
CAGAK KEENAM terdorong mundur ketika dirinya berusaha menahan terjangan Mantingan. Kedua tangannya menyilang di depan dada, menghimpit Pedang Kiai Kedai yang berada di tengah-tengahnya.
Mantingan pun turut melaju bersamanya sambil terus memberi tekanan dengan mengeluarkan hawa pembunuh. Mungkin bagi Cagak Keenam, hawa pembunuh milik Mantingan hampir tidak berarti sama sekali. Namun, bagi pendekar-pendekar tingkat menengah yang sedang mengepung Mantingan saat ini, itu dapat berarti sangat banyak.
Mantingan menarik pedangnya keluar dari himpitan dua Pusaka Intan Penyirap Nyawa milik Cagak Keenam, sebelum kembali menyerangnya bertubi-tubi dengan arah serangan yang selalu berbeda.
Meskipun begitu, Cagak Keenam tidak terlihat sedikitpun mengalami kesulitan dalam menghalau serangan Mantingan. Terkadang dia menangkis, terkadang menghindar, dan terkadang bahkan balas menyerang; yang semua daripada itu mampu mematahkan serangan Mantingan.
“Seribu Rembulan Melahap Bintang!” Mantingan berteriak melafaskan mantra, yang dalam seketika itu pula membuat pedangnya membelah diri seolah menjadi seribu bagian, yang masing-masing bagian itu berputar bagai baling-baling serta mengeluarkan cahaya terang. Maka tampaklah seolah ribuan rembulan telah turun ke tempat itu.
“Seribu Tapak Dewa Penyirap Nyawa!” Cagak Keenam membalas, dengan seketika membuat tangannya melipat ganda hingga berjumlah ribuan!
Terjadilah pertukaran serangan antara seribu bilah pedang dengan seribu tapak tangan. Berlangsung dengan amat sangat cepat, di mana mata pendekar tingkat ahli sekalipun akan merasa kesulitan untuk melihatnya.
Beberapa kapal terkena imbas dari pertukaran jurus dahsyat tersebut. Menyebabkan beberapa di antara beberapa itu langsung hancur berkeping-keping, sedang sisanya menjadi rusak parah.
Kali ini Mantingan dapat melihat perubahan raut wajah dari Cagak Keenam. Pendekar tua itu mengernyitkan dahi dan menghilangkan senyum di bibir. Agaknya setelah pertukaran serangan ini, dirinya merasa bahwa Mantingan bukanlah lawan yang dapat dipandang sebelah mata.
Cagak Keenam lalu mengulurkan sebelah tangannya ke depan. Gerakan yang sebenarnya sederhana, tetapi diketahui Mantingan bahwa betapa yang dilakukan Cagak Keenam tidak sesederhana itu.
Mantingan merasakan gelombang angin yang teramat sangat kuat dari uluran tangan tersebut. Sebelum semuanya menjadi terlambat, Mantingan mengirim Tapak Angin Darah ke samping kirinya, sehingga tubuhnya bisa bergerak ke sisi kanan untuk menghindari serangan tersebut!
Baru saja Mantingan melesatkan diri untuk menghindar, air laut di bawahnya terbelah! Terbelah dalam arti yang sebenar-benarnya terbelah, sebab menciptakan celah besar yang menjorok ke bawah laut sebelum akhirnya tertutup kembali dalam waktu yang cukup singkat.
__ADS_1
Meskipun hanya membelah lautan untuk sekejap mata saja, Mantingan tahu betul sebesar apa kekuatan yang menyebabkan hal itu. Dilihatnya Cagak Keenam yang baru saja menarik tangannya kembali, jelas bahwa kekuatan dari tangannya itu telah membelah lautan.
Mantingan kembali berdiri tegak di tengah lautan. Membiarkan gelombang laut mengempaskannya naik dan turun. Ditatapnya Cagak Keenam yang pula berdiri tegak tak jauh di depannya, pendekar tua itu menarik sudut bibir hingga tampaklah senyum lebarnya.
“Bagaimana menurutmu, Pahlawan Man? Masih ada harapan untuk dapat menang?”
Dengan sorot mata dingin, Mantingan menjawab, “Kalimat itu seharusnya ditunjukkan untukmu.”
