Sang Musafir

Sang Musafir
Latihan Gabungan


__ADS_3

"O, Mantingan! Telah lama daku menanti dikau.” Rama menyambut Mantingan hangat setelah pemuda itu masuk ke ruangannya.


“Ketua Rama, aku datang untuk mengunjungimu.” Mantingan tersenyum hangat.


Rama menepuk punggung Mantingan. “Perubahan pesat benar-benar terjadi pada dirimu, Anak Man.”


Tepukan Rama pada punggung Mantingan tidak sesederhana yang terlihat. Dengan menepuk punggung Mantingan itu, ia dapat melihat sampai mana pencapaian Mantingan dalam kanuragannya.


“Anak Man, tidak pantas aku menyambutmu di ruang kerja seperti ini. Marilah kita turun minum teh.”


Mantingan tersenyum kaku. “Ketua, jangan suruh aku untuk membuat teh lagi.”


Rama tertawa. “Tidak, kali ini kita minum di kedai saja, tehmu terlalu manis.”


“Kedai guruku?”


Kembali Rama tertawa. “Kau memang suka bercanda, tetapi kita tidak minum di tempat Kiai Kedai. Dan sebenarnya, dia baru saja pergi dari Javadvipa. Dia meninggalkan beberapa pesan untukmu.” Rama bergerak mengambil lontar berisi pesan dari Kiai Guru Kedai itu.


Mantingan mengernyitkan dahi. “Untuk apakah Kiai Guru pergi keluar pulau?”


Rama memberikan sejumlah lembar lontar pada Mantingan sebelum berucap, “Anakmas Man, kautahu sendiri seperti apa keanehan gurumu itu.”


Mantingan menggeleng pelan. Menurut Mantingan, gurunya tidaklah seaneh yang terlihat. Apa pun keanehan yang dirinya lakukan, selalu memiliki alasan di balik itu. Kiai Guru Kedai bukan orang aneh yang menyia-nyiakan waktu dengan berbuat sesuatu yang tidak penting. Hampir semua yang gurunya lakukan adalah penting.


“Ketua Rama, ke manakah kiranya beliau pergi?”


“Untuk itu, aku tidak mengetahuinya.”


Mantingan mengangguk pelan. “Jika memang itu keputusannya, pasti ada alasan di balik ini.”


Rama mengangguk. “Benar. Itulah yang aku ingin bicarakan sambil minum teh. Mari ikuti aku, Anak Man!”


***

__ADS_1


Perguruan Angin Putih pada hari itu tengah sibuk. Perguruan mengadakan latihan gabungan yang biasa diadakan sekali dalam satu bulan. Patutlah murid-murid tertua melakukan persiapan untuk murid-murid termuda.


Di tengah kesibukan itu, Rama tadi masih menyempatkan beberapa pendekar untuk menyambut Mantingan dengan layak. Bahkan dirinya sendiri meluangkan waktu untuk minum teh bersama Mantingan.


Kedai tempat mereka minum teh berada di tepi danau yang sejuk dan tenang. Rama berkata, kedai ini biasanya ramai oleh para murid yang hendak minum teh sebelum latihan. Tetapi saat ini, mereka harus bersiap-siap lebih pagi, bahkan sebelum petugas membuka kedai sekalipun.


Kedai itu tidak memasang harga pada hidangannya, sebab kedai itu merupakan salah satu sarana hiburan bagi murid-murid.


Mantingan mulai membaca pesan-pesan dari gurunya. Pesan itu kebanyakan berisi ucapan selamat tinggal, gurunya juga mengingatkan Mantingan untuk tidak mudah terpancing amarahnya, beliau juga meminta Mantingan selalu berada di jalan Kebenaran sampai ajal menjemput.


Mantingan mengangguk pelan setelah selesai membaca semua lontar itu, lalu ia berkata pada Rama, “Ketua, apakah ada perkembangan baik dari gejolak yang terjadi saat ini?”


Rama menghela napas panjang. “Sundapura terus terdesak, beberapa kota bahkan telah dikuasai golongan hitam. Inilah alasan mengapa Kiai Kedai keluar pulau, hendaknya ia ingin mengurusi sesuatu yang menyangkut soal perang.”


Mantingan tidak terlalu terkejut dengan situasi itu. “Apakah yang akan dilakukan Perguruan Angin Putih, Ketua?”


“Perguruan Angin Putih saat ini masih didesak, Mantingan. Jika perguruan ini membantu dan unjuk diri, maka kita akan menghadapi perguruan-perguruan lain yang tidak suka dengan perguruan ini.”


Mantingan turut menghela napas. “Ketua, jika ada yang bisa kulakukan—biarpun itu sedikit, katakan saja.”


