Sang Musafir

Sang Musafir
Pedang Baru Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

MANTINGAN merasa sedikit canggung saat tangan dingin itu menyentuhnya. Bukan tanpa alasan, bukankah Bidadari Sungai Utara sudah memiliki kekasih di Champa? Tidak seharusnya ia mencengkeram tangan orang lain, dan berjalan seolah-olah bergandengan.


Tetapi saat Mantingan menoleh padanya, ia dapat melihat mata Bidadari Sungai Utara yang biasanya lembut kini menunjukkan ketakutan. Mantingan segera memahami keadaan Bidadari Sungai Utara. Gadis itu telah melalui masa-masa yang berat. Seluruh anggota kelompoknya yang ada di pelayaran tewas di tanah Jawa. Meninggalkan bekas luka yang tidak akan pernah hilang.


Tentu saja berada di tengah kerumunan orang seperti ini membuatnya ketakutan bukan main. Ingatan buruknya seolah kembali terkuak. Jika saja Bidadari Sungai Utara berjalan tanpa pegangan, ia akan merasa dirinya berjalan sendirian saja di tengah harimau kelaparan. Kehadiran Mantingan dibutuhkan, maka pemuda itu tidak perlu menganggapnya sebagai masalah.


Mereka berkeliling untuk menemukan barang yang akan dibeli. Beberapa orang menatap curiga penampilan Bidadari Sungai Utara yang dianggap terlalu tertutup, tetapi memilih untuk tidak terlalu mempedulikannya.


Mantingan tidak menemukan toko yang menjual kitab-kitab persilatan. Tidak banyak kitab yang dijual di pasar itu. Hanya ada beberapa toko yang menjual lontar kosong. Namun untuk pedang, Mantingan masih bisa menemukannya.


Pedang yang dijual rerata adalah pedang untuk pajangan. Hanya mementingkan bentuk tanpa peduli soal bobot dan efisiensi. Tetapi ada sebuah pedang bermata dua yang Mantingan pikir paling cocok digunakan pendekar, ia meminta Bidadari Sungai Utara mencobanya.


Bidadari Sungai Utara menerima pedang itu dan mulai menguji keefisienan pedang untuk menyerang. Tak Mantingan sangka bahwa Bidadari Sungai Utara memperagakan sebuah jurus, bukan gerakan biasa, gadis itu tidak main-main mencoba pedang tersebut.


Bidadari Sungai Utara seperti seorang wanita penari. Gerakan tubuhnya lentur, dapat meliuk ke mana saja. Pedangnya bergerak sangat cepat, hampir tidak terlihat, sehingga seolah-olah Bidadari Sungai Utara tidak memegang pedang sama sekali.


Mantingan berdecak kagum. Ia kagum akan keindahan tarian itu, kagum juga pada serangannya. Karena ia tahu, tarian indah itu menyimpan ancaman kematian. Pedangnya yang bergerak dengan cepat, mata seorang pendekar pun akan sulit mengikuti gerakannya.


Tidak hanya Mantingan, bahkan pemilik toko pun berdecak kagum.


Bidadari Sungai Utara menghentikan gerakannya setelah sadar dirinya sedang diperhatikan. Dengan tersipu malu ia lekas mengembalikan pedang itu pada Mantingan.


“Sungguh luar biasa! Daku tidak pernah melihat tarian seindah itu seumur hidupku!” Pemilik toko bertepuk tangan dan bersorak penuh rasa haru. “Pertunjukan yang kau sajikan itu sungguh berharga, daku akan merasa sangat terhormat jika dikau mau membawa pedang itu bersama dalam perjalananmu.”


Mantingan menoleh pada Bidadari Sungai Utara dengan pandangan yang sulit percaya. “Bagaimana Saudari bisa melakukannya?”

__ADS_1


Masih dengan tersipu malu Bidadari Sungai Utara menjawab sederhana. “Ini ilmu yang diturunkan guruku.”


Mantingan menggeleng pelan. Meski ilmu itu diturunkan sekalipun, perlu keahlian untuk menguasainya. Tetapi sekarang ini bukan waktunya untuk banyak-banyak memuji.


“Apakah pedang ini cocok untukmu?” Mantingan bertanya.


“Ya, aku rasa pedang ini tidak terlalu berat juga tidak terlalu ringan. Cukup cocok dengan pedangku yang tertinggal di hutan.”


