Sang Musafir

Sang Musafir
Bunga Aroma Kematian


__ADS_3

Bunga yang Mantingan temui hari ini adalah Bunga Aroma Kematian. Tingginya enam jengkal, seluruh bagian bunganya berwarna hitam, termasuk akar-akarnya. Bukan karena aroma bunga ini yang mengantar seseorang pada kematian, tetapi karena aromanya yang berbau seperti bangkai inilah yang disebut kematian. Bukankah bangkai itu dapat diartikan dengan kematian?


Mantingan perlahan mendekat pada bunga kecil itu. Aroma busuknya sangat menyengat dan pekat, seolah-olah ada puluhan bangkai hewan di tempat itu. Bunga ini sebenarnya cukup berharga tinggi, bahkan harganya lebih tinggi ketimbang Bunga Sari Ungu. Tetapi tidak mungkin Mantingan membawanya ke perkemahan dan menanamnya di sana, sebab aroma busuk dari Bunga Aroma Kematian ini pastinya akan mengganggu makan dan tidurnya.


Di sisi lain, Mantingan enggan melewatkan kesempatan mendapat Bunga Aroma Kematian. Bunga ini sangat mudah dibudidayakan, bunga itu hanya butuhkan sedikit serangga untuk makan sebelum ia memunculkan tunas-tunas tak jauh dari tempatnya.


Yang mengherankan Mantingan adalah tidak terdapatnya bunga-bunga serupa lainnya dalam radius beberapa tombak darinya. Itu sangat mengherankan, sebab Bunga Aroma Kematian ini mudah berkembangbiak, dan biasanya hidup berkelompok. Tidak bisa dikatakan sebagai bunga muda yang masih belum bisa berkembang biak. Mantingan telah lihat sendiri, usia Bunga Aroma Kematian ini setidaknya menginjak 100 tahun.


Apakah mungkin terdapat pemburu-pemburu tumbuhan lain yang telah mencabut semua Bunga Aroma Kematian dan meninggalkan satu bunga untuk dibiarkan berkembangbiak? Jika memang sudah begitu, maka tidak berhak Mantingan mengambil bunga ini.


Namun, Mantingan tidak melihat bekas cabutan di tanah atau tanda-tanda telah ada manusia sebelumnya di sini. Mungkin hanya Mantingan saja satu-satunya manusia yang pernah menjejak tanah ini. Semakin terheran-heranlah Mantingan.


Apakah bunga itu mandul?


Mengetahui pikirannya itu, Mantingan tersenyum tipis. Tidak adakah bunga yang mandul selayaknya manusia dan hewan? Seperti bunga ini misalnya, tidak mempunyai kawan di sekitar dirinya. Namun, meskipun memang benar bahwa bunga ini mandul sekalipun, Mantingan akan tetap mencoba untuk membudidayakannya.


Mantingan mendekat pada bunga berbau sangat tidak sedap itu. Lalu ia menarik napas panjang, untuk membiasakan diri pada aromanya. Setelah itu, Mantingan kembali mendekat.

__ADS_1


Mantingan mengambil belati batu dari pinggangnya, belati itu digunakan untuk memotong salah satu kelopak bunga. Setelah terpotong, aroma busuk dari Bunga Aroma Kematian itu semakin pekat dan menyeruak. Mantingan tidak bisa menahan batuk serta rasa mualnya saat mencium aroma itu. Tanpa pikir panjang lagi, Mantingan segera menyingkir dari bunga tersebut.


Mungkin bagi Mantingan dan manusia lainnya, aroma yang dihasilkan dari Bunga Aroma Kematian sangatlah tidak sedap. Tetapi bagi serangga seperti lalat, aroma dari Bunga Aroma Kematian seperti panggilan untuk beranak-pinak.


Ditambah dengan telah terpotongnya salah satu bagian dari Bunga Aroma Kematian itu, aroma akan tercium lebih jauh lagi, mengundang kerumunan lalat untuk datang dan dimakan. Semoga saja dengan begitu, Bunga Aroma Kematian ini bisa berkembangbiak.


Melihat cara beranak-pinak dari Bunga Aroma Kematian yang begitu sederhana itu, maka bunga ini tidak tergolong pada bunga yang langka. Akan tetapi, harganya tetap saja mahal, karena kebutuhan begitu tinggi.


