Sang Musafir

Sang Musafir
Mantingan Pendekar Unggulan?


__ADS_3

Tidak ada yang cukup waktu untuk sekadar tersenyum ramah pada Mantingan, sebab mereka semua sibuk. Mantingan memahami itu, dan tetap menanggap bahwa mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Orang-orang inilah yang berhasil membuat Perguruan Angin Putih bagaikan surga tersembunyi.


Mantingan diarahkan untuk menaiki tangga menuju atas. Lalu-lalang di tangga ini juga tergolong sibuk, banyak orang-orang hingga hampir berdempetan di tangga. Sebagian besar ingin naik, dan sebagian kecil lainnya hendak turun. Mungkin dikarenakan hari masih pagi dan orang-orang baru saja datang ke sini, jadi banyak yang ingin menuju tempat kerja mereka di lantai atas.


Terhitung sudah delapan belas lantai yang Mantingan lalui. Dan dapat terbilang ini adalah lantai teratas, sebab sudah tiada tangga lagi yang menanjak ke atas. Jalur tangga itu menemui kebuntuan, dan hanya terdapat satu pintu untuk keluar dari kebuntuan itu.


Pendekar itu meraih gagang pintu, lalu ia berbalik menghadap Mantingan. “Jika engkau adalah mata-mata, kebenaranmu akan terungkap di sini.” Kemudian ia membuka pintu dan masuk.


Mantingan turut masuk. Wajahnya sedikit mengernyit. Di ruangan ini cukuplah banyak barang, tetapi tidak terlihat seorang pun di sana, kecuali satu orang tua di belakang meja yang tampaknya sedang membaca tulisan di lontarl. Orang itu melirik Mantingan dan pendekar yang mengawalnya, lalu dengan lembut ia mengerahkan tangannya menunjuk bangku di depan meja. Karena sepertinya orang tua itu menyuruh Mantingan duduk di sana, maka lekaslah Mantingan duduk di bangku itu, berhadapan dengannya.


Orang tua itu terlihat kurus, jangkung, dan tidak berdaya lagi. Tetapi orang-orang tidak bisa memandangnya rendah, Mantingan juga termasuk orang yang tak bisa memandangnya rendah. Saat Mantingan menatap orang itu, walau hanya sekilas, sudah cukup membuatnya gentar. Sebuah aura aneh seperti terpancar dari dalamnya. Itu adalah aura kuat, tetapi bukan aura menekan, Mantingan yang melihatnya secara tidak sadar bersikap hormat, dan tidak bisa memandangnya dengan.


Mantingan menundukkan kepalanya, seolah-olah dirinya adalah murid yang menerima hukuman. Dalam hatinya Mantingan bertanya-tanya, aura apa yang bisa membuat ia bersikap hormat di luar kehendaknya seperti ini?


“Selamat datang di Perguruan Angin Putih, saya adalah ketua dari perguruan ini, panggil aku Rama. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan padamu, untuk memastikan Andika bukanlah mata-mata.” Rama tersenyum ramah.


Mantingan mengangguk pelan. Jika dirinya berkata dengan jujur, barang tentu dirinya tidak disangka mata-mata, karena memang sejujurnya Mantingan bukan mata-mata.


“Saya ingin Andika menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus.” Ketua Perguruan Angin Putih itu tetap tersenyum, lalu dengan cepat ia berkata dengan nada bertanya, “Andika mata-mata? Untuk apa Andika ada di sini? Siapa yang mengirim Andika sebagai mata-mata?”


Mantingan tidak sempat berpikir, jika ia terlalu lama berpikir bisa saja menimbulkan kecurigaan. Tetapi walaupun begitu, Mantingan tetap saja membutuhkan jeda untuk menjawab pertanyaan dengan benar.


“Saya bukan mata-mata.” Mantingan menjawab tanpa adanya jeda untuk pertanyaan pertama, tetapi untuk pertanyaan kedua memakan jeda sedikit. “Sahaya berada di sini karena ingin belajar silat.” Dan pertanyaan ketiga tiada keraguan lagi Mantingan menjawab, “tidak ada yang mengirim sahaya sebagai mata-mata, sahaya dijemput oleh lima orang pendekar.”


Rama menganggukkan kepalanya puas dengan senyum.

__ADS_1


“Apakah memang Anakmas berada di sini untuk belajar silattanpa kepentingan lain?”


Mantingan berpikir sejenak. Apakah harus dikatakan bahwa silatnya adalah untuk membalas dendam? Sesaat kemudian Mantingan segera tersadar bahwa keterdiamannya menyebabkan jeda yang cukup panjang, jadi tidaklah mungkin dapat berbohong. Terlebih Ketua Rama semakin tersenyum lebar seakan telah mengetahui Mantingan menyembunyikan sesuatu. Mantingan menghela napas lalu berucap, “Saya memiliki niat tersendiri untuk belajar silat.”


“Apakah niat itu buruk atau justru baik?”


Mantingan menahan napasnya. Belum pernah ia pertanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Apakah niatnya membalas dendam adalah hal yang baik atau buruk? Untuk hal ini, sepertinya bukan masalah Mantingan mengambil jeda sebelum menjawab.


Membalas dendam bukanlah suatu niat yang baik. Biar bagaimanapun, Rara tidak bisa dihidupkan kembali. Bahkan setelah kematian Rara terbalaskan, itu akan menimbulkan masalah lainnya yang berkepanjangan. Ini bisa dibilang sia-sia. Benar perkataan Paman Kedai, bahwa dunia persilatan akan selalu menuntut seseorang menyelam lebih ke dalam, dan terus saja begitu sampai semuanya mati terbunuh satu sama lain.


