
TETAPI TIDAK satupun dari mereka yang mau repot-repot melontarkan isi pikirannya kepada Mantingan. Pikir mereka, biarlah Mantingan tahu sendiri apa yang akan didapatkannya. Entah itu hanya sekadar mantra yang tidak bekerja, atau yang lebih buruk daripada itu: Lontar Sihir meledak.
Mantingan dapat melihat tatapan para pengunjung toko terhadap dirinya, Mantingan tidak memilih bersikap acuh tak acuh, justru menikmatinya. Sudah lama ia tidak merasakan rasa yang dirasakannya saat ini. Benar-benar seperti kembali ke masa lalu.
“Semuanya 100 keping emas, apa kau yakin membeli lontar sebanyak ini?”
Mantingan tersenyum canggung, andai saja tidak sedang menggunakan caping mungkin dirinya akan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mantingan merogoh pundi-pundinya yang hampir kosong.
Mantingan terpikirkan bahwa ternyata menjadi pengembara membutuhkan banyak uang. Seperti saat mengisi perbekalan saat ini. Baru dua jenis barang yang dibeli Mantingan, ia sudah hampir kehilangan 150 keping emas untuk semua belanjaannya. Jika seorang pengembara tidak bisa menghasilkan uang banyak, dirinya pasti akan menemui kesulitan dalam pengembaraannya.
Mantingan melihat orang-orang di sekelilingnya dengan sekilas, sekali lagi tercetuskan sebuah pemikiran yang cukup cermelang.
“Paman, bagaimanakah jika sahaya menjual Lontar Sihir yang sahaya temukan di jalanan?”
Penjual itu membalas dengan nada datar, “Kami tidak menerima Lontar Sihir berkualitas rendah.”
Mantingan dengan gerakan cepat merogoh kantung pundi-pundi di pinggang sebelah kanannya, di dalam kantung pundi itu terdapat beberapa buah kotak berisi penuh Lontar Sihir Cahaya, Mantingan mengambil salah satu kotak dan meletakkannya di atas meja pembayaran. “Lebih baik Paman lihat sendiri.”
Awalnya penjual lontar sama sekali tidak memiliki minat pada Lontar Sihir yang ditawarkan Mantingan. Namun setelah melihat dus penyimpanan lontar yang rapi hingga Lontar Sihir di dalamnya terkemas dengan rapi pula, penjual lontar mau tidak mau tertarik juga.
__ADS_1
Dia mengambil dus kotak penyimpanan lontar itu. Membolak-baliknya beberapa kali sambil mengangguk pelan. Perlahan ia membuka tutupan dus, mengangkat asal selembar lontar lalu mengamatinya dengan seksama.
Pengamatannya memakan waktu cukup banyak, pada akhirnya penjual lontar memanggil putrinya untuk melayani pembeli yang tersisa.
Sang penjual begitu tertarik pada segala sesuatu tentang Lontar Sihir, tak ayal pula ia rela mendedikasikan waktunya untuk mengamati Lontar Sihir buatan Mantingan.
Memang si penjual lontar tidak mengetahui bahwa orang yang membuat lontar itu sekarang ini ada di depan matanya. Tetapi tidak ada salahnya pula Mantingan mengatakan bahwa lontar-lontar itu ditemukan di sepanjang jalan pengembaraannya, toh memang pemikiran untuk membuat Lontar Sihir Cahaya tercetuskan secara tak sengaja saat Mantingan berada di perjalanan.
“Lontar ini ... aku belum pernah melihat yang semulus ini sebelumnya,” kata penjual lontar sebelum hati-hati memasukkan Lontar Sihir Cahaya kembali ke dalam dusnya. “Lontar yang kautemukan di jalan ini sangat bagus, bahkan berdasarkan pengamatanku Lontar Sihir ini nyaris mencapai garis kesempurnaan. Tetapi aku tetap perlu tahu kegunaan lontar ini.”
Mantingan mengangguk kemudian menjelaskan, “Ini Lontar Sihir Cahaya, tentu saja berguna untuk menerangi kegelapan. Dan kalau dalam keadaan genting, Lontar Sihir Cahaya ini bisa sangat bermanfaat. Caranya cukup aliri tenaga dalam dalam jumlah banyak sebelum dilempar ke atas dan menjadi kilauan cahaya terang. Apakah Paman mengerti perkataanku yang sedikit berbelit ini?”
