
Mantingan dan Rara kembali ke penginapan. Di perjalanan pulang tadi, Mantingan sengaja tidak melewati pasar untuk menghindari kerumunan orang-orang yang mungkin saja salah satu dari mereka mengincar dirinya.
Walau Mantingan tahu, ia terlalu waspada. Tetapi ia berpikir lagi. Keuntungan apa yang dapat ia raih jika melewati pasar malam? Bahkan menurut perhitungannya, jarak ke penginapan akan lebih pendek jika tidak melewati pasar malam.
Mantingan sebenarnya agak terpaksa melakukan itu. Saat ia melihat wajah Rara, ia mengetahui bagaimana gadis itu sebenarnya masih ingin melihat keramaian di pasar malam. Tentu Rara berbeda dengan Mantingan, Rara tak terbiasa pergi terlalu jauh dari keramaian.
Sesampai di penginapan, Rara menghadap ke Mantingan dan berkata dengan lembut, "Terima kasih atas semuanya, Mantingan. Jika niatmu adalah untuk mengusir kesedihanku, maka kamu berhasil. Aku senang."
Belum pernah Mantingan mendapatkan sesuatu yang sejauh ini dari wanita. Selama ini, dirinya hanya mendapat cemoohan dan hinaan dari wanita. Selain ibu dan tetangganya di desa, ia tidak pernah mendapat pujian dari wanita lain. Mantingan hanya bisa tersenyum canggung dan mengangguk.
Rara lalu berjalan masuk ke dalam rumah sewaannya. Mantingan juga masuk ke rumah sewaannya tak lama setelah itu. Malam sudah larut, ia harus segera beristirahat.
***
Saat hari masih belum terang tanah, Mantingan sudah berkemas. Ia ingin segera berangkat menuju Kanoman, seolah tak ingin matahari mengalahkan keberangkatannya.
Selesai berkemas dan memastikan bahwa tidak ada sesuatupun yang tertinggal, Mantingan keluar dari bangunan sewaannya dan berjalan menuju tempat sewaan Rara.
Sesampainya, ia mengetuk pintu beberapa kali.
Lama tak ada balasan, Mantingan akhirnya mencoba untuk membuka pintu sendiri. Kemungkinan besarnya, Rara masih terlelap. Walau ia enggan menganggu tidur Rara, tetapi ia juga tak mau kehilangan kesempatan untuk berangkat lebih dini.
Mantingan berharap dengan berjalan di pagi buta seperti ini, tingkat keamanan di perjalanan akan jauh lebih tinggi. Jalanan lebih ramai di pagi buta oleh lalu-lalang pedagang antarkota yang biasanya membawa tentara bayaran, tidak banyak penyamun bodoh yang mau menyerang mereka. Mantingan bisa berlindung di baliknya.
Pintu ternyata terkunci. Seharusnya Mantingan sudah menduga ini sejak awal. Lalu, bagaimanakah caranya agar Rara terbangun di pagi buta ini?
Ingin Mantingan memanggil nama Rara keras-keras, tetapi jelas hal itu akan mengganggu penghuni lain yang kemungkinan besar masih bergemul selimut.
Pada akhirnya Mantingan memutuskan kembali ke kamar sewaannya tanpa membawa hasil apa pun.
Aneh juga jika berpikir Rara sudah terbangun di pagi buta seperti ini. Bahkan di waktu ini, sulit menentukan apakah sedang tengah malam ataukah sudah pagi buta.
Mantingan berpikir dirinya terlalu bersemangat dan takut. Ia pula berpikir bahwa itu bukanlah sifat jantan. Maka dari itu, sembari menggeleng pelan ia kembali melepas semua bobot berat di badannya dan merebahkan badan di ranjang kamarnya. Menunggu hari hingga pagi atau setidaknya terang tanah.
__ADS_1
***
Mantingan terbangun ketika merasakan hangat khas matahari yang meraba wajahnya. Tadi ia membiarkan jendelanya terbuka agar udara segar dapat masuk, maka sinar matahari pula dapat masuk dan membangunkannya sekarang.
Tetapi tepat di sebelah timur bangunan sewaan Mantingan, terdapat bangunan lain yang barang tentu akan menghalangi sinar langsung dari mentari pagi untuk masuk lewat jendela kamarnya. Kecuali matahari sudah meninggi hingga agak ke tengah.
Bukankah itu artinya ia kesiangan?
Maka jelaslah Mantingan terkejut dan langsung bangkit dari kasurnya. Tanpa berlama-lama lagi, seluruh bawaannya sudah terpasang di punggung dan pinggangnya.
Tak lupa pula ia mengikatkan ikat kepala yang berwarna merah itu, lalu diambilnya tongkat pengembara di sudut ruangan.
Ia keluar dari rumah sewaannya dan memang benar bahwa mentari telah meninggi ke ufuk tengah. Panas mulai menyengat. Benar pula jika dikatakan bahwa dirinya bangun kesiangan.
Mantingan berlari kecil menuju rumah sewaan Rara dan tanpa ragu lagi ia mengetuk pintu.
Tidak seperti pagi buta tadi, kali ini pintu terbuka tak berselang lama setelah ketukan pertama.
Wajah Rara terlihat mengintip dari dalam untuk memastikan siapa yang baru saja mengetuk pintunya. Setelah melihat sosok Mantingan, Rara membuka pintunya lebar-lebar dengan mata cemerlangnya yang tampak berbinar.
