Sang Musafir

Sang Musafir
Sepuluh Pisau Terbang


__ADS_3

KANA kembali tak lama setelah ia mengambil sebatang jarum beserta selembar lontar dari tangan Mantingan. Dia cepat-cepat mengembalikannya kepada Mantingan.


Mantingan kemudian menganggukkan kepalanya dan tersenyum puas. “Terima kasih, Kana. Ini adalah caramu membantu kita semua, sungguh sangat berarti. Sekarang kuharap engkau mau kembali ke barisan perlindungan.”


Kana merasakan sesuatu telah menyentuh hatinya, maka dia tersenyum sambil menganggukkan kepala sebelum kembali mengarahkan kudanya ke barisan pertahanan.


Ketika Mantingan kembali berbalik menghadap ke arah barat jalan di belakangnya, sebuah bisikan angin hinggap di daun telinganya.


“Saudara Man, apakah kami bisa keluar dari lingkaran beraksara ini?”


Tentu saja yang dimaksud oleh salah seorang pendekar dari Pasukan Topeng Putih yang dikirimkan Perguruan Angin Putih untuk menjaganya itu adalah lingkaran sihir penuh mantra pelindung yang sengaja Mantingan buat untuk melindungi Bidadari Sungai Utara dan kesepuluh pendekar di sekitarnya itu. Maka membalaslah Mantingan, “Tidak, Saudara. Tetaplah di dalam garis perlindungan. Kita sama sekali tidak mengetahui musuh seperti apakah yang sedang kita hadapi.”


Para pendekar itu mengangguk meskipun sama sekali merasa tidak senang. Bagaimanakah mereka dapat senang jikalau sekumpulan pendekar berjiwa lelaki gagah yang lebih terutama lagi merupakan pasukan khusus dari perguruan besar itu disuruh berlindung bagai tiada memiliki daya sama sekali?


Mantingan pun memahami perasaan mereka, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Ia sendiri akan bergerak ke dalam lingkaran perlindungan, jikalau keadaan benar-benar mendesak dan membahayakannya.


Setidaknya untuk saat ini, Lontar Sihir buatan Mantingan menjadi satu-satunya pertahanan terbesar yang mereka miliki. Tidak mudah mematahkan aksara-aksara itu, bahkan untuk seorang ahli sihir yang telah berpengalaman lebih dari tiga tahun sekalipun itu bukanlah hal yang mudah.


Seharusnya dengan mantra-mantra sihir itu, keselamatan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina masih dapat terjamin.


Namun pemasang mantra di satu tempat seperti ini pun bukan tidak memiliki kekurangan dan kelemahan tersendiri.


Yang pertama, mantra tidak dapat dipindah-pindahkan tempat, sehingga mereka yang berlindung di dalam lingkaran sihir itu hanya bisa berdiam diri jika masih ingin terlindungi oleh mantra sihir.

__ADS_1


Yang kedua, mantra-mantra sihir pelindung itu bukanlah tanpa tenggat waktu. Jika tenggat waktu itu telah tercapai, maka kekuatan mantra akan melemah hingga pada akhirnya menghilang seluruhnya. Untuk mantra yang Mantingan pasang saat ini, tenggat waktunya tidak lebih dari setengah hari. Sekira-kiranya, mantra-mantranya masih bisa bertahan hingga esok pagi.


Masih kegulitaan malam yang Mantingan lihat. Semua-semuanya hitam. Langit, hitam. Jalanan, hitam. Bukit-bukit, hitam. Pepohonan, hitam. Semak belukar, hitam. Kelelawar, hitam pula.


Ketika keadaan telah benar-benar gelap gulita, bagai tiada satupun di dunia dapat menyaingi kegelapan ini, maka hampir segala-galanya sangat sulit dipastikan ada atau ketiadaannya. Yang tidak ada di penglihatan, seringkali ada di kenyataan. Yang ada di dalam penglihatan, seringkali tiada di kenyataan. Begitulah keadaan gelap membuat mata seolah hilang kegunaannya.


Berdasarkan pertimbangan itu, Mantingan memejamkan matanya perlahan-lahan tetapi justru memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Kegelapan memang mampu mengungguli penglihatan, tetapi kegelapan sungguh tidak dapat mengungguli pendengaran.