Mantingan tahu apa yang sedang ia lakukan. Menjual Lontar Sihir Cahaya yang kualitasnya luar biasa dan belum pernah ada sebelumnya. Ada risiko lontarnya ditiru. Meskipun begitu, pembuatan mantera yang sangat rumit menjadikan Mantingan tidak perlu khawatir lontarnya akan ditiru. Harus Mantingan akui, tidak banyak yang bisa meniru pemantraan Lontar Sihir Cahaya.
Si penjual lontar ingin melihat perubahan mimik wajah Mantingan setelah dirinya mengatakan kalimat yang menyinggung dan mengancam itu. Berniat mencari kebohongan di wajah Mantingan. Tetapi dikarenakan setengah wajah Mantingan tertutup caping, maka si penjual lontar tidak bisa menemukan tanda-tanda kebohongan dari ekspresi wajah Mantingan.
Padahal sebenarnyalah si penjual lontar itu yang berbohong. Dirinya berkata seolah-olah tidak akan membeli Lontar Sihir Cahaya itu jika tidak bisa bekerja dengan baik. Padahal, penjual lontar akan tetap membeli lontar itu karena memiliki bentuk dan rupa yang sangat bagus. Memandangi lontar itu akan membuat perasaannya jadi senang dan jantung jadi berdebar, seperti menemukan jodoh.
Namun, si penjual lontar tentu mengharapkan sesuatu yang lebih dari Mantingan. Berharap lontar yang dibawa pemuda itu dapat berfungsi sesuai perkataan.
__ADS_1
“Sinarnya tidak terlalu terang, mungkin Paman akan sedikit kecewa.” Mantingan tersenyum lalu menjelaskan cara mengaktifkan Lontar Sihir Cahaya.
Penjual lontar mengangguk lalu kembali mengeluarkan selembar Lontar Sihir Cahaya dari dalam dus. Sesuai dengan penjelasan Mantingan, penjual lontar menekuk lontar itu hingga mengeluarkan suara patahan walau sebenarnya tidak benar-benar patah. Setelah ia melakukan hal itu, keluarlah aksara-aksara dari permukaan lontar yang lalu mengelilingi badan lontar itu dengan cahaya putih sejuk.
Penjual lontar tidak dapat berpura-pura tidak terkejut. Dirinya mendelikkan mata. Tidak ada Lontar Sihir seperti ini sebelumnya, terlebih cahaya yang dihasilkan oleh Lontar Sihir Cahaya sangatlah nyaman di mata tetapi tidak serta-merta mengurangi sinarnya. Sorot mata penjual lontar menatap Mantingan dengan tatapan yang tidak percaya.
Mantingan hanya bisa tersenyum canggung, walau sebenarnya sudah menduga reaksi penjual lontar setelah mengaktifkan lontar itu.
“Pendekar muda, kau yakin menemukan semua lontar ini di jalanan?”
Mantingan hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Tidak mungkin." Si penjual lontar menggeleng. "Jika semua lontar ini ditemukan di jalanan, tidak mungkin kualitasnya sebagus ini. Kau jangan bercanda.” Dirinya menatap Mantingan tajam. “Apa kau bermaksud menipuku?”
Mantingan cepat-cepat menggeleng. “Tidak, Paman. Semua lontar ini memang saya temukan di jalan.”
“Lalu siapakah gerangan yang membuat lontar ini hingga kualitasnya masih bagus walau telah bersentuhan langsung dengan sinar matahari dan udara? Apakah dikau ini benar-benar menemukannya ataukah diberikan pendekar lain yang sama-sama ahli sihir?”
Mantingan kembali menggeleng. “Tidak, Paman. Saya murni menemukannya.”
__ADS_1
Penjual lontar terdiam beberapa lama tetapi masih terus menatap Mantingan penuh selidik. Mantingan masih bisa mempertahankan rasa percaya dirinya, bergeming walau ditatap sedemikian tajam oleh penjual lontar. Bagi Mantingan, tatapan seperti itu tergolong cukup wajar, dirinya memang patut dicurigai.
“Sekarang kau ikut aku masuk ke dalam,” kata penjual lontar tiba-tiba, “aku tidak punya banyak waktu, jadi cepatlah.”