Sang Musafir

Sang Musafir
Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbalik


__ADS_3

“Di sinilah.”


PENDEKAR bertopeng putih itu menunjuk sebuah ayunan yang tergantung di ujung buritan. Ayunan tersebut terus bergoyang seiringan dengan gerakan kapal yang terbuai lautan ombak.


“Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbalik sebenarnya lebih dikhususkan untuk menghukum awak kapal yang kedapatan berbuat salah. Siksaannya amat sangat pedih di sini.”


“Pernahkah engkau mencobai ayunan itu, Saudara?” Mantingan bertanya sambil menoleh.


“Pernah, sudah lama sekali. Tetapi, lebih baik dilupakan saja ingatan buruk itu.” Pendekar itu tetap berujar dengan suara datar. “Saudara, naiklah ke ayunan itu. Biar daku yang mengayunkannya.”


Mantingan menganggukkan kepala, namun sebelum itu ia kembali bertanya, “Kiranya berapa lama?”


“Cukup sepeminuman teh sahaja, itu sudah cukup untuk memberikan dampak yang luar biasa.”


Tanpa berkata-kata lagi, Mantingan berjalan menghampiri ayunan tersebut. Memandangi ratusan kapal sejauh mata memandang dengan berlatarkan langit fajar yang keunguan, Mantingan menaiki ayunan tersebut.


“Biarlah kubantu memasangkan pengamannya, Saudara.” Pendekar bertopeng putih itu menarik seutas tali tebal di bawah kursi ayunan sebelum mengikatkannya pada Mantingan.


Mantingan sedikit mengernyitkan dahi. Meskipun ayunan tersebut terletak di ujung buritan, tetap saja kecil kemungkinannya jika seseorang sampai terjatuh ke lautan gegaranya. Untuk apakah diperlukan tali pengaman?


“Baiklah, Saudara, apakah engkau sudah siap?”


“Diriku telah siap, Saudara. Ayunkanlah perlahan-lahan dahulu.”


Pendekar itu kemudian menarik kedua tali ayunan jauh ke belakang sebagai persiapan untuk mendorongnya kembali ke depan. Mantingan sama sekali tidak merasa ketakutan, justru sedikit timbul rasa senang dalam benaknya. Betapa pun, bukankah bermain ayunan itu begitu menyenangkan?


Mantingan teringat masa kecilnya, ketika ia masih bisa tertawa lepas di atas ayunan bersama teman-temannya. Itu amat sangat jauh sebelum dirinya mengenal dunia persilatan yang sepi tak berkawan. Bahkan kini salah satu orang yang dapat ia sebut sebagai kawan, telah mati terbunuh di jalan persilatannya.


Seketika lamunan Mantingan buyar ketika dirasakannya dirinya terempas ke depan dengan begitu kuatnya. Mantingan mencengkeram kedua tali ayunan, takut terjatuh, meski telah mengetahui bahwa ada tali pengaman yang mencegahnya terlempar ke lautan.


Mantingan melihat seolah segalanya bergerak dengan amat sangat cepat. Pertama dilihatnya lautan luas, lalu dilihatnya langit yang tiada kalah luasnya, dan kemudian dilihatnya lantai kapal!

__ADS_1


Ini lebih dari sekadar ayunan; ini adalah putaran!


Ayunan yang ditumpangi Mantingan berputar-putar dengan amat sangat cepat. Dari bawah ke atas, bergerak lagi ke bawah. Begitulah seterusnya.


Mantingan menahan diri untuk tidak berteriak. Sebab ia tahu benar-benar, sekali mulutnya terbuka maka keluarlah sudah isi lambungnya.


“Tahanlah sebentar, Saudara. Hanya sepeminuman teh saja.”


Mantingan pula menahan diri untuk tidak mengumpat sekalipun hanya di dalam benak saja. Jika ia tahu bahwa dirinya bukan diayun-ayunkan, melainkan diputar-putarkan seperti ini, sudah sedari awal Mantingan akan menolaknya.


Bidadari Sungai Utara memandangi Mantingan dengan tatapan iba. Ayunan itu berputar selayaknya baling-baling yang tertiup angin badai, sama sekali tidak tampak seperti sebuah ayunan pada umumnya. Gadis itu tidak dapat membayangkan apa jadinya jika dirinyalah yang ada di sana.


“Ini demi kebaikannya.” Ikan Terbang berjalan ke samping Bidadari Sungai Utara sambil tertawa pelan. “Setelah mencicipi Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbaik, daku yakin dirinya bahkan mampu menaklukkan badai besar.”


