
“Apakah Saudari mengetahui apa tujuan perjalananku selama ini?”
“Menemukan Kembangmas?”
“Benar. Namun, tahukah Saudari alasanku melakukannya?”
“Aku tidak tahu pasti. Namun sepertinya, Saudara ingin menemukan keajaiban.”
“Jika aku ingin menemukan keajaiban, maka mudah saja bagiku. Aku hanya perlu membayangkan segala macam keajaiban di dalam kepalaku. Jadi, bukan itu alasanku.”
GADIS ITU terdiam, menunggu penjelasan selebihnya dari Mantingan.
“Aku melakukan itu karena aku memiliki janji pada seseorang tidak sengaja kutemui. Aku berjanji akan membawakan bunga itu padanya, Saudari. Namun sampai saat ini, diriku tidak kunjung menemukan Kembangmas, tidak pula menepati janji akan membawakan Kembangmas padanya. Padahal, usiaku tidak tersedia banyak.”
“Jadi Saudara ingin memperingatiku untuk tidak mudah membuat janji?”
Mantingan mengangguk. Benar itu maksud perkataannya.
“Aku akan menyembuhkan Saudara, itu janjiku.”
Mantingan menghela napas panjang. Watak keras kepala Bidadari Sungai Utara tidak pernah berubah. Bahkan saat hubungan mereka terasa canggung sekalipun, dia tidak menghilangkan sifat keras kepalanya.
“Tetapi, bagaimana caranya?”
“Aku akan bekerja keras. Kuyakin dengan itu, penawar Racun Tidak Bernama akan ditemukan.”
__ADS_1
Mantingan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Walaupun ia tidak begitu yakin, setidaknya ia bisa memberikan sedikit keyakinan pada Bidadari Sungai Utara. Mantingan kemudian berjalan menjauh dari Bidadari Sungai Utara.
Namun sebelum ia bergerak cukup jauh, ditahannya oleh suara Bidadari Sungai Utara. Mantingan berhenti dan berbalik.
Berkatalah gadis itu, “Malam ini akan digelar pasar lelang. Aku memiliki cukup banyak uang untuk membeli beberapa kitab, dan sudah pasti Saudara memiliki lebih banyak uang untuk mengikuti lelang.”
Mantingan berpikir bahwa sebenarnyalah itu tidak terlalu buruk. Mantingan akan membeli kitab-kitab ilmu persilatan yang mungkin akan berguna untuk pengobatan Racun Tidak Bernama.
“Apakah Kina dan Kana bisa ikut?”
“Diriku tidak yakin soal itu, Saudara. Menurut penuturan penduduk desa, pasar lelang turut menghadirkan seni hiburan dewasa.”
Mantingan berdeham beberapa kali. Bagaimana bisa Bidadari Sungai Utara berkata bahwa dirinya tidak begitu yakin? Kurang yakin apakah dirinya bahwa seni hiburan dewasa sangat tidak cocok untuk anak-anak? Bahkan Mantingan sebagai seorang yang sudah dewasa sekalipun perlu mempertimbangkan ulang keputusannya untuk menghadiri pasar lelang.
Mantingan mengerti dan mengangguk. Kembali ia melanjutkan langkahnya menjauhi Bidadari Sungai Utara, menuju lantai dua.
***
KANA DAN Kina sebenarnya tidak rela ditinggal Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, namun mereka tetap mengizinkan keduanya karena menyadari bahwa keduanya pergi bukan untuk bersenang-senang semata. Mantingan berjanji akan membawakan manisan untuk Kina dan pedang kayu bagus untuk Kana. Tidak hanya itu, Bidadari Sungai Utara juga akan membawakan beberapa hadiah kejutan nantinya. Wira menjanjikan makan malam yang enak selama Mantingan dan Bidadari Sungai Utara pergi.
Mereka berpamitan di depan gerbang. Kana dan Kina melambaikan tangan dengan sangat lemah, seolah itu adalah perpisahan terakhir mereka, sebelum akhirnya Wira mengajak mereka masuk dan menutup gerbang rumah.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berjalan selayaknya manusia biasa. Sebab Mantingan tidak menggunakan tenaga dalam untuk dapat bergerak cepat.
