
LANGIT MALAM tiada bertabur bintang. Tertutup gumpalan-gumpalan awan tebal yang sesekali memancarkan sinar petir. Rombongan itu tetap berjalan. Biar bagaimanapun, hujan di awal musim kemarau memanglah sudah biasa. Bahkan dapat menghasilkan badai akibat perbedaan suhu angin. Bagi mereka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Akan tetapi berbeda dengan Mantingan yang raut wajahnya tampak gelisah sedari tadi. Seandainya orang memperhatikan, maka kegelisahannya itu sudah ada bahkan sebelum awan-awan tebal muncul.
Mantingan membaca pertanda. Dan pertanda yang ia baca bukanlah pertanda baik. Tetapi hingga kini, Mantingan tidak mengetahui apakah sesuatu yang buruk itu akan menimpa dirinya dan rombongannya, atau justru menimpa sesuatu yang lain di tempat yang lain.
Betapapun ia harus melanjutkan perjalanan. Di malam hari seperti ini, berhenti tanpa persiapan sedari senjakala bukanlah pilihan yang bagus. Lagi pula, Gandhi enggan mengistirahatkan rombongan yang dipimpinnya itu. Dia merasa bahwa sebaiknya permaisuri lebih cepat sampai di Perguruan Angin Putih, dengan begitu keselamatannya dapat lebih terjamin.
Mantingan sudah menjelaskan pertanda buruk yang dibacanya, bahwa ia melihat empat petir dari empat penjuru mata angin saling bertabrakan. Tetapi Gandhi menolak pernyataan itu dan meminta Mantingan untuk tidak terlalu cemas.
Mantingan bukanlah seorang pencemas atau penakut. Maka cukuplah disiagakan Pedang Kiai Kedai, ia merasa sudah cukup untuk melanjutkan perjalanan. Segala bentuk musuh akan dihadapinya demi keselamatan tiga orang yang disayanginya.
Angin mulai bertiup keras dari arah belakang. Rambut Mantingan berkibar-kibar menyentuh wajahnya. Petir menyambar-nyambar dari sembarang arah, mencipta gelegar ingar-bingar.
Diliriknya Bidadari Sungai Utara yang mengadah. Menatap langit. Dliriknya pula Kana dan Kina yang masih duduk di atas punggung kuda. Jelas saja, Mantingan mengkhawatirkan Kana dan Kina. Betapapun dua anak itu dapat saja jatuh sakit setelah menghadapi derasnya hujan dicampur badai yang akan datang sebentar lagi. Dan sakit semasa dalam perjalanan adalah sesuatu yang dapat berakibat besar.
Kilatan cahaya kembali menyambar. Tanpa sengaja Mantingan melihat kelebatan bayang-bayang di sampingnya, tempat di mana pepohonan dan ilalang tumbuh lebat. Tetapi kali ini, Mantingan meragukan penglihatannya. Kilatan petir dapat mengecoh hampir segalanya.
Sekali lagi kilatan petir menyambar. Lagi-lagi tanpa disengaja, Mantingan melihat dua bayangan yang berkelebat sekaligus. Untuk yang kali kedua, Mantingan tidak akan meragukan penglihatannya. Segeralah ia berteriak, “Waspada! Waspada!”
Seruan Mantingan itu berhasil mengejutkan seluruh prajurit pengawal. Mereka cepat-cepat menarik tali kekang kudanya sampai tiba di sekeliling kereta kuda. Ditarik kelewang dari sarungnya. Bidadari Sungai Utara bergerak cepat menggapai tali kekang kuda yang ditumpangi Kana dan Kina agar menjauh dari tempat itu.
Mantingan melempar belasan Lontar Sihir Penjebak berturut-turut di sekitar barisan rombongan. Aksara-aksara bercahaya bermunculan. Siapapun melewati aksara-aksara tersebut dapat terancam keselamatan jiwanya. Mantra penjebak yang Mantingan pasang tergolong mantra yang tinggi untuk pengamanan setingkat ini.
Mata Mantingan menatap tajam ke segala penjuru. Yang dilihatnya hanyalah sedikit dari semak belukar dan pohon-pohon, selebihnya tertutupi kegelapan dan kabut pekat.
“Apakah yang engkau lihat, Pahlawan Man?” Bertanya Jakawarman di sebelahnya.
“Kelebatan,” jawab Mantingan singkat. “Daku tidak tahu siapa saja yang bersembunyi dalam kegelapan di sana.”
