
APAKAH DAPAT DIKATAKAN cinta? Bidadari Sungai Utara mulai meragukan perasaannya itu. Setelah mendengar Nenek Genih yang mengatakan bahwa cinta sejati tidak bisa diduakan. Jika saja Bidadari Sungai Utara merasa cinta pada dua pria sekaligus—yang dalam artian adalah dirinya ingin menjadikan dua pria sekaligus sebagai pasangan hidupnya—maka cintanya pada salah satu orang itu adalah cinta palsu, cinta yang dilandasi oleh *****. Entah apakah Mantingan atau kekasih hatinya di Champa.
Kilat kembali menyambar. Suara guntur muncul tak berselang lama setelah cahaya birunya menerangkan langit barang sejenak. Sore itu di atas permukaan danau yang airnya penuh dengan riak rintik hujan.
“Bidadari Sungai Utara, apakah kau berani berjalan di malam hari?”
Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa saat. Tak sengaja ia kembali melihat keadaan Mantingan yang basah kuyup disebabkan olehnya, maka Bidadari Sungai Utara mengangguk setuju. Tidak mau terlalu banyak merepotkan Mantingan.
“Kalau begitu, tidak baik jika aku harus menggandengmu di malam hari. Sekarang, mari kita latihan ilmu meringankan tubuh.”
“Latihan sekarang?”
“Ya, latihan sekarang. Aku akan bertarung denganmu di tengah danau. Sebelum itu, ada baiknya kau membaca kitab-kitab dasar tentang ilmu meringankan tubuh. Aku memilikinya beberapa.” Mantingan merogoh lagi bundelannya, mengeluarkan dua keropak lontar yang tampak seperti kitab persilatan.
Bidadari Sungai Utara mengambil dan membuka salah satu keropak itu, lalu ia mengernyitkan dahinya, menatap kitab itu dengan segudang pertanyaan.
Mantingan yang melihat itu berdeham beberapa kali. “Kalau ada bagian yang tidak dimengerti, jangan sungkan bertanya.”
Kini Bidadari Sungai Utara beralih menatap Mantingan dengan segudang pertanyaan. Seolah menganggap Mantingan adalah orang gila atau apa.
“Ilmu seperti ini tidak mudah dipelajari dalam waktu singkat, Mantingan. Aku membutuhkan setidaknya seminggu untuk dapat menggunakan ilmu ini, itu saja belum menguasai sepenuhnya.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Saudari sudah coba baca?”
Bidadari Sungai Utara mengangguk, matanya kembali membaca isi kitab itu, sekali lagi mengangguk penuh yakin. “Tetap saja, aku tidak bisa menggunakan ilmu ini walau kau memberiku waktu seharian penuh sekalipun."
__ADS_1
“Ah yang benar? Aku hanya butuh waktu sepeminuman teh untuk menghapalnya.”
Bidadari Sungai Utara sedikit melebarkan matanya, lalu menggeleng pelan pada Mantingan. “Itu dirimu, bukan diriku. Mungkin orang lain akan mengalami kesulitan yang sama sepertiku. Hanya pendekar-pendekar ahli yang mempunyai kemampuan seperti ini, dan kau adalah pendekar yang mendapat warisan bakat silat dari leluhurmu, bukan?"
Mantingan menepuk dahinya. “Maaf, aku sadar bakatku memang sedikit hebat.”
“Sedikit hebat kau bilang?”
“Ya ... mungkin kurang daripada itu.” Mantingan lalu mengibaskan lengannya. “Bukan itu yang harus kita pusingkan.”
“Ya, lalu bagaimana dengan latihannya? Apakah dibatalkan saja?”
“Tidak. Kalau kau tidak bisa mempelajari ilmu baru dalam waktu singkat, maka seharusnya kau dapat meningkatkan ilmu yang telah kaukuasai dalam waktu singkat.”
“Saudari bisa bertarung dia atas gubuk, asalkan itu tidak keluar dari wilayah danau.”
Bidadari Sungai Utara merasa Mantingan benar-benar serius kali ini dari tatapannya yang begitu tajam, gadis itu malah ketakutan jika harus bertarung dengan Mantingan. “Mantingan ... jangan terlalu serius.”
