Sang Musafir

Sang Musafir
Munding Caraka


__ADS_3

Mantingan memandangi padang rumput luas berlatarkan langit kejinggaan. Waktu telah memasuki senjakala. Sungguh, hampir tiada bedanya pemandangan senja yang ada di Javadvipa maupun yang ada di Suvarnadvipa. Betapa pun, senja tetaplah senja yang jingga dan keremangan, sehingga terkadang menampilkan sesuatu yang tidak ada dan justru menyembunyikan sesuatu yang tidak ada, maka memanglah sangat wajar jikalau para pendekar di dunia persilatan menghindari pertarungan ketika senja telah tiba.


Mantingan melepas gulungan kain putih yang melilit lengan tiruannya. Tentulah sedari tadi ia menutupi wujud lengan kayu itu dengan lilitan kain, sebab betapa pun bukanlah merupakan hal yang wajar jika seseorang memiliki lengan kayu yang mampu bergerak-gerak selayaknya lengan asli. Dengan lilitan kain yang membungkus lengan tiruan itu, Mantingan dapat menampilkan seolah-olah benda itu adalah lengan asli yang hanya saja diselimuti kain untuk suatu alasan yang sekiranya tidak begitu penting untuk dapat memancing rasa penasaran orang lain.


***


MANTINGAN menyandarkan punggungnya pada batang pohon sambil memandangi kerbaunya yang tengah merumput berlatarkan langit jingga. Seulas senyum tercetak di wajahnya, sebab kerbau itu telah mendapatkan semangat hidupnya kembali. Ia menjadi lebih semangat merumput, dan seolah saja perutnya adalah ruang tak terbatas sehingga seluruh rumput yang ada di padang rumput itu dapat dilahapnya hingga habis. Dalam beberapa kesempatan, kerbau itu mengaum panjang bernada bahagia. Matanya yang semula terkantuk-kantuk, kini terbuka lebar, seolah seluruh pemandangan adalah hal berharga yang tidak boleh dilewatkan.


Hanya saja, kerbau itu masih bertampang dekil serta beraroma tidak sedap. Sudah barang tentu bahwa kerbau tersebut tidak dapat membersihkan badannya sendiri. Namun Mantingan tidak berencana untuk memandikannya dalam waktu dekat, sebab betapa pun dirinya mesti menemui Tapa Balian secepat mungkin.


Maka begitu matahari telah tenggelam sempurna serta langit menjadi gelap gulita dan bukannya dalam keremangan yang membuat pendekar mana pun akan merasa was-was, berangkatlah Mantingan bersama kerbaunya meninggalkan padang rumput itu.


Mantingan tidak menyalakan Lontar Sihir Cahaya meski dirinya masih menyimpan benda itu cukup banyak di dalam bundelannya. Cahaya terang dari Lontar Sihir Cahaya mungkin saja akan menarik perhatian pendekar-pendekar tingkat tinggi untuk datang, sebab betapa pun hanya ada satu orang yang dapat membuat sekadar lembar lontar menjadi bercahaya sangat terang, yang tidak salah dan tidak bukan ialah Mantingan.


Tentu saja pemuda itu mengetahui bahwa terdapat cukup banyak penyamun di Suvarnadvipa yang membenci dan bahkan sampai menaruh dendam kepadanya. Lebih-lebih lagi dengan pendekar tingkat lanjut yang merasa bahwa Mantingan telah menghancurkan jalan persilatannya setelah segala tindakannya yang menggagalkan usaha pemberontakan di Negeri Taruma. Jika jumlah mereka banyak dan menyerang menyerang secara bersamaan dengan menggabungkan kekuatan, Mantingan tidak yakin bisa menang menghadapi mereka.


Malam ini, Mantingan hanya berniat menghadapi pendekar-pendekar tingkat rendah saja. Sebab mustahil dirinya tidak menghadapi serangan dengan tetap melanjutkan perjalanan meski telah jelas bahwa penyamun-penyamun akan berseliweran begitu matahari tenggelam sempurna di ufuk barat.


Ia membawa seekor kerbau besar dengan barang bawaan yang tidak dapat dikatakan sedikit. Lebih-lebih lagi, ia bergerak tanpa rombongan. Mantingan bagaikan sepotong daging segar di antara ratusan harimau kelaparan. Namun, sungguh tidak banyak yang mengetahui betapa sepotong daging segar itu hanya penampilan luarnya saja, sebab di dalam daging itulah telah tersimpan ribuan jarum beracun yang dapat ditembakkan ke segala arah!

__ADS_1


“Daku belum memberimu nama.” Mantingan tersenyum kecil sambil mengelus punggung kerbau yang tengah ditungganginya itu. “Nama seperti apakah yang kau sukai?”


Sudah barang tentu kerbau itu tidak dapat memberi jawaban yang memuaskan kepada Mantingan. Namun ketika mengetahui bahwa majikannya bersuara di tengah kesunyian dan kegelapan malam, kerbau itu melenguh pendek sebagai balasan.


