Sang Musafir

Sang Musafir
Suara Benturan dan Kelebatan


__ADS_3

EMPAT PELANCONG yang mengambil tempat duduk di meja sudut itu saling berpandangan sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Mereka kemudian mengeluarkan beberapa keping emas dari kantungnya masing-masing ke atas meja.


“Kami empat puluh keping emas,” kata salah seorang dari mereka dengan nada dingin.


“Apakah teman kalian yang bersembunyi di dalam bayang-bayang itu tidak akan ikut dalam pertempuran?” Mantingan membalas dengan nada dingin pula.


Muncul gelak ketawa yang kemudian disusul dengan kemunculan seseorang berpakaian serba hitam dari bayangan di sudut ruangan itu. “Itu sudah termasuk bagianku,” katanya lalu.


Mantingan kemudian beralih pandang menuju sepuluh Pasukan Topeng Putih yang masih duduk di tempatnya. Mereka terlihat mengeluarkan sejumlah keping emas ke atas meja.


“Dari kami empat puluh keping,” kata salah satunya pada Mantingan.


Mantingan melempar lima keping emas lainnya ke atas meja. “Uang pengobatan jika ada orang tak bersalah yang terluka akibat ini.”


Setelah Mantingan berkata, berdirilah seluruh pendekar yang ada di lantai pertama kedai itu. Kecuali, tentu saja, bapak pemilik kedai. Apakah dia adalah pendekar atau orang awam memang masih remang-remang dan sangat tidak mudah terbaca.


Sepuluh pendekar dari Pasukan Topeng Putih; enam pendekar kawakan dari jaringan bawah; dan Mantingan. Mereka saling bersitatap. Hendak mencari tahu, siapakah yang terlebih dahulu memulai penyerangan.


Suasana menjadi hening. Kecuali suara serangga malam di luar sana. Sisanya, benar-benar hening. Bahkan deru napas pun tak terdengar. Bagaikan yang mengisi ruangan itu bukanlah makhluk bernyawa!


Setelah sekian lama, lima orang berpakaian seperti pelancong itu berpikir bahwa Mantingan akan menjadi orang pertama yang menyerang, sehingga mereka telah menyiapkan diri untuk menghadapi serangan Mantingan. Namun dugaan mereka ternyata salah.

__ADS_1


Ketika mereka sedang beradu tatap dalam keadaan yang kian menegang, ketika itulah muncul suara benturan yang teramat keras, disusul dengan suara kelebatan angin. Siapa pun yang ada di ruangan itu jelas mengetahui bahwa suara-suara itu dihasilkan oleh seorang pendekar!


Tetapi pendekar seperti apakah kiranya yang telah menghasilkan suara benturan dan kelebatan itu? Musuh ataukah kawan? Dari mana pula dirinya bergerak dan akan bertujuan? Sampai di manakah tingkat keahliannya?


Akibat keterangan yang masih belum pasti itulah, seluruh pendekar di lantai pertama, termasuk Mantingan, bergerak menghindar. Ada yang melompat ke belakang, ke samping, ke depan, atau bahkan ke atas.


Mantingan sendiri bergerak ke samping dengan Pedang Kiai Kedai yang masih dalam keadaan tersarung. Di balik bayang-bayang caping, matanya bergerak cepat untuk melihat ke sekitar.


Dalam gerakan yang teramat lambat di matanya, Mantingan menangkap sosok Bidadari Sungai Utara sedang melayang-layang di tengah ruangan. Pedang Merpati Haus Darah miliknya dihunuskan ke arah lima pendekar musuh.


Betapa kemudian Mantingan mengetahui bahwa gadis itu tengah bergerak dalam kecepatan yang sangat tinggi Bahkan dalam penglihatannya gerakan itu amat sangat lambat sekalipun, tubuh Bidadari Sungai Utara masih tampak kabur, yang mengartikan bahwa dia bergerak dengan sedemikian cepatnya. Mustahil jika serangan itu sampai meleset dari sasarannya.


Hingga kemudian terjadilah benturan antara Bidadari Sungai Utara dengan seorang pendekar bertampang seperti pelancong itu. Dua senjata beradu. Dari benturan itu tercipta bunga api yang menyebar ke penjuru ruangan, disusul dengan suara dentang logam yang memekakkan telinga.


Mantingan pun berhenti untuk memandangi Bidadari Sungai Utara. Gadis itu masih memasang cadarnya, namun tidak dengan capingnya. Maka terpampanglah rambutnya yang hitam lebat itu. Pakaiannya telah berganti dengan pakaian yang sedikit lebih rapat, ketat, dan hitam. Mungkin dilakukannya agar tidak mengganggu ruang gerak serta mampu menyamarkan keberadaannya dengan kegelapan malam.


“Bidadari Sungai Utara!” sorak pendekar yang baru saja diserang gadis itu. “Engkau telah memudahkan pekerjaan kami, hahahaha!”


Gadis itu tidak menjawab melainkan menatap orang itu dengan begitu tajamnya.


“Aduh, tatapan dikau cantik sekali!” sahut pendekar yang selalu bernada keperempuanan jika berbicara, “pantas saja tubuh dikau dihargai sangat mahal, andai saja diriku sama seperti dikau.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara tidak pula menjawab. Pedangnya tetap terhunus ke arah musuh. Bilahnya berkilauan diterpa cahaya lampu obor yang tergantung di dinding ruangan.


Mantingan pun tetap terdiam. Kali ini ia membiarkan gadis itu melakukan apa saja yang dikehendakinya. Sepuluh pendekar dari Pasukan Topeng Putih pun berpikiran serupa.


“Mereka agaknya terlalu mudah untuk kita hadapi, Pahlawan Man. Setelah kulihat pertukaran serangan antara Bidadari Sungai Utara dengan salah seorang dari mereka.” Seseorang mengirimnya bisikan angin.


Mantingan menganggukkan kepalanya dan membalas bisikan angin itu. “Biarkan saja mereka dihadapi Bidadari Sungai Utara.”


“Saudara Man, kami sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkan pertarungan ini ....”


Menanggapi itu, Mantingan hanya bisa tersenyum canggung. Uang hasil patungan itu pastilah akan terpakai untuk biaya perbaikan. Sebab meskipun Bidadari Sungai Utara berkemungkinan besar mampu mengungguli lawannya, tetapi tetap saja lawan-lawannya itu bukanlah pendekar yang baru jadi kemarin sore. Jika sampai terjadi pertarungan, maka telah pasti itu akan tetap merusak sedikit atau banyak bangunan kedai.


Kesepuluh Pasukan Topeng Putih duduk di bangkunya masing-masing. Kembali mengangkat cangkir berisi tehnya.


“Engkau tidak ingin minum teh, Pahlawan Man?”


Mantingan melirik ke belakang. Bapak pemilik kedai memberi tanda kepadanya untuk mendekat. Ketika Mantingan menghindar, ternyata ia bergerak ke arah meja pemesanan yang ditempati bapak pemilik kedai.


“Tidak, Bapak.” Mantingan menolak dengan halus. Ia merasa masih perlu mengawasi dan menjaga Bidadari Sungai Utara, sehingga dirinya dapat bertindak segera jika sampai terjadi sesuatu pada gadis itu.


Saat itulah Bidadari Sungai Utara mulai membuat pergerakan.

__ADS_1



__ADS_2