Sang Musafir

Sang Musafir
Pencurian Kitab dan Pedang Mantingan


__ADS_3

Mantingan menyerahkan selembar kain hitam. Tampak seperti sepotong robekan, sebab bentuknya tidak bisa dikata rapi. Pria paruh baya itu menerima kain tersebut sambil mengangguk pelan. Dia meraba-rabanya barang sejenak. Menganggukkan kepala sekali lagi.


“Datuk-Datuk yang sahaya junjung setinggi-tingginya, izinkanlah hamba sahaya mengatakan apa yang hamba lihat dari serobekan kain ini.” Si pria paruh baya menghadap ke barisan petua desa sambil berkata lantang tetapi penuh hormat. “Berdasarkan kasar permukaannya, beratnya, warnanya, bahannya, dan bahkan aromanya, dapat hamba sahaya simpulkan bahwa benda ini adalah kain sutra dari Negeri Atap Langit.”


Seketika itu pula, suara desir angin menyibak udara!


****


MANTINGAN bergerak tangkas dengan secepat-cepatnya. Melebihi kecepatan kilat. Maka dalam waktu yang bahkan tidak memungkinkan mata untuk dapat berkedip, lengan kayu Mantingan telah tiba di belakang kepala pedagang paruh baya itu. Dalam genggaman telapak tangannya, terdapat sebuah pisau yang bilahnya telah begitu menghitam disebabkan oleh cairan racun yang teramat mematikan!


Mantingan menoleh pada Chitra Anggini. Membentak keras, “Lindungi petua-petua!”


Chitra Anggini segera berkelebat dari bangkunya. Kini berdiri tegap di depan barisan para petua desa. Beruntunglah gadis itu berkelebat tepat waktu. Lembar-lembar daun berjumlah belasan melesat dari dalam pundi-pundinya, menangkis seluruh pisau terbang yang masing-masingnya menyasar para petua desa.


Kejadian itu berlangsung dengan teramat sangat cepat, yang karena terlalu cepat itulah membuat mata orang-orang awam tidak dapat menyaksikannya. Namun sebagai orang-orang awam Suvarnabhumi yang telah begitu mengenal dan dekat dengan telaga persilatan, mereka jelas mengetahui arti dari kelebatan yang dibuat oleh Mantingan dan Chitra Anggini itu. Mereka pula telah mengetahui mengapa belasan pisau berbilah kehitaman bisa terpelanting di lantai balai. Mereka mengetahui mengapa Chitra Anggini tetiba saja menghilang dari bangku rotannya, dan tahu-tahu saja telah muncul di hadapan para petua desa dengan kuda-kuda kokoh terpasang.


Telah terjadi serangan!


Seluruh warga desa yang berkerumun di sekitar balai segera menghamburkan diri ke segala penjuru. Berlari secepat dan sejauh mungkin dari tempat itu. Mengangkat kedua lengan untuk melindungi kepala. Mengatupkan rahang rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara teriakan.


Mantingan berkelebat ke tempat Chitra Anggini berdiri, dengan turut membawa serta pedagang paruh baya itu yang pula menjadi incaran para penyerang.


“Bapak berlindunglah di belakang Datuk-Datuk. Berjaga-jaga juga. Jika Bapak melihat kelebatan, secepat dan sekabur apa pun, lekas laporkanlah.”


Pria paruh baya itu masih dapat bersikap tenang meskipun keadaan telah begitu mengancam. Dia bersoja dalam-dalam sambil berterimakasih pada Mantingan, sebelum akhirnya menjalankan apa yang telah diminta oleh pemuda itu.


Kini Mantingan dan Chitra Anggini telah saling mengadu punggung. Dedaunan berseliweran di sekitar mereka, dalam kendali sihir Chitra Anggini. Keduanya mengawasi sekitar dengan was-was. Bola mata bergerak teramat cepat. Jika dilihat, maka tidak jelas antara hitam dan putihnya mata mereka.


“Apakah mereka rombongan pedagang dari Negeri Atap Langit yang ada di penginapan?” Chitra Anggini bertanya, setengah berbisik.


“Kita masih belum dapat memastikan,” jawab Mantingan.


“Maka kita mesti segera memastikannya. Kamu pergilah ke penginapan, ambil pula pedangmu, biar aku yang melindungi para petua desa mengesalkan ini.”

__ADS_1


“Apakah kauyakin masih dapat bertahan jika mereka semua menyerang bersamaan?”


Chitra Anggini menganggukkan kepala. “Dari pertukaran serangan tadi, aku jadi mengetahui batas kekuatan mereka. Masih dalam tingkat yang bisa kuhadapi. Pergilah, diriku akan baik-baik saja di sini.”


“Berjanjilah untuk tetap hidup, Chitra.”


“Aku berjanji.”


Mantingan mengentakkan kakinya. Kini ia telah berkelebat cepat, tidak dapat benar-benar secepat kilat, meski tetap mampu tiba di penginapan itu dalam waktu sekejap mata.


Kilatan-kilatan logam yang terpantul sinar mentari berlesatan ke arahnya. Tiada suara desir angin yang menyibak udara, sebab logam-logam itu bergerak dengan sedemikian cepatnya, begitu cepat hingga mengalahkan kecepatan suara berkali-kali lipat.


