Sang Musafir

Sang Musafir
Hadiah untuk Kedai Seribu Cangkir


__ADS_3

Kala meminta Alang untuk terbang dan menunjuk arah dari atas. Kota yang luas dan sepi ini akan memudahkan mereka untuk tersesat. Alang melesat cepat ke atas langit dan memberi petunjuk arah.


Dengan mata yang melirik Kaia, Kala tersenyum jahat. “Sepertinya kita harus lari kencang. Anggap ini latihan.”


Kala tiba-tiba melesat lari secepat angin. Kaia kaget dengan kecepatan Kala dan ia ikut melesat dengan mengalirkan energi Prana yang baru ia kenal ke kakinya. Kecepatannya tidak bisa menyamai Kala, padahal Kala sudah sangat mengurangi kecepatan aslinya.


***


“Mengapa kalian ke sini?” Aditya terlihat cemas saat Kala dan Kaia sampai di tembok kota lokasinya.


“Aku ingin melihat situasinya. Bicara-bicara, aku berhasil menembus ke Alam Kristal Spirit,” jawab Kala.


Aditya agak meragukan pencapaian Kala, tapi ia yakin bahwa Kala tidak berbohong. Tidak ada aura Alam Kristal Spirit di dirinya, bahkan aura Kala sedikit menurun dari sebelumnya.


Aditya menjelaskan situasinya. Ia sudah melakukan negoisasi, tapi itu tidak berjalan sesuai harapan. Ia hampir terluka saat terjadi serangan dadakan yang terselubung.


Untuk sekarang, Aditya memerintahkan prajurit kota untuk membantu tapi mereka sama sekali tidak mau bergerak. Itu semua akibat perintah dari keluarga bangsawan di kota ini, mereka memerintahkan seluruh prajurit untuk mengawal mereka kabur dari kota. Kastel Kristal Es bukanlah sesuatu yang bisa dilawan kota seperti ini.


Pihak dari Pandataran juga menekankan bahwa jika kota ini sampai hancur, maka perang akan meletus antar Geowedari-Pandataran mengingat Kastel Kristal Es berasal dari Pandataran.


“Sial, jika perang pecah ... aku tidak tahu berapa banyak korban yang akan jatuh.” Kala berkomentar dengan geram.


Ini semua mengartikan bahwa langkah apa pun yang ia ambil, harus penuh pertimbangan yang matang dan dilaksanakan dengan hati-hati.


“Pak! Musuh terlihat menyusun barisan pemanah!” Seorang pranor datang dengan tergesa-gesa dan menyampaikan laporan.


“Bentuk barikade! Angkat perisai!”


“Siap laksanakan!”


Prajurit itu pergi dan menyampaikan perintah Aditya pada yang lain. Aditya menghela napas panjang lalu beralih pada Kala.


“Sepertinya kita harus melihat dari atas.”


Kala mengangguk, mereka menaiki tangga menuju atas tembok.


“Ya Tuhan ....”


Yang di depannya adalah lautan pranor! Mereka benar-benar siap menyerang kota dan sudah membentuk beberapa barisan. Barisan ke dua sedang merentangkan busur, mengarahkannya untuk menghujani kota.


“Angkat perisai!” Aditya berteriak lantang.


Kala teringat akan Kaia, ia bisa menghindari semua panah dengan mudah tapi tidak dengan Kaia.


Kaia terlihat kelelahan, berusaha menaiki satu anak tangga lagi menuju ke atas tembok.


“Alang, pergi dan serang dari udara. Hancurkan mereka menjadi abu!”


“Eak!” Alang berteriak nyaring dan langsung melesat ke atas langit.


Kala melompat ke bawah dan mendarat tepat di depan Kaia. “Tetap berada di belakangku.”


Kaia menatap Kala tidak percaya. Entah mengapa pria yang memunggunginya ini terlihat lebih gagah sekarang.


Terdengar suara angin ditusuk dari arah atas. Langit seketika gelap saat ribuan panah menutupi sang surya. Panah-panah itu dengan cepat menusuk-nusuk bumi di bawahnya.


Seluruh prajurit penginapan sudah dibekali perisai, perisai besar itu menyelamatkan mereka semua. Sedangkan Kala menangkis serangan yang datang dengan tangan kosong.


Kaia tidak bisa menutup mulutnya saat melihat sendiri Kala melakukan hal gila ini. Apa ia melakukan ini hanya untuk melindungi wanita cantik di belakangnya? Itu benar!


“Gelombang ke-dua!” Seseorang berteriak lantang.

__ADS_1


Kala melakukan hal yang sama. Semua panah kena tepis dengan mudah. Tangannya tidak tergores sedikit pun, begitu juga Kaia yang terpana di belakangnya.


Setelah beberapa saat, panah tidak lagi menerjang. Sepertinya mereka cukup pintar untuk tidak melakukan hal sia-sia seperti tadi. Sekarang waktunya hidangan utama.


“Bentuk barikade!” Aditya berteriak dari atas tembok.


Gerbang besar dibuka dan semua pranor yang semulanya di belakang tembok sekarang keluar dan membentuk barisan pertahanan. Mereka akan kalah telak jika maju menyerang, lebih baik bertahan.


