Sang Musafir

Sang Musafir
Rumah yang Tidak Bisa Dibeli


__ADS_3


_____


MANTINGAN SAMA sekali tidak menunjukkan kemarahan melainkan melebarkan senyumnya. Senyuman yang sesungguhnya membuat Kana merasa bersalah telah mengatakan hal tersebut.


“Tidak apa jika kalian memang ingin tetap membenciku,” katanya, “aku tidak akan membenci kalian, sampai kapanpun.”


Kana menatap wajah Mantingan yang penuh kehangatan. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak ingin dilihat Mantingan. Dirinya ingin menampilkan diri sebagai anak yang kuat dan dapat diandalkan untuk menjaga adiknya dan Bidadari Sungai Utara. Namun biar bagaimanapun, dia tidak bisa membenci Mantingan. Tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu. Bahkan sekalipun terdapatnya alasan, Kana tidak akan membenci Mantingan.


Mantingan lalu tertawa lepas sambil berkata, “Mengapakah dirimu menangis, Kana? Bukankah engkau yang membenciku dan bukan aku yang membencimu? Seharusnyalah aku yang bersedih telah dibenci olehmu, bahkan oleh Kina pula.”


“Ucapanku tadi hanyalah bualan kosong belaka, Kaka. Kita tidak sanggup membenci Kaka. Tidak akan pernah. Seperti Kaka yang tidak akan pernah membenci kita, kita juga tidak akan pernah membenci Kaka.”


Mantingan menghentikan tawanya dan tersenyum halus. “Tidak ada gunanya menyimpan rasa kebencian, Kana. Karena di dalam setiap rasa kebencian, terkandung pula bara dendam yang bisa meledak setiap kali datang kesempatan. Apakah engkau pernah melihat sebuah ledakan, Kana? Ledakan hanya akan menghancurkan segala sesuatu yang lemah di sekitarnya. Ketahuilah bahwa kekuatanmu bukan untuk menghancurkan mereka yang lemah, tetapi untuk melindunginya. Engkau tak akan bisa melakukan itu jika masih menyimpan kebencian. Wahai Kana, penuhilah hatimu dengan kasih sayang, sehingga musuhmu akan merasa bimbang jika harus membunuhmu.”


Mereka terdiam cukup lama. Mantingan membiarkannya berpikir.


“Baiklah.” Kana berkata penuh tekad. Tangannya yang terkepal rapat-rapat. “Daku tidak akan menyimpan rasa kebencian lagi. Pada siapa pun, dan pada apa pun. Daku akan menyebarkan kasih sayang, seperti yang selalu Kaka Man lakukan.” Tangannya semakin mengepal. Mantingan menatapnya bangga. “Amanat ini akan daku laksanakan di mana pun kakiku berpijak. Entah itu di Javadvipa ataukah Champa. Tidak peduli di tanah kawan ataukah tanah musuh. Daku akan terus menyebarkan kebaikan, yang kemudian akan menjadi bibit-bibit pohon kebaikan suatu hari nanti.”


“Dunia membutuhkan orang sepertimu, Kana. Jangan membuatku menyesal telah melatihmu.”


***


SEMALAM SEBELUM keberangkatan menuju Perguruan Angin Putih, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara duduk bersebelahan di atas teras. Memandangi langit yang bersih dari mega-mega kelabu. Menyibak ratusan dan sebuah rembulan, yang entah bagaimana bisa tergantung di atas sana.


Mantingan berkata khidmat, “Saudari, lihatlah bintang-bintang yang terhampar luas di atas sana.”


Bidadari Sungai Utara mengalihkan pandangannya dari wajah Mantingan, lekas mengadah sebelum Mantingan menyadari perbuatannya itu. “Daku tengah memandangi mereka, Saudara.”


“Berapakah kiranya jumlah seluruh bintang di langit? Mereka kadang nampak, dan kadang pula tidak. Apakah bintang-bintang adalah suatu yang hidup, sama seperti hewan, ataukah hanya batu permata yang berpijar terang?”


“Diriku tidak mengetahuinya, Saudara. Mataku terlalu payah untuk melihat mereka semua dengan jelas.”


Mantingan tersenyum dan terdiam. “Bintang-bintang itu akan mengantar Saudari pulang.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk. “Himpunan bintang-bintang tersebut bisa menjadi penunjuk arah para pelaut.”


