Sang Musafir

Sang Musafir
Pertanyaan yang Tiada Terduga


__ADS_3

MANTINGAN TERSENYUM lebar. “Ucapanmu ini telah menerangkan seperti apa dirimu yang sebenarnya.”


“Tuan keras kepala yang sok tahu, apakah tidak jelas bagimu bahwa sahaya adalah pendekar aliran hitam yang sudah pasti tidak mengenal sopan santun? Mengapakah Tuan memperpanjang masalah yang tiada berkepentingan seperti ini? Sahaya tidak meminta Tuan banyak cakap, sahaya meminta nyawa Tuan dihabisi segera.”


Mantingan tersenyum samar. Ditariknya napas panjang-panjang. “Tiadakah cukup jelas bagimu bahwa diriku sedang berhadapan langsung dengan kematian? Di saat-saat seperti ini, entah mengapa segala-galanya terasa cukup penting untuk tidak dilewati. Bahkan bercakap-cakap ringan yang menurutmu adalah omong kosong, menurutku sangat penting. Maafkanlah. Bagaimana jika kita berbincang-bincang sebentar saja sebelum daku mati?”


Pendekar Sanca Merah sekali lagi menyesap cangklongnya sambil tersenyum sinis. “Apakah engkau berusaha mengalihkan perhatian atau mengulur waktu, Tuan?”


Mantingan menggeleng pelan dan tersenyum. “Ambillah pedangku sebagai jaminan jika daku bermaksud buruk padamu.”


Mantingan menggeser Pedang Kiai Kedai sampai ke sisi meja bagian Pendekar Sanca Merah. Dilepaskan pedang itu seutuhnya. Sungguh perempuan itu mengernyitkan dahinya bingung, tidak mengetahui apa yang sedang Mantingan rencanakan. Akan tetapi dengan Pedang Kiai Kedai yang terlepas dari tangan Mantingan, maka seharusnya pemuda itu akan sangat mudah dikalahkan.


Pendekar Sanca Merah menarik pedang itu dan memandangi bilahnya. “Hitam legam, terlihat keras, tetapi lembek. Sama seperti pemiliknya.”


Mantingan hanya tertawa membalas ejekan itu. “Jadi bagaimanakah, wahai Sanca Merah? Apakah diriku dapat berbincang-bincang sebentar sebelum dijemput ajal?”


“Mengapa tidak, Tuan?” katanya, “sahaya memiliki banyak waktu, dan melayani pelanggan sebelum kematiannya adalah tugasku.”


Mantingan balas mengangguk. “Daku ingin tahu, engkau ini pendekar seperti apakah?”


Pendekar Sanca Merah mengangkat alisnya, bukankah seharusnya sudah jelas seperti apa jati dirinya?


“Sahaya adalah pendekar bayaran, Tuan.”

__ADS_1


“Dan engkau telah dibayar untuk membunuhku?”


“Benar, Tuan. Mengapakah Tuan tidak minum atau menghisap cangklong untuk menemani bincangan kita?”


Mantingan menggeleng untuk membalasnya. “Apakah daku dapat menyuruhmu untuk membunuh orang yang telah memerintahkanmu?”


“Jika Tuan memiliki bayaran yang lebih tinggi.” Gadis itu tersenyum. “Apakah Tuan dapat membayarku?”


Mantingan kembali menggeleng. “Sayangnya, daku tidak memiliki uang sebanyak yang engkau inginkan. Tetapi kini daku mendapat sebuah pelajaran, bahwa benar kata guruku. Sewaktu-waktu, uang dapat menyelamatkan nyawa.”


“Sayang sekali engkau harus berhadapan dengan orang seperti diriku, Tuan.”


Mantingan mengangguk. “Bagaimanakah kabar ibumu?”


Pendekar Sanca Merah kembali mengerutkan dahinya tetapi pula mengangkat alisnya. Bingung. Pertanyaan Mantingan tiada terduga. Mengapakah Mantingan tiba-tiba saja menanyakan ibunya? Adakah hubungannya dengan Mantingan sehingga pemuda itu menanyakan hal tersebut? Apakah Mantingan merupakan kenalan lama ibunya?


Tiba-tiba saja meja digebrak dan seketika itu pula melayang. Melayang ke arah Pendekar Sanca Merah ketika perempuan itu sama sekali lengah! Sedangkan itu, Mantingan tersenyum selebar-lebarnya karena kakinyalah yang menendang meja itu.


Pendekar Sanca Merah membeliakkan mata dan segera menyadari tipu daya Mantingan, tetapi dirinya sama sekali tidak dapat menghindari meja kayu yang jaraknya tinggal sejengkal lagi dari wajahnya.


