Sang Musafir

Sang Musafir
Kalajengking dan Ketidakwajaran


__ADS_3

MEMANG LAZIM. Trauma bekas perang lazim ditemukan pada beberapa tentara. Biasanya adalah tentara yang tidak memiliki keyakinan kuat saat berperang. Tidak mengetahui tujuan pasti dari peperangan yang ia jalani. Tatkala mereka harus bertemu dengan penduduk biasa yang menderita, mereka akan merasa sangat bersalah, berusaha memaafkan dirinya sendiri tetapi tidak pernah bisa.


Namun, ada pula ada beberapa tentara yang tidak mengalami hal sedemikian. Bertolak belakang, tentara-tentara seperti itu biasanya memiliki keyakinan kuat. Memiliki tujuan yang pasti pula. Sampai mereka menyerahkan nyawa demi kelompoknya pun tidak mengapa. Ini biasa terjadi pada tentara-tentara khusus atau pendekar-pendekar beraliran.


Pendekar aliran hitam misalnya. Mereka tanpa ragu membunuh penduduk yang jelas tak ikut campur dalam peperangan. Tujuan mereka jelas: menguasai wilayah yang diserang itu. Mereka tidak akan segan membunuh, memperkosa, dan melakukan hal gila semacamnya. Bagi mereka, hal seperti itu adalah hiburan tersendiri.


Tetapi tidak bagi tentara-tentara kerajaan biasa. Jikalau mereka tidak sering mendapat arahan spiritual dari atasannya, maka mereka akan berperang seperti alat. Hanya mementingkan keberhasilan tugas tanpa perlu memikirkan sebab-akibatnya. Padahal akibatnya, kondisi kejiwaan mereka rusak. Tanpa disadari pada awalnya, dan baru dirasakan setelah perang berakhir. Tak sedikit yang akhirnya memilih bunuh diri, atau memilih menjadi pendekar untuk mati dalam kehormatan.


Hal yang konyol jika berperang tanpa tujuan. Masing-masing dua belah pihak, baik itu Kebenaran atau Kesesatan, harus memiliki tujuan yang jelas. Jika Kebenaran berperang demi terwujudnya kehidupan damai sejahtera di muka bumi, maka Kesesatan berperang demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sedikit. Jika Kebenaran menjadikan Gusti sebagai Penguasa Langit dan Bumi, maka Kesesatan menjadikan manusia sebagai penguasa bumi dan Gusti sebagai Penguasa Langit.


Padahal antara langit dan bumi tidak boleh dipisahkan letak kekuasaannya. Tetapi biarlah demikian. Gusti mengizinkan Kesesatan untuk menang jika masanya sudah tiba. Tetapi itu tidak untuk selamanya. Gusti akan selalu mengirim utusannya yang berasal dari kalangan manusia, untuk membangkitkan kembali Kerajaan-Nya di muka bumi. Akan selalu, sampai kapan pun, tak peduli secanggih apa pun zamannya. Di waktu yang berbeda, di tanah yang berbeda. Mahabenar Gusti atas segala janji-Nya.


Maka begitulah dalam peperangan harus memiliki tujuan yang jelas. Jangan sampai peperangan itu akan menjadi peperangan yang sia-sia saja. Merugikan sebagian besar manusia, menguntungkan sebagian kecil manusia. Peperangan hanyalah suatu hal yang dilakukan dalam kondisi terpaksa, jika sudah menyangkut hidup atau mati, membunuh atau terbunuh. Perang seharusnya tidak digunakan sebagai sarana pencari keuntungan, sebagai penjajahan, atau sebagai wahana hiburan.

__ADS_1


Anggapan manusia tentang peperangan seharusnya diubah. Perang itu tidak keren. Sama sekali tidak keren. Mungkin yang melihatnya langsung atau membaca kisahnya, akan menganggap perang itu keren. Perang itu luar biasa seru. Tetapi bagaimanapun juga tidak mau ada yang menjadi korban perang. Sedangkan dalam peperangan, korban tetaplah dibutuhkan.


Hal yang sama seharusnya juga diterapkan dalam kehidupan sungai telaga persilatan. Tidak perlulah pertarungan sampai mati hanya untuk meraih kehormatan. Gusti telah memberi manusia nyawa yang berharga, betapa tidak bersyukur jika nyawa itu hanya digunakan untuk mencari kematian konyol.


