Sang Musafir

Sang Musafir
Chitra Anggini di Suvarnadvipa


__ADS_3

Namun, rombongan semacam apakah mereka? Terlalu banyak wanita yang bercakap-cakap, dan terlalu ramai suara kerincing yang agaknya berasal dari alat bebunyian yang baru terdengar ketika pedati bergoyang.


“Mungkinkah ….”


Selintas lalu, terpikirkan olehnya bahwa yang datang kali ini adalah rombongan pemain wayang, yang memang selalu dipenuhi oleh wanita dan alat-alat bebunyian. Namun, Mantingan masih belum dapat memastikannya betul-betul, mengingat pula untuk apakah rombongan pemain wayang melewati jalan sunyi yang tidak mengarah ke peradaban manusia?


Memanglah seingat Mantingan, jalan yang dilewatinya ini tidak mengarah ke manapun selain ke pantai yang bersinggungan dengan Lembah Balian. Jalan tersebut tidak bersinggungan dengan kota baik yang kecil maupun yang besar, meski beberapa kali memiliki cabang yang mengarah ke pedesaan kecil. Namun, untuk apakah kiranya serombongan besar pemain wayang berkunjung ke desa-desa kecil yang sungguh lebih membutuhkan makanan ketimbang hiburan dari mereka?


***


KEBENARAN tentang rombongan itu akan segera Mantingan ketahui. Namun, rombongan tersebut tidak pernah dianggapnya sebagai suatu ancaman yang harus diwaspadai dengan sungguh-sungguh, meski dirinya tetap menerapkan kewaspadaan semenjana terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan adanya rombongan itu.


Kini suara dari rombongan itu dapat terdengar sayup-sayup meski tanpa menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Namun bagi Mantingan yang masih terus menerapkan ilmu tersebut, maka dapatlah ia ketahui jati diri rombongan itu dengan penerjemahan suara menjadi bentuk. Masih juga terdengar suara-suara yang ia dengar sebelumnya, tetapi kini dengan teramat sangat jelas, yang seolah saja tiada dapat lebih jelas daripadanya, termasuk pula dengan percakapan para wanita yang ada di rombongan itu.


“Mustahil diriku berbuat seperti itu, mungkin saja gelangmu terselip di pedati belakang.”


“Sudah kucari ke seluruh pedati, tetapi tidak juga kutemukan gelang itu. Dikau ‘kan sudah mengidam-idamkan gelangku sejak lama.”


“Huh! Jangan sembarangan berkata. Meski daku memang menyukai gelang itu, tetapi tidak mungkin daku sampai berani mencurinya. Mungkin ini adalah kutukan yang ditimpakan kepada dikau, karena tidak mau menjual gelang itu padaku.”


“Jangan kamu sembarangan berkata soal kutukan. Mana ada yang mau mengutuk wanita seperti diriku.”


“Maka janganlah pula kamu sembarangan menuduhku tanpa bukti sama sekali!”


“Siapa kata? Daku punya buktinya!”


“Bohong! Katakanlah jika dikau memang punya!”


“Buktinya adalah kau menyukai gelangku!”


“Daku memang menyukainya, tetapi bukan berarti daku harus memilikinya!”

__ADS_1


“Eh, lihat itu! Ada lelaki muda!”


Seketika pula pedebatan antara dua wanita yang mempermasalahkan kehilangan gelang itu berhenti.


Meskipun Mantingan sedang memejamkan mata, ia tahu betapa mereka tengah memandanginya.


“Kakak, mungkin kita bisa bertanya arah jalan kepadanya.”


Derit roda-roda pedati tidak lagi terdengar. Telah pasti bahwa rombongan itu berhenti.


“Kalian tunggu di sini, biar daku yang menanyakannya.” Terdengar suara wanita yang agaknya lebih matang secara usia daripada wanita-wanita lain di rombongan itu.


“Biar diriku saja. Kakak tidak perlu repot-repot menjejak tanah yang becek.”


Dahi Mantingan berkerut ketika didengarnya suara yang satu ini. Betapa ia merasa pernah mengenali pemilik dari suara halus sekaligus tegas itu. Maka begitulah Mantingan terkejut bukan alang kepalang ketika ia memutuskan untuk membuka mata dan melihat ke arah suara.


“Chitra, daku selalu merepotkan dikau dalam bermacam-macam urusan. Sudah berapa kali dikau turun dari pedati untuk menggantikanku?”


Begitulah Mantingan melihat Chitra Anggini yang telah cukup lama ia kenal itu melompat turun dari pedati kerbau yang semula ditumpanginya sebelum berlari kecil ke arahnya.


Sungguh Mantingan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Bagaimana bisa Chitra Anggini ada di Suvarnadvipa? Lebih-lebih lagi, perempuan muda itu berpenampilan selayaknya pemain wayang! Pakaian yang dikenakannya teramat ringkas meski cukup berwarna. Dadanya dilibat kain berwarna hijau cerah, sedangkan pinggang hingga batas lututnya dilibat kain bercorak dan berpola. Perutnya yang sewarna dengan kulit langsat itu dibiarkan terbuka, seolah menantang angin untuk membelainya. Rambut hitamnya digelung ke atas, tampak seperti sengaja memperlihatkan leher jenjangnya yang bersih tanpa luka barang segurat pun.


