
“Perhelatan Cinta akan berlangsung selama lima hari penuh di dalam Lingkungan Seribu Rumah Istana. Setiap pasangan akan mendapatkan satu rumah, jatah makanan, dan kebutuhan lain sesuai dengan takaran yang telah kami tentukan.
“Selama lima hari itu, Tuan-Tuan dan Puan-Puan akan sedikit disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang kami selenggarakan, maka kami hanya akan memberikan sedikit waktu untuk keluar dari istana, yakni pada siang hari hingga menjelang petang saja.
“Demi mencegah keributan yang mungkin saja dapat terjadi, sekaligus pula untuk membangun rasa saling percaya, maka kami terpaksa menyimpan senjata Tuan dan Puan semua tanpa terkecuali. Pertarungan semacam apa pun yang dilakukan di dalam istana akan mendapat hukuman berat, jadi kami sangat berharap agar segala kedamaian dapat tercipta dalam perhelatan ini.
“Setelah lima hari menjalani perhelatan, Tuan dan Puan semua akan diberi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah menetap di kotaraja dan menjadi Pasukan Pelindung Istana, yang dengan begitu segala kebutuhan hidup dan wibawa di muka khayalak akan dijamin oleh pemerintahan. Sedangkan pilihan kedua adalah berkebalikan dari pilihan pertama, yakni dengan menolak tawaran menjadi Pasukan Pelindung Istana dan terlepas dari segala tanggungjawab. Pilihan apa pun yang Tuan dan Puan sekalian ambil akan kami hargai dan tidak akan kami permasalahkan.”
PEREMPUAN pendekar itu menjelaskan panjang lebar dengan sangat fasih. Tidak ada kesalahan dari pengucapannya meski sedikit saja. Seolah dirinya telah mengulang perkataan itu ribuan kali banyaknya.
Seluruh tamu perhelatan menjadi terpekur. Sebelumnya, mereka telah mengetahui aturan-aturan tersebut, tetapi mendengarnya secara langsung tetap saja meninggalkan suatu kesan khusus yang tak terbahasakan.
Mereka sebenarnya mengetahui bahwa akan ada dua pilihan yang harus dipilih salah satunya. Kebimbangan tercetak jelas di wajah hampir seluruh tamu perhelatan.
Mereka ingin tetap sebagaimana mestinya sepasang pendekar, yakni mengembara bebas tanpa terikat pada hal apa pun. Namun di sisi lain, mereka telah bosan dan lelah menjalani kehidupan dunia persilatan yang penuh dengan darah dan kematian, pendekar-pendekar itu juga menginginkan kehidupan berkeluarga yang harmonis dan aman.
Namun di antara ribuan tamu lelang itu, terdapat beberapa pasangan pendekar yang telah matang betul dengan pilihannya. Sebagian dari mereka hanya ingin menikmati rangkaian kegiatan yang ada di Perhelatan Cinta Kotaraja sebagai hiburan sebelum kembali ke sungai telaga persilatan, tetapi sebagian lainnya telah memasang niat untuk memulai kehidupan baru dengan mengabdi kepada Kerajaan Koying serta melepas segala hubungan dengan telaga persilatan.
Mungkin, hanya Mantingan dan Chitra Anggini saja yang tidak mengambil dua pilihan itu. Mereka berdua memiliki pilihan lain yang tentulah jauh lebih besar, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih penting: menyusup ke dalam istana dan merebut kembali Tapa Balian serta Sepasang Pedang Rembulan yang dicuri!
“Hari pertama Perhelatan Cinta dimulai esok pagi, tetapi Tuan-Tuan dan Puan-Puan diharapkan telah menetap di Lingkungan Seribu Rumah Istana mulai malam ini agar tidak terlambat. Pengurus perhelatan akan memberi arahan selanjutnya, jadi harap keluar dengan teratur.”
Chitra Anggini melirik Mantingan di balik topengnya. “Apakah yang harus kita pilih?”
“Semakin lama berada di istana, maka akan semakin baik,” jawab Mantingan. “Kita harus menetap di sana mulai malam ini.”
Chitra Anggini mengangguk sebelum beranjak berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
***
LINGKUNGAN Seribu Rumah Istana adalah sebuah petak besar berisi perumahan yang terletak di sebelah timur istana dan masih berada dalam lapisan ketiga tembok istana.
