
KEMBALI Mantingan berada di situasi yang sama sekali tidak ia sukai. Jika ia menyerang itu sama saja terjebak dalam situasi membunuh atau dibunuh. Mantingan tahu, bahwa jika saja sepuluh pendekar tingkat rendah sekalipun mengepungnya, maka pedang Kiai Kedai terpaksa ditarik dari sarungnya.
“Tenang saja, Mantingan. Jika dalam kurun waktu tiga hari mereka melakukan penyerangan, itu akan lebih baik untuk kita.”
Malam itu adalah waktu bagi pancaka-pancaka untuk dibakar. Tentu saja pancaka-pancaka tersebut tidak dibakar dalam keadaan kosong.
Prajurit-prajurit kota tidak menangisi kepergian temannya. Bukan karena rasa iba mereka telah hilang. Bagi mereka, menangis tidak perlu jika ternyata besok kembali bertemu di alam baka. Selama pertempuran berlangsung, siapakah yang bisa memastikan akan selamat sampai akhir?
Tiga belas prajurit terlatih yang berani itu tidak satupun dari mereka yang menambah jumlah korban. Sesuai perjanjian, 13 prajurit itu berkumpul di dalam kediaman Mantingan untuk makan malam bersama.
Tetapi suasana makan malam itu tidak semeriah yang dibayangkan kemarin malam. Tidak sedikit tman-teman mereka yang tewas, mana mungkin mereka makan-makan sambil bergembira.
Makanan kali ini didatangkan dari perkemahan pasukan, sebab tidak ada lagi yang berjualan di pusat kota. Maka yang mereka makan adalah makanan yang sama dengan prajurit lainnya.
Selesai makan malam, Mantingan mengatakan hal yang sama seperti malam kemarin. “Jika salah satu dari kalian mati esok hari, kembalilah ke sini untuk membakar saudara kita bersama-sama. Jika tidak satupun dari kalian yang mati, kembalilah ke sini untuk makan malam. Kalian tidak akan makan malam jika saudara tidak lengkap.”
***
Tiga belas prajurit itu menghaturkan hormat pada Mantingan di depan pintu kediaman sebelum melangkah pergi. Tenaga mereka lebih dibutuhkan di perkemahan pasukan. Mantingan masuk dan menutup pintu, ia kembali ke ruangannya untuk membuat membaca kitab persilatan.
Tidak ada Rara yang menemaninya bercakap-cakap malam itu meskipun sudah puluhan kali Mantingan memanggil.
Tidak peduli seratus kali pun, Rara tetap tidak muncul. Bagaikan memanggil di ruang yang hampa. Tanpa ada gaung, tanpa ada sahutan.
Malam yang sisa sedikit itu dihabiskan Mantingan untuk membaca kitab-kitab. Entah itu kitab dasar maupun kitab tinggi, dibaca tanpa memandang kebesarannya.
Mantingan tidak bisa santai membuat teh dan mandi air hangat di pagi hari ini. Ia segera melesat menuju tembok kota setelah sedikit sarapan.
Di sana ia bertemu perwira yang sedang berjaga-jaga di atas menara. Perwira memberi isyarat pada Mantingan untuk naik.
“Mantingan, sepertinya ini tidak terlalu baik.” Arah mata perwira tertuju pada hamparan tanah lapang jauh di depan tembok kota, tempat kekuatan musuh membangun tenda.
__ADS_1
Mantingan secara tidak sadar turut mengikuti arah mata perwira. Dalam satu tarikan napas, mata Mantingan melebar.
Bagaimana tidak? Jauh di depan sana, kekuatan musuh terlihat semakin bertambah besar dari apa yang terakhir kali dilihat. Tenda-tenda besar baru saja dibangun. Barisan-barisan tentara terlihat menunggu tenda-tenda lainnya selesai dibangun.
Mantingan menghela napas panjang. “Bagaimana mereka bisa melakukan itu dalam waktu yang sangat singkat?”
“Sepertinya pasukan bantuan sudah berjalan ke sana sedari malam dan sampai di waktu dini pagi. Telik sandiku tidak kembali ke sini tadi malam, aku khawatir dirinya tertangkap oleh musuh.”
“Aku tidak suka mengetahui hal ini, Perwira, tetapi harus aku katakan bahwa pasukan musuh yang baru datang ini sepertinya cukup cerdik.”
