Sang Musafir

Sang Musafir
Penggunaan Ilmu Tanpa Tenaga Dalam


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara membalikkan tubuh Mantingan. Raut wajahnya sangat cemas. Jantungnya bergemuruh, berdetak tak keruan. Pikirannya kacau. Berharap tidak terjadi hal buruk terhadap diri Mantingan, atau ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Namun, yang didapatkannya benar-benar di luar harapan. Dapat dilihat, mata Mantingan terbuka. Dada Mantingan masih naik dan turun, pertanda bahwa dirinya masih terus bernapas. Pemuda itu tersenyum. Raut wajah Bidadari Sungai Utara berubah masam.


“Sadarkan bahwa Saudara telah melakukan hal yang berbahaya?”


“Diriku tidak kenapa-kenapa, Saudari Sasmita.” Mantingan segera membangkitkan diri. Menebah pakaiannya yang sedikit kotor oleh debu. “Maafkan daku, tetapi sepertinya aku telah memenangkan latihan ini.”


Bidadari Sungai Utara melebarkan mata. “Yang benar?”


Mantingan tidak menjawab melainkan langsung membuka tutup bumbung buluhnya. Dari dalam bumbung tersebut, terbang dan keluarlah seekor lalat. Mantingan menyunggingkan senyum lebar, yang ditunjukkan kepada Bidadari Sungai Utara.


“Bagaimana? Apakah Saudari percaya?”


Biar bagaimanapun, Bidadari Sungai Utara melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa lalat itu keluar dari dalam bumbung Mantingan. Itu artinya, Mantingan telah berhasil menangkap seekor lalat sebelum dirinya.


“Tapi bagaimanakah itu bisa terjadi?” Bidadari Sungai Utara masih sulit untuk mempercayainya. Jelas ia melihat Mantingan terbentur keras bersamanya, barang tentu lalat itu sudah terbang menjauh.


Sebelum menjawab gadis itu, Mantingan terlebih dahulu memberi tanda kepada Wiranti bahwa dirinya baik-baik saja. “Saat diriku terbang tadi, dan sebelum menghantam dikau, daku menangkap lalatnya.”


“Daku tidak bertanya seperti apa itu terjadi, melainkan bagaimana itu terjadi.” Bidadari Sungai Utara berkata tajam.


Dengan tenang, Mantingan membalas, “Diriku menggunakan Ilmu Mengendalikan Angin.”

__ADS_1


“Jangan berbohong. Ilmu tersebut baru bisa digunakan jika menggunakan tenaga dalam. Ketahuilah bahwa daku akan sangat marah jika engkau mengeluarkan tenaga dalam hanya untuk latihan ini.”


“Aku tidak bilang begitu.” Mantingan menggeleng pelan, mulai berbalik dan berjalan. “Setiap ilmu persilatan terdiri atas unsur-unsur penting di dalam kehidupan. Terkadang diri kita tidak pernah menyadarinya. Daku mengembangkan unsur-unsur di dalam Ilmu Mengendalikan Angin agar dapat kugunakan tanpa tenaga dalam.”


“Katakan saja bahwa dikau menggunakan tenaga dalam!” Bidadari Sungai Utara berjalan mengikuti Mantingan, wajahnya tampak kesal.


“Tidak baik berprasangka buruk pada orang lain.” Mantingan tersenyum tipis dan menggeleng pelan. “Jika diriku harus membuktikannya, maka aku bersedia.”


“Buktikanlah sekarang juga jika engkau memang bisa melakukan itu, wahai Mantingan!”


Tiba-tiba saja berbalik menghadap belakang. Tangan kanannya terjulur ke depan dengan jari-jari merentang, sedangkan tangan kirinya terangkat ke belakang. Terkirimlah serangan tapak ke arah Bidadari Sungai Utara. Walau sebenarnya, jarak antarkeduanya terpisah belasan langkah, tidak memungkinkan serangan itu sampai ke tempat Bidadari Sungai Utara.


Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Angin bergemul-gemul, membawa debu-debu dan dedaunan di atas tanah. Begitu cepat pergerakan angin itu. Melesat menuju Bidadari Sungai Utara yang sedang berdiri. Sama sekali tanpa persiapan. Angin menubruknya. Tidak terlalu keras. Tampak seperti tertimpuk sebuah bantal saja. Namun, itu cukup untuk membuat Bidadari Sungai Utara terdorong mundur beberapa langkah.


Mantingan tertawa kecil. “Saudari, sudah kubilang sebelumnya, tidak baik berprasangka buruk pada orang lain.”


