
DALAM kurun waktu setengah hari, Mantingan berhasil memantrai lebih dari seratus lima puluh lembar Lontar Sihir Cahaya. Tidak satupun lontar yang dibuatnya itu menemui kegagalan.
Mantingan tersenyum puas ketika matahari perlahan-lahan mulai tenggelam. Sayangnya, jendela kamarnya menghadap ke ufuk timur, sehingga tidak sedikitpun ia dapat memandangi matahari yang tenggelam di sebelah barat, terkecuali jika ia pergi keluar penginapan.
Pelabuhan Angin Putih sebenarnya telah menyediakan sebuah panggung lebar di dekat bibir pantai yang diperuntukkan melihat mentari terbit dan tenggelam. Di sanalah khayalak ramai sering berkumpul, dikitari oleh para pedagang kudapan yang selalu berhenti menawarkan dagangan ketika mentari terbit dan tenggelam.
Mantingan memutuskan untuk menyudahi kegiatannya memantrai lontar. Setelah seharian penuh duduk di atas bangkunya tanpa jeda, Mantingan merasa perlu melakukan sedikit pergerakan tubuh. Mungkin akan sangat baik jika dirinya pergi keluar melihat mentari senja.
Mantingan berdiri dan meluruskan punggungnya. Ia meninggalkan pedangnya yang tergeletak begitu saja di atas ranjangnya, dan kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Mantingan masih berpenampilan selayaknya orang awam di Bumi Sagandu, tak ayal jika pedangnya memang harus ditinggalkan meski itu memberikan risiko yang tidak ringan.
Mantingan menuruni tangga sebelum berjalan menuju pintu luar penginapan. Ketika itulah ia melihat sosok Dara yang tengah berbincang-bincang dengan beberapa orang di halaman penginapan. Mantingan tidak ingin mengganggu gadis itu sehingga terus saja berjalan tanpa melontarkan sapaan. Namun, justru gadis itulah yang terlebih dahulu menyapanya.
“Wahai, pedagang lontar! Kemarilah!”
Mantingan memandang ke sekitar dan menemukan bahwa tidak ada orang lain di halaman penginapan selain dirinya dan mereka. Tidak salah lagi, yang Dara panggil sebagai pedagang lontar itu memang dirinya. Mantingan segera memahami alasan Dara memanggilnya seperti itu adalah untuk tidak mengungkap jati dirinya yang sebenar-benarnya.
Mantingan merasa tidak memiliki pilihan lagi selain menghampiri Dara dan orang-orang yang berbincang dengannya.
“Saudara-Saudara, inilah pembuatan lontar yang kumaksudkan. Kebetulan dirinya ada di sini, sehingga kita tidak perlu menunggu hingga lima hari lamanya.” Dara berkata sambil menarik lengan Mantingan ke dekatnya. “Kalian bisa menanyakan cara kerja Lontar Sihir Cahaya kepadanya.”
Mantingan melirik lima orang di depannya yang memandanginya lamat-lamat. Mantingan tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukannya, sehingga disuguhkannya sedikit senyum canggung.
“Nyai Dara, sahaya rasa engkau salah memanggil orang.” Salah satu dari mereka yang memiliki cambang panjang berkata dengan tatap penuh keraguan.
__ADS_1
Dara mengangkat sebelah alisnya. Bukannya menjawab, dia justru balik bertanya, “Mengapakah engkau berkata seperti itu, Saudara?”
Si pria bercambang menggeleng pelan. “Daku tidak bermaksud meremehkan, Nyai, tetapi penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti pendekar ahli mantra lontar. Dia lebih tampak seperti penyalin kitab jalanan, bahkan tidak tampak seperti penulis kitab asli.”
Dara melirik Mantingan yang berdiri di sebelahnya. Dilihatnya penampilan Mantingan yang sebenarnya memang tidak tampak seperti ahli sihir biasanya. Terlihat pula bahwa senyum pemuda itu semakin canggung.
“Dan siapakah namanya?” Yang lain bertanya, juga dengan tatapan penuh keraguan pada Mantingan.
Tibalah Dara menjawab, “Saudara-Saudara, dia memang menyukai berpenampilan sederhana seperti ini. Dia pernah berkata padaku bahwa pakaian murahan justru jauh lebih nyaman ketimbang kain sutra berharga tinggi. Dan untuk namanya, biarkanlah dia yang memperkenalkan dirinya sendiri.”
