
MANTINGAN MULAI berkelebat cepat, memasukkan seluruh bawaan ke dalam bilik belakang kereta kuda. Tidak butuh waktu lama bagi Mantingan untuk menyelesaikan semuanya.
Kana dan Kina dipanggil untuk keluar, baru saja mereka mengucapkan salam perpisahan kepada rumah yang telah lama menaungi dan melindungi mereka.
Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina masuk terlebih dahulu, disusul Mantingan sebagai yang terakhir masuk setelah mengunci gerbang.
Kereta itu ditarik dua kuda putih. Dua pendekar duduk di bilik belakang bersama barang bawaan. Sedangkan seorang kusir kuda sudah tentu berada di depan.
Roda kereta mulai bergulir. Mantingan menyandarkan punggungnya ke belakang. Santai.
“Perjalanan ini lumayan panjang, bersantailah," katanya.
Bidadari Sungai Utara di hadapannya menggeleng cepat. “Saudara, bisakah daku bersantai jikalau mengingat akan berlayar ke Champa tak lama lagi, meninggalkan dirimu di Javadvipa sendirian sebagai bujangan pengelana?”
Mantingan tertawa. “Jika itu terlalu dipikirkan, maka hanya akan menambah beban yang tidak perlu.”
Mantingan kemudian menatap Bidadari Sungai Utara. Dari tatapannya, gadis itu menyadari sesuatu. Dia menoleh ke arah Kana dan Kina. Mereka memasang raut wajah tegang. Maka gadis itu segera mengerti.
“Tapi jika dipikir-pikir lagi, perkataanmu ada benarnya juga, Saudara.” Bidadari Sungai Utara menyandarkan punggungnya. “Bersantailah, Kana, Kina. Nikmati pemandangan di luar. Rasakan udara segar yang dibawa angin masuk ke dalam sini.”
Awalnya, Kana dan Kina mengikuti saran Bidadari Sungai Utara. Mereka berusaha bersikap santai dan menikmati perjalanan. Akan tetapi, itu tidak bertahan cukup lama. Karena biar bagaimanapun, perjalanan yang panjang akan tetap terasa membosankan.
Seharian hanya bisa duduk tanpa bisa ke manapun—bahkan bergerak pun dalam lingkup yang terbatas, membuat mereka sangat bosan. Bukan hanya Kana dan Kina, melainkan pula Bidadari Sungai Utara. Sedangkan Mantingan, memilih untuk terus menikmati perjalanan dengan memandangi alam liar di luar jendela.
Sikapnya itu dapat dikatakan sangat wajar. Mantingan adalah seorang pemuda berjiwa petualang. Telah lama dirinya tidak berpergian. Berpergian jauh seperti ini sungguh membuatnya gembira, sekalipun kakinya gatal untuk bergerak.
Akan tetapi setelah memikirkan bahwa Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina tak lama lagi akan meninggalkan Javadvipa, yang sama saja meninggalkan dirinya, maka terasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam lubuk benak terdalamnya.
Mantingan memandangi ketiganya bergantian tanpa mereka sadari sedikitpun. Sungguh, ia merasa tidak sepantasnya mengusir mereka keluar dari Javadvipa.
Siapa yang berkata bahwa Mantingan tidak akan melara, bermuram durja, dan merasa derita ditinggal mereka?
Pemuda itu memang menampilkan diri seolah-olah ia akan baik-baik saja. Tetapi Mantingan tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Pada kenyataannya, ia tidak ingin mereka pergi. Benaknya ingin mereka selalu berada di sisi.
Tetapi apalah daya, Javadvipa sedang tidak ramah menerima tamu. Bidadari Sungai Utara harus tetap kembali ke Champa, Kana dan Kina harus ikut serta dengannya. Tidak peduli apa pun yang terjadi nantinya pada Mantingan. Pemuda itu merasa harus mengorbankan perasaannya sendiri demi kebaikan bersama.
Hingga larut malam sekalipun, roda kereta masih terus bergulir. Dua kuda muda yang gagah itu senantiasa menggerakkan kakinya seolah tidak pernah merasakan lelah. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara menjadi satu-satunya manusia yang masih terjaga di bilik utama kereta. Kana dan Kina telah lama terlelap, dibuai guncangan demi guncangan yang membuat siapa pun mengantuk.
***
BIDADARI SUNGAI Utara bertanya pada Mantingan sambil memandangi gelapnya hutan di luar jendela, “Mengapakah kita tidak berhenti untuk istirahat? Bukankah hari telah malam?”
