Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan di Tengah Badai


__ADS_3

PETIR menyambar-nyambar. Sungguh menyilaukan mata. Angin berembus begitu kuat. Bagai hendak menerbangkan apa pun menuju gumpalan-gumpalan awan hitam tebal.


Akan tetapi, begitulah Mantingan dan Munding Caraka tetap melaju cepat tanpa gentar di udara. Tindakan mereka itu bagai sudah menantang dewa maut. Keberanian yang teramat kuat!


Sedangkan di daratan sana, terlihatlah sesosok ular putih yang luar biasa besarnya merebak keluar dari dalam gua persembunyiaannya. Badannya kian membesar, dan hanya dalam waktu singkat ular itu telah berhasil meruntuhkan gua tersebut.


Lantas terjadilah hal yang benar-benar mengejutkan: ular itu melesat terbang ke langit dengan tubuh yang bercahaya putih terang!


Bukan main keterkejutan Mantingan. Sungguh tiada menyangka bahwa Sang Siluman dapat terbang pula seperti Munding Caraka! Tetapi tiadalah itu membuatnya takut apalagi gentar, Mantingan justru merasa tertantang untuk menyelesaikan siluman itu barang secepat mungkin!


Sungguh dirinya tak dapat membayangkan bagaimana jadinya bila siluman sekuat itu memutuskan untuk menyerang pemukiman manusia. Bahkan mungkin Kotaraja Koying yang megah dan gagah itu akan luluh-lantak oleh ular siluman itu. Harus ada yang menghentikannya!


“Terjang dia, Munding!” Mantingan berteriak keras sambil mengacungkan kedua pedangnya ke arah siluman ular yang sedang bergerak teramat cepat ke arahnya itu.


Munding Caraka menyanggupi tanpa merasa keberatan sama sekali, meski kerbau itu tahu bahwa mungkin saja nyawanya akan melayang malam ini pula akibat tindakan Mantingan yang teramat gila, tetapi rasa kesetiaannya itu telah benar-benar berhasil mengalahkan segala rasa takutnya!


“Naik, Munding!” Sekali lagi Mantingan berteriak teramat lantang ketika jarak mereka dengan ular itu hanya tinggal beberapa belas tombak lagi.


Sekuat tenaga Munding Caraka berusaha menarik tubuhnya kembali ke atas setelah terjun bebas dengan sebebas-bebasnya. Siapa pun mengetahui bahwa jika Munding Caraka terlambat barang sekedip mata saja, maka tamatlah riwayat kerbau itu serta Mantingan yang menungganginya sebab dilahap mulut besar siluman ular itu!

__ADS_1


Namun, beruntunglah Munding Caraka bergerak dengan amat sangat cepat dan tepat. Dapatlah terjangan ular itu dihindari!


Tepat ketika Mantingan dan Munding berhasil menjauhinya, tetiba saja muncul kilatan-kilatan cahaya yang disusul oleh suara dentuman besar. Ingar-bingar. Rupa-rupanya ketika Munding Caraka berhasil mengangkat laju terbangnya ke atas, sehingga mereka berada tepat di atas kepala ular itu, Mantingan melesatkan belasan Lontar Sihir Peledak yang pula mengandung racun mematikan!


Ia mempelajari siasat itu dari Pendekar Seribu Kitab, yang hanya saja sedikit diubahnya dengan menambahkan mantra peledak, sehingga bubuk racun yang terkandung di dalamnya mampu tersebar dengan amat baik.


Ular itu menjerit panjang. Beberapa sisiknya terlepas, tetapi tidak sampai melukai kulitnya yang tebal itu. Mantingan hanya perlu melakukan serangan seperti itu sekali lagi, agar luka tercipta pada kulit siluman ular itu lantas racun dapat masuk ke dalam tubuhnya, yang meskipun tidak seberapa tetaplah akan mengurangi kemampuannya!


Mantingan kembali mengarahkan Munding Caraka untuk terbang lebih tinggi lain untuk dapat kembali menerjang ular itu dari atas, tetapi sekuat tenaga siluman ular itu justru mengejar mereka.


“Siluman itu terlalu cerdas!” Mantingan segera menyadari bahwa ular besar itu memiliki akal yang cukup besar pula, tentulah tidak ingin serangan dari Mantingan kembali menghancurkan tubuhnya sehingga dengan selekas mungkin mengejarnya.


