Sang Musafir

Sang Musafir
Ruangan Pribadi di Kedai Tuak


__ADS_3

ORANG itu kemudian memanggil pelayan yang lainnya untuk mengantarkan Mantingan dan Dara sekaligus sekendi arak putih ke ruangan yang mereka pesan. Sedangkan itu, Dara tampak bercakap setengah berbisik pada dua pelayannya, Mantingan tidak berusaha mendengarkan sebab merasa tidak sopan sekalipun ia bisa mampu dengan menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.


Beberapa saat setelah arak putih selesai dituangkan ke dalam kendi, Mantingan dan Dara diminta untuk mengikuti pelayan itu.


Mereka bergerak masuk lebih ke dalam kedai yang suasananya tidak terlalu ramai. Semakin bergerak ke dalam, mereka mulai menjumpai beberapa ruangan pribadi yang tertutup pintunya, menandakan bahwa ruangan-ruangan itu telah terisi.


Mereka dibawa terus hingga tiba di sebuah ruangan gelap dengan pintu terbuka. Pelayan menyalakan lampu lentera di setiap sudut ruangan dan lalu menaruh kendi arak di atas meja.


“Jangan membuat keras jika kalian ingin membuat suara,” kata orang itu dengan nada datar, “jika kami menerima laporan tidak sedap dari kalian, maka kalian berdua akan langsung diusir dari kedai ini.”


Mantingan menganggukkan kepalanya, kemudian mengatakan bahwa ia akan lebih terganggu jika tamu lain berisik. Demi penyamarannya, Mantingan rela berbicara lebih banyak daripada biasanya. Pelayan itu hanya menatap Mantingan datar barang sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi.


Mantingan mengembuskan napas panjang sambil melihat ke dalam ruangan. Sesuai dengan dugaannya, ini bukanlah jenis tempat yang disukainya. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah ranjang yang dikelilingi kelambu berenda-renda dengan warna kemerahan, beberapa bangku panjang, dan sebuah meja pualam besar di sudut ruangan.


Melihat pula dari nuansa ruangan yang kemerahan itu, Mantingan tahu bahwa tempat seperti ini begitu buruk dan tidak seharusnya ada di Pelabuhan Angin Putih.


Namun apalah daya, mungkin hanya ini satu-satunya tempat paling aman untuk memberlangsungkan suatu percakapan yang amat sangat rahasia.


Mantingan menutup pintu setelah Dara masuk. Ia mengeluarkan sebuah Lontar Sihir Penyamar dari dalam saku di balik pakaiannya sebelum menempelkannya pada dinding ruangan. Lontar Sihir itu akan mencegah sebagian besar suara dari dalam ruangan untuk keluar.


Dara membuka topengnya sambil menghela napas panjang, perempuan muda itu kemudian berujar, “Aku tidak pernah menyangka akan masuk ke ruangan seperti ini bersamamu.”


Mantingan tersenyum gugup sebelum menjawab, “Maafkan daku, Nyai. Kurasa perbincangan kita kali ini akan sangat penting, sehingga memang membutuhkan ruangan tertutup seperti ini.”

__ADS_1


“Tentu aku memahaminya, Mantingan. Hanya tetap saja, aku tidak pernah menduga-duga hal seperti ini sebelumnya.” Dara tersenyum tipis. “Jika aku jadi kau, tempat seperti ini memang telah menjadi pilihanku.”


Mantingan menganggukkan kepala. “Nyai, ada—”


“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Mantingan, barulah setelah itu aku mau mendengarkanmu.”


Mantingan terbatuk sekali sebelum melanjutkan ucapannya yang tadi sempat tertahan, “Dara, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepadamu.”


“Tentu saja, itu tujuan kita pergi ke tempat ini, bukan? Tetapi mengapakah tidak sambil duduk di sana?” Dara menunjuk bangku panjang di sisi ruangan.


Mantingan menyetujuinya. Mereka duduk di dua sisi berbeda dari bangku itu.


Mantingan melanjutkan pertanyaannya, “Dara, bagaimanakah kau bisa mengetahui keberadaanku di pelabuhan ini? Kukira kedatanganmu ke sini lebih dari sekadar ingin mengadakan lelang saja.”


“Bagaimana kau bisa mengetahui letak keberadaanku, Dara?”