Tetapi tidak bisa Mantingan berbalik, sebab dirinya masih merasakan api dendam membara di dalam dada. Ia juga sudah berjalan jauh sampai sekarang dan sini, tidak mungkin ia berbalik lagi. Kembali Mantingan menghela napas kecewa.


Namun, bukankah Mantingan membutuhkan ilmu persilatan juga untuk melindungi dirinya sendiri serta orang-orang tersayangnya di masa mendatang? Bukan hanya Rara saja alasan untuknya mempelajari ilmu persilatan, tetapi tetap saja Rara adalah alasan terbesar sekaligus pendorong Mantingan mempelajari ilmu silat.


Masih dengan senyuman hangat, Rama berkata. “Keinginan baik Anakmas itu tidaklah terlalu memiliki niat, juga tidaklah terlalu besar. Tetapi jika Anakmas memang mau menerima ilmu di sini dengan pikiran terbuka, maka bukan tidak mungkin niat baik Anakmas semakin besar.”


“Tentu sahaya mau, Ketua Rama."


“Kami menerima Anakmas dengan tangan terbuka, kembalilah Anakmas ke tempat yang disediakan untuk sementara waktu sebelum dipindahkan ke asrama khusus murid. Mulai besok, Anakmas bisa ikut belajar bersama dengan byang lainnya, tetapi Anakmas harus mengurus beberapa hal untuk pendataan.”


“Sahaya bersedia dengan hati bergembira, Ketua.” Mantingan menegakkan pandangan, lalu ia teringat pada lontar kecil pemberian Ki Dagar di Cikahuripan waktu itu. Lembar lontar itulah yang membawanya sampai di sini. Sesuai dengan arahan Ki Dagar terdahulu, maka Mantingan merogoh lontar kecil itu di saku bajunya, memberikannya pada Ketua Rama. “Sahaya mendapat petunjuk untuk belajar di perguruan ini dari seorang pedagang bernama Ki Dagar, dan inilah yang beliau beri pada saya waktu itu.”


Rama menerima lontar itu dengan dahi mengernyit, lalu ia memandang Mantingan dengan tatapan tidak percaya.


“Apa benar engkau mendapatkan ini dari Ki Dagar?”

__ADS_1


“Itu benar, Ketua Rama, saat itu sahaya tengah berkunjung ke rumahnya untuk membeli pakaian.”


Rama menatap lontar dan Mantingan bergantian, tatapannya penuh ketidakpercayaan.


“Anakmas, tolong ulurkan tangan Anakmas, biar saya buktikan sendiri.”


Mantingan menurut-menurut saja. Ia ulurkan tangan kanannya, yang langsung digapai Rama. Ketua Perguruan Angin Putih itu memejamkan matanya, sebelum beberapa saat kemudian kelopak matanya berkedut dan tangannya pula bergetar.


“Anakmas ... ini berbahaya, Anakmas ....”


Mantingan mendadak cemas. “Ada apa, Ketua Rama? Apakah sahaya menderita suatu penyakit? Ataukah sahaya tidak berbakat untuk jadi pendekar?”


Rama menggeleng cepat. “Tidak, Anakmas. Justru Anakmas ini adalah orang unggulan, calon pendekar yang ulung. Anakmas ini memiliki bakat yang jarang ditemui di pendekar-pendekar lain. Saya sulit menjelaskannya pada Anakmas sekarang ini, sungguh Anakmas akan mengerti nantinya. Tapi sayang, bukan saya yang akan menjelaskannya nanti.”


Lalu Ketua Rama itu memberi tanda agar pendekar di belakang Mantingan untuk mendekat.


“Siapkan perjalanan menuju tempat Kiai Kedai, Anakmas ini perlu dilatih di sana.” Lalu Ketua Rama beralih kembali ke Mantingan. “Anakmas sungguh tidak pantas di sini, akan berbahaya nantinya untuk Anakmas sendiri. Anakmas akan dibawa ke tempat orang tua bernama Kedai untuk dilatih dengan sangat baik."


apa ya yang baru saja Ketua Rama katakan? Dia baru saja menyebutkan nama Kiai Kedai!


Mantingan tidak dapat menahan kebingungannya itu. “Bagaimana bisa sahaya belajar di sana? Sahaya ini pernah ke tempat itu dan menginap satu malam, tetapi dia tidak meminta sahaya ....”


Ucapan Mantingan terhenti, sebab ia sadar bahwa Paman Kedai sendiri pernah menawarkan Mantingan untuk dilatih dengannya. Tetapi Paman Kedai tidak benar-benar meminta Mantingan berlatih di sana, atau setidaknya mengatakan bahwa dirinya mempunyai hubungan dengan Perguruan Angin Putih.


Ketua Rama tersenyum canggung. “Kiai Kedai memang sedikit aneh, Anakmas. Mohonlah maklum. Tetapi biar aneh begitu, Kiai Kedai tetap lebih pantas mendidik Anakmas. Sehingga nantinya Anakmas tidak menjadi pendekar besar tetapi merugikan. Di bawah bimbingannya, Anakmas akan menjadi pendekar kuat yang berguna bagi jagat semesta!”

__ADS_1


__ADS_2