
“Sepekan yang lalu, lebih dari lima ribu prajurit dari Kerajaan Koying datang dan mengepung Lembah Balian. Tidak ada jalan keluar bagi Tapa Balian. Lima ribu prajurit itu dilengkapi pula oleh ratusan pendekar ahli pedang, pendekar ahli sihir, dan pendekar ahli Golek Jiwa. Tapa Balian menyerahkan diri bersama cucunya, dibawa ke Kerajaan Koying untuk memecahkan mantra sihir yang melindungi Sepasang Pedang Rembulan.”
MANTINGAN menahan napas ketika Kartika mulai menjelaskan. Baginya ini sungguh menegangkan!
“Mereka memperingatkan Tapa Balian untuk menyerahkan diri beserta Sepasang Pedang Rembulan. Tenggat waktunya hanya sampai tiga hari. Jika itu terlampaui, maka seluruh prajurit Koying akan menyerang kediamannya dengan kekuatan penuh. Tapa Balian tidak memiliki pilihan lain. Betapa pun, dia tahu bahwa cucunya akan mati terbunuh atau paling tidak disandera jika terjadi penyerangan. Dengan kekuatan musuh sebanyak itu, Tapa Balian tidak akan bisa keluar hidup-hidup.”
“Mengapa mereka mengepung Lembah Balian?” Mantingan menggeram, ia kemudian mengulangi pertanyaannya lagi, “mengapa pasukan Koying mengepung Lembah Balian?”
“Demi mendapatkan pusaka itu.” Kartika menjawab dengan kesan datar.
“Tapa Balian bekerja di bawah salah satu bangsawan yang ada di Koying, mengapa mereka mesti menangkapnya?” Mantingan kembali bertanya dengan sedikit banyak amarah yang tersisa dalam benaknya. “Mengapa mereka tidak memintanya baik-baik?”
“Mereka sudah memintanya baik-baik,” balas Kartika, “tetapi barang tentu Tapa Balian menolaknya.”
Mantingan tertegun barang sejenak. Tentu saja Tapa Balian akan menolaknya. Pusaka itu dapat menyebabkan kekacauan di dunia persilatan untuk yang kedua kalinya setelah terlepas dari tangan Pendekar Pedang Lurus. Mandat dari Kiai Kedai untuk menjaga sepasang pedang itu juga tidak akan dengan sedemikian mudahnya Tapa Balian ingkari.
Sepintas terpikirkan di dalam benak Mantingan, apakah ini dipicu oleh segala perkara yang menyangkut wibawa Pemangku Langit?
“Mengapa Kerajaan Koying yang sedemikian besar dan hebatnya itu merasa perlu memiliki Sepasang Pedang Rembulan?” Mantingan kembali mengajukan pertanyaan. “Apakah ini dipengaruhi oleh Pemangku Langit?”
Kartika mengangguk cepat. “Ya. Seorang bangsawan Koying yang berbakat dalam persilatan menginginkan wibawa Pemangku Langit. Dia berjanji kepada raja akan banyak menguntungkan Kerajaan Koying jika dirinya berhasil menggapai wibawa Pemangku Langit, raja menyetujui hal itu dan bersedia membantunya. Namun, bangsawan itu bukanlah pendekar terbaik dari yang terbaik, akan selalu ada pendekar lain yang dapat mengalahkannya dengan mudah. Maka boleh daku katakan, dia sama sekali tidak pantas mendapatkan wibawa Pemangku Langit, dan mungkin dirinya juga menyadari hal itu.”
Dugaan Mantingan rupanya benar dan sekali lagi dirinya menebak, “Dan untuk itulah dia ingin merebut Pedang Sepasang Rembulan?”
Sekali lagi Kartika menganggukkan kepalanya. Tampak segurat kecemasan di wajahnya. “Senjata itu harus direbut kembali ....”
__ADS_1
“Lalu menjadi milik kelompokmu?” Mantingan memotong tajam, setajam tatapannya.
“Perguruan kami hancur karena pusaka itu.” Kartika balas menatap pemuda di depannya itu tajam. “Kami berhak memilikinya.”
“Itu hanya alasan untuk kalian mengharu-biru dunia persilatan, menyebabkan banyak orang tak bersalah kehilangan nyawanya.” Mantingan maju selangkah mendekati Kartika dengan membawa hawa menakutkan. “Jika memang begitu kemauanmu, maka daku bersumpah untuk menghentikanmu dengan segala macam cara, tetapi jika bukan maka berilah bantahan yang dapat kuterima dengan akal sehat!”
Tidak tampak sama sekali bahwa Kartika merasa gentar. “Daku hanya tidak ingin pusaka itu jatuh ke tangan yang salah. Jika Tapa Balian tidak mampu melindunginya, maka biarlah kami yang mengambil tugasnya.”