“Apakah itu tidak akan mengganggu kesehatannya, Tuan Nakhoda?” Giliran gadis itu yang membuka mulut di balik cadarnya.


“Bagi orang biasa, putaran ayunan itu bisa menyebabkan maut, tetapi Saudara Man adalah pendekar ahli. Ini tidak akan berpengaruh terlalu besar bagi kesehatannya. Ya, kecuali pada perut dan nafsu makannya.”


Namun, Ikan Terbang tiba-tiba saja menghela napas panjang.


“Tuan Putri, mestikah dikau bertindak sampai sejauh ini?”


Bidadari Sungai Utara terdiam barang sejenak. Seolah saja memberikan kesempatan pada ombak dan angin untuk bersuara. “Daku memang harus melakukan ini, cintaku bukanlah kepadanya.”


“Sebegitukah dirimu menganggungkan cinta, Tuan Putri?” Kembali bertanya Ikan Terbang. “Dalam permainan kekuasaan, apalah itu arti cinta, bukan?”


“Diriku hanyalah seorang anak perempuan yang tidak pernah sekalipun diakui ayahanda, haruskah daku sudi menuruti permintaannya?” Bidadari Sungai Utara menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Mantingan barang sedikitpun.


“Tuan Putri, daku tahu benar bahwa tidak seharusnya orang rendah sepertiku ini menasihatimu. Tetapi jika boleh kuungkapkan ....”


“Ungkapkanlah saja, Tuan Nakhoda.”

__ADS_1


Ikan Terbang menarik napas panjang. “Tuan Putri, kutahu bagaimana setiap manusia memiliki perasaan yang patut dihargai. Akan tetapi dalam perkara kekuasaan seperti ini, amat tidak baik jika Tuan Putri lebih mengedepankan perasaan. Andaikata pernikahan Tuan Putri dengan putra raja itu dibatalkan ... maka boleh jadi negerimu tidak luput diserang oleh negerinya. Ayahandanya, yang juga selaku raja dari negerinya, akan marah jika pernikahan putranya dibatalkan.”


Kali ini Bidadari Sungai Utara terdiam tanpa bersuara lagi. Terus ditatapnya Mantingan yang tengah berputar-putar bersama ayunan yang ditumpanginya. Gadis itu kemudian menghela napas panjang.


Percintaan yang dialaminya sungguh tidak wajar.


Bagaimanakah kiranya tak dikatakan tidak wajar jikalau dirinya merupakan pendekar sekaligus putri dari seorang raja yang sama sekali tiada boleh mengalami percintaan?


Dalam kependekaran dan permainan kekuasaan, cinta dilarang agar tidak terjadi pertumpahan darah. Tetapi kini, kedua hal tersebut dilanggar sekaligus oleh Bidadari Sungai Utara.


***


SELURUH dunia terbalik rasanya. Mantingan terombang-ambing tak tentu arah di tengah-tengah luasnya lautan tak berujung. Kasur yang ditindihinya serasa bisa menelannya kapan saja.


Sekali lagi Mantingan memuntahkan isi perutnya keluar jendela kapal. Telah banyak kali ia muntah sedari siang tadi. Tak ada makanan yang diasupinya, maka yang dimuntahkan itu hanyalah cairan. Siapakah kiranya yang bernafsu makan dalam keadaan seperti itu?


Melihat silaunya sinar mentari senjakala, Mantingan menarik kepalanya kembali ke dalam bilik. Entah mengapa, penglihatannya jadi lebih peka terhadap cahaya setelah mencicipi dahsyatnya penyiksaan di Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbalik.


Bukan nama yang sembarang ayunan itu. Bagi dirinya, bumi terasa berjungkir balik. Dan andaikan tidak ditahan, maka air matanya akan merembes keluar. Sungguh hebat siksaan yang dialaminya sekarang.


“Boleh daku masuk, Mantingan?”


Didengarnya suara Bidadari Sungai Utara yang meskipun tidak terlalu jelas di telinganya tetapi masih bisa ditangkap maksudnya.


Mantingan mengeluarkan suara, yang sama saja tidak jelasnya. Ia tak tahu, mungkin saja yang keluar dari mulutnya itu hanyalah gumaman tiada berarti.


Pintu kamar berderit, Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam kamarnya.


“Bagaimanakah keadaanmu saat ini, Mantingan? Daku membawakanmu ramuan yang mungkin saja mujarab mengobati rasa mualmu itu. Tolong diminumlah.”


Mantingan tidak sanggup untuk bangkit duduk. Bahkan untuk mengangkat kepalanya saja, itu dibutuhkan upaya yang besar. Bidadari Sungai Utara pun segera bergerak membantu.

__ADS_1



__ADS_2