
PANDANGANNYA BURAM. Rasa nyeri menjalar ke seluruh bagian tubuh. Jantungnya berdegup tak keruan, kadang cepat dan kadang pula lambat. Pikiran Mantingan seolah terlepas dari raganya, melayang di langit-langit ruangan. Tubuh Mantingan jatuh membentur ke lantai. Namun kesadarannya masih tetap terjaga.
Kini rasa nyerinya dibarengi oleh rasa panas. Mantingan melenguh nyaring. Berguling-guling tanpa peduli akan menabrak apa. Dalam kondisi seperti ini, Mantingan kehilangan kendali pada seluruh bagian tubuhnya. Saat ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, maka yang bergerak adalah kaki atau tangan sebelahnya. Sungguh ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Tangan Mantingan bergerak cepat merogoh ke dalam kantung pundi-pundinya. Ia mengambil sebumbung ramuan di dalam buluh. Rasa pening yang tiba-tiba muncul membuat Mantingan membuka bumbung buluh tanpa pengamatan yang jelas.
Ramuan di dalam bumbung itu tumpah sedikit, untungnya Mantingan bergerak cepat untuk mengarahkan bumbung ke dalam mulutnya. Ia menegak seluruh ramuan di dalam buluh tanpa tersisa barang setetes pun.
Mantingan tidur menghadap langit-langit ruangan. Menatapnya dengan pandangan buram dan kosong. Dada Mantingan masih naik turun. Napasnya masih berpacu. Rasa mual menjalar dari perutnya, memuntahkan darah hitam ke lantai kamar. Itu adalah sesaat sebelum Mantingan tidak sadarkan diri.
***
MANTINGAN MEMBUKA matanya. Ramuan pereda nyeri mulai bekerja penuh. Walau kepalanya masih terasa pening dan dadanya juga masih terasa nyeri. Setidaknya, itu lebih baik daripada keadaan tadi yang sangat menyiksanya.
Mantingan bangkit berdiri dengan susah payah. Ia pandangi sekitarnya, pintu masih belum ditutup. Mungkin ada beberapa orang yang lewat di depan kamarnya tadi, melihatnya tidur di lantai kamar. Namun siapakah yang peduli terhadap Mantingan? Tentu mereka beranggapan bahwa Mantingan hanya jatuh karena mabuk.
Tertatih-tatih Mantingan menutup pintu. Melakukan beberapa peregangan kecil sebelum membersihkan darah hitam bekas muntahannya. Sekali lagi Mantingan menghela napas panjang lalu berjalan untuk membuka jendela ruangan.
Berniat mendapatkan udara segar, Mantingan malah dikejutkan.
Sebelumnya, Mantingan merasa dirinya tidak pingsan terlalu lama. Namun nyatanya, siang sudah berganti malam. Mantingan melihat pemandangan kota malam hari di depannya. Langit benar-benar menggelap, obor-obor penduduk terlihat sudah lama dinyalakan.
__ADS_1
Dari lantai dua ini, Mantingan melihat jalanan sudah menyepi. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang selain prajurit yang meronda. Mantingan membiarkan jendelanya terbuka saat ia berbalik melepas dua bundelan di punggungnya. Saat dirinya tak sadarkan diri, Mantingan belum sempat untuk melepas dua bundelan besar itu, tak ayal tubuhnya bertambah nyeri setelah bangun.
Mantingan berniat memeriksa keadaan penginapan dengan ilmu pendengaran tajam. Ia harus memastikan bahwa penginapan ini bukan jadi tempat para pendekar berkumpul di malam hari.
Mantingan bisa mendengar banyak hal di penginapan ini. Mulai dari percakapan-percakapan tamu di kamar lain, hingga suara riuh keramaian di lantai bawah. Mantingan mempertajam pendengarannya agar bisa mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi di bawah sana.
“Tuak! Tuak! Tambah lagi! Tambah lagi!”
Mantingan menyurutkan ilmu pendengaran tajam miliknya. Merasa tidak perlu mendengar hal-hal lainnya.
Mantingan melangkahkan kaki menuju kasurnya, berniat untuk tidur. Namun sebelum merebah, Mantingan menyadari ada sesuatu yang salah. Kembali Mantingan memasang ilmu pendengaran tajam. Kali ini, ia memusatkan perhatian di kamar Bidadari Sungai Utara.