“Saat Saudari telah pergi berlayar,” kata Mantingan, “daku akan memandangi himpunan bintang yang Saudari lalui, dengan begitu, daku akan terus menyertaimu hingga tiba di Champa.”


“Bagaimanakah jika ternyata daku tidak tiba di Champa, Saudara? Lautan luas bukanlah tempat tanpa manusia yang berniat buruk.”


“Ketakutanmu itu berlebihan, Saudari, armada Perguruan Angin Putih bukanlah armada yang mudah dikalahkan.” Mantingan menjawab, “tetapi jika memang hal itu harus terjadi, maka Saudari akan tenggelam di dalam lautan yang mahaluas, seluas kemurahan hatimu. Dan jika hal itu harus terjadi, Sasmita, engkau tidak perlu risau, ikan-ikan akan membawamu berjelajah.”


Bidadari Sungai Utara tersenyum “Jika nanti daku karam bersama kapalku, bagaimanakah Saudara bisa mengetahuinya?”


Mantingan tersenyum penuh makna sebelum menjawab, “Diriku pasti mengetahuinya. Karena sinar bintang dan rembulan akan meredup ketika mereka kehilangan seorang bidadari seperti dirimu.”


“Saudara, baru kali ini engkau memujiku.”

__ADS_1


“Ini mungkin yang terakhir kita bisa berbincang seperti sekarang. Daku lebih baik memuji dirimu ketimbang engkau merajuk di Champa.”


Gadis itu mengerutkan dahi tanpa mengurangi senyum. “Mengapakah harus yang terakhir? Bukankah kita masih bisa berbincang santai di Perguruan Angin Putih?”


“Perguruan Angin Putih memisahkan wanita dengan pria di dua tempat yang berbeda. Pertemuan kita akan dibatasi.”


Bidadari Sungai Utara tiba-tiba saja tercekat. “Itu berarti ... malam ini ....”


“Ya, benar. Ini adalah malam terakhir yang bisa engkau nikmati bersamaku.” Mantingan melebarkan senyuman. Sorot matanya terus memandangi langit, seolah takut terdapat bintang yang tiba-tiba lenyap begitu saja jika tidak diawasinya. “Tetapi sebagai pendekar, kita sama-sama dilatih untuk meninggalkan apa yang memang sudah seharusnya ditinggalkan. Kita juga dilatih untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan maupun percintaan.”


Bidadari Sungai Utara memandangi Mantingan. Iba terhadap pemuda itu dan terhadap dirinya sendiri. Betapa sebagai dua orang pendekar, mereka tidak bisa menjalani cinta sebagai mana mestinya. Bukannya menerima kehadiran cinta, mereka dituntut untuk menjauhinya sampai ajal menjemput.


Mantingan mengembuskan napasnya perlahan. “Kuharap Saudari bisa mendidik Kana dan Kina menjadi sosok yang berguna bagi sesama. Percayalah bahwa mereka akan menjadi anak yang baik setelah mendapat pengajaran yang baik.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk sekalipun Mantingan tidak memperhatikannya. “Sesekali Saudara harus mengunjungi Champa.”


“Daku tidak bisa.” Mantingan menggeleng. Seingatnya pernah mengatakan hal ini.


“Mengapakah? Dengan kemampuan Saudara sekarang ini, engkau dapat dengan mudah pergi ke Champa. Tiada satupun pendekar yang berani menghalangi jalanmu.”


“Bagiku, pergi ke Champa sangatlah mudah. Semudah mengarungi pulau Javadvipa. Tetapi menerima segala kenyataan yang tersaji ketika daku menyentuh daratan Champa bukanlah suatu hal yang mudah.”


“Kenyataan apakah yang tidak bisa engkau terima?” Bidadari Sungai Utara menggencarnya.


“Sudahlah. Daku tidak bisa mengungkapkan hal itu sekarang.”


Tetapi sebagai mana dua muda-mudi telah banyak melewati suka-duka bersama-sama, Bidadari Sungai Utara sebenarnya mengetahui apa yang Mantingan sembunyikan. Kendati demikian, gadis itu memilih untuk tidak mengatakannya.


Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan dan tersenyum. “Daku akan merasa sangat terhormat, Mantingan.”


***


MANTINGAN MENGELUARKAN sekeropak lontar dari dalam saku jubahnya. Ia menaruh keropak itu di atas meja, yang kemudian dibuka isinya oleh Bidadari Sungai Utara.