“Kalau tidak serius, kapankah Saudari bisa mengandalkan dirinya sendiri dalam menghadapi marabahaya?” Mantingan turut mengerutkan dahi. “Aku tidak selalu ada bersamamu. Bagaimana jika tiba-tiba aku tewas atau berkhianat padamu?”
“Itu tidak akan terjadi.” Bidadari Sungai Utara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Mungkin saja itu terjadi. Ini adalah dunia persilatan, kematian adalah hal yang lumrah. Dan pengkhianat adalah suatu pilihan selain perdamaian. Saudari, kau tidak bisa terus menerus menghindar dari kenyataan. Hadapilah kenyataan itu, atau jadilah pengecut untuk selamanya!”
Bidadari Sungai Utara tersentak kaget. Mantingan baru saja berkata keras padanya. Apakah pemuda itu akan menyesal dan memohon maaf seperti apa yang pemuda lain lakukan pada wanita secantik Bidadari Sungai Utara?
__ADS_1
Tentu saja tidak.
“Saudari tidak bisa terus mengandalkan orang lain dalam hidup sendiri. Aku bisa membantu tanpa ada niat buruk padamu, tetapi mungkin tidak dengan orang lain. Bukannya aku menuduh orang lain dan bersombong diri, tapi lihatlah kenyataan yang ada hari ini!” Mantingan mengeraskan suaranya. “Dunia persilatan Javadvipa saat ini dipenuhi orang-orang yang buruk isi kepalanya, mungkin sama juga dengan dataran tempatmu tinggal di Champa. Saudari, kau tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalah hidupmu.”
Bidadari Sungai Utara tidak membantah. Apa yang Mantingan katakan itu banyak benarnya. Gadis itu hanya bisa menundukkan kepala dengan napas lambat.
Mantingan menghela napas panjang. Di dalam benak, ia meringis, tidak tega membentak Bidadari Sungai Utara. Semakin membuat perasaannya sesak saat Bidadari Sungai Utara hanya menunduk tanpa membantah.
Tetapi memang sengaja Mantingan bersikap keras kali ini. Dalam melatih seseorang, memang sesekali dibutuhkan sikap keras jika orang yang dilatih tidak juga menunjukkan perubahan. Boleh dikata Bidadari Sungai Utara tidak banyak mengalami perubahan, bahkan Mantingan melihat gadis itu semakin hari semakin manja saja.
“Kita akan tetap latihan hari ini, aku tidak akan banyak berceramah seperti biasanya, nanti biar kau rasakan sendiri.”
Sungguh Mantingan tidak marah, dan sungguh Mantingan merasa sakit setelah mengatakan kalimat yang menurutnya sangat pedas kepada gadis itu.
“Baik.” Hanya itu yang Bidadari Sungai Utara katakan. Mantingan menatap matanya, merasakan ada sedikit ketegasan dalam diri Bidadari Sungai Utara yang bangkit dari tidurnya. Mantingan tersenyum di dalam hati.
“Ambil pedangmu, kita akan mulai sebentar lagi,” katanya lalu. “Dan angkat wajahmu.”
Bidadari Sungai Utara melakukan sesuai yang Mantingan perintahkan. Ia mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Mantingan. Tangannya menyambar pedang yang tersandar pada salah satu tiang gubuk. Wajah seperti itulah yang mau Mantingan lihat, wajah masih memancarkan sinar lembut tetapi sekaligus juga keberanian. Selayaknya seorang induk harimau yang menyayangi anaknya.
Mantingan juga mengambil pedangnya yang tergeletak di samping bundelan. Menatap Bidadari Sungai Utara tak kalah tajamnya.
Tanpa perintah, mereka berdua bangkit berdiri. Berhadapan dengan lawannya. Satu sama lain saling menjura. Setelah menjura, mereka mundur beberapa langkah ke belakang. Saling menatap tajam-tajam, seolah mereka tidak akan menyerang selain hanya bertatapan mata.
Petir sekali lagi menyambar. Kali ini dengan gelegar suaranya yang bagai panci raksasa yang jatuh dari atas langit. Hujan turun semakin lebat, angin bertiup semakin riuh. Tempias angin kembali membasahkan pakaian Mantingan yang hampir kering, padahal sebagai pendekar Mantingan dapat mengeringkan pakaiannya dengan tenaga dalam. Saat itulah, pertarungan dimulai.
__ADS_1