“Akan berbahaya berhenti terlalu lama pada malam hari. Sekarang ini, penyamun berkeliaran di mana-mana.”
“Tetapi kuda tetap harus diistirahatkan.”
Mantingan tidak menjawab walau sorot matanya menunjukkan kesetujuan. Ia juga mengerti apa yang Bidadari Sungai Utara siratkan. Kuda yang letih dapat menjadi mangsa empuk para penyamun. Tetapi berhenti di malam hari lebih berbahaya ketimbang masalah kuda yang letih.
Mantingan lalu membuka semacam jendela kecil tepat di belakang kepalanya untuk bercakap-cakap dengan kusir kuda.
Deru angin malam yang teramat dingin menerpa wajah Mantingan. Pantas saja sang kusir mengenakan pakaian yang teramat tebal dari kulit hewan.
“Selamat malam Saudara, hendaknya daku bertanya, seberapa kuatkah dua kuda ini?” Mantingan berkata setengah berteriak untuk mengalahkan suara angin.
“Selamat malam, Saudara. Dua kuda ini adalah kuda unggulan, Saudara.” Kusir itu memandangi dua kuda putih di depannya yang terus melaju. “Kuda ini didatangkan langsung dari perguruan, kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Tetapi biar begitu, kita tetap harus mengistirahatkan kuda esok pagi.” Setelah jeda sebentar, kusir itu kembali berkata, “kukenali jalur ini sebagai jalur yang cukup rawan, akan berbahaya jikalau kita harus beristirahat di sini, Saudara.”
“Ya. Sebaiknya memang begitu.” Mantingan tersenyum walau tidak dilihat. “Pimpinlah kereta ini dengan sebaik-baiknya, Saudara.”
“Saudara adalah pucuk kepemimpinan tertinggi di kereta ini.” Kusir itu menoleh dan berkata sungguh-sungguh.
“Tidak begitu. Sebagai kusir, Saudara yang paling berpengalaman di sini. Daku tidak berhak memegang pucuk kepemimpinan.”
__ADS_1
Kusir muda itu tertawa sejenak. “Mendapat pujian dari Saudara adalah sebuah kehormatan besar bagiku. Tetapi, itu tetap terlalu berlebihan. Keahlianku hanya dalam mengendalikan kuda. Di antara teman-temanku, daku yang paling tidak berbakat dalam bidang seni bela diri. Tetapi syukurlah, daku masih bisa berbakti kepada perguruan dengan menjadi kusir kuda paling handal. Jadi, daku senang. Meskipun tidak memiliki kecakapan bertarung, daku masih bisa menjadi yang terhebat di atas segala kusir.”
Mantingan tersenyum. Bukannya orang itu hendak menyombongkan diri. Tetapi dia bangga terhadap dirinya sendiri. Terkadang, rasa bangga itu diperlukan untuk meraih kepercayaan diri. Ucapan kusir itu adalah benar.
Betapa gurunya pernah mengatakan sedemikian, “Jika engkau tidak bisa menempati jajaran pendekar terkuat di Kotaraja, maka jadilah pendekar terkuat di kota kecil. Jika engkau tidak bisa menjadi pendekar terkuat di kota kecil, maka jadilah pendekar terkuat di desa besar. Jikalau engkau tetap tidak bisa menjadi pendekar terkuat di desa besar, maka jadilah di desa kecil, dan bilamana engkau tidak bisa melakukan itu, maka jadilah pendekar terkuat di rumahmu.”
Hal yang sama terjadi pada kusir kuda itu. Jika ia tidak bisa bersaing dengan teman-temannya untuk menjadi pendekar, maka setidaknya ia bisa menjadi kusir kuda terhebat di antara kusir kuda lainnya. Untuk mencapainya, seseorang mesti percaya akan kemampuan dan kelebihannya sendiri. Itulah yang dinamakan percaya diri.
Mantingan kembali menutup jendela kemudian berbicara pada Bidadari Sungai Utara. “Apakah Saudari mendengar pernyataan tadi?”
Bidadari Sungai Utara mengangguk. “Kendati demikian, kita harus tetap waspada.”
Mantingan mengangguk setuju. “Saudari tidurlah. Biar daku yang berjaga-jaga.”
***
MATAHARI BERANJAK naik. Seolah muncul dari balik lembah bukit. Menyebarkan sinar jingganya. Entah membangunkan atau dibangunkan ayam jantan.
Di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi semak belukar pendek, Mantingan dan rombongannya berhenti. Kuda dilepas dari ikatan kereta, dibiarkan merumput dan minum air.
Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina masih pulas di dalam kereta. Sedangkan Mantingan sama sekali tidak tidur sedari malam, berjaga-jaga. Tam tega membangunkan Bidadari Sungai Utara untuk menggantikannya berjaga.
***
MANTINGAN MENGINJAKKAN kakinya di atas tanah berumput. Meluruskan tulang punggungnya barang sejenak sebelum memandang ke sekitarnya.
Sekelompok besar burung terbang tak jauh di atas kepalanya. Mencari makan. Kokok ayam hutan terdengar bersahutan, berpadu dengan kicau burung kutilang. Angin timur berdesir, membawa udara kering yang menggoyangkan rerumputan. Langit bersih dari mega-mega.
“Sungguh pagi yang indah.” Mantingan bergumam pada dirinya sendiri. “Tetapi jika pada akhirnya, mereka tetap akan pergi, pagi ini tidak akan terasa terlalu indah.”
Mantingan berjalan ke tengah lapangan untuk melihat pemandangan yang lebih luas. Lalu dirinya tersenyum. Membayangkan pagi yang indah di Champa. Bidadari Sungai Utara pasti akan bahagia. Maka dari itu, ia tidak patut bersedih. Justru, patut berbahagia. Selama Bidadari Sungai Utara bahagia, maka dirinya akan tenang menjalani hidup. Tetapi jika sebaliknya, maka hidup Mantingan selanjutnya tidak akan pernah tenang.
Mantingan teringat bagaimana seseorang akan merasakan ketenangan setelah mendermakan sedikit uangnya kepada pengemis jalanan, atau kepada pengembara yang membutuhkan pertolongan, korban bencana, dan sebagainya. Mereka telah merelakan keserakahan demi tercapainya kebaikan.
Mantingan teringat pula betapa prajurit-prajurit mati tenang setelah menyumbang darah untuk membela kerajaannya, atau demi menyelamatkan orang-orang lemah yang tertindas. Mereka telah merelakan keserakahan diri demi kebaikan. Maka niscaya, ketenangan akan meliputi orang-orang itu sampai ajal menjemput.
Begitu juga Mantingan. Dirinya akan merelakan Bidadari Sungai Utara pergi meninggalkannya. Biar gadis itu tidak mati terbunuh. Direngut kesuciannya di Javadvipa.
Mantingan merasakan seseorang berdiri tepat di sebelahnya. Saat ia menoleh, ia menemukan Bidadari Sungai Utara yang sedang memandangi luasnya langit. Sebentar kemudian, gadis itu memalingkan kepala pada Mantingan, seolah tersenyum padanya.
“Di mana Kana dan Kina?” Mantingan bertanya halus.
“Mereka masih tidur.”
“Haruskah kubangunkan mereka?”
“Biarkan mereka bangun sendiri, mungkin mereka membutuhkan sedikit lebih banyak waktu tidur ketimbang kita.”
Mantingan kemudian mengangguk setelah mengingat waktu tidurnya. “Kita harus sarapan jika tidak mau makan tenaga dalam yang tidak lezat.”
“Pendekar-pendekar itu sedang menyiapkannya. Mungkin hanya sarapan sederhana, tetapi kuyakin Saudara masih bisa menikmatinya.”
“Di hutan seperti ini, sepotong kue tawar kering pun akan terasa sangat nikmat.”
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saling tersenyum sebelum berjalan kembali menuju kereta kuda. Dahi Mantingan tiba-tiba saja berkerut. Tak jauh di depan, tiga pendekar dari rombongannya tampak sedang berbicara dengan dua orang berpakaian rimba dan bersenjatakan tombak. Dari gelagat dan gerak tubuh dua orang itu, terlihat bahwa mereka datang secara baik-baik. Segera Mantingan menghampiri mereka.
“Ini orang yang kami antar, Saudara.” Melihat kedatangan Mantingan, kusir kuda lekas mengenalkannya pada dua orang berpakaian rimba.
Mantingan menjura selayaknya salam para pendekar. Dua orang di depannya membalas dengan menjura.
“Saudara yang terhormat, maafkanlah jika sekiranya kedatangan kami mengganggu.” Orang berjanggut panjang yang berkata sambil tersenyum padanya. “Kami hendak menyampaikan suatu hal yang cukup penting.”
__ADS_1
“Katakanlah, Saudara. Sesungguhnya kehadiranmu tidak mengganggu kami sama sekali.”
