Sang Musafir

Sang Musafir
Ikan yang Mati Tertancap Jarum


__ADS_3

JARUM DILESATKAN! Bidadari Sungai Utara langsung melemparnya ke arah kolam. Dalam penglihatan Mantingan, semua berjalan begitu lambat. Ia dapat melihat arah jarum tersebut terlalu ke bawah. Tidak pula bertenaga. Sehingga tak ayal, jarum itu hanya menabrak air dan tenggelam di dalamnya.


Tanpa berimbas apa pun.


Tidak menciptakan gelombang besar maupun cipratan air, masuk begitu saja. Bagaikan setetes air yang jatuh di kolam itu. Bahkan ikan-ikan di bawahnya pun dapat lebih cepat menghindari jarum.


Kali ini Bidadari Sungai Utara menghela napas panjang. Meskipun ia tahu bahwa hal itu hanya akan membuat semangatnya merosot.


Mantingan menggeleng pelan dengan raut wajah heran.


Secara tidak sengaja, Mantingan membuat Bidadari Sungai Utara kesal dengan raut wajahnya. “Dikau jangan salahkan daku. Apakah dikau mengajariku barang sedikit saja megenai ini?”


“Saudari, seharusnya ini menjadi hal yang sangat mudah.” Mantingan berusaha mendinginkan suasana hati Bidadari Sungai Utara dengan berkata lembut.


“Ini mudah bagimu, tidak bagiku.” Gadis itu bertambah kesal. “Nah, sekarang dikau buktikan kehebatanmu itu, biarkan daku melihatnya.”


Sekali lagi Mantingan hanya menggeleng pelan. Diambilnya sebatang jarum terbang dari dalam saku. Tanpa perlu menghitung jarak dan arah tembak, Mantingan langsung melesatkan jarum tersebut dari tangannya. Seolah sedang melempar sampah.


Jarum meluncur sedemikian cepat. Hanya dapat dilihat kilatannya saja. Air kolam meledak dan jarum itu melambung ke atas. Bidadari Sungai Utara tidak tahu ke mana jarum itu pergi, tetapi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa jarum tersebut berhasil memantul!


“Bagaimana ... bagaimana dikau bisa melakukannya?” bicaranya tergagap-gagap, Bidadari Sungai Utara masih sulit untuk percaya.


“Sangat mudah.” Mantingan tersenyum tipis. “Kemarilah jika ingin kuajari, Saudari.”


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bidadari Sungai Utara segera melayangkan diri menuju Mantingan. Melayang di atas kolam ikan. Kakinya menapak ringan di atas air, membawa tubuhnya kembali melayang. Sampailah dirinya mendarat di samping Mantingan.

__ADS_1


Mantingan mengambil sebatang jarum lagi dari dalam sakunya. Lalu ia mengulurkan telapak tangannya. “Saudari Sasmita, tolong berikan telapak tanganmu.”


Tanpa curiga sedikitpun, Bidadari Sungai Utara meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Mantingan.


Kemudian, Mantingan menjelaskan, “Jarum diletakkan pada jari tengah dan telunjukmu.” Sambil berkata, Mantingan meletakkan sebatang jarum itu di tempat yang telah ia sebutkan. “Kedudukannya haruslah miring sedikit. Sisi tumpul menghadap ke dalam dan sisi tajam menghadap keluar. Jika Saudari ingin melempar jarum beracun, maka pastikanlah dengan betul-betul bahwa sisi tajam tidak melukai jari-jemarimu.”


Bidadari Sungai Utara tidak terlalu memusatkan pikirannya pada penjelasan Mantingan. Justru pada wajah Mantingan. Bagaimana tidak? Wajah Mantingan tampak teduh saat dirinya menjelaskan cara melempar jarum kepada Bidadari Sungai Utara. Jarang-jarang gadis itu bisa sedekat ini dengan Mantingan. Terlebih sentuhan tangan Mantingan begitu hangat terasa.


“Gunakan ibu jarimu untuk mengapit jarum ini.” Mantingan menarik ibu jari Bidadari Sungai Utara untuk menahan jarum itu. “Setelah itu, engkau bisa melemparkannya dari atas ke bawah, atau dari samping ke samping. Lepaskan jarum setelah dirasa sejajar dengan sasaran.”