Jakawarman mengangguk. Perkataan Mantingan itu didengar pula oleh Gandhi yang sedang mengatur prajurit-prajuritnya membentuk baris pertahanan. Segera kepala pasukan itu melontarkan pertanyaan, “Berapakah yang engkau lihat, wahai Pahlawan Man?”
Mantingan berpikir sejenak sebelum menjawab, “Kulihat paling tidak ada dua bayangan yang berkelebat sekaligus.”
“Di atas!”
Bertepatan setelah Mantingan menyelesaikan kalimatnya, Jakawarman membentak keras. Dengan kecepatan luar biasa cepat, Mantingan menoleh ke atasnya. Dalam gelap gulitanya gelap gulitanya malam, dua benda berkilauan masih dapat terlihat sedang melesat ke bawah. Mantingan memincingkan matanya dan membiarkan saja dua benda tersebut terus melaju.
Sedangkan Jakawarman terlihat telah melepaskan beberapa pisau terbang untuk menghalau dua benda itu. Belum pula pisau-pisau terbang Jakawarman membentur, dua benda berkilauan itu tiba-tiba saja berpantulan ke atas. Sehingga pisau Jakawarman hanya mengenai rintik air hujan.
Memantulnya dua benda itu telah diperkirakan sebelumnya oleh Mantingan, maka dari itulah ia tetap bergeming di tempatnya. Lontar Sihir telah menciptakan kubah pelindung yang bahkan tidak mengizinkan barang setetes air hujan untuk masuk ke dalamnya.
“Bagus! Bagus! Rombongan kalian telah menyembunyikan kekuatan yang sesungguhnya. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang ahli sihir ada bersama kalian. Itu langkah yang bagus, tetapi kami memiliki langkah yang lebih bagus lagi!”
Mantingan beralih pandang ke sebatang pohon yang tak jauh dari tepi jalan. Dapat dilihatnya sesosok bayangan yang tengah bertengger pada dahan pohon.
“Apa yang dikatakanmu adalah kebenaran, Saudaraku.” Suara lain muncul. Mantingan melihat sesosok bayangan lain di pohon yang lain pula.
__ADS_1
Di bawah kesunyian malam, Mantingan melihati dua pendekar itu secara bergantian. Setajam pedang tatapannya itu. Hanya kilauan mata dan gigi mereka yang tampak bersinar.
“Apakah hanya ada kalian berdua?” Bertanyalah Mantingan setelah diam cukup lama.
“Kami lebih dari cukup untuk menghentikan kalian,” balas salah seorang dari mereka berdua.
Mantingan kembali terdiam. Keberanian mereka dalam menghentikan rombongan permaisuri telah membuktikan kekuatan mereka. Dan pula, Mantingan dapat melihat bahwa mereka bukanlah pendekar sembarangan. Meskipun hanya dua pendekar saja, tidak pantas bagi Mantingan untuk berlengah diri.
“Siapakah kalian?”
“Kami lebih suka mengetahui jati diri lawan kami terlebih dahulu. Katakanlah nama atau julukanmu di sungai telaga persilatan!”
Mantingan kembali terdiam sejenak. Apakah akan lebih baik jika diungkapkan jati dirinya yang sebenar-benarnya, bahwa ia adalah Pahlawan Man yang tersohor itu? Ataukah justru mengatakan namanya saja yang belum tentu dikenali oleh mereka?
“Dakulah Mantingan.” Mantingan berkata pelan, namun suaranya mengandung tenaga dalam sehingga dapat terdengar jelas hingga ke telinga dua orang pendekar tersebut.
“Pahlawan Man? Apakah itu julukan yang disematkan pada dikau?”
“Orang-orang biasa memanggilku dengan itu.”
Keheningan tercipta untuk beberapa saat. Tiada di antara dua pihak yang mengucap sepatah kata. Namun, tatap menatap masih terus berlangsung.
“Tidak sekalipun kami menyangka akan bertemu denganmu. Tetapi ini merupakan sebuah kehormatan besar. Perkenalkanlah, kami berdua adalah Kembaran dari Gomati. Diriku bernama Elang Putih sedangkan saudaraku bernama Elang Hitam.” Salah satu dari mereka berkata dengan suara lembut. “Pahlawan Man, bukankah di antara kita tiada permusuhan barang sedikitpun? Apakah Pahlawan berkenan untuk mempersilakan kami mengurus pekerjaan ini?”
“Memang tiada permusuhan di antara kita. Ini pun kali pertamanya daku mendengar nama Kembaran dari Gomati.” Mantingan berkata dengan nada lembut pula. “Akan tetapi jikalau kalian hendak mencelakai permaisuri selama diriku masih ada di sini, maka terciptalah rasa permusuhan di antara kita. Ketahuilah bahwa apa yang hendak kalian perbuat itu hanya akan menambah kekacauan semata.”
