
MEREKA MELANJUTKAN perjalanan. Lorong semakin mengecil, mereka harus menunduk untuk tetap berjalan. Jantung Bidadari Sungai Utara di belakangnya berdebar-debar kuat, ia berkeringat dingin, ruangan sempit merasa dirinya terjebak. Jika saja ia tidak mengatur napas dan mengatur diri, mungkin ia akan berteriak keras dan berlari seperti orang gila.
Mantingan sudah terbiasa dengan ruangan sempit seperti lorong ini. Tiga tahun lamanya ia tinggal di dalam gua. Bebatuan seolah sudah jadi sahabatnya. Dan kegelapan tidak lagi menakutkan baginya.
“Mantingan, bolehkah aku melepas cadar dan jubahku?”
Mantingan melirik ke belakang sejenak dan tertawa. “Di sini tidak ada orang lain yang melihatimu selain aku. Kecuali laba-laba dan hewan-hewan di dalam gelap.”
Bidadari Sungai Utara mendesis. “Jangan menakut-nakutiku seperti itu, kau tahu aku tidak suka kegelapan dan ruang sempit ... dan laba-laba.”
Sekali lagi Mantingan tertawa. “Aku tidak berniat menakut-nakutimu, maaf jika kau merasa takut karenaku.”
Bidadari Sungai Utara sedikit mendumal sambil melepas cadarnya. Ia menghirup napas panjang untuk menikmati udara goa yang pengap dan lembab. Tiba-tiba, ia kembali merasa cemas.
“Sampai kapankah kita berjalan di dalam sini, Mantingan?”
Mantingan membutuhkan waktu untuk membalas. Memang tidak mudah memperkirakan sampai berapa lama mereka menemui ujung dari lorong panjang ini. Bahkan ada sedikit risiko mereka tersesat dan terjebak.
“Untuk saat ini, aku tidak tahu pasti. Mungkin sekitar satu sampai dua hari. Namun di dalam gua seperti ini, kita bisa lupa waktu karena tidak ada sinar matahari.”
Raut wajah Bidadari Sungai Utara berubah. “Mengapa kita hanya bawa satu obor saja?”
Mantingan melebarkan matanya. Sungguh ia lupa memperhitungkan hal itu. Jika saja minyak dan kapas obor telah habis, maka kegelapan akan memangsa mereka. Sungguh berbahaya, tanpa cahaya, bukan tidak mungkin hewan buas yang akan menyerang mereka.
“Lalu bagaimana?” tanya Bidadari Sungai Utara kembali.
Sekali lagi. Sekali lagi Mantingan membutuhkan waktu untuk menjawab. Ia tidak memiliki kayu, tidak juga memiliki kapas. Jika seandainya saja Mantingan dapat menggunakan kain baju sebagai pengganti kapas, maka hal itu pasti ia lakukan. Tetapi, dari manakah minyak dan kayu bisa didapatkan? Di dalam lorong berbatu ini, hampir tidak ada tumbuhan yang hidup, kecuali serabut-serabut akar kecil yang jarang terlihat. Sudah kecil, jarang terlihat pula, itulah yang merepotkan.
Sampai entah bagaimana Mantingan mendapatkan ilham, yang benar-benar tidak diduga olehnya. Ia ingat, bahwa pendekar penyihir bisa menciptakan manteranya sendiri. Walau itu sangat sulit dan tingkat keberhasilannya kecil, Mantingan akan tetap berupaya. Inilah satu-satunya harapan; membuat mantera cahaya.
__ADS_1
Mantingan memutuskan berhenti dan duduk, ia juga meminta Bidadari Sungai Utara untuk ambil rehat sejenak dan bebas melakukan apa saja asalkan tidak membahayakan. Tentu Bidadari Sungai Utara tidak bergerak ke lain tempat selain ke samping Mantingan.
Mantingan mengeluarkan selembar Lontar Sihir kosong, ia mengambil pengukir lontar yang terbungkus rapi oleh daun kelapa kering—agar tidak rusak. Mantingan memulai percobaan, dengan menyusun kata-kata menyerupai mantera dalam aksara Pallawa. Bidadari Sungai Utara memperhatikannya.
***
Puluhan baris kalimat telah Mantingan ciptakan, tidak satupun yang mengeluarkan imbas sihir. Mantingan mulai resah sebab obor mulai menunjukkan tanda-tanda yang kurang baik: apinya meletup-letup pelan, bergoyang-goyang walau tiada angin, sinarnya mulai meredup. Sedangkan mantera cahaya belum juga tercipta.
