
“Kitab Teratai yang tengah marak beredar adalah kitab yang dipalsukan. Bukan lagi kitab sejati. Namun di tangan Trika sekarang ini, adalah kitab sejati, walaupun ini adalah kitab terjemahan. Orang yang menterjemahkan kitab ini bukanlah orang sembarangan dan tidak perlu diragukan lagi keaslian kitabnya. Kami menjadi salah satu yang beruntung, telah mendapatkan terjemahan Kitab Teratai yang terbatas. Kini setelah selesai mempelajarinya, kami memutuskan untuk melelangnya. Mengingat Kitab Teratai sangatlah berharga, kami membuka harga mulai dari 800 keping emas!”
SESAAT SETELAH Trika berucap, terdengarlah sahutan-sahutan dari hadirin tamu lelang. Seolah tidak mau melewatkan kitab yang satu itu.
“Delapan ratus!”
“Delapan ratus lima puluh!”
“Sembilan ratus!”
Kini yang menawar hanya hadirin tamu istimewa, sebab harga tidak lagi dapat dijangkau oleh tamu kalangan bawah.
“Seribu!” Kini Mantingan-lah yang menyahuti, menjadi penawar satu-satunya yang tidak berasal dari tamu istimewa, ia merasa perlu mendapatkan kitab itu. Mungkin saja dengan Kitab Teratai, Racun Tidak Bernama bisa disembuhkan. Atau hanya sekadar mengurangi penyesalan dalam hidup jika ia mati, dengan menjalani hidup yang seimbang.
Namun sepertinya, memang tidak mudah untuk mendapatkan kitab seberharga Kitab Teratai. Tamu istimewa lainnya menawar dengan harga lebih tinggi ketimbang harga yang ditawarkan Mantingan.
“Seribu seratus!”
Mantingan kembali bersahut, “Seribu dua ratus!”
“Seribu empat ratus!”
Yang lain membuat penawaran tinggi. “Dua ribu!”
Mau tidak mau, Mantingan haru memasang harga yang lebih tinggi lagi. “Dua ribu seratus!”
“Dua ribu lima ratus!”
“Dua ribu enam ratus!”
__ADS_1
Hanya Mantingan dan seorang tamu istimewa saja yang saling memperebutkan Kitab Teratai, sedangkan tamu istimewa lainnya tampak kehabisan uang.
“Tiga ribu!” Tamu itu memelototi Mantingan dengan tajam, dadanya naik turun dengan cepat.
Mantingan tidak peduli dengan tatapan yang tampak mengancam itu, ia tetap meneruskan penawaran.
“Tiga ribu lima ratus!”
Terdiam cukup lama. Keduanya terdiam. Tamu-tamu pun terdiam. Bahkan penonton pun ikut terdiam. Menahan napas, menunggu apakah tamu istimewa itu akan memasang harga lagi atau tidak.
Tamu istimewa yang merupakan pria parobaya itu memukul meja di hadapannya. Tatapannya menatap Mantingan dengan tajam dan bengis. Dia memang tidak mengucap sepatah kata pun yang mengancam Mantingan, hanya saja tatapannya itu dapat diartikan sebagai ancaman. Seolah-olah mengatakan, jika Mantingan tidak menarik kembali penawarannya, maka ia akan berada dalam masalah besar.
Mantingan merasa tidak perlu mengkhawatirkan pria parobaya itu. Seharusnya pria tua itu tahu bahwa di dalam lelang, orang yang menawar dengan harga paling tinggilah yang akan mendapatkan barang. Jika mengancam peserta lelang lainnya, maka peraturan yang telah dia langgar dapat membuatnya diusir dari tempat lelang.
Akan tetapi, pria parobaya itu tidak mengatakan sesuatupun yang mengancam Mantingan. Yang dalam artian lain, ia tidak melanggar peraturan lelang. Tidak peduli seberapa mengancam tatapannya. Seseorang tidak dapat menuduh orang lain di acara resmi hanya karena tatapan matanya saja.
Semuanya masih terdiam.
“Baiklah jika begitu, Trika akan menutup harga.”
Gong dipukul. Tanda barang telah terjual. Pria parobaya yang tadinya merupakan saingan Mantingan itu geram bukan main, bagai harimau terkurung yang sedang menatap mangsanya, menunggu kurungannya terbuka hingga ia bisa menerkam.
Seorang pelayan mengantarkan peti kayu berisi Kitab Teratai pada Mantingan. Pelayan itu juga meminta bayaran di muka.