Semua pranor dari penginapan benar-benar disiplin. Mereka dengan cepat membentuk barisan yang rapi dan ketat. Perisai persegi panjang besar di bagian luar berikut dengan tombak panjang yang diancungkan.


Beberapa pranor Alam Formasi Spirit memberi sebuah segel Prana ke perisai-perisai terluar. Segel ini membuat perisai lebih kuat dalam menghadapi dorongan dan saling menyatu dengan perisai lain sehingga menghilangkan celah.


Terompet perang dari kubu Kastel Kristal Es berbunyi. Kala menyuruh Kaia tetap berada di belakang tembok terlebih dahulu sampai pertempuran hampir selesai. Kala maju ke luar barisan terdepan.


Diantara semua pranor yang berbaris di sini, hanya Kala yang tidak berbaris dan berdiri paling depan sendirian. Bahkan Aditya saja berada dalam barisan.


“Pendekar! Kembali ke barisan! Itu berbahaya!”


Mungkin adegan Kala berdiri dengan gagah sendirian di depan merupakan sesuatu yang epik, tapi risiko yang harus ditanggung cukup besar.


Kala tidak peduli, atau bahkan ia tidak mendengarkan sama sekali. Ia melakukan sejumlah gerakan yang mirip dengan gerakan tari. Ia melakukannya dengan sangat mulus dan lembut, seolah-olah ia adalah boneka dari alam.


Yang ia lakukan adalah gerakan untuk meraih ketenangan dan energi pencak silat. Ini diajarkan oleh Cassandra semasa ia berada di masa latihan. Setelah ia melakukan beberapa gerakan, Kala menangkupkan tangannya lalu memandang lautan musuh di depannya.


Mereka bergerak dengan cepat, gemuruh perang menyertai seakan mereka adalah badai dan kota ini adalah ilalang.


“Tapi, ini adalah ilalang dengan akar kuat,” gumam Kala dengan tenang.


Teriakan semangat perang dari musuh terdengar keras saat mereka berada tepat di depan Kala. Kala mengaktifkan mata Garuda. Dunia seketika melambat di matanya yang jingga.


Ia dapat dengan jelas melihat pedang-pedang yang terarah padanya serta tatapan musuh yang mengejek padanya. Siapa yang cukup gila berdiri di depan tanpa barisan? Apa dia sudah bosan hidup?


Ilmu Tangan Besi adalah ilmu baru yang ia pelajari dari Cassandra. Ini membuat tangan sekuat besi dan kuat terhadap serangan pedang. Setelah menangkis serangan, Kala menarik tubuh di empu pedang lalu membantingnya ke tanah. Pranor itu mati dalam satu bantingan.


“Eh? Semudah ini?” Kala terkejut saat ia membunuh dalam satu serangan, padahal pranor ini berada di Alam Formasi Spirit.


Saat melawan lawan berat seperti Cassandra, Kala sampai terbiasa dengan lawan yang sangat kuat. Namun, kali ini ia menghadapi lawan-lawan lemah dibandingkan Cassandra. Ini seperti membabat rerumputan menggunakan arit!


“Ini akan mudah ....”


Satu musuh lagi menyerang dengan bodoh. Kala mengangkatnya lalu dibanting kuat-kuat ke tanah. Tubuhnya hancur seperti tomat busuk.


“Aduh, aku terlalu bersemangat.” Kala tersenyum canggung lalu menatap ganas musuhnya yang lain.


Sedangkan Alang terus mengirim bola api sebisa mungkin ke garis pertahanan, di sana pranor dari Penginapan Progo sedang mendorong perisai agar pertahanan tidak tertembus.


“Satu, dua, dorong!” Mereka berteriak sambil menusuk tombak dari dalam pertahanan.


Jika pertahanan tertembus, maka adu pedang akan terjadi dengan sengit, korban akan lebih banyak berjatuhan.


“Mereka tidak boleh mati karenaku.” Kala bergumam, ini dendam pribadi pada Kastel Kristal Es bukan Laskar Progo yang harus membalaskan dendamnya.


Tanpa basa-basi lagi, Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa dari cincin interspatial. Kali ini Kala mengalirkan Prana dengan jumlah berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya.


Satu guci terisi. Dua guci terisi penuh. Sekarang tiga guci. Guci empat terisi penuh!


Bummm!


Dentuman keras keluar dari Keris Garuda Puspa saat empat guci terisi penuh. Aura pembunuh berat keluar dari keris itu. Semua pranor yang berada di dekatnya langsung menunduk seakan-akan beban kuat memikul pundak mereka, ini juga tidak pandang bulu pada pihak teman.


Kala seperti kehilangan kendali membabat lautan manusia di depannya.

__ADS_1


Ini seperti memotong sejumlah rumput dengan pedang spirit!


Walau terlihat seperti kehilangan kendali, tapi Kala mengontrol penuh serangannya. Ia membunuh musuh dalam sekali tebas dan sama sekali tidak melukai pasukan di pihaknya.