Mantingan melepas telapak tangan Bidadari Sungai Utara agar dia bisa mencobanya sendiri. Saat itulah Bidadari Sungai Utara tersadar penuh dari lamunannya. Meskipun dapat dikatakan dirinya melamun sedari tadi, Bidadari Sungai Utara masih dapat mendengar penjelasan dari Mantingan.


“Saudara menepilah,” kata Bidadari Sungai Utara mengambil ancang-ancang. “Daku jarang sekali melempar jarum. Di Champa, pendekar beraliran putih yang menggunakan jarum beracun akan dianggap sangat hina.”


Mantingan berjalan mundur beberapa langkah. “Di tanah Javadvipa juga begitu hukumnya. Tetapi ada beberapa pendekar aliran putih masih diam-diam menggunakan jarum beracun untuk membunuh lawannya. Saudari, sekarang cobalah melempar jarum itu.”


Melihat cipratan air tersebut, Bidadari Sungai Utara bersorak keras di dalam benaknya. Sebab saat jarum Mantingan memantul, ia menciptakan cipratan air di dalam kolam.


Mantingan pun pada awalnya juga berpikiran sedemikian. Namun, Mantingan tidak melihat jarum itu melambung ke udara. Sebaliknya, ia malah melihat salah satu ikannya yang mengambang di permukaan air. Tak bergerak lagi. Bahkan tanpa perlu menajamkan penglihatan, Mantingan dapat melihat sebatang jarum menancap tepat di kepala ikan.


“Duhai,” katanya, “ikan yang malang.”


Dengan tatapan tidak percaya, Bidadari Sungai Utara berkata, “Sungguh diriku tidak sengaja ....”


“Anggaplah itu untuk makan siang nanti, Saudari. Kuperkirakan hari akan dihiasi hujan lebat, ikan bakar lapis madu akan sangat nikmat.” Mantingan mulai melangkah pergi. “Jangan merasa keberatan. Itu adalah hukumanmu. Setiap ikan yang ada di kolam itu hanyalah ikan terbaik dari yang terbaik. Daku menyayangi ikan-ikan, tetapi daku lebih menyayangi Saudari. Mana bisa diriku marah meskipun ingin.”

__ADS_1


***


MEMANGLAH PADA siang itu hujan turun teramat deras. Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina berada di atas meja yang sama. Meja makan yang bersebelahan di dapur. Di tengah-tengah mereka adalah ikan bakar besar dilumuri madu. Bidadari Sungai Utara yang memasaknya, sebagai hukuman dan tanda rasa bersalah karena telah membunuh salah satu ikan Mantingan.


Kana melihat ikan yang baru dihidangkan itu dengan tatapan takjub. “Kaka Sasmita yang memasak ini, betul?”


Kina memotong dengan malas, “Kanda, bukankah sudah jelas bahwa ikan bakar ini memang dimasak Kak Sasmita? Kanda lihat sendiri Kak Sasmita membawa ikan ini dari dapur.”


“Hai, Kina adikku. Akan lebih baik jika Kanda bertanya untuk mendapat kepastian.” Kana membela.


“Kanda bertanya untuk hal yang tidak perlu.”


“Tapi bukankah—”


Mantingan mengangkat tangannya dan seketika itu pula ucapan Kana terhenti. Mantingan menatapnya, seakan mengatakan untuk tidak meneruskan. Bidadari Sungai Utara tertawa pelan.


“Ini memang diriku yang memasaknya, Kana. Ada apakah?” kata Bidadari Sungai Utara lembut.


“Oh, benarkah?” Kana memasang tampang sulit percaya. “Tak kusangka seorang perempuan secantik Kaka bisa memasak makanan selezat ini. Rupa-rupanya, selain cantik jelita bagai awan putih, Kak Sasmita juga pandai memasak.”


“Jadi ini tujuanmu bertanya pada Sasmita, Kana?” Mantingan bertanya tajam. Kana tidak bisa menjawab, hanya tersenyum serba salah. “Engkau mulai pandai merayu perempuan rupanya? Dari mana engkau belajar syair-syair cinta seperti itu?”


Kana lekas menjawab, “Dari karya-karya sastra yang ada di kamarku.”


“Diriku tidak pernah memberimu karya sastra tentang cinta atau rayuan.” Mantingan tersenyum sinis. “Nanti biar aku periksa sendiri kamarmu.”

__ADS_1


Cepat sekali punggung Kana dibasahi keringat dingin, sedangkan Mantingan meminta acara makan siang segera dimulai.


__ADS_2