Sang Musafir

Sang Musafir
Pasar Layar Malaya Bawah Tanah


__ADS_3

SESUAI KESEPAKATAN, mereka berkumpul ke sebuah taman yang terletak di pusat Pasar Layar Malaya. Mantingan kini mengerti mengapa Paman Bala meminta Mantingan pergi ke taman itu jika tidak menemukan putrinya.


Kini wajah Paman Bala terlihat sangat cemas. Sungguh dapat terlihat kesedihan jauh di dalam lubuk hatinya, meskipun Paman Bala berusaha tetap bersikap tenang di depan Mantingan.


“Putriku kalau pergi keluar rumah selalu membawa Lontar Sihir yang akan memberitahukan di mana tempatnya berada. Tetapi sekarang, aku tidak merasakan keberadaan lontar itu di manapun.” Paman Bala mengusap rambutnya dengan gusar.


“Paman, apakah kita harus ke bawah?”


Paman Bala terpaku sejenak. "Pahlawan Man sudah tahu soal itu?"


Tidak banyak orang yang berkunjung di taman itu, memungkinkan keduanya melakukan percakapan rahasia.


Mantingan mengangguk. "Tapi saya tidak tahu pasti."


Kemudian Paman Bala berkata kembali, “Aku juga berpikiran hal yang sama. Tetapi jika kita pergi ke bawah, itu bukan tanpa risiko. Yang berjualan ataupun yang membeli, tidak yang baik-baik. Itulah tempat para jaringan rahasia aliran hitam saling menukar kabar yang dibayar dengan uang atau dengan manusia.”


“Manusia? Jikalau begitu ....”


“Ya, Pahlawan Man. Aku juga mengkhawatirkan hal yang sama.”


“Semoga saja tidak. Tetapi saat ini, kita tetap harus bergerak cepat, Paman."


“Biar aku sendiri saja, akan sangat berbahaya bagi Pahlawan Man masuk ke dalam.”


“Tidak bisa seperti itu, putri Paman menghilang karena saya, tentu saya tidak bisa berpangku tangan.” Mantingan menggeleng tegas. “Paman, izinkan saya mengikutimu.”


“Pahlawan Man, engkau adalah buronan paling dicari setanah Taruma. Bukan tidak mungkin jaringan rahasia turut mencarimu.” Paman Bala menghela napas panjang. “Itu sama saja masuk ke dalam kandang penuh harimau kelaparan."


Mantingan tentu sudah menyadari risiko apa yang harus ia ambil. Tetapi ia tidak mau anak Paman Bala menjadi korban dikarenakan dirinya. Tidak mencarinya sama saja dengan tindakan seorang pengecut besar.


“Saya akan tetap ikut, Paman.”

__ADS_1


“Maaf aku mengatakan ini. Tapi itu tindakan yang bodoh.”


Mantingan tersenyum tipis. “Jika saya masuk ke dalam dengan penampilan seperti ini, tentu tindakan itu bodoh. Tetapi jika saya merubah penampilan, akan lain kisahnya."


Paman Bala mengernyitkan dahinya. “Pahlawan, ingin berpenampilan seperti apakah?”


Mantingan tersenyum lebar. “Nanti saya tunjukkan pada Paman. Sekarang izinkan saya pergi.”


***


MANTINGAN KEMBALI ke taman di pusat Pasar Layar Malaya itu setelah beberapa lama pergi untuk membeli pakaian dan merubah pakaian.


Paman Bala masih terlihat duduk di bangku taman dengan kepala menunduk. Dua telapak tangannya saling menggosok, resah. Kakinya tak berhenti membuat pergerakan. Terlihat pria malang itu resah dan gelisah, namun memaksa dirinya sendiri untuk tetap bersikap tenang.


Mantingan langsung saja berhadapan dengan Paman Bala. Sedang Paman Bala menatapnya aneh dari bawah sampai atas. Mantingan tersenyum canggung, senyum paling canggung seumur hidupnya.


Paman Bala menggeleng pelan dan memilih untuk tidak peduli pada kehadiran Mantingan di depannya. Kembali lagi merenung dengan segala kegelisahannya. Hingga sampailah Mantingan membuka suaranya.


Paman Bala dengan cepat mengangkat wajahnya. Menatap Mantingan tajam-tajam. “Pahlawan Man?”


“Ya, bisa disebut begitu.” Semakin canggung saja Mantingan disebut dengan sebutan seperti itu.