Mantingan kemudian mengangguk. “Aku akan terus meningkatkan diri.”


Baru sesaat setelah Mantingan berkata seperti itu, seorang pemuda menghampiri tempat mereka duduk menikmati teh. Kata pemuda itu, “Ketua, Saudara, mohon maaf jika kehadiranku mengganggu. Saya ingin mengingatkan bahwasanya danau ini akan dipakai untuk latihan, mohon pada Ketua dan Saudara tidak terganggu.”


Rama mengangguk dan tersenyum. “Tidak mengapa, aku memang ingin melihat perkembangan latihan murid-murid.”


Pemuda itu menghaturkan hormat. “Jikalau begitu, Ketua, mereka akan tiba tidak lama dari sekarang. Saya mohon diri.”


Rama mempersilakan orang itu pergi sebelum kembali beralih pada Mantingan.


“Nah, Anak Man. Di tengah situasi yang berkecamuk, Punawarman masih bisa mengeluarkan sejumlah aturan. Di antaranya adalah perempuan harus menutupi dadanya, peraturan ini sekarang berlaku dengan ketat dan tegas. Ia mengingatkan, bahwa orang jahat tidak akan bisa mengalahkan ketabahan batin mereka.”


Mantingan mengangguk. Ada benarnya juga peraturan itu ditegakkan secara ketat. Peraturan itu setidaknya sedikit melindungi wanita dari pendekar-pendekar golongan hitam.

__ADS_1


Itulah juga mengapa Mantingan sudah jarang melihat perempuan dengan dada terbuka di depan umum. Bahkan Dara tidak lagi mengenakan pakaian terbuka. Namun, Mantingan tidak menyadari hal itu.


“Dan sepertinya dunia persilatan mengalami beberapa perubahan ....” Mantingan berkata setengah bergumam.


“Jumlah pendekar meningkat cukup tinggi di musim perang ini. Mau tidak mau, dunia persilatan mulai menampakkan wujudnya pada masyarakat awam. Muncul pelbagai perguruan baru, yang secara terang-terangan membuka kesempatan bagi masyarakat biasa untuk menjadi pendekar.”


Mantingan tidak tahu apakah perubahan ini akan berdampak baik atau sebaliknya. Jika banyak masyarakat awam yang menjelma menjadi pendekar, sudah barang tentu mereka bisa membela kotanya dari serangan aliran hitam. Akan tetapi, jika sifat pendekar-pendekar baru itu bukanlah sifat yang bagus, ada kemungkinan mereka akan membuat kekacauan di masa mendatang.


Dengan dunia persilatan yang sudah mulai tampak di permukaan umum ini, jalannya kehidupan masyarakat akan berubah cukup kentara.


Pasalnya, semakin banyaknya jumlah pendekar juga mempengaruhi bagaimana orang menilai ukuran lemah dan kuat seseorang. Andaikan saja, pendekar dicap sebagai orang kuat dan sarjana dicap sebagai orang lemah.


Jika keadaan seperti ini terus berlanjut, maka akan semakin banyak pendekar baru yang bermunculan nantinya.


Pikiran Mantingan yang terlalu larut itu pecah saat Rama memanggil namanya. Mantingan melihat ke sekitar, murid-murid berpakaian serba putih yang berkerumun di pinggir danau.


“Mereka akan mencoba menapak di air,” kata Rama.


Mantingan ingat Kiai Guru Kedai pernah mengajarinya Ilmu Menapak Air di sebuah air terjun. Ilmu ini memungkinkan seseorang untuk menapak-napak di atas air. Tetapi bukan berarti dapat berjalan di atas air, sekadar menapak saja.


Beberapa perahu mengapung di tengah danau, berisi pengawas-pengawas latihan. Murid-murid tertua terlihat memberi arahan pada murid-murid termuda, dengan khidmat mereka mendengarkan.


Mantingan mendengar salah satu percakapan antara murid termuda dengan murid tertua.


“Kakak, jika aku boleh bertanya, untuk apakah ilmu menapak ini digunakan?”


Yang ditanya menjawab, “Ilmu ini digunakan untuk bertarung di atas air. Jika suatu situasi mendesak kita bertarung di tepi pantai atau sungai, kita masih tetap bisa melindungi diri.”


“Untuk apakah kita bertarung di atas air? Mengapa tidak di atas tanah saja?”


Rama tiba-tiba berkata, “Mantingan, apakah kau sudah menguasai Ilmu Menapak Air?”


“Ya, Ketua.”

__ADS_1


“Mari kita contohkan seperti apa pertarungan di atas air pada mereka.”


__ADS_2