Bidadari Sungai Utara tampak sedang mengendalikan amarahnya. “Lalu apa ini jika tidak menggunakan tenaga dalam?”


Mantingan mengangguk pelan. Ia maklum jika Bidadari Sungai Utara begitu marah padanya. Gadis itu telah bersusah payah mengobati Mantingan, siang-malam hampir tidak pernah berhenti. Demi menggenapi janji yang telah tertoreh. Jika Mantingan benar-benar telah menggunakan tenaga dalam barusan, maka dirinya sungguh tidak menghargai usaha Bidadari Sungai Utara.


“Sungguhan aku tidak menggunakan tenaga dalam, Saudari Sasmita.” Mantingan berkata lembut. Senyumnya hangat.


Bidadari Sungai Utara benar-benar berhasil mengendalikan api amarah setelah melihat senyum Mantingan. Lalu dia melihat matanya. Memancarkan kejujuran, ketulusan, dan segala rasa yang dapat membuat orang percaya dengannya. Tak peduli itu hanya sekadar tatapan saja.

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara memilih diam. Namun, wajahnya yang tidak lagi merah padam sudah dapat mengisyaratkan bahwa dirinya tidak marah. Mantingan kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


***


SETELAH BEBERAPA hari berlalu, toko bunga Mantingan memasuki tahap pembangunan. Kali ini Mantingan tidak membangun toko bunganya sendiri, ia menyewa pekerja kasar untuk membangunnya, meskipun ia tahu bisa melakukannya sendiri. Mantingan berpikir dengan dirinya memperkerjakan pekerja kasar dari desa, maka hubungannya dengan para tetangga akan semakin baik.


Tentu saja Mantingan tidak ingin menjadi seseorang yang tak peduli akan hubungan dengan manusia lainnya. Mantingan bukan manusia penyendiri, meskipun pada awalnya begitu. Jika Mantingan tinggal di lingkungan manusia, maka ia akan mencoba untuk menjalin hubungan baik dengan mereka. Selain itu, Mantingan juga bertekad ambil andil dalam menjaga keamanan Desa Lonceng Angin selama ia tinggal di dalamnya.


Dan soal nama desa, Mantingan baru-baru ini mengetahuinya. Desa tempat tinggalnya itu mendapatkan namanya karena keberadaan lonceng angin di setiap rumah yang ada di desa. Satu keluarga setidaknya memiliki sebuah lonceng angin.


Sehingga tatkala angin berembus, desa ini akan dipenuhi suara merdu dari lonceng angin. Siapa pun yang mendengarnya, akan tenteram pikirannya. Sehingga seringkali desa ini kedatangan pelancong yang ingin mendengar ratusan lonceng angin berbunyi berbarengan.


Sebenarnya selain makanan dan kudapan, penginapan juga laku di Desa Lonceng Angin. Banyak pelancong yang memilih menetap barang satu-dua malam di Desa Lonceng Angin.


Selain itu, desa ini juga merupakan jalur perlintasan para pedagang yang hendak ke Pelabuhan Kalapa. Maka dengan begitu, segala barang yang dijual di desa ini tergolong sangat murah.


Desa Lonceng Angin merupakan desa yang banyak dikunjungi orang, maka dari itu sering diadakan pasar lelang akbar di desa ini. Lelang yang kemarin Mantingan ikuti bukanlah lelang akbar, sebab gejolak di Tarumanagara tidak memungkinkan bagi pasar lelang akbar dilaksanakan.


Hal-hal itulah yang membuat Mantingan semakin yakin untuk berjualan bunga di Desa Lonceng Angin. Dalam memulai perdagangan, memang dibutuhkan keyakinan yang kuat. Keyakinan Mantingan juga bukan tanpa landasan. Bunga yang dijualnya itu merupakan bunga pengobatan, bukan bunga hiasan saja. Lebih-lebih, semua bunga yang ditanamnya itu merupakan bunga pengobatan yang paling banyak dicari.


Soal bahkan tidak sedikit orang yang tergiur oleh bunga-bunga tersebut. Mantingan memang sengaja tidak mengubah pagar rumah menjadi tembok beton yang tinggi, sehingga orang-orang desa dapat melihat dengan jelas apa yang ia tanam. Banyak orang yang berusaha mencuri bunga Mantingan dengan melewati pagar, tetapi tidak seorangpun yang berhasil masuk.


Tentulah itu disebabkan oleh keberadaan Lontar Sihir Penjebak yang terpasang di seluruh bagian tiang pagar. Siapa pun yang berusaha masuk, akan terdorong kembali dengan tenaga yang sama saat dia masuk.

__ADS_1


__ADS_2