Mantingan melebarkan matanya pada Bidadari Sungai Utara. Gadis itu sungguh tidak mengetahui jika ucapannya sangat berbahaya. Bidadari Sungai Utara membeliakkan matanya sendiri setelah mengetahui letak kesalahannya.


Pemilik toko tersenyum lebar. “Jika memang pedang Saudari tertinggal di hutan dan kini membutuhkan pedang baru, daku semakin memohon pada Saudari untuk membawa pedang itu dalam perjalananmu. Sungguh pedang itu akan karatan dan tak berguna saja di sini, tetapi di tangan Saudari itu akan mengubah nasibnya.”


Mantingan berdeham beberapa kali sebelum berbalik menghadap pemilik kedai. “Tentu tidak bisa seperti itu, Saudara. Biar bagaimanapun, kami tidak bisa mendapatkan pedang ini secara cuma-cuma.”


“Kalian dapatkan itu bukan dengan cuma-cuma, Saudari ini telah memperlihatkan sebuah pertunjukan yang membuka mataku melihat dunia. Pedang ini aku berikan dengan kehormatanku yang tertinggi. Saudara, Saudari, mohon terimalah!”


“Saudara, maafkan aku jika tidak membayar ini.” Mantingan menyarungkan kembali pedang itu.


“Sungguh tidak ada apa-apanya, Saudara.” Orang itu tersenyum senang.


“Jikalau begitu, kami akan ambil pedang ini. Dan terima kasih banyak atas murah hatinya Saudara.”


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berpamitan dengan pemilik toko sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Bidadari Sungai Utara dengan senang menyoren pedang di pinggangnya. Sungguh ia merasa seperti menemukan jodohnya.


Mantingan meminta Bidadari Sungai Utara mengikutinya menemaninya untuk membeli beberapa keperluan perbekalan seperti daging kering dan sayuran kering, Mantingan juga membeli sekeropak lontar kosong karena persediaan lontarnya semakin menipis.

__ADS_1


Mereka meninggalkan pasar setelah memastikan tidak ada hal lain yang ingin dibeli. Dengan dua kudanya, mereka melaju menghambur debu, melewati padang rumput, menyelinap di antara pepohonan pinus tinggi, naik turun di kawasan perbukitan, sebelum akhirnya sampai di desa persinggahan.


***


Penginapan yang mereka sewa adalah penginapan yang sepi. Sama seperti kedai yang mereka kunjungi siang tadi, sungguh tidak ada orang lain selain mereka berdua. Pusat perhatian pelayanan diarahkan pada keduanya.


Mantingan memesan dua kamar yang bersisian. Satu untuknya, satu lagi untuk bidadari rawa. Sengaja ia pesan kamar yang berdampingan, agar ia bisa tiba tepat waktu tatkala ada masalah.


Bidadari Sungai Utara mengucap terima kasih berkali-kali sebelum masuk ke dalam kamarnya. Mantingan pun masuk ke dalam kamarnya. Di dalam ia berbenah sebentar sebelum mulai menulis lontar.


Kisah yang Mantingan tulis kini mulai masuk pada pertemuannya dengan Bidadari Sungai Utara dan segala sesuatu yang berlangsung di Kedai Purnama Merah. Tak luput nama Pendekar Cakar Emas dan dua pusaka yang gagal dirampas.


Begitu larut Mantingan dalam kegiatannya menulis, hingga lupa waktu. Perut pun jadi tidak terasa lapar, mati rasa. Penalaran akan waktu seakan-akan mati, Mantingan baru sadar waktu ketika sinar mentari pagi menyentuh kulitnya.


Mantingan menghela napas panjang. Kisahnya yang untuk ditulis telah habis. Tidak ada bahan lagi untuk menulis. Ia harus segera membuat sesuatu yang menarik dalam hidupnya, agar bisa ditulis.


Mantingan keluar dari kamarnya, bertepatan dengan itu pintu kamar Bidadari Sungai Utara terbuka. Gadis itu keluar juga dari kamarnya, baru menyadari keberadaan Mantingan saat dirinya menutup pintu. Dari yang terlihat, bidadari rawa itu membawa bundelan dan pedangnya.


Mantingan sedikit heran, ia bertanya ramah. “Saudari Sungai mau ke mana?”


Agak terbata-bata Bidadari Sungai Utara menjawab, “A-aku ingin mandi di bawah.”


____


catatan:

__ADS_1


Mulai besok update akan kembali normal, akhir-akhir ini kesibukan saya bertambah. Untuk teman-teman, tetap semangat dan jangan lupa tersenyum!


__ADS_2