dalam kehidupan manusia.
Sebagai seorang pendekar, Mantingan tentu tidak tertarik untuk beralih menjadi pawang hujan atau peramal. Meskipun pemuda itu mungkin dapat melakukannya. Disebabkan oleh karena dirinya adalah seorang pendekar yang menapaki jalan persilatan dengan segenap pertarungan berdarah di dalamnya, maka Mantingan menerapkan ilmu membaca tanda itu ke dalam ilmu persilatan.
Ia teringat gurunya, Kiai Guru Kedai, yang dapat membaca pikirannya. Kini dirinya mengetahui, gurunya itu bukan memiliki kekuatan mujarab, melainkan dia mampu membaca pertanda.
Sebenarnyalah Mantingan pernah bertanya pada Kiai Guru Kedai tentang bagaimana dia dapat membaca isi pikirannya, tetapi gurunya itu hanya tertawa dan menjawab, “Dikau masih muda.”
_____
catatan:
__ADS_1
Ada yang tertarik dengan t-shirt Sang Musafir jika saya menjualnya?