Sang Musafir

Sang Musafir
Serangan


__ADS_3

SAAT ini, Mantingan memang sedang tidak bersenjata. Tentulah baik Pedang Savrinadeya maupun Pedang Kiai Kedai tidak dapat dibawa masuk ke dalam Lingkungan Seribu Rumah Istana, termasuk pula segala senjata rahasianya. Namun, bagi seorang ahli pedang setingkat dirinya yang bahkan telah menciptakan sebuah ilmu berpedangnya sendiri, yakni Ilmu Pendirian Manusia, apa pun pula bisa menjadi senjatanya. Selembar rumput atau setangkai ranting kering bukanlah masalah.


Sedangkan Chitra Anggini tidak andal dalam ilmu pedang maupun ilmu tangan kosong, tetapi perempuan itu mampu mengubah dedaunan menjadi setajam senjata mestika. Bukankah teramat banyak pohon yang tumbuh di Lingkungan Seribu Rumah Istana?


Namun setelah semua itu, keduanya tidak benar-benar tahu seperti apakah kesediaan musuh yang akan dihadapi. Itu menyangkut tentang senjata-senjata rahasia yang mereka gunakan untuk menyerang, hingga sihir semacam apa yang mereka kuasai.


Perenungan Mantingan itu terputus ketika sebilah mata pedang tipis muncul di antara celah tipis jendela. Senyap. Lantas bilah itu bergerak dengan teramat perlahan ke arah pengunci jendela, sebelum memotongnya semudah membelah daun.


Mantingan kembali melirik Chitra Anggini. Menyampaikan dalam tatapan matanya bahwa lawan akan bergerak masuk sebentar lagi. Perempuan itu balas menganggukkan kepala.


Jendela perlahan-lahan dibuka, dan pada saat itulah Mantingan melesat keluar sambil mengirim belasan Telapak Angin Darah ke arah lawan-lawannya. Serangan tersebut dapatlah terkesan membabi-buta sebab belasan serangan dikirim sekaligus dalam waktu berdekatan, tetapi Mantingan dengan penuh perhitungan sengaja melakukan itu bukan saja untuk langsung mengenai lawan-lawannya melainkan pula untuk menutup segala ruang gerak mereka!


Namun, pendekar-pendekar tersebut nyatanya bukanlah sembarang pendekar. Mereka tampak telah terlatih betul menghadapi serangan kejutan seperti itu, sehingga dapatlah mereka segera menghindar bahkan sebelum Mantingan mengirim serangan!


Dua orang berhasil masuk ke dalam kamar di mana Chitra Anggini masih berada, sedang tiga lainnya melesat jauh ke atas genting sebelum mengirim puluhan jarum beracun ke arah Mantingan. Mereka semua bergerak dengan begitu cepat, sehingga tiada satupun serangan Tapak Angin Darah berhasil mencapai sasaran.

__ADS_1


Dalam keadaan begitu, Mantingan berada dalam kebimbangan, yang betapa kebimbangannya tersebut sungguh teramat genting. Dirinya ingin melesat kembali ke dalam kamarnya, sebab Chitra Anggini mungkin saja tidak mampu menghadapi dua pendekar berkeahlian tinggi sekaligus. Akan tetapi, ia perlu pula mempertimbangkan adanya tiga pendekar lawan di atas genting rumahnya yang tentulah tidak akan tinggal diam jika dirinya masuk ke dalam kamar itu!


Pada akhirnya, Mantingan berpikiran bahwa akan jauh lebih baik bila dirinya mengalahkan ketiga lawannya terlebih dahulu sebelum menolong Chitra Anggini. Kali ini bertaruh, sebab ia tidak benar-benar yakin perempuan itu mampu menahan terjangan dari dua pendekar ahli sekaligus. Jelasnya bila perempuan itu sampai mati, ia tidak akan pernah memaafkan siapa pun. Tidak akan pernah!