Ketika sudah tiba di dekat Mantingan, gadis itu melambaikan tangannya.


“Saudara yang sedang mengembala! Bolehkah sahaya bertanya kepada dikau?”


Betapa pun terkejutnya Mantingan, naluri kependekarannya masih tetap berjalan. Ia segera menyadari bahwa Chitra Anggini sedang menjalankan suatu penyamaran meski tidak jelas maksud dan tujuannya, sebab gadis itu telah bersikap seolah tidak mengenalnya sama sekali.


Mantingan segera menganggukkan kepalanya dan menjawab walau terkesan cukup gugup, “Saudari hendak bertanya tentang apa?”


Sikap yang Mantingan tunjukkan tentunya dapat dianggap sebagai sebuah persetujuan untuk bertanya, maka Chitra Anggini melangkah hingga benar-benar berdiri tepat di hadapan Mantingan.

__ADS_1


“Sahaya hendak bertanya arah menuju Lembah Balian. Apakah Saudara mengetahuinya?”


Belum sirna keterkejutan Mantingan yang disebabkan oleh kemunculan Chitra Anggini, kini dirinya semakin dibuat terkejut ketika mendengar nama Lembah Balian disebutkan, yang tiada lain dan tiada bukan adalah tempat kediaman Tapa Balian!


“Untuk apakah Saudari dan rombongan hendak pergi ke sana?” Mantingan memutuskan untuk mempertanyakannya, sebab dapatlah hal tersebut dianggap wajar.


Chitra Anggini tampak tersenyum lebar sambil mengedipkan matanya beberapa kali ke arah Mantingan. “Kami dipesan untuk menghibur prajurit -prajurit Koying yang menjaga tempat itu.”


Bukan lagi menjadi suatu hal yang mengejutkan tentang keberadaan prajurit Kerajaan Koying yang berjaga di Lembah Balian. Sebab betapa pun, tempo lalu Tapa Balian telah menyampaikan bahwa dirinya diberikan sejumlah perlindungan dan sumber daya setelah bersedia bekerja di bawah salah satu keluarga bangsawan di Kerajaan Koying. Namun, untuk apakah kiranya mereka memesan rombongan pemain wayang dalam jumlah besar? Jika yang berjaga di tempat itu hanya sampai sepuluh hingga dua puluh orang saja, cukup mustahil jika mereka memesan rombongan pemain wayang yang jumlah anggotanya mencapai ratusan.


Maka untuk mendapatkan jawaban yang pasti, sebab perkara ini telah menyangkut keselamatan Tapa Balian, Mantingan mengirim pertanyaannya melalui Ilmu Membisik Angin. Sehinggalah isi dari pertanyaan itu tidak akan sampai terdengar oleh rombongan pemain wayang itu selain Chitra Anggini seorang.


“Apakah ini benar-benar dikau, Chitra?”


Chitra Anggini menganggukkan kepalanya dengan tanpa mengeluarkan suara barang sekecil apa pun. Dan tentu saja, dengan senyum termanisnya yang betapa pun Mantingan ketahui hanya sebagian dari sandiwara belaka. Chitra Anggini bukanlah orang yang biasa tersenyum.


“Berapakah banyaknya prajurit yang berjaga di Lembah Balian?” Kembali Mantingan mengirim bisikan angin.


Chitra Anggini memutar bola matanya sambil mendengus kesal. “Saudara, mengapakah dikau malah diam saja bagaikan patung dvarapala? Jika dikau tidak mengetahui jalannya, maka katakan saja!”


“Daku tahu.” Mantingan bangkit berdiri setelah selesai mengatakan itu. “Daku juga ingin pergi ke tempat itu. Nah, apakah diriku bisa bergabung dengan rombongan kalian? Perjalanan ke Lembah Balian masih akan memakan waktu satu hingga dua hari lagi. Akan lebih aman bagi daku jika kalian berbaik hati mempersilakanku untuk bergabung. Sebagai imbalannya, daku bersedia menjadi petunjuk jalan bagi kalian semua.”


Chitra Anggini mengerutkan dahi dengan pandangan bertanya-tanya. Dapat Mantingan lihat bahwa keterbingungan Chitra Anggini kali ini bukanlah bagian dari sandiwaranya, melainkan sebenar-benarnya bingung dari dalam lubuk benaknya.


“Jadi, dikau bukan penggembala?”


Mantingan tersenyum gugup, kiranya ia tidak menyangka bahwa keterbingungan Chitra Anggini disebabkan oleh masalah yang tidak begitu penting.


“Daku adalah pengembara.” Mantingan menjawab penuh percaya diri.


__ADS_1


__ADS_2