Jumlah musuh berkurang drastis akibat Kala yang berubah menjadi harimau ganas. Pimpinan menyuruh semuanya untuk mundur, tapi mereka tidak bisa bergerak cepat saat berada di dekat Kala.


Raut muka mereka sangat ketakutan bahkan sampai saat mereka sudah mati. Kala benar-benar menjadi malaikat maut dadakan yang menjemput nyawa mereka semua. Jika Kala mendekati mereka, maka ketakutan ekstrem akan menyertai mereka.


Seharusnya Kastel Kristal Es yang unggul di pertempuran ini, tapi itu semua diputar balikan hanya oleh satu orang saja. Mereka bahkan tidak pernah menduga ini walau sudah menduga 1000 kali.


“Mundur! Dia bukan lawan kita!”


Beberapa pranor dengan tingkat tinggi dari Kastel Kristal Es turun tangan untuk menghadang Kala, tapi mereka hanya bertahan sedikit lebih lama dari prajurit lainnya. Semuanya berakhir di keris Kala.


Sejurus dari arah barat, pranor-pranor dari Kastel Kristal Es berpentalan ke atas lalu jatuh mati. Semua pranor dari Kastel Kristal Es beralih dari Kala ke arah barat.


“Si Tapak Harimau!” teriak seseorang pranor Kastel Kristal Es sebelum ia terpental oleh serangan tak kasat mata.


Kala berhenti sebentar dan melihat ke arah barat untuk memastikan bahwa yang datang bukanlah musuh baru. Namun, yang ia lihat hanya Walageni dengan serangan tapaknya yang dahsyat.


“Si Tapak Harimau rupanya si tua Walageni.” Kala berdecak kagum melihat serangan Walageni yang sangat dahsyat.


Setiap serangan yang ia lepaskan akan membentuk auman harimau dan bayangan harimau, lawan akan berpentalan walau jaraknya jauh dari serangan Walageni. Pak tua itu tersenyum kepada Kala dan memberi isyarat untuk melanjutkan pembasmian.


“Mati kita ....” Salah satu pranor Kastel Kristal Es bersimpuh lutut saat melihat kemunculan Walageni, ia benar-benar kehabisan semangat tempur.


Banyak juga yang kehilangan asa. Kala saja sudah sangat merepotkan, belum lagi ada kemunculan Walageni dengan jurus andalannya. Ini sungguh sesuatu yang tidak diduga-duga oleh pemimpin Kastel Kristal Es.


Banyak yang meninggalkan pedang beratnya lalu berlari menjauh dari kota, namun, Aditya memberi tanda untuk seluruh pasukannya maju menyerang.


Kala menancapkan kerisnya ke tanah saat seluruh air di guci keris habis. Ia tidak kehilangan kesadaran, bahkan ia hanya sedikit kelelahan. Kala hanya mengalami sedikit gangguan mental akibat membunuh terlalu banyak, tubuhnya sekarang diselimuti aura pembunuh yang sangat kental.


Jika Kala mengaku bahwa dirinya adalah orang baik, maka aura pembunuh yang ia miliki saat ini akan mencoreng namanya. Orang keji digambarkan sebagai orang yang banyak membunuh, Kala tidak bisa mengaku sebagai orang baik.


“Kaia, ini sudah waktunya!” Kala berteriak keras pada Kaia yang menyaksikan dari atas tembok kota.


Kaia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia tidak bisa. Melihat pembunuhan seperti tadi saja sudah sangat membuatnya ketakutan.


Kala sedikit geram, ia pergi ke atas tembok dan menarik Kaia ke bawah. Ia melemparkan pedang rusak yang ia punya di cincin interspatial.


“Ini yang kau mau, lakukan untuk memulai langkah pertama balas dendammu.” Kala melepaskan cengkeramannya.


“Aku ... aku tidak bisa.”


“Kau pasti bisa.”


Dengan menghela napas panjang, Kala memandangi pasukan Kastel Kristal Es yang mundur sambil berusaha bertahan dari terjangan. Ini cukup aman bagi Kaia karena kondisi sangat menguntungkan pihak kawan.


“Jika kau tidak mau balas dendam, katakan padaku.” Kala menatap mata Kaia lurus.


Kaia memandangi tanah di bawah, tidak sanggup melihat langsung ke mata Kala. Dalam perenungan ini, ia kembali mengingat orang tuanya yang mati dibunuh, rumahnya yang dibakar habis, dan yang terparah adalah kehormatannya yang dirampas.


Jari jemarinya mengepal dengan amarah yang tiba-tiba muncul. Ia meraih pedang spirit rusak di tangan Kala dan memandangi musuh yang berlari dengan ketakutan. Ia mengentak kakinya lalu berlari ke arah musuh.


Kala kembali menghela napas panjang lalu bersuit keras. Alang yang tampak sangat kelelahan turun dari langit hinggap di pundak Kala dalam kondisi mengecil.


“Sudah waktunya kita istirahat.” Kala mengusap kepala Alang sambil tersenyum.


“Eak?”


“Dia bisa mengatasi ini semua,” jawab Kala sambil memandangi Kaia yang sedang menangkis serangan musuh. “Aku yakin itu.”

__ADS_1


__ADS_2