Saat-saat seperti itu, Bidadari Sungai Utara mencoba menghibur. “Kau pandai menyusun kata-kata dengan indah, Mantingan, walau tulisanmu agak berantakan.”
Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tulisan yang berantakan adalah ciri khasnya. Berantakan karena ia sering menulis. Sebelum Mantingan mulai menulis kisah perjalanannya, tulisannya tidak seberantakan ini. Mantingan tersenyum sejenak sebelum kembali menggurat aksara.
Sang pemberi kehidupan
Wahai sinar mentari
Muncullah dan berikan cahaya
Lontar Sihir yang Mantingan selesai ukirkan baris aksara mulai menunjukkan tanda-tanda. Mantingan girang bukan main saat perlahan demi perlahan ukiran aksaranya menyatu dengan badan Lontar Sihir—itulah tanda-tanda jika mantera berhasil dibuat. Tetapi belum semua aksara bergabung, pergerakan itu sudah terhenti. Mantingan menunjukkan raut wajah kecewa saat ia memperhatikan kembali Lontar Sihir-nya.
Baris kalimat kedua adalah sekumpulan aksara yang tidak menyatu dengan badan Lontar Sihir. Lamat-lamat Mantingan tatap. Ada yang salah. Mantingan tahu itu. Ada yang salah dengan baris kalimat kedua. Bukan salah dalam penulisan, tetapi salah dalam arti yang terkandung.
Sang pemberi kehidupan
Wahai sinar matahari ....
Di situlah letak kesalahannya. Bukan sinar mentari yang memberi kehidupan. Bukan dia. Tetapi Dia. Sang Gusti. Sekalipun matahari dengan sinarnya menumbuhkan pepohonan, tetapi yang menjadi persoalan adalah siapa yang menciptakan matahari itu.
Gusti. Yang mengatur semua dengan cermat. Teratur alam semesta atas izin-Nya. Dan kacau alam semesta atas izin-Nya. Ia menciptakan matahari, bulan, dan segala benda yang menggantung di langit. Tak satupun luput dari pandang-Nya bahkan sehelai daun sekalipun. Dialah Sang Penghidup. Bukan matahari.
__ADS_1
Mantingan mengambil Lontar Sihir baru yang kosong. Ia ubah kata-katanya yang artinya benar.
Sang Penghidup
Sang Penerang
Wahai Gusti
Sang Penguasa
Langit dan bumi
Matahari, bulan, dan bintang
Atas izinnya cahaya menerangi semut di malam hari
Dalam arti sebenarnya atau tidak dalam arti sebenarnya.
Lontar Sihir menunjukkan tanda-tanda. Seluruh aksara menyatu dengan badan lontar secara bersamaan. Luar biasa. Tidak ada mantera yang begitu cepat menyatu dengan inangnya, terlebih secara bersamaan.
Bidadari Sungai Utara memandangi Mantingan dengan tatapan tidak percaya. Sihir adalah hal yang biasa di tanah Champa, sihir di Champa lazim menjadi mainan anak-anak. Maka ia tahu betul betapa mantera sihir buatan Mantingan begitu cepat penyatuannya. Tetapi bukan itu saja yang ia kagumi, lebih besar rasa kagumnya pada kalimat yang dihasilkan Mantingan.
“Mantingan, kalimat yang kaususun itu sungguh ....” Bidadari Sungai Utara tidak mampu berkata-kata lagi.
Mantingan menunjukkan senyumnya. “Sedari tadi aku salah membuat kalimat, sekarang sudah benar. Maafkan aku jika membuatmu menunggu lama.”
“Apa yang membuatku terburu-buru di dalam gua hening yang seakan tak berujung ini?” Bidadari Sungai Utara diam sejenak untuk membuktikan keheningan gua. Mantingan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung. “Tetapi, Mantingan, kalimat yang kau tulis tadi itu sangat-sangat mengesankan. Kau bisa mencari titik kesalahan dan memperbaikinya dengan sangat cepat, aku hampir tidak percaya ada pendekar ahli sihir yang berhasil menciptakan mantera di dalam gua sempit seperti ini.”
Memang yang dikatakan Bidadari Sungai Utara itu ada benarnya. Biasanya, seorang pendekar ahli sihir akan pergi ke tempat yang tenang untuk menciptakan mantera sihir baru. Itu saja banyak yang tidak berhasil. Sedangkan Mantingan, dalam kondisi tertekan seperti saat ini masih bisa menciptakan mantera sihir baru dengan sempurna.
__ADS_1
Perempuan mana yang tidak terkesan?