Mantingan mengibaskan tangannya beberapa kali. Terdengar suitan beberapa kali pula, sebelum disusul oleh debaman benda jatuh dan erangan panjang. Begitulah Mantingan melumpuhkan beberapa pendekar yang berkelebatan ke arahnya dengan niat untuk membunuh, menggunakan jarum-jarum yang telah dibubuhi racun mematikan. Setelah cairan racun itu masuk ke dalam pembuluh darah, maka bagi mereka sungguh tiada jalan selain kematian.


“Namamu harus memiliki arti yang baik,” gumamnya kemudian seolah tidak terjadi apa pun, “biar kupikirkan barang sejenak.”


Kembali Mantingan mengibaskan lengannya bagaikan sedang mengusir nyamuk, tetapi sebenarnyalah ia sedang mengirim tapak angin guna menampel pisau-pisau lempar yang melesat ke arahnya, yang kemudian dikembalikan kepada pemiliknya dengan kecepatan dua kali lipat! Maka begitulah suara debaman kembali terdengar mengisi kesunyian malam.


“Bagaimana dengan Munding Caraka?” Mantingan menceletuk sambil kembali mengibaskan lengannya. “Itu memiliki arti ‘kerbau pengembara’. Bukankah kau selalu menginginkan pengembaraan, Munding?”


Kerbau itu melenguh pendek meski sungguh tiada dapat Mantingan ketahui lenguhan itu berarti apa. Namun kemudian, Mantingan tersenyum lebar. “Kurasa kau menyukainya.”


***


Mantingan membiarkan Munding Caraka merumput ketika mereka tiba di sebuah lapangan kecil yang cukup banyak ditumbuhi rumput. Meski kerbau itu tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, Mantingan tetap membiarkannya beristirahat. Sedangkan dirinya duduk di bawah pohon rindang untuk rehat dan makan dendeng ikan yang telah diasapi sebelumnya.


Mantingan cukup menikmati suasana pagi seperti ini. Setelah lima bulan lamanya mengurung diri di dalam Gaung Seribu Tetes Air yang sama sekali tidak tersentuh sinar matahari, maka kehangatan matahari pagi yang dirasakannya saat ini menjadi begitu berharga. Begitu pula dengan lalu-lalang burung-burung beragam jenis; semilir angin yang menyejukkan kulit berkeringat; dan mega-mega mengambang di tengah hamparan langit biru yang seolah tiada memiliki ujung.

__ADS_1


Mantingan mencoba untuk lebih bersantai dengan memejamkan mata. Namun, bukan berarti bahwa dirinya telah mengendurkan kewaspadaan, sebab dengan keterpejaman mata itulah Ilmu Mendengar Tetesan Embun dapat dipergunakannya dengan sebaik mungkin. Segala benda yang tidak dapat ditangkap oleh matanya mampu ditangkap oleh telinganya melalui gelombang suara, yang setelahnya diterjemahkan menjadi bentuk.


Maka dengan diedarkannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan menangkap cukup banyak gelombang suara yang datang seiringan. Suara-suara itu berasal dari jalanan, jaraknya cukup jauh dari tempatnya duduk saat ini. Mantingan terus memejamkan mata serta menajamkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, berniat mengetahui apa yang tengah datang menghampiri, sebab betapa pun dirinya dan mereka akan berpas-pasan.


Dari hasil pengamatannya, setidaknya Mantingan mengetahui bahwa yang sedang datang kali ini adalah rombongan yang diisi oleh banyak orang dengan beberapa kerbau penarik pedati. Mantingan dapat mendengar suara wanita bercakap-cakap sambil tertawa, suara dengkus napas kerbau, suara derit roda pedati, dan suara kerincing yang tak jelas berasal dari benda apa. Jelas bahwa itu cukup besar.


Namun, rombongan semacam apakah mereka? Terlalu banyak wanita yang bercakap-cakap, dan terlalu ramai suara kerincing yang agaknya berasal dari alat bebunyian yang baru terdengar ketika pedati bergoyang.


“Mungkinkah ….”


Selintas lalu, terpikirkan olehnya bahwa yang datang kali ini adalah rombongan pemain wayang, yang memang selalu dipenuhi oleh wanita dan alat-alat bebunyian. Namun, Mantingan masih belum dapat memastikannya betul-betul, mengingat pula untuk apakah rombongan pemain wayang melewati jalan sunyi yang tidak mengarah ke peradaban manusia?


Memanglah seingat Mantingan, jalan yang dilewatinya ini tidak mengarah ke manapun selain ke pantai yang bersinggungan dengan Lembah Balian. Jalan tersebut tidak bersinggungan dengan kota baik yang kecil maupun yang besar, meski beberapa kali memiliki cabang yang mengarah ke pedesaan kecil. Namun, untuk apakah kiranya serombongan besar pemain wayang berkunjung ke desa-desa kecil yang sungguh lebih membutuhkan makanan ketimbang hiburan dari mereka?


___


catatan:


Peforma Sang Musafir turun di pekan sebelumnya. Mari bantu saya untuk mengembalikan peforma Sang Musafir dengan cara share, like, dan comment.

__ADS_1


Saya sedang menyiapkan crazy up di akhir bulan nanti.



__ADS_2