Sang Musafir

Sang Musafir
Rencana Mengunjungi Sepotong Peradaban


__ADS_3

CHITRA Anggini menyenggol lengan Mantingan sambil melempar tatapan mengejek. “Oh, jadi dirimu iri?”


“Iri?” Mantingan melipat dahi, bertanya tak mengerti.


“Iya, bukankah dikau putus cinta sebab tidak bisa mendapatkan pujaan hati?”


Sempurna Mantingan menjitak kepala perempuan itu. Raut wajahnya seketika menjadi gusar.


“Jangan mengungkit-ungkit hal itu lagi.” Mantingan berkata dingin. Semenjak akrab dengannya, Chitra Anggini menjadi lebih sering mengungkit perkara ‘itu’.


“Memangnya apa yang salah?” Chitra Anggini menunjukkan raut wajah tidak terima. Menggosok kepalanya yang baru saja dipukul oleh Mantingan.


“Salahmu banyak. Dikau bahkan belum menyampaikan kepadaku tentang apa saja yang diceritakan gadis kepadamu.”


“Daku akan lebih senang menceritakannya setelah kita sampai di Koying.” Chitra Anggini menggelengkan kepala. Tampang wajahnya kembali bersungguh-sungguh. “Bukankah selama di perjalanan, angin berembus dengan begitu kuatnya? Daku tidak mau repot-repot berteriak melawan suara angin hanya untuk menyampaikan hal itu padamu.”


Setelah mendengar nama Koying disinggung, raut wajah Mantingan turut berubah. Menjadi lebih bersungguh-sungguh.


“Setelah tiba di sana, apakah yang harus kita lakukan untuk pertama kalinya?” Chitra Anggini kembali bertanya setelah menelan bubur berkaldu kambing di mulutnya.


Mantingan bertimbang-timbang barang sejenak sambil memandangi mangkuk buburnya. Barulah setelah itu, dirinya menjawab, “Pertama-tama, kita harus mencari penginapan yang dapat kita tinggali untuk satu-dua pekan. Alangkah baiknya pula jika kita tidak menyamar sebagai warga biasa, sebab kudengar bahwa Koying adalah surganya para pendekar. Jika menyamar menjadi orang awam di umur kita sekarang, itu justru akan memancing banyak perhatian.”

__ADS_1


Mantingan mengetahui hal itu setelah Kitab Tak Bernama yang berisi tentang riwayat hidup Perempuan Tak Bernama. Disebutkan bahwa desa-desa di wilayah kerajaan Koying memiliki setidaknya dua pendekar berkeahlian rendah, dan kota-kota memiliki setidaknya seratus pendekar berkeahlian menengah serta sepuluh pendekar berkeahlian tinggi. Itu sudah cukup menggambarkan betapa Koying adalah surga bagi para pendekar. Bagaimanakah dengan ibukotanya?


Chitra Anggini mengangguk setuju. “Jika itu adalah yang hal pertama, lantas hal kedua apakah yang harus kita lakukan selepasnya?”


“Kita harus mencari pendekar itu.” Mantingan berkata sambil menatap Chitra Anggini dengan penuh arti. Gadis itu cepat mengerti.


Pembicaraan yang menyangkut tentang tugas menyelamatkan Tapa Balian tidaklah boleh dibicarakan secara terang-terangan di kedai ini. Atau bahkan sebaiknya tidak usah dibicarakan.


“Apakah kita benar-benar harus menyewa jasa perkumpulan bawah tanah—seperti apa yang telah kita rencanakan sebelumnya—untuk menemukan pendekar itu? Tetapi, bagaimana caranya?”


Teramat jelas bahwa perkumpulan bawah tanah yang dimaksud oleh Chitra Anggini tidak lain dan tidak bukan ialah Kelompok Penari Daun. Bukankah Kartika telah berjanji untuk membantu dari belakang dengan menyusun siasat-siasat matang? Namun hingga kini, mereka masih tidak mengetahui bagaimana Kartika akan menyampaikan siasat-siasat itu. Tidak ada perjanjian dan kesepakatan macam apa pun sebelumnya.