Entah apakah hanya perasaannya saja atau apa, tetapi yang jelas Mantingan tidak mendengar suara apa pun di kamar gadis itu. Bahkan suara napasnya tidak terdengar. Mantingan kembali mempertajam ilmu pendengarannya, sampai telinganya dapat mendengar suara di luar penginapan. Sekalipun begitu, Mantingan tetap tidak mendengar suara apa pun di kamar Bidadari Sungai Utara selain langkah cecak di dinding.
Tidak menunggu lebih lama lagi, Mantingan berlari keluar dari kamarnya. Pedang Kiai Kedai masih tersoren di pinggangnya. Tiba-tiba saja, dada dan leher Mantingan kembali terasa nyeri. Selayaknya yang tadi siang ia rasakan. Mantingan belum pulih. Namun alamat sudah khawatir, Mantingan tidak dapat menghentikan langkahnya hanya karena sakit yang diderita.
Mantingan berhenti di depan pintu kamar Bidadari Sungai Utara. Tanpa pikir panjang, Mantingan mengetuk pintu berkali-kali. Tidak terdengar jawaban, Mantingan semakin cemas. Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu, yang ia dengar hanyalah kehampaan. Dengan kata lain, ia tidak mendengar apa pun.
Lalu Mantingan teringat pesta yang menyebabkan keramaian di lantai bawah. Mantingan merapatkan giginya. Dan tanpa banyak pertimbangan lagi, Mantingan berjalan cepat menuruni tangga.
Apa yang terlihat di lantai pertama memang sesuai dengan bayangan Mantingan. Ramai. Aroma tuak tercium kuat. Orang-orang menari tanpa bentuk, sisanya tersungkur di lantai setengah sadar.
__ADS_1
Mantingan langsung disambut oleh perempuan muda berpupur tebal yang menawarkannya segelas tuak. Tanpa menolak atau menyetujui, Mantingan kembali berjalan. Namun tak baru sesaat, Mantingan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap wanita penghibur itu dengan tajam, lekas menghampirinya.
“A-ada apa, tuan?”
“Kau lihat wanita bercadar merah yang lewat sini?”
Pelayan itu diam beberapa saat dengan tatapan takut, lalu ia menjawab, “Sahaya melihatnya, tuan. Tapi sahaya hanya melihatnya turun dari lantai atas ke sini, setelah itu sahaya tidak tahu lagi, tuan.”
Mantingan berdecak kesal. Dugaannya terbukti. “Kau yakin tidak melihat dia lagi setelah itu?”
“Ampun, tuan, hanya itulah yang sahaya lihat.”
Mantingan menatap perempuan muda itu dengan tajam. Ingin sekali menasihati orang itu agar tidak memanggilnya dengan sebutan “tuan”. Namun, jika Bidadari Sungai Utara benar-benar turun ke lantai ini, maka seharusnya Mantingan tidak punya banyak waktu yang tersisa.
“Kapan kau melihatnya?”
“Tak lama dari sekarang, tidak lebih dari waktu sepeminuman teh, Tuan.”
Mantingan melangkah pergi tanpa menoleh pada perempuan muda itu lagi. Matanya berkeliling, mencari Bidadari Sungai Utara di tengah keramaian dan hiruk-pikuk.
Suasana semakin berisik setelah penginapan mengeluarkan penari-penari mereka. Tabuhan gendang dan beberapa alat lainnya terdengar tidak selaras. Sorakan cabul dari para penonton semakin menambah ketidakteraturan. Mantingan tidak peduli itu, terus berjalan seolah sedang menembus lautan.
__ADS_1
Mantingan terus berkeliling, mencari keberadaan Bidadari Sungai Utara. Ada kecurigaan bahwa gadis itu sebenarnya tidak ada di tempat ini, melainkan keluar dari penginapan. Tetapi di sisi lain, jika Bidadari Sungai Utara benar-benar ada di sini, maka meninggalkannya adalah tindakan bodoh.
Mantingan ingin memastikan berkali-kali lagi sebelum ia mencari gadis itu di luar penginapan. Waktu adalah penentu dari segalanya, maka dari itu Mantingan memutuskan untuk menggunakan kemampuan pendekarnya untuk mencari Bidadari Sungai Utara. Ia melesat, menghilang dari kerumunan. Secepat petir Mantingan melenting, melompat dari dinding satu ke dinding satu lainnya.