Cagak Keenam melihat ke sekitarnya sebelum terkekeh pelan. Laut yang sempat terbelah tadi menciptakan gelombang besar yang menenggelamkan beberapa kapal layar kecil di sekitarnya, pula dengan sebagian besar pendekar yang bertugas untuk mengepung Mantingan.
***
“Kami tidak melihat sesuatu keanehan pun di armada ini, Saudara Ikan Terbang.” Salah seorang pendekar bertopeng putih menghadap. “Agaknya Bidadari Sungai Utara diculik oleh pihak luar yang hanya saja menyamar sebagai prajurit Tarumanagara. Mengingat bahwa di armada sebenarnya hanya diisi oleh orang-orang yang bisa dipercaya.”
“Geledah sekali lagi,” katanya kemudian. “Bawa pula anjing pelacak yang kita miliki.”
“Ikan Terbang!” Jagat yang selalu berada di sampingnya itu berseru. “Jika kita melakukan penggeledahan sekali lagi, maka berkemungkinan besar Tarumanagara akan tersinggung dengan sikap kita ....”
“Sedari awal Tarumanagara memang selalu merasa tidak suka dengan tindakan kita.” Ikan Terbang membalas dengan tenang, meskipun benar-benar tampak kegeraman dalam sorot tatapannya.
“Masa itu telah berlalu, Ikan Terbang. Punawarman tidak seperti ayahnya ....”
“Geledah armada ini sekali lagi.” Ikan Terbang mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan bawahannya itu. “Jika sampai tidak ditemukan sesuatu apa pun yang sesuai dengan dugaanku, maka akan kubakar Kelewang Samodra dan kubiarkan diriku tenggelam bersamanya!”
__ADS_1
Seluruh pendekar di anjungan itu membelalakkan mata. Mereka tahu betul bahwa Ikan Terbang tidak pernah bermain-main dengan perkataannya.
“Ikan Terbang, tarik kembali ucapanmu. Cukupkanlah tindakan gila ini!”
“Tiada akan pernah daku menarik ucapan yang telah kulepas. Sekali layar berkembang, surut kuberpantang!” Ikan Terbang tidak dapat menenangkan dirinya lagi. “Geledah armada ini sekali lagi, laksanakan segera!”
Ketika pendekar-pendekar bertopeng putih baru saja hendak berkelebat pergi, Jagat menahannya.
“Ikan Terbang, pikirkan tindakanmu ini matang-matang. Apa yang engkau ambil saat ini dapat memicu peperangan antara Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih!”
“Laksanakanlah perintahnya.”
Jagat tertegun. Suara itu jelas-jelas bukan berasal dari Ikan Terbang atau pendekar mana pun yang ada di anjungan Kelewang Samodra. Ketika dirinya menolehkan kepala menuju asal suara, terlihat orang-orang di sekitar berlutut menghadap pada seseorang. Dan sesaat setelah melihat wujud dan tampang orang itu, Jagat bersimpuh lutut dan menundukkan pandang.
“Cukup sudah,” kata sosok itu sambil mengangkat tangannya. “Segera laksanakan. Geledah seluruh kapal di armada ini sekali lagi. Tetapi, Ikan Terbang, daku memegang janji engkau.”
Ikan Terbang bangkit berdiri bersama dengan yang lainnya. Senyum lebar di wajahnya, dia berkata, “Sebuah kehormatan yang besar bagi kami, Yang Mulia Maharaja.”
Sosok yang berdiri di tengah-tengah geladak itu menganggukkan kepalanya. Dirinya mengenakan baju kebesaran yang ditimpa lagi dengan zirah besi besar. Meskipun tampak bahwa semua yang dikenakannya itu sangat memberatkan, tetapi tidak sedikitpun dirinya kelihatan mengalami kesulitan ketika memendaratkan diri di tengah-tengah geladak Kelewang Samodra.
Dialah sang maharaja negeri Taruma. Orang yang dianggap sebagai penjelmaan Wisnu di muka bumi. Harimau Tarumanagara. Yang konon bahwa zirahnya tiada mampu tertembus senjata musuh beragam rupa sekalipun.
Tidak salah dan tidak bukan, dialah yang memiliki gelar Sang Iswara Digwijaya Bhimaprakrama, Sri Maharaja Purnawarman!
__ADS_1