Paman Bala tiba-tiba berdiri. “Pahlawan Man? Mengapa kau berpenampilan seperti ini? Sungguh ini tidak perlu.”


“Paman, hanya dengan seperti ini aku dapat masuk ke dalam dengan aman.” Mantingan menggaruk rambutnya yang terkuncir. “Kebetulan rambut saya panjang, sehingga saya bisa merubah penampilan seperti wanita. Paman pasti tahu, dengan menjadi wanita seseorang bisa bebas bercadar tanpa perlu dicurigai.”


Paman Bala terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum haru. “Apa yang dilakukan Pahlawan Man ini sungguh tidak akan aku lupakan.”


“Jangan diingat-ingat Paman, biar seperti ini saya tetap malu.”


Paman Bala menepuk dahinya. “Baiklah, memang tidak pantas diingat.”

__ADS_1


Mantingan mengangguk sekali lagi. “Jikalau begitu, marilah Paman, sebelum semuanya jadi terlambat. Paman tentu tahu ke mana kita harus bertujuan, bukan?”


Paman Bala mengangguk pasti, tatapannya juga pasti. “Aku mengingatnya dengan jelas. Ikuti aku.”


Keduanya saling mengangguk. Paman Bala kemudian melangkahkan kaki dengan jarak langkah yang lebar. Mantingan mengikutinya di belakang.


Angin berembus lumayan kuat di tengah Pasar Layar Malaya itu. Mengibarkan jubah wanita berwarna merah yang Mantingan pakai, menimbulkan suara yang mirip dengan suara kibaran bendera. Namun hanya sedikit menggerakkan cadarnya yang sama-sama berwarna merah, sebab Mantingan memasang pemberat pada ujung dua cadarnya. Hal yang sama juga terjadi pada rambut Mantingan yang disanggul ke belakang selayaknya wanita. Sedang bundelannya ia titipkan di tempat penitipan barang.


Tadi memang sengaja Mantingan langsung berhadapan dengan Paman Bala, untuk menguji seberapa tinggi samarannya. Yang ternyata kemudian diketahui sangatlah tinggi.


***


DARI TENGAH Pasar Layar Malaya, mereka bergerak ke arah barat daya. Terus berjalan dengan langkah cepat manusia biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan berlebih.


Di depan sebuah bangunan tua yang tampak tak terawat, Paman Bala berhenti. Mantingan turut berhenti, melihati bangunan tua tepat di hadapannya. Di sekitar bangunan itu hanyalah ada semak belukar tinggi yang membatasinya dengan toko-toko pasar lainnya. Mantingan tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwasanya bangunan itu merupakan pintu masuk ke pasar bawah tanah.


Namun sebelum masuk, Paman Bala mengajak Mantingan berbicara terlebih dahulu.


“Pahlawan Man, siasat seperti apakah yang harus kita terapkan di dalam?”


Mantingan berkata dengan Ilmu Bisikan Angin, sehingga suaranya tidak bisa didengar oleh orang lain selain Paman Bala itu sendiri.


“Saya akan berpura-pura menjadi bawahan Paman, atau menjadi budak Paman. Pilihan yang terakhir sepertinya lebih aman. Lalu untuk mencari putri Paman, kita harus tetap bersama agar tidak menimbulkan kecurigaan, hanya saja pandangan kita yang berkelana.”


Paman Bala sebenarnya cukup terkejut menyadari suara yang dikirimkan Mantingan itu serupa seperti desau angin. Ilmu yang jarang, bahkan ia sendiri tidak menguasai ilmu seperti itu. Namun tentu ia tidak menunjukkan keterkejutan itu di saat-saat seperti ini.


“Seperti yang tadi aku katakan, aku telah menciptakan Lontar Sihir yang akan memberitahukan di mana tempat putriku berada ....”


Paman Bala kemudian menjelaskan bahwa meskipun lontar itu mungkin saja tidak sedang dipegang oleh putrinya atau rusak, namun dirinya dapat saja memasang banyak lontar sama dengan yang dibawa putrinya.


Misalnya lontar itu dipasang di tembok atau jalanan, saat anak Paman Bala melewati tempat lontar itu dipasang dalam jarak dua depa, maka lontar akan bereaksi dan memberitahukan Paman Bala melalui lontar pengatur. Asalkan putrinya itu berada dalam jangkauan lontar, yaitu dua depa dari tempat lontar itu dipasang. Sebab darah putri Paman Bala telah dikenali oleh mantra buatannya.

__ADS_1


__ADS_2