MANTINGAN SEBENARNYA merasa sangat heran. Mengapakah Kembaran dari Gomati dapat mengetahui perubahan jalur rombongan permaisuri? Bukankah tiada satupun orang di luar rombongan yang mengetahui perubahan jalur yang semulanya menuju Tanjung Kalapa menjadi menuju Perguruan Angin Putih di Gunung Kubang?
Sekalipun terdapat pengkhianatan, pastilah orang itu perlu memisahkan diri dari rombongan untuk memberitahukan jaringannya tentang perubahan ini. Dan selama yang Mantingan tahu, tiada satupun prajurit yang memisahkan diri terlalu jauh dari rombongan.
Sementara itu, salah seorang mereka—yang agaknya adalah Elang Hitam—membalas, “Pahlawan Man, jangan salah paham, kami bukannya takut kepada engkau melainkan ingin menghindari permasalahan yang tidak perlu. Kami memang merasa terhormat telah bertemu dengan dikau, tetapi bukan berarti kami tidak segan-segan kepada dikau.”
“Sesuka kalian ingin menganggapku seperti apa. Tetapi kepentinganku di sini adalah jelas, daku melindungi permaisuri dan orang-orang yang bersamaku.”
“Pahlawan Man ....” Elang Putih membalas enteng, “dikau belum pernah mendengar nama kami atau sepak terjang kami di dunia persilatan, lebih baik dikau menyingkir sebelum keadaan semakin runyam.”
Mantingan tersenyum lebar. “Buktikan bahwa perkataanmu itu bukanlah bualan.”
“Jangan dikau merasa percaya diri hanya karena menguasai Lontar Sihir, dan jangan pula dikau menganggap kami tidak menguasai sihir murahan seperti ini.”
Sekali lagi Mantingan menjawab, “Buktikan perkataanmu.”
Terdengar helaan napas panjang yang berasal dari Elang Putih. “Baiklah, baiklah ... sepertinya kami memang tidak memiliki pilihan selain menyerang kalian terlebih dahulu. Elang Hitam, mari kita selesaikan ini.”
Dua bayangan tersebut berkelebat entah ke mana. Menghilang begitu saja. Tiada jejak yang ditinggalkan. Tiada kelebatan yang terdengar. Bahkan tiada tetesan air hujan yang pecah! Mantingan mengeluarkan bilah Pedang Kiai Kedai dengan kewaspadaan penuh. Tidak biasanya ia menarik bilah pedang sebelum musuh benar-benar tiba di depan mata, ini mengisyaratkan bahwa bahaya yang sedang dihadapinya benar-benar tinggi!
Suasana kembali menjadi hening. Tetapi di balik keheningan itu, terdapat ketegangan yang luar biasa. Rintik hujan dan suara guntur masih terdengar, tetapi seolah-olah saja tidak didengarkan oleh telinga. Yang dicari-cari adalah suara kelebatan, desing besi, bentak maut, atau semacamnya, bukan rintik hujan yang menenangkan lagi mendamaikan jiwa.
__ADS_1
Mantingan dan Jakawarman bersebelahan. Masih dengan kewaspadaan tinggi. Bilah pedang terancungkan. Kaki membentuk kuda-kuda. Mata memandang hampir ke segala arah. Dan telinga seolah menjadi mata ketiga.
Sementara itu, Mantingan melihat bahwa Bidadari Sungai Utara telah berhasil menempatkan kuda yang ditunggangi Kana dan Kina ke dalam barisan pertahanan. Sehingga kini mereka berada di dekat kereta kuda, setidaknya mereka berada di tempat paling aman saat itu.
Bidadari Sungai Utara sama tegangnya seperti Mantingan. Tujuan utamanya saat ini bukanlah untuk melindungi permaisuri, melainkan dua anak yang bersamanya. Pedang putihnya disiagakan.
Keheningan terus berlangsung. Siapa pun akan merasakan bahwa keheningan seperti ini sebenarnya sangat amat mematikan. Penyerangan tiada akan terduga oleh siapapun.
Mantingan tiba-tiba saja membeliakkan matanya. Dapat didengarkannya suara desir yang teramat sangat halus tepat di belakangnya. Meskipun hanya suara desiran kecil, tetapi itu dapat berarti bahaya. Di saat-saat seperti ini, tidak ada kewaspadaan yang berlebihan. Mantingan membalik tubuhnya secepat kilat, tetapi kemudian didengarkannya bahwa suara desir itu semakin bertambah cepat dan besar. Agaknya ia akan terlambat!