Waktu seolah melambat. Mantingan melihat Pendekar Sanca Merah menatapnya dengan penuh kebencian. Meja itu masih terus melayang ke arahnya tanpa bisa dihindari.


Begitulah Mantingan melancarkan serangan dalam waktu kurang dari sekedip mata setelah membuat lawannya bingung harus menjawab pertanyaannya seperti apa. Mantingan begitu lihai membalik keadaan. Memangnya, siapa yang akan menyangka ditanyai kabar orangtuanya di saat-saat genting antara hidup dan mati?

__ADS_1


Tidak akan ada yang menyangka. Dan sesuatu yang di luar kenyataan selalu menciptakan kebingungan yang berakibat menjadi kelengahan.


Pendekar Sanca Merah tampaknya tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir, sehingga dirinya memutuskan untuk menghancurkan meja yang melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi itu ketimbang mencari jalan untuk menghindar.


Betapapun meja itu melaju dengan kecepatan yang teramat sangat tinggi. Pendekar seperti perempuan itu sudah pasti akan terluka jika ditabrak benda sebesar itu. Pendekar Sanca Merah mengulurkan lengan dan jari-jari lentiknya membentuk suatu tapak tangan. Tapak itu membentur permukaan meja, membuatnya hancur berkeping-keping.


Biarpun meja itu telah hancur menjadi ribuan bagian, tetapi serpihan-serpihan kayu tetap melaju dengan kecepatan tinggi, menggores sekujur tubuh Pendekar Sanca Merah bagian depan. Perempuan itu mendapatkan ratusan luka kecil yang meskipun tidak dalam dan tidak berbahaya, tetap saja terasa menyakitkan.


Sedangkan itu, Mantingan segera melancarkan serangan Tapak Angin Darah sesaat setelah meja itu hancur. Sungguh Mantingan tidak berbelas kasihan kepada musuhnya, sekalipun itu adalah perempuan. Serangan tapak itu rupanya begitu mengejutkan Pendekar Sanca Merah yang belum sempat menarik lengannya kembali. Perempuan itu mengambil lompatan mundur.


Mantingan mengejarnya dengan mengentak maju. Melewati serpihan-serpihan kayu yang masih belum sempat jatuh ke tanah. Diulurkan lengan kanannya ke depan, lagi-lagi melancarkan serangan Tapak Angin Darah.


Begitulah keduanya melayang-layang di udara sambil berbalas-balasan mengirim serangan tapak. Kecepatan mereka telah melampaui kecepatan petir, sehingga segala gerakan yang dibuatnya tidak dapat ditangkap mata orang awam.


Bangunan kedai hampir hancur setelah menerima puluhan jurus tapak dari kedua belah pihak. Tidak ayal lagi, kedai itu akan rubuh. Tetapi kedua pendekar itu sama sekali tidak berpindah tempat. Pertarungan terus berlangsung di dalam kedai.


***


PENDEKAR SANCA Merah mengeluarkan semburan asap dari cangklongnya setelah menghentikan serangan tapak. Mantingan tidak mengetahui asap apakah yang dikeluarkannya, sehingga ia memilih untuk segera menghindari asap tersebut. Bagaimanakah jadinya jika asap itu ternyata beracun?


Tetapi asap itu agaknya memang bukan sengaja diarahkan kepada Mantingan, melainkan kepada Golek Jiwa yang masih mematung di dekat pintu masuk. Asap tersebut melesat sedemikian cepat bagaikan awan panas dari gunung, masuk ke dalam sebuah ceruk di atas kepala golek. Setelah itu, Pendekar Sanca Merah mengirimkan belasan jarum hitam yang melesat bersama serangan tapaknya.


Sudah barang tentu Mantingan menghindari ketimbang menangkisnya. Pedang Kiai Kedai masih berada di tangan lawan. Sedangkan menangkis belasan jarum beracun tanpa pedang tidaklah mudah, setidaknya Mantingan mesti mengeluarkan dua serangan tapak berangin. Jelas itu akan menyia-nyiakan tenaga dalam.

__ADS_1


Tetapi keputusan yang Mantingan buat kali ini salah besar. Ketika dirinya menghindar, Pendekar Sanca Merah memanfaatkan itu untuk melesat jauh darinya. Kini perempuan itu berdiri di belakang Golek Jiwa. Terengah-engah napasnya.


Mantingan memendaratkan diri tepat di tengah ruangan. Berbeda dengan Pendekar Sanca Merah, napasnya masih teratur. Padahal dialah yang lebih banyak mengeluarkan tenaga dalam ketimbang Pendekar Sanca Merah.


__ADS_2