Maka segeralah seluruh jarum beracun yang melesat ke arahnya itu mudah saja ditampik oleh sapuan tangan yang melebur dengan Jurus Tapak Angin Darah. Habis rontok semua, ia balas dengan Jurus Sabetan Ekor Naga yang merupakan salah satu ilmu tinggi di Perguruan Angin Putih.


Begitulah sekumpulan angin yang bagaikan ekor naga bergerak dengan teramat cepat, begitu cepat, sehingga bagaikan tiada angin mana lagi yang dapat lebih cepat dari itu!


Telak ketiga pendekar itu terempas dari atas genting, tetapi mereka tidak sampai kehilangan nyawa. Sabetan Ekor Naga memang tidak sampai begitu mematikan, tetapi serangannya yang sangat cepat membuat pendekar mana pun hanya memiliki peluang tipis untuk dapat menghindarinya.


“Cepat kejar dia!” kata Chitra Anggini. “Peta dirampas!”


Petir bagai baru saja meledak tepat di kepala Mantingan ketika didengarnya perkataan Chitra Anggini! Tanpa menunda waktu barang sekedip mata pun, Mantingan segera melesat mengejar kelebatan bayang-bayang itu!


Tentulah bukan perkara yang sama sekali mudah sebab bayang-bayang dengan kegelapan malam tanpa bintang dan rembulan sangat sulit dibedakan. Sedangkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun sama sekali tidak dapat digunakan dalam pergerakan yang telah menembus kecepatan suara. Satu-satunya yang dapat Mantingan andalkan saat ini bukanlah panca inderanya, melainkan penalaran dan kemampuan membaca pertanda, yang pula boleh dikata sebagai indera keenam!

__ADS_1


Mantingan memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya berkehendak sesuai titah pikirannya. Melesat dengan kecepatan tak terkatakan, yang amat sangat cepat sehingga tiada perkataan mana pun dapat menjelaskannya dengan tepat.


Mantingan merasa seperti melayang-layang di ruang hampa yang tak bertepian. Tiada pijakan, tiada ujungnya. Begitu saja ia berputar-putar tanpa tahu mana atas dan mana bawah; mana tanah dan mana langit. Begitu bebas, sehingga seolah saja tiada sesuatu apa pun yang dapat lebih bebas darinya.


Betapa dirinya memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu!


Dalam hal ini, Mantingan tentunya merasa terkejut. Memasuki Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu bukanlah sesuatu yang dikehendakinya, jadi boleh dikata bahwa kejadian ini tidaklah disengaja.


Memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Penuh dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bukan ringan tanggungannya. Keadaan semacam itu akan membawanya benar-benar terpisah dengan kehakikatan ruang dan waktu dunia. Tubuhnya tiada sesiapa yang mengendalikan. Bahkan dalam keadaan bersamadhi sekalipun, Mantingan akan berpikir ratusan kali sebelum benar-benar memasuki Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu, apatah lagi dalam keadaan kejar-mengejar seperti ini?


Mantingan berada dalam titik paling lengah yang pernah dicapainya selama menapaki telaga persilatan. Dirinya tidak dapat sekadar menyerang, apalagi bertahan dari serangan pamungkas yang sangat mungkin datang dari mana saja. Bahkan bisa saja ia tidak akan pernah mengetahui penyebab kematiannya jika sampai terbunuh nanti. Bukankah kedudukan seperti ini benar-benar rawan?


Namun ketika seluruh harapannya raib, hingga hampir-hampir Mantingan tidak mau ambil peduli terhadap apa pun yang akan terjadi pada dirinya nanti, tetiba saja matanya dapat kembali terbuka!


Dirinya masih melesat dengan kecepatan yang tak dapat terjelaskan. Tetapi kegelapan tidak sepenuhnya menyelimuti, sebab terdapat garis-garis cahaya memanjang yang tak terhitung lagi jumlahnya, yang sepertinya berasal dari cahaya lentera kotaraja. Dan tepat di depannya, dengan jarak yang tak lebih dari seuluran tangan, Mantingan melihat bayang-bayang pendekar yang sedang dikejarnya!

__ADS_1


__ADS_2