
MAKAN siang selesai. Kini waktunya meminum teh. Dikarenakan udara yang terlampau dingin, teh tidak lagi panas, hangat pun tidak, maka Mantingan menggunakan tenaga dalamnya untuk kembali menghangatkan teh miliknya. Hal yang sama dilakukan pula oleh Bidadari Sungai Utara.
“Saudari Sungai bisakah menyebutkan ilmu apa saja yang dipelajari?” Mantingan berkata setelah menyesap sedikit tehnya.
Bidadari Sungai Utara mengangguk sekali lalu menjelaskan bahwa rata-rata ilmu yang ia pelajari adalah ilmu beraliran putih. Ia bisa memanfaatkan air ke dalam ilmu silatnya, maka itulah ia disebut Bidadari Sungai Utara.
Bidadari Sungai Utara juga menambahkan bahwa gurunya tidak melatih dirinya di negeri Champa. Ia berlatih di wilayah yang banyak pegunungannya, yang dekat dengan Kekaisaran Jin, sedikit ke utara. Maka itulah ia mendapat julukan “utara” pada namanya.
Mantingan mengangguk pelan walau ia baru mengetahui ada kekuasaan lain di dekat Champa, yaitu Kekaisaran Jin. Artinya Bidadari Sungai Utara telah mengembara ke negeri-negeri yang belum pernah Mantingan datangi, bahkan gadis itu sampai juga di negeri Taruma. Betapa pengalamannya tidak bisa dibilang sedikit.
Selesai menjelaskan, Bidadari Sungai Utara berlinang matanya. Dengan khawatir Mantingan bertanya, tetapi Bidadari Sungai Utara justru menggeleng dan tersenyum. “Aku hanya teringat akan kekasihku di Champa. Semoga dirinya tidak mengetahui kabar tentang hilangnya diriku, atau ia akan membawa ratusan anak buahnya pergi ke Javadvipa.”
“Itu adalah bukti besar kasih sayangnya pada dirimu, Saudari Sungai.” Mantingan menanggapi disertai senyuman. Namun biar bagaimanapun, jika saja memang kekasih Bidadari Sungai Utara melakukan itu, Javadvipa akan mendapat masalah baru. Semoga saja yang disemogakan Bidadari Sungai Utara tersemogakan.
Jangan sampai kekasihnya itu mendengar kabar ini, setidaknya sampai angin muson timur datang. Dengan datangnya angin muson timur datang, maka ia tidak akan bisa berlayar ke Javadvipa.
Kembali Mantingan menyesap dan menghirup tehnya yang hangat. Sambil memandangi indahnya dua gunung di hadapannya. Lalu katanya, “Bidadari Sungai Utara, aku harus membeli beberapa kitab ilmu aliran putih untuk dirimu. Jika engkau ingin tahu, aku mempelajari ilmu hitam.”
Perkataan Mantingan itu berhasil mengejutkan Bidadari Sungai Utara. Ia sama sekali tidak menyangka orang berhati lembut yang baik hati seperti Mantingan itu mempelajari ilmu hitam. Kewaspadaannya naik ke tingkat tertinggi. Jangan-jangan Mantingan berusaha menjebak dirinya.
“Terkejut, ya? Kau sama seperti orang-orang lain, terkejut setelah mengetahui aku beraliran hitam.” Mantingan tertawa pelan. “Tetapi tenang saja, Saudari Sungai. Aku tidak terlihat jahat. Setidaknya begitu, bukan?”
Bidadari Sungai Utara menyadari situasi tidak berpihak padanya jika saja Mantingan benar-benar pendekar aliran hitam, maka ia menyunggingkan senyum, yang niatnya senyum riang tetapi jadilah senyum gugup.
__ADS_1
“Tidak perlu begitu, Saudari Sungai. Aku memang mempelajari ilmu hitam, tetapi bukan untuk tujuan yang jelek.”
“Tetapi, untuk apa?”
Mantingan tersenyum lalu menuturkan yang sebenarnya hingga Bidadari Sungai Utara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia juga melihat kejernihan pada mata Mantingan, akan jadi hal paling mengejutkan di dunia jika pemuda itu berbuat jahat.
“Aku percaya padamu, Mantingan.”
Mantingan mengangguk puas. “Apakah kiranya lagi yang Saudari butuhkan agar aku bisa membelinya sekalian?”