Sesaat setelah seluruh mata tertuju kepadanya, Mantingan berdeham beberapa kali sebelum akhirnya menjawab, “Saudara-Saudara, perkenalkanlah nama orang yang hina dina ini adalah Jaya. Sekadar nama yang sama sekali tiada artinya bagi siapa pun jua. Dan maafkanlah diri sahaya jikalau penampilan sahaya memang tidak berkenaan di hati Saudara-Saudara, tetapi benar apa yang dikatakan Nyai Dara bahwa sahaya jauh lebih nyaman dengan pakaian seperti ini.”
Mereka menganggukkan kepalanya bersamaan. Pandangan mata penuh keraguan dari lima orang itu perlahan memudar setelah mendengar sendiri tutur bahasa Mantingan yang secara tidak langsung mencerminkan kedalaman ilmunya dalam bersastra.
Mantingan tersenyum dan mengangguk. “Mudah saja. Mantra di atas badan lontar bertindak mengubah tenaga dalam yang disalurkan menjadi sumber cahaya.”
“Kalau begitu, seperti apakah wujud dari mantra yang dikau pakai? Dan bagaimanakah dikau membuatnya?”
Mantingan tersenyum tipis, tetapi pada akhirnya ia menggeleng pelan. “Pertanyaan Saudara terlalu dalam, sahaya tidak senang jika harus menjawabnya.”
Pria bercambang itu turut tersenyum tipis sambil mengelus dagunya.
Pertanyaannya itu jelas bukan untuk menjebak Mantingan, melainkan untuk menguji seberapa dalam kepintaran Mantingan. Jawaban pemuda itu juga telah membuktikan bahwa dirinya tidak naif.
__ADS_1
“Jika memang dikau tidak senang, maka lupakan saja pertanyaan itu. Tetapi daku hendak bertanya suatu hal lagi; mengapakah dikau menjual Lontar Sihir itu dengan harga yang sangat murah? Bahkan jika dibandingkan, Lontar Sihir Cahaya-mu lebih murah daripada Lontar Sihir anak-anak.”
Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengerti yang dimaksud dengan Lontar Sihir anak-anak adalah Lontar Penjebak yang tiada akan berpengaruh besar jika digunakan, hanya untuk mainan kanak-kanak atau sebagai penghias dalam pertunjukan semata. Harganya tidak lebih dari sepuluh keping emas.
“Sahaya ingin memberikan manfaat bagi sesama.” Mantingan menjawab dengan pasti. Memang itulah alasannya; tidak peduli bagaimana mereka akan berpikir tentangnya. “Harga ini telah kutetapkan.”
Orang bercambang itu kemudian memanggut-manggutkan kepalanya. “Baiklah, itu bukan masalah besar, kami bisa mengambil lebih banyak keuntungan dengan menaikkan harga jual.”
“Kita akan tetap menjualnya seharga 10 keping emas, Saudara.” Dara memotong, secara tidak langsung membantah pernyataan bahwa kelompok dagangnya akan mengambil keuntungan besar dengan meningkatkan harga barang.
“Nyai, harga seperti itu ....”
“Daku sudah mempertimbangkannya dengan sebaik-baiknya,” kata Dara mempertegas kalimatnya. “Jika Lontar Sihir Cahaya ini dijual murah, bukankah akan semakin banyak pendekar yang membelinya? Keuntungan yang kita dapatkan dari setiap lembar lontarnya memanglah hanya dua keping emas, tetapi bayangkan jika yang terjual adalah puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu lembar?”
Mantingan meneguk ludahnya. Justru ialah sangat terkejut, tetapi bukan karena mengetahui keuntungan yang akan didapatkannya jika yang terjual memang sebanyak itu, melainkan karena khawatir jika suatu saat nanti harus membuat Lontar Sihir dengan jumlah sebanyak itu. Mantingan tidak yakin dapat menerimanya jika hal itu sampai terjadi.
Lima orang yang diajak berunding itu akhirnya menganggukkan kepalanya dan berkata bahwa mereka setuju dengan harga itu, tetapi mereka meminta Mantingan untuk menyiapkan paling tidak seribu Lontar Sihir Cahaya dalam waktu dekat.
Mantingan menyetujuinya. “Kalian bisa mengambil seratus lembar pertama sebagai barang purwarupa.”
“Bagaimana bisa?” Dara tiba-tiba berkata dengan raut wajah tercengang. “Saudara, engkau meminta waktu selama lima hari untuk membuat seratus lembar lontar itu, tetapi mengapakah ....”
Ketika Dara tampak tidak dapat meneruskan perkataannya lagi, Mantingan segera berucap, “Daku salah, Nyai. Pada kenyataannya, cukup setengah hari untuk membuat seratus lima puluh Lontar Sihir Cahaya.”
__ADS_1