
“Justru karena kamu jarang tidur di ranjang, maka sesekali kamu harus mencicipinya. Aku juga ingin tidur di ranjang. Jadi, apa salahnya jika kita—”
“Ketahuilah, Chitra ....” Mantingan memotong meski tidak dengan ketajaman, melainkan dengan kelembutan. “Aku adalah lelaki, dan kau adalah perempuan. Sebagaimana yang sebaik-baiknya, kita tidak tidur di satu ruangan, apalagi di satu ranjang.”
“Apa salahnya?” Chitra Anggini tetap membantah. “Bukankah kau sudah menganggapku sebagai adik kandungmu sendiri? Memangnya salah jika kakak dan adik tidur seranjang?”
Mantingan hendak kembali berkata setengah menceramahi, tetapi Chitra Anggini memotongnya. Jari telunjuk perempuan itu menempel di bibir Mantingan. Pemuda itu langsung urung bicara.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku sedang tidak bernafsu dengan pria, dan rasa-rasanya aku tidak pernah begitu bernafsu dengan pria. Bukankah malam itu, di tengah belantara saat kedatangan Pendekar Kelewang Berdarah, kau sudah melihat semuanya?” Chitra Anggini pula berkata dengan lembut.
Mantingan hanya bisa mengeluh di dalam benak. Chitra Anggini seperti tidak mau menerima bantahan lagi. Jari telunjuk itu masih menempel di bibir Mantingan.
***
“Kiai Guru, maafkanlah murid ini sebab tidak bisa berbuat kebenaran sesuai dengan apa yang diajarkan Guru.”
DI atas ranjang itu, Mantingan mengantupkan tangannya ke langit. Menundukkan kepala. Memohon dengan teramat sangat pada gurunya yang entah berada di mana.
“Kamu terlalu berlebihan.” Chitra Anggini yang merebah di sebelahnya, dengan bentuk membelakanginya, berkata dengan malas. “Tidur tinggallah tidur. Ada atau tiada diriku di ranjang ini, sama sekali tidak ada ubahnya.”
Mantingan membalik badan tanpa membalas. Punggungnya membelakangi punggung Chitra Anggini pula. Selesai berdoa.
Suasana menjadi hening dalam seketika. Hanya tersisa suara serangga malam di luar sana. Selebihnya, hanya suara detak jantung dari kedua muda-mudi di atas satu ranjang itu.
Namun, agaknya Chitra Anggini memang tidak betah dengan kesunyian. Segera dia membuncah dengan perkataannya.
“Aku dengar dari Lien, kau menulis kisah perjalananmu sendiri. Apakah itu sudah rampung?”
Tetiba saja Mantingan merasakan desiran di dalam dadanya. Nama Lien disebutkan, itu sama saja dengan menyebutkan nama Bidadari Sungai Utara, Sasmita-nya!
“Perjalananku belum selesai, bagaimanakah kiranya cerita itu bisa rampung?” Mantingan membalas meski tidak dapat dikatakan begitu. Bukankah ia justru kembali melempar pertanyaan?
“Kapankah kiranya perjalananmu akan selesai, yang sama sekali berarti bahwa ceritamu akan ditamatkan?”
“Pengembaraanku tidak akan pernah usai, sampai diriku pada akhirnya mati.”
“Itu berarti setelah menemukan Kembangmas, bunga khayalan yang gilanya masih kau cari-cari itu, apakah kau masih akan mengembara?”
__ADS_1
“Tidak ada yang menjamin bahwa nyawaku masih ada sebelum menemukan Kembangmas.” Mantingan mengembuskan napas perlahan. “Dan tidak ada pula yang menjamin Kembangmas bisa kutemukan.”
“Bidadari Sungai Utara amat sangat percaya bahwa kamu akan mendapatkan Kembangmas, sama seperti meyakini bahwa matahari akan terbit esok hari dari arah timur. Aneh sekali.”
Mantingan mendesah pelan. Sialnya Chitra Anggini, nama itu kembali disebutkan. “Untuk mendapatkan Kembangmas, dibutuhkan lebih dari sekadar kepercayaan.”
“Dia selalu mendoakan yang terbaik untukmu,” kata Chitra Anggini yang masih membelakanginya. “Dan doa dari belahan jiwa jauh lebih manjur ketimbang doa seribu orang yang bukan siapa-siapa bagimu.”
“Aku tidak butuh doa darinya!” Mantingan berkata keras-keras. Mengguncang kesunyian di kamar itu.
Ia memang tidak membutuhkan doa dari Bidadari Sungai Utara. Ia hanya membutuhkan kehadiran gadis itu!
Lantas terbayang betapa hari-hari yang terjalani bersama Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina merupakan suatu kenikmatan hidup besar yang pernah dirasakannya. Hari-hari yang sederhana, tetapi penuh dengan kedamaian dan kasih sayang.
Masih dapat teringat olehnya betapa Kana berpantun bagai seorang sastrawan. Kina mendengarkannya dengan pandangan mata terkagum-kagum. Dan Bidadari Sungai Utara dengan segala kelembutannya itu tersenyum.