Menghadapi pertanyaan Mantingan, raut wajah Dara berubah menjadi lebih bersungguh-sungguh daripada sebelumnya. Lalu tibalah saat dia mengatakannya secara perlahan, “Daku membeli kabar tentang keberadaanmu dari seorang pengepul kabar. Pengepul itu menemuiku secara tertutup dan berkata bahwa dirinya memiliki keterangan tentang letak keberadaanmu. Orang itu memintaku untuk melelangnya dan membagi hasil.


“Tetapi tentu saja daku menolak itu. Aku beralibi bahwa lebih menguntungkan jika aku membeli keterangan itu darinya secara sepihak. Aku menjanjikan harga yang tinggi jika dia berjanji tidak akan menyebarkan keterangan ini setelah memberikannya padaku. Dia setuju.”


“Berapa banyak yang kaukeluarkan untuk membeli keterangan itu, Dara?” Mantingan terpaksa memotong dengan raut wajah tidak sedap.


“Hanya sepuluh Batu. Itu bukan jumlah besar, dan tidak sepatutnya engkau memikirkan itu.”

__ADS_1


Mantingan ingin membantah dan mengatakan bahwa tindakan gadis itu sangat berlebihan. Namun, kemudian ia menyadari bahwa tindakan Dara sudah sangat benar dengan memiliki kabar itu secara sepihak, sebab betapa pun ia membawa Bidadari Sungai Utara yang betapa pun akan menjadi kunci keberhasilan penyergapan pada para penyamun laut yang telah direncanakan Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih.


Maka Mantingan menahan ucapannya yang satu itu, dan tersenyum lembut. “Aku dengan tulus menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepadamu, Dara. Tak terhitung kebaikanmu yang belum dapat kubalas.”


“Tidak perlu seperti itu. Bukankah dulu kaupernah mengatakan bahwa segala kebaikan bukanlah sesuatu yang harus dibalas secara langsung?”


Mantingan tidak tahu harus mengatakan apa. Jelasnya, ia merasakan kehangatan di dalam dadanya. Kebaikan Dara telah menyentuh lubuk benaknya yang terdalam.


“Tetapi, Mantingan, aku meragukan janji pengepul kabar yang bergerak tanpa kelompok itu. Dari caranya menawar pun, aku mengetahui bahwa dia adalah orang yang sangat serakah. Maka dengan amat sangat terpaksa, kusuruh pendekar bayaran untuk membunuhnya. Beruntungnya, pembunuhan itu berhasil.”


Suasana ruangan berubah seketika. Seolah udara berubah menjadi lebih dingin. Senyum hangat Mantingan berubah menjadi senyum kaku. Kecuali senyum Dara yang tidak pudar sedikitpun. Betapa amat sangat ringan gadis itu mengatakan bahwa dia telah memerintahkan pendekar bayaran untuk membunuh pengepul kabar tiada berdosa itu!


Dara menyadari perubahan raut wajah Mantingan. “Kulakukan ini demi keamananmu dan Bidadari Sungai Utara, Mantingan. Engkau adalah orang yang sangat penting bagi Javadvipa; dan Bidadari Sungai Utara pula orang yang sangat penting bagi Champa. Pengepul yang serakah itu kurasa telah melakukan banyak dosa bejat selama hidupnya, kematiannya bukanlah apa-apa.”


Mantingan masih pula tersenyum canggung. Ia masih sulit memahami jalan pikiran Dara. Mengapakah gadis itu menganggap bahwa dirinya dan Bidadari Sungai Utara sangat penting bagi masing-masing negeri mereka?


Adakah Bidadari Sungai Utara telah mengukir sebuah sejarah baru sebagai wanita penghibur paling penting bagi suatu kerajaan?


“Sepuluh Batu yang menjadi pembayaran itu pada akhirnya kusumbangkan pada golongan petani dan pengungsi korban perang. Dampaknya lumayan bagus.”


Kembali Mantingan terdiam sebentar sebelum menganggukkan kepalanya. Sepuluh Batu yang bernilai 10.000 keping emas itu tentunya akan memberi dampak yang tidak sedikit bagi kalangan kurang mampu.


“Tetapi, Mantingan, aku masih tetap saja khawatir bahwa kabar tentang keberadaanmu dan Bidadari Sungai Utara telah tersebar luas di jaringan bawah tanah dunia persilatan. Itulah yang menjadi alasan dasarku untuk mengadakan lelang di pelabuhan ini. Setidaknya, hal itu bisa mengalihkan perhatian orang-orang persilatan.”

__ADS_1



__ADS_2