Bidadari Sungai Utara tanpa ragu lagi menjawab, “Tidak ada, Mantingan. Semuanya yang kau berikan adalah lebih dari cukup.”
“Tidak perlu malu-malu seperti itu, Saudari, uangku banyak dan aku merasa tidak enak jika menikmatinya sendiri.”
“Aku rasa, Saudari, aku akan mudah mencarinya lagi. Jadi, janganlah malu-malu. Apa pun yang kau butuhkan, sebutkan saja. Sebisa mungkin aku akan memenuhinya.”
Mengapa Mantingan berani berkata seperti itu? Seolah-olah Bidadari Sungai Utara adalah segalanya? Sederhana saja, Mantingan telah berjanji pada gadis itu bahkan pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menjaga Bidadari Sungai Utara. Maka janji itu selayaknya hutang yang harus dibayar lunas. Sikap Mantingan tidak berlebihan.
“Jikalau begitu, Mantingan ....” Ragu-ragu Bidadari Sungai Utara berkata, “sepertinya aku membutuhkan pedang, pedang yang murah saja.”
Mantingan terdiam beberapa saat sebelum menggeleng beberapa kali. “Jika urusan senjata, Saudari harus ikut aku untuk menentukan sendiri mana yang cocok.”
“Namun, bukankah itu cukup membahayakan?” Bidadari Sungai Utara berpikir bahwa pasar adalah tempat yang ramai. Lautan manusia yang berlalu-lalang boleh jadi bukan masyarakat biasa saja.
__ADS_1
Mantingan mengerti kekhawatiran Bidadari Sungai Utara, tetapi ia mengatakan yang sebaliknya. “Mereka tidak akan menduga bahwa dirimu akan pergi ke pasar. Kau adalah pendekar, seharusnya tidak butuh membeli sesuatu di pasar. Paling saja orang-orang yang memburumu ada sebagian di pasar, tetapi biasanya mereka adalah orang malas yang tak berani masuk ke dalam hutan mencarimu. Kupikir orang-orang seperti itu seharusnya mudah dihadapi.”
Bidadari Sungai Utara mengambil waktu untuk berpikir sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Mohon perlindungannya, Mantingan.”
***
Setelah seluruh hidangan dibayar semua, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara meninggalkan desa. Namun, mereka akan kembali lagi setelah selesai berbelanja, tinggal beberapa hari dan menyewa kamar. Salah satu penduduk desa memberi arahan menuju pasar yang ada di dekat desa, walau yang paling terdekat saja berjarak setengah hari jalan kaki.
Tapi memang penduduk-penduduk desa di sana memiliki hati yang begitu baik. Tidak sungkan menolong pendatang. Mereka meminjamkan dua kuda pada Mantingan. Katanya, tidak perlu membayar.
Mantingan mengucap terima kasih yang terdalam sebelum memacu kudanya pergi, Bidadari Sungai Utara di sampingnya, dengan jubah yang berkibar diterpa angin dingin.
Perjalanan yang seharusnya memakan setengah hari dapat dipangkas menjadi kurang dari seperempat hari saja.
***
Pasar di depan Mantingan sebenarnya tidak dapat disebut sebagai pasar besar, tidak pula bisa dikatakan pasar kecil. Mungkin lebih pantas disebut pasar sedang, walau bentuknya sebenarnya tidak dapat disebut begitu pula.
Di pasar banyak orang berlalu-lalang. Ada yang membeli tentu ada yang menjual. Hiruk pikuk pembeli yang menawar harga, dan penjual yang menawar barang; saling bersahutan seolah tidak akan berhenti. Burung-burung pun akan merasa kicauannya telah dikalahkan oleh lautan manusia itu.
Pada bagian depan pasar, ada tempat penitipan kuda. Akibat keramaian, kuda tidak bisa masuk. Jika memaksa masuk pun pastinya akan dimaki-maki. Maka berdirilah beberapa tempat penitipan kuda yang saling merebut calon pelanggan. Dua keping perak untuk dua kuda adalah tempat pilihan Mantingan.
Setelah menitipkan kuda dan memastikan kelayakan tempat penitipan, Mantingan mengajak Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam pasar. Tangan Bidadari Sungai Utara bergetar akibat kekhawatiran, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak meraih tangan Mantingan, memegangnya dengan erat.
__ADS_1
“Tolong jangan lepaskan.”