Bunga ini biasa digunakan para tabib untuk bahan pembuatan obat. Minyak dari Bunga Aroma Kematian telah terbukti dapat meredakan rasa nyeri, dapat pula menghentikan pendarahan dalam. Bunga Aroma Kematian sangat dibutuhkan saat terjadi peperangan.


Siapa yang berani membayangkan, seseorang akan menegak minyak dari Bunga Aroma Kematian, padahal minyak itulah yang menghasilkan bau busuk? Tetapi dalam situasi hidup dan mati, upaya menegak minyak Bunga Aroma Kematian seakan-akan wajib dilakukan.


Mantingan melanjutkan perjalanannya, pergi ke arah utara. Baru beberapa saat Mantingan berjalan dan menyibak semak belukar, wajah Mantingan sudah terperangah tak percaya.


Ia lihat di depannya. Betapa banyaknya Bunga Aroma Kematian yang terhampar. Benar-benar banyak. Mantingan melihat, bunga-bunga itu jumlahnya lebih dari seratus. Tumbuh di mana-mana, tak peduli lahan yang ia tinggali.


Tentu saja Mantingan tidak mencium aroma busuk ratus Bunga Aroma Kematian itu dikarenakan angin yang bersemilir ke arah utara. Sehingga aroma yang dibawa tentu saja ke arah utara, bukan selatan!

__ADS_1


Dan sekarang Mantingan teringat apa yang telah ia perbuat pada Bunga Aroma Kematian yang pertama ia temukan. Mantingan memotong kelopaknya, membiarkan minyak di dalam kelopak itu semakin menyebarkan aroma busuknya. Lalat-lalat akan datang, dan bunga itu akan berkembangbiak lebih banyak lagi. Tidak bisa Mantingan bayangkan bau seperti apa yang akan dihasilkan ribuan Bunga Aroma Kematian di tempat yang berdekatan.


Mantingan bisa mencegahnya dengan cara membunuh Bunga Aroma Kematian itu, tetapi itu bukanlah membudidayakan. Mantingan pula tidak mau memotong bunga-bunga di depannya sekarang ini, kecuali bunga yang telah ia budidayakan.


Maka saat itu, Mantingan hanya bisa menghela napas dan tersenyum canggung.


***


Setelah menemukan Bunga Aroma Kematian itu, Mantingan masih terus mencari bunga-bunga langka lainnya. Tetapi ia tidak menemukan bunga-bunga lainnya, Bunga Aroma Kematian itu saja. Mantingan tidak kecewa. Jika bunga langka mudah ditemukan, maka namanya bukanlah bunga langka. Mencari bunga langka yang tidak banyak ditemukan itulah yang justru menyenangkan bagi Mantingan.


Kini Mantingan telah berada di perkemahannya tepat sesaat sebelum matahari tenggelam. Tidak lupa sebelum masuk ke perkemahannya, Mantingan membersihkan badan di tepi sungai kecil. Api unggun telah dinyalakan, Mantingan makan dendeng rusa sambil menatap api unggun itu.


Langit menggelap. Bukan saja dikarenakan senjakala, tetapi awan hitam kelam juga terlihat menutupi langit. Dikarenakan ini musim hujan, Mantingan membangun perkemahan yang tahan terhadap hujan deras maupun badai sekalipun. Tetapi, Mantingan tidak yakin jika yang akan datang adalah badai besar.


Kilatan menyala terang di langit hingga menimpa daratan gelap di bawahnya, lalu terdengarlah suara guntur yang bergemuruh. Tidak salah, hujan akan turun sebentar lagi. Itu artinya, Mantingan harus segera bergerak menyiapkan perkemahan menghadapi hujan.


Mantingan memastikan bahwa pengait pada atap buka-tutup di ruang tanam tidaklah rusak, sehingga bisa tertutup sempurna jika terjadi hujan badai nantinya. Mantingan juga memastikan bahwa tidak ada kebocoran pada ruang penyimpanan, atap ijuk di sana ternyata masih rapat-rapat saja. Setelah itu, Mantingan menambah dan menguatkan ikatan tali pada tenda tempatnya tidur.

__ADS_1


Setelah dipastikan semuanya telah disiapkan, Mantingan kembali duduk di hadapan api unggun yang masih berkobar. Menunggu datangnya hujan sembil mengunyah dendeng.


__ADS_2