
DENGAN cepat, petugas perhelatan mengumumkan bahwa pasangan yang memutuskan untuk tidak saling bebunuhan dapat kembali ke rumah mereka masing-masing di Lingkungan Seribu Istana, tetapi bagi pendekar yang telah membunuh pasangannya haruslah menetap untuk mengurus beberapa hal.
Sepanjang perjalanan kembali, Mantingan dan Chitra Anggini dapat melihat wajah-wajah para pendekar di sekitarnya sudah tampak tidak sedap lagi. Pengalaman dan pemandangan yang baru saja mereka dapatkan tentulah teramat mengguncang kejiwaan. Bahkan Mantingan sendiri boleh mengakui bahwa perasaannya sedikit bergolak setelah menghadapi Chitra Anggini yang sungguh siap mati demi dirinya.
Hingga kini pun, Mantingan masih tidak mengerti mengapa kawan-kawannya sungguh rela mati untuk dirinya, ketika bahkan ia sendiri tidak menganggap hidupnya cukup berharga untuk ditukar dengan nyawa-nyawa mereka.
Diingatnya kembali kematian Rara, Arkawidya, Satya, hingga pengorbanan besar Dara yang rela menjadi gundik raja demi terjaminnya kerahasiaan pergerakan Mantingan. Dan kini, mengapakah pula Chitra Anggini yang bahkan telah banyak direpotkan karena dirinya, masih saja tanpa sedikitpun keraguan rela mati untuknya?
Setelah sampai di dalam rumah, dengan pintu terkunci rapat, dan topeng telah dibuka hingga menampakkan rupa wajah, saat itulah Mantingan memegangi kedua pundak Chitra Anggini lantas mendorongnya menuju dinding.
Ketika perempuan itu tergencit dan tak dapat bergerak, Mantingan segera menyampaikan perkataan dalam tatapan matanya, ‘Apa maumu?’
Dengan dahi berkerut, Chitra Anggini membalas segera, ‘Apa yang kaumaksud?’
‘Mengapa kau bertindak gila di tempat itu? Mengapa seolah saja nyawamu sungguh tiada berarti apa pun? Jadi apa mau dan tujuanmu terhadap aku sebenarnya?’
Terdiam cukup lama, akhirnya Chitra Anggini membalas, ‘Bukankah kita ialah kawan seperjalanan yang kedekatannya bahkan dapat melebihi sepasang kekasih yang dimabuk cinta? Aku sama sekali tidak mengapa bila mati demi dirimu, Mantingan. Sungguh. Terlebih setelah kusadari betapa pentingnya dirimu bagi orang banyak, aku rela mati ribuan kali dengan cara paling menyakitkan sekalipun untuk menukar nyawamu.’
Mantingan menatap perempuan itu dengan pandangan tak percaya. ‘Lantas seperti apakah kau menganggap dirimu sendiri? Apakah begitu tidak ada artinya bagi orang banyak?’
‘Tidaklah sama artiku dengan artimu.’
Mantingan melepaskan cengkeramannya dari kedua pundak Chitra Anggini sambil mengembuskan napas kasar. Kali ini dirinya berbicara melalui mulut.
“Kau tidak boleh melakukan hal itu lagi, betapa pun adanya! Aku melarangmu, dan kau harus memastikan dirimu tidak bertindak bodoh dengan melanggarnya!”
Namun bukannya gentar akibat bentakan keras itu, Chitra Anggini justru semakin berani. Kedua tangannya membentuk tampak, dan sekejap itu pula digunakan untuk memukul dada Mantingan, membuat pemuda itu terseret beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
“Menjauhlah dariku, hai orang kasar!” Chitra Anggini membentak keras sambil menunjuk-nunjuk wajah Mantingan. “Kau memang boleh menyatakan diriku bersalah, tetapi janganlah kau membentakku dengan makian apalagi sampai kasar memegangi pundakku!”
Menghadapi itu, sebenarnya Mantingan bisa saja membantah. Tetapi kepalanya masih dalam keadaan dingin, maka pikirannya pun menjadi cukup jernih untuk menyadari kesalahannya sendiri. Pemuda itu terdiam. Sekali lagi.
Chitra Anggini yang menyadari bahwa kata-katanya telah begitu menancap itu pun terdiam pula pada akhirnya. Merasa bahwa dirinya terlalu berlebihan mengambil sikap pada seseorang yang seharusnyalah dipatuhinya, bukan justru dibantah dengan bentakan-bentakan keras.
Kiai Guru Kedai pernah berkata pada Mantingan:
“Amarah membutakan, sedangkan seorang pendekar harus tetap memiliki kesadaran penuh terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Sedapat mungkin, janganlah dikau tercebur dalam lautan amarah yang menenggelamkan, sebab akan sulit dikau kembali ke permukaan.”