Perumahan itu dikhususkan untuk prajurit maupun pelayan yang benar-benar harus tinggal di dalam istana. Namun meskipun begitu, masih ada ribuan rumah lagi yang tersisa untuk dapat ditempati para tamu perhelatan.
“Istana Koying jauh lebih besar dari yang kuperkirakan.” Chitra Anggini bergumam pelan sambil menggelengkan kepala.
Petugas perhelatan datang dan menyerahkan selembar lontar bertuliskan angka urutan rumah yang harus ditempati mereka berdua. Setelah diberi sedikit penjelasan tambahan, Mantingan dan Chitra Anggini melanjutkan perjalananmya.
Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menemukan rumah yang dituju.
Di dalam petak Lingkungan Seribu Rumah Istana, rumah yang mereka dapatkan terletak di sebelah barat sehingga berbatasan langsung dengan tembok pertahanan istana lapisan kedua. Hal itu memberikan beberapa keuntungan tersendiri bagi Mantingan yang menguasai Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Mantingan menempelkan lontar yang diberikan petugas perhelatan itu pada daun pintu. Sebuah pola sihir bercahaya muncul barang sejenak sebelum akhirnya memudar hingga menghilang. Barulah setelah itu pintu dapat dibuka.
“Tidur,” kata Mantingan meski matanya tidak terarah pada Chitra Anggini sama sekali. Dirinya lebih tertarik melihat-lihat sekitar.
“Hanya sekadar itu?”
“Ya.”
Kali ini, Mantingan menatap langsung ke mata Chitra Anggini dengan tajam-tajam. Menyampaikan pesan melalui tatapannya. Perempuan itu lekas mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak wajar di rumah ini sehingga mereka tidak dapat berbicara terang-terangan.
“Aku sangat mengantuk, Chitra. Ini adalah hari di mana semuanya berlangsung teramat mengejutkan, membuat pikiranku menjadi penat saja. Alangkah baiknya jika kita tidur secepat mungkin sehingga besok tidak terlambat mengikuti perhelatan ini.” Mantingan memberi penjelasan dengan tenang.
“Baiklah bila memang itu yang kaukehendaki. Tentulah apa pun akan kulakukan jika itu untukmu.” Chitra Anggini melempar senyuman mengejek sebelum berjalan mendahului Mantingan, seolah dia telah mengenal betul tempat itu!
__ADS_1
Terdapat empat ruangan di dalam rumah itu.
Yang pertama adalah ruang tamu yang terletak di bagian paling depan, dengan beberapa bangku panjang, meja, dipan, dan teko penyaji teh.
Sedangkan yang kedua adalah kamar tidur, terletak di bagian tengah, dengan sebuah ranjang besar berkelambu, lentera putih, dan sebuah lukisan yang menggambarkan istana tergantung di dinding.
Ruangan ketiga adalah dapur, dengan dua buah tungku, tempat penyimpanan kayu bakar serta arang, lumbung makanan, dan beberapa macam alat memasak.
Ruangan terakhir adalah kamar mandi bergaya panggung, terdapat gentong air setinggi tubuh orang dewasa untuk menyimpan air dan beberapa keperluan mandi.
Sedangkan di bagian luar rumah, terdapat serambi dan kebun kecil.
Rumah ini benar-benar sempurna!
Chitra Anggini tidak langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, melainkan bersiap memasang kelambu yang tergantung pada sebuah bingkai persegi di atas tempat itu. Jelaslah Mantingan segera menahannya.
“Jangan!” seru Mantingan yang serta-merta menghentikan gerakan perempuan itu. “Untuk apa kelambu itu dipasang?”
Chitra Anggini menatapnya dengan pandangan aneh. “Tentulah agar nyamuk tidak menyedot habis darahmu.”
“Kita adalah pendekar, nyamuk seharusnya tidak akan menjadi masalah.” Mantingan bersikeras. Biar bagaimanapun, bila kelambu itu benar-benar terpasang, maka mereka akan menjadi terlalu dekat!
____
catatan:
Case handphone edisi Sang Musafir akan segera rilis! Nantikan segera!
__ADS_1