“Ini adalah jilid pertama,” katanya, “daku memiliki lima jilid yang telah rampung, sedangkan jilid keenam masih kutulis.”


Bidadari Sungai Utara mulai membaca kitab yang bersisi tentang pengembaraan Mantingan mencari Kembangmas yang belum juga ditemukan hingga sekarang. Sedangkan Mantingan masuk ke dalam untuk mengambil empat jilid yang tersisa.


Sehingga malam itu mereka habiskan tanpa tidur sama sekali. Bidadari Sungai Utara seakan tidak mau lepas dari kisah yang telah ditulis Mantingan, sedangkan Mantingan menulis lanjutan kisah di sebelahnya. Beberapa kali Bidadari Sungai Utara menyampaikan pendapatnya di beberapa bagian yang membuat terkagum-kagum atau bingung, terkadang pula dirinya tersenyum masam sambil beberapa kali melirik Mantingan.


Begini katanya saat tersenyum masam, “Mengapa engkau mau menolong wanita pelacur seperti Arkawidya?”


Mantingan hanya tersenyum sembari meminta Bidadari Sungai Utara meneruskan bacaan. Biarlah gadis itu menemukan sendiri jawabannya seiring berlanjutnya kisah.


Ketika nyamuk berbondong-bondong mendatangi mereka, seakan memaksa keduanya berkemul di dalam selimutnya masing-masing, saat itulah Mantingan membakar dedaunan khusus yang dipergunakan untuk mengusir rombongan nyamuk. Malam itu bisa mereka habiskan tanpa gangguan.


***


TAK TERASA kokok ayam jantan mulai bersahutan. Menyambut kedatangan matahari. Ketika itulah penduduk Desa Lonceng Angin bangkit dari ranjangnya untuk memulai pekerjaan. Dalam usaha membangun kembali desanya yang pernah hancur, mereka tidak bisa bermalas-malasan.

__ADS_1


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berpandang-pandangan. Dalam pandangan itu, mereka menyadari bahwa harus bergegas menyiapkan keberangkatan. Maka dengan mengangguk sekali lagi, mereka telah bersepakat.


Mantingan berkeliling rumah dan memastikan tiada satupun barang kepentingan Bidadari Sungai Utara, Kana, maupun Kina yang tertinggal. Sedangkan Bidadari Sungai Utara pergi ke kamar Kana dan Kina, membangunkan mereka berdua.


Setelah selesai, Mantingan pergi menuju Padepokan Angin Putih ketika Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina gosarapan. Dirinya harus mengabari padepokan agar mereka mengirim kereta kuda menuju kediamannya. Tak memerlukan waktu lama bagi Mantingan untuk menyelesaikan segala yang mesti ia urus di Padepokan Angin Putih.


Mantingan langsung berkelebat pergi setelah berpamitan dengan pendekar yang berjaga di sana. Kali ini tujuannya adalah pemilik kediaman yang ia huni sekarang.


Mantingan berhasil menemukan rumah baru dari si pemilik kediaman. Memanglah rumah pria paruh baya itu hancur ketika desa diserang Perkumpulan Pengemis Laut. Kini rumah yang dibangunnya jauh lebih sederhana ketimbang rumahnya yang lama.


Beruntungnya, si pemilik kediaman sedang menyirami tanaman-tanaman di halamannya, sehingga Mantingan dapat langsung menyapanya. Pemilik kediaman menyapa balik Mantingan. Setelah berbasa-basi sebentar, dia meminta Mantingan untuk berbincang-bincang di bangku terasnya.


“Bapak, diriku tidak berniat terlalu lama di sini, jadi tidak perlu repot-repot.” Mantingan berkata ramah ketika pak tua itu hampir meminta istrinya untuk menyajikan minuman hangat.


“Mengapakah terlalu buru-buru hingga membuat Anak tidak sempat meminum barang secangkir teh saja?”


Mantingan menggeleng pelan lalu menjelaskan maksud kedatangannya, “Bapak, diriku ingin membeli rumah yang sekarang sahaya diami. Apakah bisa, Bapak?”


Si pemilik kediaman menggeleng. Hampir saja membuat Mantingan kecewa jika dirinya tidak berkata, “Sama sekali tidak kuanggap bangunan itu sebagai bangunan kepunyaanku lagi, Anak. Sekarang, itu adalah rumahmu.”