Justru ketika gelap gulita itulah pendengaran menjadi lebih tajam lagi.


Ketika Mantingan mengedarkan pendengarannya dibantu dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, ia dapat menerjemahkan bunyi menjadi bentuk dalam jarak sebelas tombak, dan dapat saja mendengar segala bunyi tanpa menerjemahkannya menjadi bentuk dalam ratusan tombak jika diinginkannya.


Tetapi dengan kemampuannya itu, Mantingan masih tidak dapat menemukan letak musuh. Ia tidak dapat mendengar deru atau helaan napas manusia selain dari dirinya dan rombongannya sendiri; begitu pula dengan detak jantung manusia.


Tetapi Mantingan tetap menunggu. Sebab ia percaya, bahwa tiada satupun manusia yang benar-benar mencapai kesempurnaannya selama masih terus bernapas. Manusia sempurna adalah manusia yang telah mati, manusia yang tidak lagi memiliki tugas dalam hidupnya.


Jika lawan yang tengah dihadapinya saat ini mampu mempraktikkan suatu ilmu tanpa celah sedikitpun alias sempurna, maka yang dihadapinya bukanlah manusia hidup. Dan betapa pun, Mantingan masih tidak mempercayai keberadaan hantu.


Maka ditunggulah. Masih memejamkan matanya dan mengedarkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, menunggu celah terbuka dari musuh-musuhnya. Betapa pun, yang dilakukannya itu jauh lebih baik ketimbang tidak berbuat apa-apa.


Hendak ulam, pucuk pun menjulai. Yang dinanti-nantikan datang pula, bahkan lebih dari harapan tertinggi Mantingan saat itu.


Dalam suatu kesempatan, secara bersama-samaan, Mantingan mendengar deru napas dihela yang berlangsung dalam tiga kejap mata saja! Dengan helaan napas itu, Mantingan dapat mengetahui bahkan menerjemahkan bentuk-bentuk sebagian dari musuhnya.

__ADS_1


Setidaknya, ada lebih dari empat pendekar dalam jarak sebelas tombak dari tempat Mantingan berdiri. Yang lainnya, berjarak lebih dari sebelas tombak dari tempatnya berdiri dan dalam jumlahnya yang tidak dapat dipastikannya.


Mantingan bergerak cepat menarik sepuluh pisau terbangnya dan melesatkannya ke udara dengan kecepatan teramat sangat tinggi hingga tiada mampu ditangkap mata orang awam. Sebelum empat pendekar itu berpindah tempat, Mantingan menyerang mereka terlebih dahulu.


Sepuluh pisau itu nyatanya tidak satupun yang melesat ke arah empat pendekar tersebut. Melayang seolah tak tentu arah. Membuat heran musuh-musuhnya yang baru saja hendak berkelebat menghindar.


Akan tetapi, sepuluh pisau yang seolah dilesatkan tanpa arah itu ternyata saling bertemu dengan bilah pisau lainnya. Ketika berbenturan, pisau-pisau itu berubah arah dengan kecepatan yang tak terbantahkan lagi.


Tahu-tahu saja, empat pendekar yang bersembunyi di dalam rimbunnya pepohonan berdebam jatuh di atas tanah dengan sebilah pisau menancap tepat di dada mereka. Pendekar-pendekar itu mengerang kesakitan sebelum sebentar kemudian merenggang nyawa dengan kulit menghintam dan mulut mengeluarkan darah hitam pekat.


Sungguhlah sebuah ketepatan luar biasa yang baru saja ditunjukkan Mantingan dengan melempar sepuluh bilah pisau. Empat dari sepuluh pisau tersebut menancap pada dada lawannya, bukan bagian tubuh lainnya. Pemuda itu berhasil membuat takjub seluruh Pasukan Topeng Putih yang ada di sana, bahkan pula membuat takjub musuh-musuhnya yang masih bersembunyi di balik kegelapan malam.


___


catatan:


Saya membuka sedikit diskusi, apakah kiranya arti dari "hela". Selayaknya kita sering mendengar kata "menghelaan napas".


Menurut KBBI, "hela" berarti "menarik".


Menghela tali kekang kuda, berarti menarik tali kekang kuda.


Adakah yang berpendapat lain?

__ADS_1



__ADS_2