Dahi Rara mengernyit. "Ada apakah, Mantingan? Mengapa dikau terlihat buru-buru? Adakah suatu hal mendadak yang baru saja terjadi?"
"Sebenarnya tidak ada. Tetapi berjalan di pagi hari jauh lebih aman ketimbang berjalan di siang hari, bukan?"
"Bukankah hari memang sudah siang?"
Mantingan tersenyum canggung. "Aku bangun terlalu siang."
"Bukanlah masalah, Mantingan. Keamanan berjalan pagi hari sebenarnya sama seperti berjalan di siang hari. Asalkan tidak berjalan di malam hari atau pagi-pagi buta sebelum terang tanah, itu sangat berbahaya untuk pejalan kaki tanpa persenjataan seperti kita ini." Rara tersenyum hangat. "Aku tahu keadaan yang tengah terjadi saat ini, Mantingan. Memanglah tidak terlalu aman, tetapi di siang hari yang terang akan tampak jelas siapa yang diam-diam membuntuti kita dengan niat berbuat jahat."
Mantingan menghela napas. Lagi-lagi sifat takutnya terlalu berlebihan. Bahkan sangat berlebihan. Apakah hanya dengan satu peristiwa buruk waktu itu bisa menggugurkan rencananya pada hari mendatang? Bukankah seharusnya ia tak takut mati dan menjadi pahlawan pemberani untuk Kenanga?
Maka Mantingan saat itu juga menangguk mantap. "Rara, tolong persiapkan diri sementara aku akan pergi ke pasar untuk membeli tenda."
__ADS_1
"Itu akan aku selesaikan." Rara tersenyum sebelum kembali menutup pintunya.
Maka saat itulah Mantingan berpisah dengan Rara untuk pergi ke pasar. Ia menemukan satu tenda tambahan untuk Rara berkemah jika diperlukan nantinya, tetapi ia akan tetap mengusahakan agar Rara mendapatkan penginapan nyaman. Jadi, tenda hanya untuk antisipasi.
Mantingan juga membeli dua buah caping anyaman daun pandan yang lebar untuk menghalau sinar matahari. Sudah sejak lama ia ingin membeli benda itu, tetapi jika uang untuk makan saja tidak ada, bagaimanakah dirinya bisa membeli caping seperti itu?
Setelah Mantingan kembali ke komplek penginapan, Rara telah duduk di atas dipan dengan satu buntelan yang melilit di punggungnya. Tampak gadis itu telah menunggu cukup lama di sana.
"Ayo berangkat!" kata Mantingan tanpa menghentikan langkahnya.
Tentu mereka tidak bisa asal meninggalkan penginapan, Mantingan pergi ke ruang penerimaan tamu dan mengabarkan bahwa mereka akan pergi. Setelah menyerahkan kunci bangunan yang semula disewa, Mantingan dan Rara bergerak meninggalkan Desa Cikahuripan yang betapa pun kecilnya tetapi tetap indah itu.
Rara terlihat berat melangkah saat dirinya keluar dari wilayah Desa Cikahuripan. Tetapi ia pandangi wajah Mantingan yang begitu mantap dan berani, maka itu tertular pada Rara yang merasakan gemuruh semangat di dalam dadanya. Langkahnya kembali pasti, dan mulai sekarang dia menganggap seluruh bumi adalah rumahnya.
***
Setelah melewati hamparan sawah di mana para petani masih sibuk bekerja, Mantingan dan Rara kembali memasuki perhutanan.
Pohon-pohon rindang tumbuh pada dua sisi jalan, dengan kicau burung, dan bunga-bunga liar di bawahnya. Walau siang hari ini panasnya sangat menyengat, tetapi dengan semua pemandangan yang ada seakan saja telah membuyarkan teriknya mentari.
Baik Mantingan maupun Rara menikmati perjalanan dengan caranya masing-masing, sehingga di antara keduanya tidak ada yang ingin buka mulut untuk bercakap satu sama lain.
Mantingan menikmati perjalanan dengan menghayati jalan tanah yang ia pijak dan juga menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, sedangkan Rara menikmati perjalanan dengan melihati seluruh keindahan hewan hutan hingga merinci.
Jalanan juga sepi. Selama mereka berjalan dari siang hingga senjakala, hanya ada satu kereta kuda dan satu gerobak kerbau yang lewat, yang sama sekali tidak menawarkan tumpangan pada Mantingan dan Rara, tetapi memang baiknyalah seperti itu.
Sampai hari sudah mendekati malam dan tidak terlihat lagi ada tanda-tanda desa dalam jarak yang dekat, Mantingan memutuskan untuk berkemah agak jauh dari jalanan.
___
Catatan:
Halo, maaf lama tidak update. Seperti yang saya kabarkan sebelumnya bahwa saya sedang ujian dan fokus belajar, tetapi keinginan menulis tak dapat terbantahkan dan tertahankan hingga saya memutuskan untuk menulis satu episode ini.
__ADS_1
Tunjukkan dukunganmu pada Sang Musafir dengan cara vote, dan tunjukkan dukungan penulis dengan hadiah kecil-kecilan! Jangan lupa untuk share pada kawan-kawanmu, agar bisa menjadi kawan seperjalananmu dalam perjalanan Jayamantingan sebelum ia pergi terlalu jauh.