Mantingan masih melesat di udara. Tidak mampu mengubah arah gerak. Maka dikirimkanlah Tapak Angin Darah pada masing-masing kilatan logam itu, hingga membuat benda-benda itu berbalik melesat ke arah pemiliknya dengan kecepatan tergandakan!


Tidak perlu dipertanyakan lagi apa yang terjadi selanjutnya terhadap para penyerang itu, sudah tentu terkapar dengan sebilah pisau menancap di masing-masing kepala mereka!


Mantingan masuk ke dalam kamar sewaannya. Berniat mengambil sepasang pedangnya; Savrinadeya dan Kiai Kedai. Namun, beberapa pendekar musuh nyata-nyatanya juga telah berjaga-jaga di dalam kamar itu dengan sepasang belati panjang di kedua tangan mereka. Bentrokan tidak dapat terelakkan lagi.


Mantingan melepas belasan Tapak Angin Darah. Berentetan. Semuanya mengenai sasarannya dengan telak. Tidak ada yang meleset barang sejengkal saja. Darah tersembur ke udara, sebelum sebanyak enam tubuh tak bernyawa tergeletak di lantai kayu.


Mantingan mendekati mereka. Menggeleng pelan. Keenam pendekar itu adalah wanita, yang semuanya memiliki tampang cantik dan manis. Wajah-wajah yang damai dan menyenangkan, sayangnya tidak semenyenangkan tindakannya, sehingga dengan terpaksa Mantingan bunuh mereka berenam bahkan sebelum mereka sempat menyerang.


Kini Mantingan menebar pandang ke seantero kamar. Keadaannya tampak kacau balau. Kamarnya bagai habis digeledah. Isi bundelan tercerai-berai. Kasurnya terbalik. Lemari-lemari terbuka.


Tidak dapat Mantingan temui Pedang Savrinadeya maupun Pedang Kiai Kedai. Bahkan kini disadarinya betapa kitab-kitab di dalam bundelannya pun telah menghilang!


Mantingan tidak membiarkan dirinya terlalu lama membatu. Dipapasnya sebilah belati panjang kepunyaan lawan yang baru saja dikalahkannya. Berkelebat keluar melalui jendela.


Kali ini, kemampuan membaca pertanda benar-benar diandalkannya. Siapa pun yang telah mencuri sepasang pedang dan kitab-kitabnya, pastilah telah pergi meninggalkan desa ini jauh-jauh. Dan akan teramat sulit menemukan jejaknya jika pencuri itu adalah pendekar berkemampuan tinggi!


Mantingan hinggap di atap penginapan. Memejamkan mata. Menajamkan penalaran dengan mengorbankan kelima inderanya. Semoga saja tidak ada yang menyerangnya di saat-saat seperti ini!


Angin berdesir pelan. Ke arah timur. Mantingan mengernyitkan dahi. Di luar biasanya. Bukankah di musim penghujan seperti ini, gerak angin seharusnya menuju ke barat?

__ADS_1


Mantingan membuka matanya sebelum berkelebat secepat-cepatnya ke arah timur. Dengan segala kekhawatiran yang semakin mendesaknya, Mantingan bergerak secepat petir. Sekali kaki mengentak, dua-tiga bukit terlampaui.


Desa Pesawahan telah jauh tertinggal di belakang punggungnya. Kini pemuda itu bergerak di antara lembah-lembah hijau, lereng-lereng curam, burung-burung camar yang terbang, dan pucuk-pucuk pohon tinggi.


Hinggalah dijumpainya suatu noktah hitam di kejauhan, yang bergerak dengan kecepatan lima kali menembus kecepatan suara. Andaikata mata Mantingan bukanlah mata seorang pendekar yang selalu terlatih untuk mengikuti suatu pergerakan cepat, sudah barang tentu setitik kecil berwarna hitam yang tengah melesat dengan laju berkali-kali lipat kecepatan suara itu tidak akan pernah bisa terlihat!


Dalam hal adu kecepatan kali ini, Mantingan keluar sebagai pemenang. Musuhnya hanya mampu bergerak secepat lima kali laju suara, sedangkan dirinya mampu melesat selaju petir!


“Berhentilah!” Mantingan berteriak keras. Mengeluarkan cukup banyak tenaga dalam untuk meningkahi deru angin.


Pendekar itu hanya menengok ke arahnya sebentar. Lalu tetap melesat. Tidak sedikitpun berkurang kecepatannya.


Tanpa basa-basi lagi, Mantingan langsung menikam pendekar yang semulanya hanya tampak sebagai noktah itu. Darah kembali terpercik di udara. Tubuh lunglai pendekar itu terjatuh, sedang nyawanya justru terbang entah ke mana. Menabrak beberapa batang pohon hingga mematahkannya, sebelum akhirnya sempurna berhenti setelah tersangkut di antara dahan-dahan pohon besar.


Mantingan lekas menghentikan laju. Hinggap di salah satu dahan pohon dekat dengan mayat lawannya itu.


___


catatan:


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.


Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]


Favorit 1400\= +3 episode [TERPENUHI]


Vote 950\= +3 episode [TERPENUHI]


Vote 1000\= 5 episode


Bonus episode untuk 1400 favorit: 2/3


Terima kasih bagi yang sudah memberi masukan. Saya sudah baca semua dan saya pertimbangkan di antaranya. Jika ada saran lainnya, dipersilakan untuk mengutarakan. Saya akan menerimanya dengan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2