Mantingan sebenarnya lebih setuju jika ilmu bela diri dijadikan seni. Entah itu seni bertarung atau seni untuk pertunjukan. Tidak seperti sekarang ini, di mana pendekar-pendekar harus bertaruh nyawa menghadapi banyak ancaman dari pendekar lainnya. Sedangkan saat mereka bertaruh nyawa, mereka membuat nyawa pendekar lain terancam. Seperti itulah sungai telaga persilatan, yang walau namanya telaga, tetapi kehidupan di dalamnya tidak pernah setenang air telaga.


***


ENTAH MUNGKIN ini sudah semalam atau waktu apalah. Bidadari Sungai Utara terbangun dengan perasaan aneh. Mirip perasaan seperti ia baru saja tidur siang. Ketiadaan matahari benar-benar berhasil membuat dirinya merasa sangat aneh.


Bidadari Sungai Utara merapikan rambutnya lalu melirik Mantingan yang hanya memejamkan mata saja. Lalu ia melirik ke sekitar, seperti awal sebelum ia tertidur. Tidak ada yang berubah. Tentu saja, tidak ada angin atau gempa, sudah wajar tidak ada yang berubah. Jika ada yang berubah, baru itulah yang tidak wajar. Bisa jadi hewan buas atau makhluk halus.


Bidadari Sungai Utara menggoyangkan kaki Mantingan pelan. Ia tidak mau bangun sendirian. Mantingan hanya perlu membuka matanya sebelum bangkit berdiri. Ia melihat ke sekitar pula, sama seperti Bidadari Sungai Utara—ia tidak menemukan sesuatu pun yang berpindah tempat. Ia lalu melirik Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


“Apakah kau merasa cukup istirahat?” Mantingan bertanya pelan.


Bidadari Sungai Utara mengangguk. Sudah merasa baikan. Kelopak matanya tidak lagi berkantung. Dan pikirannya sudah cukup tenang untuk merasakan ketakutan lagi, tetapi Bidadari Sungai Utara tidak mau menunjukkan ketakutan itu pada Mantingan.


“Kalau begitu, kita harus kembali berjalan dan keluar secepatnya dari sini.”


Keduanya kembali berjalan. Sama seperti yang sedari tadi mereka lakukan. Berjalan tanpa menemukan ujung. Berjalan tanpa menemukan cahaya dari luar. Hanya Lontar Sihir Cahaya yang terus menerangi jalan mereka. Di lorong gelap tak berujung, yang kegelapannya kekal nan abadi. Menuju titik pengharapan, melihat cahaya sejati dari-Nya. Mereka tidak akan menyerah pada kegelapan, tak peduli seberapa lama kegelapan menyesatkan mereka dalam lika-liku panjangnya yang licik menipu, mereka tidak akan tertipu. Tidak akan tidur dan bermimpi seolah baik-baik saja. Kegelapan ini sungguh tidak baik-baik saja.


Semakin lama mereka berjalan, tidak hanya laba-laba saja yang mereka jumpai. Beberapa kali mereka menjumpai kalajengking. Berbeda dengan laba-laba, kalajengking yang mereka jumpai di sini seolah tak mengenal rasa takut. Kalajengking itu tetap diam di tempat, melengkungkan ekornya yang mengandung bisa. Bersiap melawan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.


Beberapa ekor kalajengking biasanya hanya mereka lewati, tetapi beberapa ekor lainnya terpaksa harus dilumpuhkan. Karena beberapa ekor itu berani menyerang. Belum lagi yang menyerang memiliki ukuran besar.


Semakin maju ke depan, Mantingan semakin banyak menjumpai kalajengking yang melawan. Bahkan kini mereka membentuk kelompok dan menyerang bersamaan. Mantingan meminta Bidadari Sungai Utara untuk mundur pelan-pelan sambil terus melumpuhkan kalajengking yang mendekat.

__ADS_1


“Ini tidak wajar.” Mantingan tahu itu. Tidak biasanya kalajengking menyerang, terlebih lagi secara berkelompok. Setahu Mantingan, kalajengking hidup menyendiri. Tidak pernah ia melihat kalajengking berkelompok dan berburu.


Bidadari Sungai Utara mengangguk. Wajahnya menunjukkan rasa cemas saat ia memandang kalajengking yang semakin banyak dan semakin mendekat. Mantingan meraba hulu pedangnya, siap mengeluarkan bilah Pedang Kiai Kedai.


__ADS_2