Tepat setelah Mantingan membalik badan, dilihatnya dalam gerakan yang sangat lambat sesosok yang meluncur ke atas atap kereta kuda. Entah bagaimana orang itu dapat menembus pertahanan Lontar Sihir Penjebak yang dipasang, tetapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Mantingan melontarkan tubuhnya ke depan meski ia tak tahu apakah gerakannya itu dapat menghalau sosok yang sudah berada tepat di atap kereta kuda.
Dalam gerakan yang teramat cepat, sosok tersebut mengangkat bilah pedangnya yang berkilauan, hendak menghunjam permaisuri dari atas!
Mantingan masih melesat di udara, sungguh ia tidak dapat menambah kecepatan barang sedikitpun. Justru kecepatannya semakin menurun. Dalam keadaan seperti ini, Mantingan tidak bisa berbuat banyak selain berharap datangnya keajaiban.
Namun sesaat kemudian, sesosok bayangan putih berkelebat cepat. Menghantam sosok itu tiada ampun. Terpercik lelatu api hasil benturan senjata. Dua sosok tersebut menjauh dari kereta kuda. Serangan berhasil dipatahkan!
Mantingan memendaratkan kakinya ke tanah sebelum merubah arah lesat menuju dua sosok bayangan yang kini tengah beradu senjata. Tetapi langkahnya harus tertahan untuk menahan serangan dari sosok bayang-bayang lainnya. Sungguh dalam kecepatan yang begitu tinggi, Mantingan tidak dapat mengenali dengan jelas selain hanya bayang-bayang.
Barulah semuanya terlihat jelas ketika ia dan lawannya memutuskan berhenti menyerang.
“Elang Putih ....” Mantingan menggeram, masih jelas ia mengingat siapa sosok di depannya.
“Dikau adalah lawanku,” balasnya.
Mantingan lalu melirik ke samping, tempat di mana dua sosok bayang-bayang tengah berkelahi. Barulah disadarinya bahwa bayangan putih itu adalah Bidadari Sungai Utara. Mantingan tidak bisa diam saja, kembali ia berkelebat pergi, kembali pula langkahnya ditahan!
“Sudah kukatakan, engkaulah lawanku!”
“Lain kali saja kuurus dirimu.” Mantingan mengirimkan beberapa Lontar Penyerang ke arah Elang Putih. Tetapi sebentar kemudian, ia melebarkan mata.
Yang dilihatnya sangat sulit dipercaya, tetapi benar-benar nyata bahwasanya Elang Putih telah mematahkan seluruh serangan sihirnya tanpa mengalami kesulitan! Kemudian diingatnya bahwa Kembaran dari Gomati ini telah berhasil menembus kubah sihir pertahanannya. Mantingan benar-benar tidak bisa meremehkan lawannya yang satu ini.
Mantingan melihat bahwa kedudukannya tidak cukup menguntungkan untuk membantu Bidadari Sungai Utara. Lagi pula setelah diamati lebih jauh, pertarungan Bidadari Sungai Utara dengan Elang Hitam berlangsung dengan seimbang. Bidadari Sungai Utara tidak terdesak sama sekali. Mantingan merasa bisa meninggalkan gadis itu paling tidak hingga waktu sepeminuman teh.
Maka dihadapinya Elang Putih sepenuh hati. Dalam keadaan seperti ini, Mantingan tidak memiliki banyak pilihan. Mati sebab dibunuh, atau hidup sebab membunuh. Mantingan memilih pilihan yang kedua.
“Kami, Kembaran dari Gomati, bukanlah sembarang pendekar tanpa keahlian yang tinggi. Kami tidak pernah nekat, tetapi sebaliknya, kami selalu berani. Setiap langkah telah kami perhitungkan sebelumnya, termasuk menghadapi ahli sihir seperti dirimu, Pahlawan Man.”
Mantingan tersenyum lebar dengan tampang mengerikan. “Jarang-jarang daku menghadapi lawan yang ahli dalam ilmu sihir. Tetapi dikau salah jika menduga bahwa diriku hanya ahli dalam sihir saja.”
Mantingan menyiapkan kuda-kudanya. Dipasangkannya sebuah Lontar Sihir berunsur api pada bilah pedangnya, sehingga Pedang Kiai Kedai kini dipenuhi kobaran api. Api yang tidak padam sedikitpun meski diterpa derasnya hujan dan kerasnya angin badai.
___
catatan:
__ADS_1
Jangan melupakan one like & one comment! :b