Tanpa berbasa-basi lagi, orang berjanggut itu segera berkata, “Kami adalah laskar khusus dari Tarumanagara untuk mengawasi jalur-jalur perlintasan. Kami akan memberi peringatan kepada para pelintas jikalau terdapat sesuatu yang membahayakan. Maka harus kusampaikan pada Saudara, bahwa jalur ini telah menjadi jalur pelarian Perkumpulan Pengemis Laut.”
Raut wajah Mantingan berubah menjadi buruk.
“Tidak semua pendekar dari perkumpulan itu binasa di tangan Pahlawan Man, Saudara. Sebagian lainnya memilih untuk melarikan diri sebelum ditumpas, dan di jalur ini menjadi tempat pelarian mereka. Beberapa pekan lalu, kami mendapatkan laporan dari penduduk setempat bahwa rombongan pengemis terlihat melintas di jalanan ini. Kami kira mereka telah kembali ke markas perkumpulan mereka yang terletak di pantai utara, tetapi dugaan kami agaknya meleset. Karena sejak empat hari kemarin, kami selalu mendapati tanda-tanda penyerangan dan perampokan di jalur ini.”
“Saudara, apakah Perkumpulan Pengemis Laut yang bertanggungjawab atas empat hari penuh penyerangan ini?”
Orang berjanggut itu mengangguk. Lalu teman di sampingnya mengeluarkan sesuatu dari dalam pundi-pundinya sebelum menyerahkannya kepada Mantingan.
“Itu adalah lontar yang ditinggalkan mereka setiap kali berhasil melancarkan penyerangan.” Orang itu berkata getir. “Terhitung lima lontar yang mereka tinggalkan. Isi yang terkandung adalah sama. Mereka menyiaratkan balas dendam.”
Mantingan kemudian membaca isi lontar di tangannya.
Tak lama berselang
kami akan datang
menjemput kehormatan yang telah dirampas paksa
ribuan saudara kami telah menunggu
datangnya pengemis hina dina
yang menguasai laut utara
mati tidak mati
kami akan tetap datang
Selesai membaca, Mantingan melirik dua orang berpakaian rimba di depannya. Sungguh, ia tidak menemukan pertanda kebohongan di dalam sorot mata keduanya. Jelas saja mereka tidak berbohong. Dua prajurit itu hanya menjalani tugasnya.
“Apa yang mereka tunggu, mengapa mereka tidak menyerang saat ini pula?” Mantingan bertanya dengan geram meskipun ia telah mengetahui jawabannya secara pasti.
“Agaknya, mereka sedang mengumpulkan sumber daya untuk menyerang Desa Lonceng Angin.” Pria berjanggut itu berkata. “Kami telah telah mengirim orang kepercayaan untuk membawa kabar ini ke Taruma.”
Mantingan mengerutkan dahinya. “Apakah Desa Lonceng Angin telah mendengar kabar ini dari Saudara?”
Pria berjanggut panjang itu menggeleng pelan. “Kami harus menunggu keputusan dari pemerintahan pusat untuk melakukan hal itu.”
“Saudara, kusarankan tidak perlu menunggu lagi. Desa Lonceng Angin tengah berada di bawah bayang-bayang malapetaka tanpa satupun penduduk desa yang mengetahui. Kabar seperti ini mestinya disampaikan selekas Mungkin.”
“Tidak bisa, Saudara,” katanya dengan wajah mengeras. “Kami tidak bisa melanggar aturan.”
Kehangatan di wajah Mantingan mulai memudar. “Jika Saudara tidak mau mengabarkan ini ke Desa Lonceng Angin, maka biar kami saja yang mengabarkannya.”
“Tindakan Saudara menentang aturan!”
“Apakah Saudara mengira aturan ini menguntungkan?”
“Pahamilah, Saudara, jika Saudara melakukan itu di luar kewenangan, maka keberadaan kami berdua di hutan ini bisa diketahui oleh pasukan musuh. Apakah itu tidak dapat disebut aturan yang menguntungkan?”
“Dua puluh pemuda, Saudara!” Suara Mantingan benar-benar mengeras. "Dua puluh pemuda mengorbankan dirinya menjadi bulan-bulanan ribuan kelewang musuh saat mereka berusaha membela Desa Lonceng Angin! Mereka bukan pendekar, bukan pula prajurit terlatih seperti Saudara, tetapi agaknya jiwa mereka lebih pemberani ketimbang Saudara!”
___
catatan:
Maaf, akhir-akhir ini saya jarang update. Tetapi bulan depan, update akan kembali rutin. Mohon dukungan Saudara-Saudari untuk Sang Musafir agar mencapai kejayaannya.
__ADS_1