Mantingan mengembuskan napas panjang sebelum melirik Chitra Anggini, tetapi perempuan itu rupa-rupanya telah lebih dahulu meliriknya. Jadilah mereka bertatap-tatapan. Dan tanpa perlu mengucapkannya melalui mulut dan suara, mereka telah saling melontarkan permohonan maaf.
***
KOTARAJA Koying selalu ramai. Kotaraja Koying tidak pernah tidur. Kotaraja Koying bagai akan terus abadi.
Mantingan dan Chitra Anggini berjalan di tengah keramaian jalanan kotaraja. Seperti halnya penyamaran di hari-hari yang lalu, mereka mengenakan caping dengan mantra bayangan untuk menutupi rupa wajah. Kecuali mereka yang memiliki ilmu pendengaran setingkat Ilmu Mendengarkan Tetesan Embun, maka akan mustahil ada yang mengenal keduanya.
“Munding tampak lebih berisi di kandang itu.” Chitra Anggini bergumam pelan, hampir-hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Mantingan hanya mengangguk tanda bahwa dirinya setuju. Dirinya dan Chitra Anggini memang baru saja mengunjungi Munding Caraka untuk sekadar menyapa dan membayar uang sewa tambahan. Kerbau itu tampak sangat merindukan keduanya, terutama Mantingan, tetapi ia juga tampak bahagia tinggal di tempat penitipan tersebut.
“Apa yang sedang kerbau itu lakukan sekarang?” Chitra Anggini kembali bergumam pelan.
Kini Mantingan tidak mengangguk. Lebih dari sekadar itu, ia menatap Chitra Anggini dengan pandangan tak percaya. Pertanyaan itu sungguh tak pantas dilontarkan!
Beberapa saat yang lalu ketika Mantingan dan Chitra Anggini hendak meninggalkan tempat penitipan hewan, tetiba saja orang yang bertanggungjawab mengurus Munding menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
“Kalian jangan pergi dulu! Sahaya ingin menawarkan sesuatu!” kata orang itu.
Mantingan menjelaskan bahwa dirinya tidak sedang terburu-buru, sehingga pengurus itu dapat berbicara dengan perlahan-lahan sehingga dapat terpastikan bahwa tiada apa pun yang terlewat untuk disampaikan.
“Sahaya melihat tanda-tanda kedewasaan pada kerbau kalian. Dia membutuhkan sesuatu yang memang seyogyanya dibutuhkan oleh kerbau dewasa.”
Mantingan mengerutkan alis sebab tidak dapat mengerti apa yang dimaksud oleh pengurus hewan itu. Ketika dilihatnya Chitra Anggini di sebelah, perempuan itu tampak memijat keningnya tanpa memberi penjelasan apa pun. Maka segeralah Mantingan bertanya, “Apakah yang dibutuhkan olehnya?”
“Dia ....” Orang itu berdeham beberapa kali dengan wajah serba salah. “Dia butuhkan kawin.”
Mendengarnya, Mantingan tidak terlalu terkejut. Hanya tersenyum kaku. Dirinya memang menganggap wajar hal tersebut, sebab bukankah hewan cenderung tidak dapat menahan hasratnya terlebih lagi setelah menginjak kematangan?
“Sahaya memiliki betina unggulan yang dapat dikawinkan dengan kerbaumu. Tetapi, bila kemudian betina itu hamil dan melahirkan, siapakah yang akan merawatnya?”
Mantingan diam sejenak sebelum berkata, “Bisakah engkau saja yang merawatnya, Saudara?”
“Tentulah bisa, tetapi sahaya harus meminta sejumlah biaya untuk merawat seekor anak kerbau, sebelum kemudian sahaya lepaskan ke alam liar selepas umur dewasa.”
Dan kini, di jalanan kotaraja yang alangkah ramainya, Chitra Anggini mempertanyakan apa yang sedang Munding Caraka lakukan?
___
catatan:
Saya sangat menyesal sebab melepas update selama beberapa hari terakhir, tetapi betapa pun saya tak dapat naif, bahwa Sang Musafir ini tidak lagi terlalu menguntungkan, menulisnya bukanlah sebuah kewajiban bagi saya. Oleh karena itu, saya fokus pada Seni Bela Diri Sejati dan Ayodha: Ekspedisi Pamalayu yang sekiranya lebih menguntungkan.
Sesuatu yang pasti, masa kejayaan Sang Musafir sudah lewat, meski saya telah menyiapkan ending yang cukup dahsyat, tetapi sepertinya tidak akan banyak pembaca. Bagai dahsyatnya badai di tengah samodra yang tak dilihat sesiapa, tetapi bukanlah jadi masalah besar bagi saya.
__ADS_1
Sedapat mungkin, saya akan tamatkan Sang Musafir.