Mantingan menerima peti kayu itu dengan tangan bergetar. Bagaimanapun, barang yang ada di tangannya berharga 3.500 keping emas. Itu bukan jumlah yang kecil, bahkan bagi Mantingan sekalipun.
Mantingan bertanya apakah dirinya bisa menggunakan Batu sebagai alat pembayaran. Pelayan itu menyetujui, bahkan berkata bahwa pelanggan yang membayar dengan Batu akan diberikan potongan harga. Jadilah saat itu Mantingan menerima 100 keping emas potongan harga.
Bidadari Sungai Utara di sebelahnya berkata dengan tenang, “Masalah yang kita hadapi sekarang bukan tentang seberapa mahal Kitab Teratai, namun tentang seberapa berbahayanya setelah engkau mendapatkan kitab itu.”
__ADS_1
Mantingan berbisik pelan, “Apa maksud Saudari?”
“Orang itu tampak tidak puas dengan Saudara,” katanya lalu. “Dia tidak akan berhenti sampai di sana saja. Meskipun ini hanya perkiraanku, Saudara harus tetap berwaspada.”
Mantingan menghela napas panjang sambil mengamati lelang yang mulai memasuki penghujung acara. Ia mengetahui bahwa masalah yang sedang dihadapi bukanlah masalah kecil. Ia sadar bahwa dirinya salah mengambil langkah.
“Untuk saat ini, Saudara masih bisa tenang. Bukankah daku telah terlibat suatu perjanjian untuk melindungi Saudara?”
Mantingan menggeleng pelan. “Aku tidak bersungguh-sungguh dengan janji itu, diriku hanya ingin Saudari berlatih lebih giat, sehingga aku bisa mati dengan tenang.”
“Daku tidak perlu peduli, tetap kupenuhi janji yang telah terlanjur kusetujui itu.”
Mantingan hanya bisa menghela napas untuk kedua kalinya. Ia tidak memiliki pilihan yang lain. Menghalangi niat Bidadari Sungai Utara bukanlah tindakan yang bijak, sebab Mantingan tetap membutuhkan perlindungan dari gadis itu. Perlu diingat, Mantingan tidak boleh menggunakan terlalu banyak tenaga dalam.
Acara lelang berakhir sepenuhnya setelah Trika pergi meninggalkan panggung lelang. Saat itulah Mantingan dan Bidadari Sungai Utara segera meninggalkan tempat duduknya, keluar dari lapangan lelang bersama ratusan tamu lainnya.
Meskipun lelang telah berakhir, namun tribun penonton bukannya sepi. Keramaian bertambah setelah para pejudi membagikan uangnya sebagai tanda kemenangan besar. Bunga-bunga raya mulai bermunculan, menjilat-jilat pejudi yang paling banyak hartanya, berharap mendapat sedikit siraman logam emas darinya.
Mantingan meminta Bidadari Sungai Utara mempercepat langkahnya, tidak tahan melihat segala sesuatu yang terjadi di tribun penonton.
Keduanya kembali melewati bangunan bertingkat tiga yang merupakan tempat penyimpanan barang lelang. Saat ini, bangunan itu sedang dibongkar perlahan-lahan. Dari yang terlihat, rombongan lelang akan meninggalkan desa ini sebelum fajar tiba.
Mereka memasuki pasar. Dapat dilihat tidak sedikit toko yang sedang mengadakan lelang kecil-kecilan. Ratusan barang dilelang dengan harga yang sangat murah. Maka dengan demikian, pasar lelang semakin ramai oleh pengunjung.
Semuanya tampak baik-baik saja saat mereka berjalan di tengah jalanan pasar, sampai Mantingan mendengar suara kelebatan angin beberapa depa di belakangnya. Sungguh kelebatan itu bukanlah embusan angin, atau kelebatan kain yang tak sengaja tercipta dari salah satu pengunjung pasar, dan bukan juga suara kepak sayap kelelawar. Mantingan jelas mengetahui bahwa suara kelebatan itu berasal dari gerakan pendekar.
Walau Mantingan tidak sedang menggunakan ilmu pendengaran tajam, tetapi pengalaman dan insting Mantingan sebagai seorang pendekar itulah yang mengambil peran. Sebagai seorang pendekar, Mantingan harus terus berwaspada. Dalam keadaan apa pun. Saat tidur, atau bahkan sedang menikmati malam seperti ini.
Mantingan tidak memberitahukan soal ini kepada Bidadari Sungai Utara. Ada kemungkinan bahwa suara itu berasal dari pendekar yang lewat, tanpa memiliki niatan buruk apa pun pada Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara.
__ADS_1