Mantingan kembali merasakan haru dalam dadanya. Betapa kenikmatan itu tidak akan pernah dan tidak akan bisa terulang kembali.
“Cukup! Tidurlah dan hentikan percakapan ini!” Mantingan menarik selimut. Semakin merapatkan tubuhnya ke pojok ranjang. Berusaha sejauh mungkin dari Chitra Anggini.
“Apakah kamu tidak mendengarkan sesuatu apa pun, Mantingan?” Seolah tidak menghiraukan perintah Mantingan tadi, Chitra Anggini kembali berkata. Namun kali ini, nada bicaranya terdengar lebih bersungguh-sungguh.
“Chitra Anggini!” Mantingan menggeram. “Apakah kau sengaja ingin aku mendengar suara-suara dari kamar saudagar di sebelah kita?”
“Kamu jelas telah salah paham besar. Aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya kepadamu sekarang. Segera ambil pedangmu dan kita keluar dari jendela kamar!”
Ranjang bergoyang pelan. Mantingan menoleh cepat. Rupa-rupanya, Chitra Anggini telah berkelebat pergi! Jendela kamar pun telah terbuka lebar.
Tidak mau sampai kehilangan jejak perempuan itu, Mantingan lekas menyambar Pedang Savrinadeya yang tergeletak di atas meja sebelah ranjang sebelum berkelebat keluar jendela. Menyusul Chitra Anggini di kegelapan malam. Menembus udara dingin yang begitu menusuk hingga tulang-belulang.
Dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, bukan hal yang sulit bagi Mantingan untuk menemukan keberadaan Chitra Anggini. Perempuan itu tengah melesat di atas atap rumah-rumah warga desa. Berlentingan. Dari satu atap ke atap lain. Dengan kecepatan yang telah melebihi dua kali kecepatan suara.
Namun meskipun dengan kecepatan yang sedemikian itu, Mantingan tetap bisa dengan mudah menyusulnya. Bagaimanakah tidak jikalau dirinya dapat bergerak melebihi kecepatan kilat?
Mantingan melempar tatapan pada Chitra Anggini. Dengan kecepatannya saat ini, itu sangat tidak memungkinkan untuk berbicara melalui mulut. Harus menggunakan tatap mata!
Apa yang kaukejar?
__ADS_1
Perempuan itu balas memberi tatap.
Penyusup-penyusup.
Mantingan kembali melempar tatapan.
Arah mana?
Chitra Anggini menjawab, pula melalui tatapan mata.
Depan. Menuju rumah besar itu.
Mantingan menoleh ke hadapan. Sekitar lima ratus langkah di depan sana, memang terdapat rumah yang paling besar di antara rumah-rumah lain. Itulah rumah kepala desa, yang sekaligus digunakan untuk mengurus segala macam kepentingan desa. Di sanalah terdapat sanggar tari, taman penuh permainan anak-anak, dan bahkan pula markas puluhan prajurit pelindung desa.
Prajurit-prajurit itu!
Tepat setelah Mantingan menyadari apa yang diincar oleh penyusup-penyusup itu, terletiklah lelatu-lelatu api dari arah rumah kepala desa!
Pendekar manapun mengetahui bahwa lelatu api yang terpercik di udara tanpa ada wujud benda yang menyebabkannya adalah tanda sedang berlangsungnya pertarungan antara sesama pendekar yang kekuatannya cukup berimbang.
Lantas, adakah pendekar di rumah kepala desa itu? Apakah puluhan prajurit yang ada di sana adalah pendekar berkemampuan?
Mantingan mengangkat lengannya ke arah Chitra Anggini, memintanya untuk tidak gegabah langsung menyerang. Keduanya kemudian bersepakat untuk berhenti berkelebat. Hinggap di salah satu atap rumah warga desa, dengan jarak sekitar lima puluh langkah dari rumah kepala desa. Mereka tiarap bersebelahan.
Sedangkan itu, pertarungan di kediaman kepala desa masih terus berlangsung. Lelatu-lelatu api terus terpercik di segala tempat. Teras, halaman, atap, taman, hingga di dalam kediaman itu penuh dengan kilatan bunga api. Pastilah pertarungan sedang berlangsung dengan teramat sengit. Kedua kekuatan agaknya masih berimbang!
“Kau tahu siapa mereka, Chitra?” Mantingan berbisik pelan.
“Sama sekali tidak tahu.” Chitra Anggini membalas, juga dengan berbisik pelan.
“Lantas mengapa kaukejar mereka?”
“Mereka datang ke desa dengan menyusup. Apalagi jika bukan berniat buruk?”
Mantingan berdecak pelan. “Tidak semua niat buruk mesti kau ladeni.”
“Bagaimana jika mereka membahayakan orang-orang desa yang tiada bersalah?”
__ADS_1
“Apakah mereka terlihat akan membahayakan? Jika sampai sudah begitu, maka kita wajib bergerak untuk melawan, tetapi penyusup-penyusup ini datang hanya untuk menyerang rumah kepala desa. Urusan pendekar biarlah menjadi urusan pendekar. Kita jangan terlalu mudah ikut campur.” Mantingan memberi jawaban telak.