“Yang aku khawatirkan sama denganmu, Mantingan. Apakah lontar sihirmu itu bisa dipatahkan mereka?”
“Jika salah satu pendekar dari mereka cukup memahami sihir, itu memungkinkan untuk dipatahkan. Tetapi akan kuusahakan yang terbaik untuk mencegah mereka melakukan itu.”
Perwira mengangguk pelan. “Harapan kami dan harapan segenap warga kota ada pada dirimu, Mantingan.”
***
Perwira yang sedang makan siang bersama Mantingan itu langsung saja menghentikan santapannya. Mantingan juga bereaksi sama.
“Peringatkan ke semuanya, tetapi jangan tiup sangkakala sebelum ada perintah.”
“Baik!” Prajurit yang mengabarkan itu bergegas pergi.
Perwira beralih pada Mantingan. “Mayat kawan-kawan mereka yang kemarin malam belum diurus, dan sekarang mereka berniat menambah lagi.”
Mantingan tersenyum hambar. “Perwira, sebaiknya kita bersiap-siap.”
Kegiatan yang kemarin malam diulang kembali siang itu. Matahari tidak bersinar terlalu terik, langit berawan, tetapi hari begitu panas.
Memang saat langit sedikit berawan, udara akan terasa lebih panas, sering diartikan sebagai tanda akan turunnya hujan. Itu tidak salah. Hujan sepertinya akan turun sebentar lagi, membuat panah-panah api musuh tidak bisa bekerja penuh.
__ADS_1
Tiga belas prajurit pemberani kembali berdiri tegap di atas tembok kota. Sama seperti prajurit lainnya, jantung mereka berpacu penuh semangat menanti musuh. Semoga cepat selesai atau semoga bertemu kawan-kawan di alam baka.
Mantingan seperti tadi malam, berdiri tepat di atas pintu kota, ia akan memastikan tidak ada pendekar yang berhasil mematahkan lontar sihir pertahanannya.
“Saudara Man! Sepertinya pertempuran kali ini akan jadi lebih seru daripada tadi malam!”
Mantingan tertawa pelan. “Jaga diri kalian baik-baik agar nanti malam bisa makan.”
“Kami bahkan belum sempat makan siang, nanti malamnya Saudara harus menyiapkan porsi besar."
Mantingan menunjukkan senyumnya sebelum kembali menghadap ke depan.
Terlihat beberapa barisan besar tentara musuh. Masing-masing barisan itu mengikatkan bendera asal perguruan mereka di tombak panjang. Mantingan mengernyitkan dahi ketika mengenali bendera yang mereka kibarkan.
“Pohon biru tak berdaun, Padepokan Getih Asin ada di sini?” Mantingan lalu tersenyum canggung. “Apakah mereka akan terkejut melihatku ada di sini?”
Barisan pertama berisi pemanah. Mereka maju cukup jauh sebelum melebarkan barisannya. Busur-busur, mereka rentangkan. Dan dilepaskanlah! Meluncur ribuan anak panah sekaligus dalam satu serangan.
Perwira mengangkat tangannya. Kita kali kentungan dibunyikan, tanda pasukan harus mengangkat perisai. Itu memang tanda baru yang diusulkan perwira, suara dari kentungan jauh lebih terdengar ketimbang suara teriakan.
Ribuan panah berapi bagaikan hujan berapi yang mengguyur pasukan di belakang tembok kota. Api dari panah-panah itu menyambar ke mana-mana dan membakar hampir segalanya.
“Panah!” Perwira memberi perintah, mereka harus berpacu dengan musuh yang sama-sama merentangkan panah. “Tembak sekarang!”
Dua kubu pemanah saling mengirim panahnya. Kali ini panah dari pasukan kota turut membawa api. Belasan panah bertubrukan, patah di udara. Sedang ribuan lainnya terus meluncur ke sasaran.
Tiga kali kentungan dibunyikan lagi. Seluruh prajurit di belakang tembok mengangkat perisainya.
Pertukaran serangan panah itu berlangsung hingga sepuluh kali serangan sebelum dua pihak kehabisan anak panah. Serangan dilanjutkan oleh tentara berkuda, dan tentara pejalan kaki yang biasa disebut tentara tanah.
“Tahan pintu kota!”
__ADS_1
Lima kali kentungan dipukul setelah perwira mengeluarkan perintah. Pasukan segera bergerak.