Sedangkan itu, badai semakin bertambah besar. Kilatan petir menyambar-nyambar, gemuruhnya menggetarkan langit. Deru angin menyentak-nyentak, terkadang perlahan terkadang teramat cepat dan keras pula. Kini gumpalan-gumpalan awan memilin, membentuk lingkaran-lingkaran panjang yang mengikuti laju angin.


Ketika orang-orang di kaki Gunung Kelinci cepat-cepat masuk dan mengunci diri di dalam rumah, berharap agar badai cepat berlalu; Mantingan dan Munding Caraka justru pergi ke atas langit, tempat yang menjadi pusat badai, sekaligus pula di bawah ancaman siluman ular terbang yang amat berminat membunuh mereka.


Sungguh keberanian yang teramat besar!


“Kita harus masuk ke dalam gumpalan awan-awan itu, Munding!” Mantingan mengirim bisikan angin ke telinga kerbau itu, sebab tidak lagi memungkinkan dirinya berteriak selantang-lantangnya di tengah suara deru angin yang membahana itu!

__ADS_1


Munding Caraka tidak menjawab, tetapi tetap saja mematuhinya. Kerbau itu melesat secepat mungkin ke arah gumpalan awan hitam tebal yang memilin-milin itu, dengan segenap tenaga yang dimilikinya!


Mantingan menengok ke belakang, menemukan siluman ular itu pula mati-matian mengejarnya. Lekaslah kemudian Mantingan melempar belasan Lontar Sihir ke arahnya, meledak-ledak di langit, tetapi tidak ada satupun yang berhasil mengenainya.


Laju angin terlalu kuat, sedangkan lontar-lontar itu terlalu ringan. Sehebat apa pun Mantingan melesatkan lontar-lontar itu ke arah sasaran, tetap saja melenceng teramat jauh sebab terpapas angin. Sehingga kini, satu-satunya yang dapat ia andalkan hanyalah Munding Caraka!


Ketika memasuki gumpalan awal tebal, Munding Caraka telah benar-benar kehilangan kendali. Tidak lagi laju terbangnya dapat diarahkan. Seluruh geraknya dikendalikan oleh angin, yang memang telah benar-benar tidak dapat dilawan lagi.


Mantingan berpegangan sekuat mungkin pada kedua tanduk Munding Caraka. Seluruh kemampuan dikeluarkan olehnya. Untunglah untuk menghadapi keadaan gawat dan genting ini, Mantingan telah berlatih di bawah Kiai Guru Kedai.


Ketika itu, gurunya meminta Mantingan untuk berpegangan pada celah batu di balik air terjun besar. Sehingga dirinya bergantungan di bawah terpaan air yang luar biasa kencang dan pula berat. Kini, kemampuan itu terpakai pula!


Mantingan menengok ke belakang. Dengan kilatan-kilatan cahaya dari petir, Mantingan dapat melihat ujung moncong kepala ular siluman itu yang berjarak tak terlalu jauh darinya. Kiranya hanya dua tombak saja.


Ular itu agaknya juga tidak dapat mengendalikan lajunya sendiri, sama seperti apa yang dialami oleh Munding Caraka. Maka rencananya telah dapat dikatakan berhasil, dan ini adalah saat yang sangat tepat baginya untuk menyempurnakan rencana itu dengan satu sentuhan terakhir!


Mantingan melepas sebelah tangannya untuk kemudian menepuk-nepuk punggung Munding Caraka. Menyampaikan suatu pesan agar kerbau itu cepat-cepat keluar dari gumpalan awan ganas ini, sebab betapa pun dirinya tidak dapat berbicara dengan Munding Caraka dengan Ilmu Membisik Angin apalagi dengan berteriak langsung.


Tepat setelah menyampaikan pesan itu, Mantingan segera melepas kedua tangganya dari tanduk Munding Caraka. Dalam sekejap saja, angin merampas tubuhnya ke belakang. Terpisah dari Munding Caraka.

__ADS_1


Terombang-ambing di udara, Mantingan tidak berdiam diri saja. Lekas ditariknya Pedang Kiai Kedai serta Pedang Savrinadeya yang semulanya tersoren di sabuk pinggangnya. Menerapkan Jurus Pendirian Manusia dengan sikap menikam, yakni dengan memegang pedang secara terbalik hingga ujung bilah menghadap ke bawah.


Mantingan menghunjamkan pedangnya ke bawah, yang bagai saja hanya hendak menusuk udara kosong, tetapi sebenarnyalah ia mengincar hal lain!


__ADS_2