“Mungkin kita harus tetap menyewanya.” Mantingan menjawab. “Tetapi kita juga harus bersiap sematang mungkin. Tidak ada jaminan sama sekali bahwa kita akan berhasil mendapat bantuan dari jaringan bawah tanah itu.”


***


MEREKA meneruskan perjalanan setelah membayar. Kali ini, Mantingan memutuskan untuk tidak terbang. Disetujui pula oleh Chitra Anggini. Mereka akan melewati sepotong kecil peradaban berupa sebuah desa tak jauh di depan sana, yang jumlah dan tingkatan pendekar pengisi desa tersebut masih belum diketahuinya.


Lebih-lebih, bukan tidak mungkin terdapat banyak pendekar ahli yang bersamadhi agak jauh dari desa. Mereka ini biasanya hanya ingin melatih diri, tetapi tidak mau terlalu jauh maupun terlalu dekat dari peradaban manusia. Pendekar-pendekar seperti itulah yang akan sangat sulit untuk dihadapi.


Jika Mantingan tetap memutuskan untuk terbang, maka memang dirinya tidak akan menghadapi pertarungan dalam waktu dekat. Tetapi ketika tiba di Koying, mungkin saja sudah tidak terhitung berapa banyak pendekar kawakan yang mencarinya.

__ADS_1


Yang paling berbahaya bukanlah pertarungannya, melainkan tersebarnya kabar. Jika pendekar-pendekar yang ada di dalam atau di sekitar desa itu melihat kerbau terbang yang ditunggangi oleh dua manusia, maka mereka tidak akan sempat mengejar atau bahkan menempurinya, tetapi mereka masih bisa menyebarkan kabar tentang apa yang telah mereka lihat.


Seekor kerbau terbang di langit, dua orang menungganginya, pergi ke arah Koying. Begitulah kiranya bentuk kabar yang akan mereka sebar.


Toh, siapa yang tidak tertarik pada kerbau terbang?


Betapa pun, angin berembus kuat di dunia persilatan. Kabar semacam apa pun akan cepat tersebarnya. Bagaikan dibawa angin saja.


“Daku hendak membeli pakaian yang lebih tertutup.” Chitra Anggini memecah lamunan Mantingan. Tampak wajahnya sedikit bersemu merah ketika mengatakan itu. “Mampir sebentar di desa itu tidak akan menjadi masalah, bukan? Ini adalah hari pasar, pasti ada pasar dan banyak yang dijual di sana, termasuk pakaian.”


“Asalkan dikau tidak memasang wajah seperti ingin ditantang bertarung itu.” Mantingan telah berulangkali mengatakan hal tersebut padanya. Wajah Chitra Anggini terlalu dingin dan ketus, seolah sengaja menegaskan bahwa dirinya adalah pendekar dunia persilatan yang selalu siap ditantang bertarung hingga mati. Menurutnya, Chitra Anggini harus membiasakan diri untuk banyak-banyak tersenyum jika tidak mau terkena masalah di Koying nantinya.


Perempuan itu menghela napas panjang. Melirik singkat ke arah Munding, meminta persetujuan, sayang kerbau itu hanya melenguh pendek. Tidak tampak setuju maupun tidak setuju.


“Tersenyum dan bertampang manis bukanlah jati diriku, Mantingan.” Chitra Anggini kemudian kembali menjelaskan secara panjang-lebar bahwa dirinya telah menelan pahitnya dunia persilatan golongan hitam, membuat senyumnya hampir sirna semua.


“Dikau terlalu berperasaan.” Mantingan menjawab enteng, membuat dada Chitra Anggini terasa sesak seketika. “Dikau dapat berubah kapan pun. Masa lalu yang kaukatakan barusan ada baiknya dijadikan pelajaran saja, bukannya menjadi alasan untuk membuatmu tidak baha—”


“Diamlah.” Chitra Anggini memotong. “Perkataan dikau semakin membuatku tidak bahagia. Jadi diamlah. Jangan pula samakan daku dengan dikau yang hidupnya selalu bahagia tanpa pernah mengalami penderitaan seperti apa yang kurasakan.”


Mantingan tidak membalas anggapan itu. Sama sekali salah! Hidup selalu bahagia tanpa pernah mengalami penderitaan? Dirinya hanya dapat tertawa pahit di dalam benak.

__ADS_1



__ADS_2