Mantingan balas menggeleng. “Bapak, tidak bisa seperti itu. Sahaya akan menggunakan bangunan tersebut sebagai tempat sahaya menjalankan usaha untuk mendapatkan uang. Sudah semestinya sahaya membayar rumah itu sejak lama.”


“Tidak!” Pak tua itu mengibaskan tangannya sambil tersenyum ramah. “Kudengar bahwa dirimu telah berhasil menumpas Perkumpulan Pengemis Laut. Itu sama saja kau menyelamatkan penduduk Desa Lonceng Angin dan penduduk di puluhan desa lainnya. Aku tidak akan mengambil rumahmu, itu adalah sebuah tindakan yang hina.”


Mantingan sebenarnya ingin membantah, akan tetapi dirinya teringat bahwa melarang orang untuk berbuat baik adalah suatu perilaku yang sombong. Maka Mantingan hanya bisa tersenyum tulus dan menunduk hormat.


“Terima kasih, Bapak,” haturnya.


“Tidak perlu seperti ini. Seharusnya aku yang berterimakasih pada Anak yang telah merawat rumah itu dengan sangat baik. Kuingat rumah itu awalnya sangat buruk rupa, terbengkalai, dan wujudnya sama seperti hutan penuh semak belukar. Tetapi sejak kedatangan Anak, rumah itu menjelma menjadi istana penuh kedamaian. Anak telah melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan.”


Mantingan menggeleng pelan, menepis segala pujian yang mengarah padanya, “Sudah menjadi kewajiban bagiku untuk merawat tempat itu, Bapak. Jika bukan sahaya yang melakukannya, maka orang lain yang akan melakukannya. Sesungguhnyalah sahaya bukan apa-apa.”


“Anak terlalu berlebihan dalam merendah diri,” katanya lalu tertawa lepas. “Tetapi, memanglah itu sikapmu, bukan? Kudengar bahwa Pahlawan Man memang suka merendah diri, murah hati, dan tidak pamrih.”


Setelah berbincang-bincang sebentar, ia mendapatkan keterangan-keterangan sederhana tentang apa yang akan dilakukan penduduk Desa Lonceng Angin. Penduduk desa akan mengenang jasa Wiranti dengan membangun sebuah patung besar menyerupainya. Penduduk desa juga akan membangun ulang pasar yang lebih besar lagi. Dengan perlindungan dari Padepokan Angin Putih, desa bisa melangsungkan lelang besar tanpa perlu takut ancaman dari luar.


Tentu untuk mendapatkan perlindungan, penduduk desa diharuskan membayar sedikit pajak. Sungguh pajak itu tidak merepotkan bagi mereka, karena dalam sebulan hanya perlu membayar sekeping perak. Akan tetapi, jika ingin memberlangsungkan sebuah acara lelang maupun acara serupa, tidaklah diperkenankan pertunjukan dewasa, judi dengan nilai taruhan tinggi, serta kios bunga raya.


Mantingan kembali berkelebat setelah berpamitan. Semestinya ia sudah sampai di kediaman sejak tadi. Tetapi Mantingan terpaksa menundanya demi mendapatkan kabar desa yang dirasa cukup penting.


Benar saja, nyatanya Mantingan telah lama dinanti. Kereta kuda menunggu untuk masuk di depan gerbang. Tentu saja mereka tidak bisa melewati gerbang, yang sama saja melewati mantra sihir buatan Mantingan. Sedangkan itu, Bidadari Sungai Utara berlipat tangan dan tampak kesal di depan teras.


Mantingan menyapa kusir kuda dan pengawalnya dengan hangat sambil tertawa renyah. Ia membuka kuncian mantra sebelum meminta mereka untuk masuk. Bersamaan dengan masuknya kereta kuda ke halaman kediaman, Mantingan menghadap Bidadari Sungai Utara. Ia menyunggingkan senyum kepada gadis bercadar dan berpakaian tebal itu.


“Lama sekali dirimu.”


“Daku mengunjungi pemilik rumah ini, sehingga memang membutuhkan waktu yang lama.” Senyum hangat Mantingan berubah menjadi senyum canggung.


Bidadari Sungai Utara mengangkat sebelah alisnya. “Engkau bukan mengunjungi rumah kembang desa, bukan?”

__ADS_1


Menanggapi ucapan dingin gadis itu, Mantingan justru tertawa lepas. Tak ayal, gadis itu berdecak kesal beberapa kali.


__ADS_2