“Kalian adalah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam jaringan bawah tanah dunia persilatan. Senjata itu dapat kalian kehendaki untuk segala macam urusan yang buruk.”
“Tidak semua perkumpulan rahasia bertujuan untuk hal-hal yang buruk.” Kartika semakin menajamkan tatapannya. “Kelompok Penari Daun hanya menginginkan keadilan atas apa yang menimpa perguruan kami.”
Mantingan melipat dahi. “Bukankah Pendekar Pedang Lurus telah mati di tangan guruku yang sungguh telah bekerja sama dengan kalian? Lantas, dendam seperti apakah yang kalian pertahankan hingga saat ini?”
“Selama senjata itu masih berada di tangan pendekar yang dapat menyebabkan kekacauan di dunia persilatan, maka dendam kami akan terus membara.”
“Sehari sebelum kabar tentang pengepungan Lembah Balian terdengar, Kelompok Penari Daun sebenarnya hendak kububarkan. Tugas terakhir kami adalah mencari dan membunuhmu, Mantingan, tetapi engkau menghilang tak tentu rimba, bagai habis ditelan bumi.
“Setelah berbulan-bulan mengalami kebuntuan, kami putuskan untuk mengakhiri tugas tersebut meski harus berbuah kegagalan. Itu menjadi satu-satunya tugas bayaran yang tidak dapat kami tuntaskan.”
“Tugas bayaran?” Mantingan sedikit mengecilkan suaranya guna meredakan ketegangan, ia tahu bahwa pertanyaannya mungkin akan menyinggung wanita itu.
Kartika mengangguk satu kali. “Daku ingin membekali anak-anak asuhku dengan uang sebanyak-banyaknya sebelum kelompok kami bubar. Bayaran untuk kepalamu cukup besar, daku tidak kuasa untuk menolaknya meski tahu bahwa kemampuanmu sama besarnya dengan harga kepalamu.”
Mantingan tersenyum canggung—itulah senyum pertamanya di tempat ini. “Saat daku tak sadarkan diri, mengapa tidak dikau tuntaskan saja tugas itu?”
__ADS_1
“Karena itu bukan lagi menjadi tujuan kami.” Kartika menggeleng. “Lagi pula kami, terkhususnya diriku, telah berutang banyak kepadamu.”
Mantingan berdeham beberapa kali, ia putuskan untuk sedikit mengembalikan pokok pembahasan awal. “Seperti ini, Kartika. Mungkin niatmu dan kelompokmu memang benar-benar baik, tetapi diriku tidak dapat percaya begitu saja tanpa pembuktian yang kuat. Selain itu, untuk sepasang Pedang Purnama, daku merasa bahwa pusaka itu jauh lebih baik jika disimpan oleh guruku.”
“Pada awalnya, daku juga berpikir seperti itu.” Kartika menarik napas panjang. “Tetapi tidak bisa. Kiai Kedai sedang berada di luar Dwipantara, tepatnya di Champa, memastikan pernikahan Bidadari Sungai Utara berjalan sebagaimana mestinya.”
Demi mendengar nama Bidadari Sungai Utara, Mantingan bagai tersambar petir. Kaku di tempatnya berdiri.
“Seharusnya beliau telah pulang ke Javadvipa saat ini, sebab angin barat telah datang, tetapi dirinya tidak kunjung kembali hingga sekarang. Kami harus mengambil tindakan. Betapa pun, Kiai Kedai telah berpesan kepada kami untuk selalu memasang kewaspadaan terhadap senjata itu.”
Kini justru Mantingan yang menarik napas panjang. Untuk sementara, ia harus mengesampingkan keterkejutannya mengenai pernikahan Bidadari Sungai Utara.
“Mengapa dikau tidak mengatakannya sejak awal? Jika guruku telah berpesan seperti itu, barang tentu dirinya telah memberimu kepercayaan untuk menjaga pusaka itu.”
“Hubungan kami hanyalah tinggal masa lalu, ditambah dengan kami yang memburu dikau untuk kemudian kami bunuh, mungkin pemahamannya terhadap kami telah berubah banyak sekarang.”
Mantingan tersenyum tipis. Andaikata tidak diingatnya Bidadari Sungai Utara, maka mungkin saja ia telah tertawa lepas saat ini, atau paling tidak sekadar tersenyum lebar. “Seandainya daku tidak memutuskan untuk hilang dari dunia persilatan, mungkin pertemuan seperti ini tidak akan terjadi.”
Kartika mengangguk sambil tertawa pelan. “Barang tentu, sebab kami semua telah habis di tanganmu.”
___
catatan:
Saya tahu bahwa banyak sekali kekurangan di dalam karya saya. Saya akan terus memperbaikinya, sedapat dan sebisa mungkin. Terima kasih telah mendukung hingga sejauh ini. Berkemungkinan besar, ini adalah bulan terakhir Sang Musafir.
__ADS_1