Meskipun terdapat banyak kesempatan bagi mereka untuk saling mengobrol selama di perjalanan, namun tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun jika memang tidak dibutuhkan.
__ADS_1
Selama di perjalanan, Mantingan dapat melihat beberapa penduduk desa yang keluar rumah, turut menghadiri pasar lelang. Rerata mereka yang keluar adalah lelaki dewasa. Ada yang diantar istrinya sampai di depan pintu rumah, dan ada pula yang keluar dari semak belukar di belakang rumah, mengendap-endap.
Dan perlu diketahui bahwa Mantingan tidak membawa Pedang Kiai Kedai bersamanya, namun masih mengenakan caping yang ditempeli Lontar Penggelap. Hanya Bidadari Sungai Utara saja yang membawa senjata berupa kelewang yang ia dapatkan dari para penyamun.
Mereka keluar dari desa, memasuki wilayah pasar. Keramaian lambat laun bertambah. Mantingan tahu bahwa bukan keramaian yang bertambah, melainkan mereka yang masuk ke dalam keramaian.
Terdengar suara dari alat-alat bebunyian. Terdengar seirama. Ada pula yang bernyanyi dengan suaranya yang berat, entah sedang menyanyikan apa. Rangkaian bebunyian itu terdengar hingga jauh, namun tidak hingar-bingar. Bersatu padu dengan riuh suara kerumunan manusia di pasar lelang.
Lentera dan obor dipasang pada tiang yang ditancapkan di pinggir jalan. Memadukan sinar yang teramat tentram. Berbagai pita berwarna-warni dipasang pada dinding toko, menambah semarak.
Uap-uap hangat membawa aroma makanan rebus. Dan asap-asap membawa aroma daging bakar.
Mantingan menyadari bahwa pasar ini telah dirombak sedemikian rupa agar pantas menjadi pasar lelang. Kios-kios yang Mantingan lihat saat ini bukanlah bagian dari pasar lelang, mereka hanya berjualan di pinggirannya saja untuk para pengunjung. Sedangkan menurut penjelasan Bidadari Sungai Utara, tempat lelang yang sesungguhnya terletak di tengah-tengah pasar. Di sanalah keramaian yang sesungguhnya, sebab penduduk dari desa-desa sekitar turut menyempatkan diri hadir dalam lelang.
“Akan banyak yang menonton sambil bertaruh, tetapi akan lebih banyak lagi yang hanya menonton jalannya lelang sahaja,” tutur Bidadari Sungai Utara, dibalas anggukan dari Mantingan.
Semakin mereka masuk ke dalam pasar, maka keramaian akan semakin bertambah. Mustahil bagi seseorang untuk berjalan tanpa bersinggungan dengan yang lainnya. Namun, hal itu tidak terjadi pada Bidadari Sungai Utara, sebab kelewang dan cadarnya telah menakuti banyak orang. Tidak ada yang berani berjalan terlalu dekat dengan gadis itu.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara sepakat untuk menghadiri lelang terlebih dahulu sebelum membeli hadiah untuk Kana dan Kina. Mereka juga bersepakat menyisakan uang untuk Kana dan Kina sebelum mengikuti lelang, yang tidak akan diganggu gugat.
Maka mereka tidak mengelilingi pasar, melainkan berjalan lurus menuju tengah pasar. Namun berjalan di tengah kerumunan bukanlah suatu hal yang mudah, dibutuhkan kesabaran juga ketahanan diri. Mereka harus sabar karena kerumunan manusia membuat jalanan tersendat-sendat, dan mereka juga harus tahan dari bermacam-macam suara pasar yang bercampur aduk menjadi satu.
Namun betapapun, kesabaran dan ketabahan akan berbuah manis. Meskipun diawali penderitaan, mereka akhirnya sampai di tengah-tengah pasar.
Benarlah bahwa tengah pasar adalah pusat pelelangan yang luar biasa ramai. Terdapat sebuah bangunan tinggi yang sepertinya bukan bangunan tetap. Mantingan tidak melihat bangunan itu kemarin saat ia pergi ke pasar ini. Bangunan itu dibangun di atas tanah lapang, yang sekarang sudah penuh lautan manusia.
__ADS_1