
Suasana di Desa Sawahan boleh dikatakan sangat indah. Perbukitan dan pesawahan tampak serasi. Gemericik air dari sungai kecil yang terletak tak jauh dari tempat mereka berjalan masih dapat terdengar. Udara basah, segar bukan main. Semuanya akan menjadi sempurna jikalau tidak ada kejadian pembantaian dua malam lalu, itu mengubah segalanya.
“Desa Pesawahan ini teramat tentram, damai, dan makmur, wahai Anak Pendekar.” Sambil berjalan, sang petua desa berkata pelan. Mantingan yang berjalan tepat di sebelahnya itu memasang telinga, mendengarkan. “Kami selalu berbaik hati pada desa-desa lain. Jika ada kelebihan panen, pasti selalu kami bagikan. Dan kepada kerajaan pun sama, kami tidak pernah telat atau kurang mengirim upeti.”
Arah pembicaraan petua desa itu sangat jelas, meski tidak terkatakan secara langsung. Desa ini tidak pernah bersinggungan dengan siapa pun, bahkan boleh dikata telah berbuat kebaikan kepada siapa pun, lantas mengapakah harus terjadi pembantaian dua malam lalu? Siapa yang menjadi musuh dari desa yang seharusnya tidak memiliki musuh ini?
Mendengar itu, Mantingan hanya bisa mengembuskan napas panjang tanpa menanggapi.
***
KETIKA mereka masih terus melangkah menyusuri jalanan desa, terdengarlah lolongan kerbau yang teramat tinggi.
Mantingan menghentikan langkah sebelum menoleh. Dilihatnya kerumunan warga desa berpencar ke pinggir jalan dengan secepat-cepatnya. Mereka berteriak dan berbentakan dengan keras, entah karena kemarahan atau ketakutan.
Ketika kerumunan tersibak, terpampanglah Munding Caraka yang berlari kencang di atas jalanan. Debu-debu terbang di belakangnya. Menggetarkan tanah. Itulah yang membuat orang-orang desa berpencar ke pinggir jalan. Tidak mau mati terseruduk atau terinjak kerbau itu.
Mantingan mengangkat sebelah lengannya, memberi tanda kepada Munding untuk tenang. Maka dalam seketika, kerbau itu melambatkan langkah, meski masih terbilang cukup cepat. Menghampiri Mantingan yang berdiri menunggunya.
“Ongng ....” Munding melenguh pelan tepat di hadapan Mantingan. Pemuda itu balas dengan tersenyum sembari mengusap kepala kerbau itu.
“Daku akan baik-baik saja, Munding. Chitra juga akan baik-baik saja. Dan sebaiknya engkau juga baik-baik saja. Kembalilah ke penginapan dan pastikan keamanan di tempat itu sampai kami berdua kembali.”
***
DI balai desa, telah hadir beberapa orang yang dituakan. Jabatan mereka kurang-lebih adalah penasihat desa. Mereka duduk di atas kursi rotan dengan sikap bersahaja. Tampang wajah mereka menampilkan kebijaksanaan sekaligus pula ketegasan. Kepala mereka dibebat destar dengan bentuk mengerucut ke atas, khas orang-orang Suvarnabhumi. Ketika melihat Mantingan dan Chitra Anggini datang bersama petua desa lainnya, mereka serentak berdiri untuk menunjukkan sikap hormat.
Petua desa itu mengarahkan Mantingan dan Chitra Anggini menuju dua bangku yang berhadap-hadapan dengan para petua desa lainnya. Kedua muda-mudi itu lekas duduk di sana. Seluruh petua desa di balai itu pun menyusul duduk di kursi rotannya masing-masing.
Balai desa ini tergolong luas. Bentuknya seperti bangsal. Terbuka, tetapi beratap lebar, dengan belasan tiang kayu ulin yang menyangganya. Hampir menyamai pendapanua yang ada di Javadvipa.
Warga desa berkerumun di sekitar balai. Benar-benar dekat, tetapi tidak seorangpun yang berani menginjak lantai balai itu. Mereka menurunkan senjata, bahkan menyembunyikannya, menaruh hormat yang teramat sangat dalam pada para petua desa mereka. Menatap dengan penuh rasa penasaran, menantikan kejelasan atas pembantaian yang terjadi di kediaman kepala desa.
__ADS_1
Sedangkan itu, di dalam balai tersebut, Chitra Anggini berbisik pelan pada Mantingan di sebelahnya.
“Ada baiknya jika kita memanggil mereka dengan sebutan ‘datuk’, jangan lagi ‘bapak petua’. Orang-orang di sini cukup tidak menyukai gaya berbahasa orang Javadvipa.”
Mantingan mengangguk pelan. Tepat setelah itu, rapat sempurna dimulai.
Salah satu petua berkata panjang lebar, “Sahaya mewakili datuk-datuk di sini mengucapkan selamat datang pada Anak Pendekar berdua di Desa Pesawahan. Kami selalu menyambut tamu-tamu yang datang dengan baik, tidak peduli mereka berasal dari mana, akan selalu kami layani dengan sebaik mungkin. Akan tetapi, bagi tamu-tamu yang datang hanya untuk membuat kekacauan di desa ini, kami tidak akan menaruh rasa segan lagi. Sebuah pendirian kami sebagai petua-petua desa adalah: jika dikau sopan maka kami semua akan segan.”
Mantingan menganggukkan kepalanya sekali, sebelum berkata dengan tenang, “Sahaya yang rendah dan hina ini menghaturkan penghormatan yang sedalam-dalamnya pada Datuk-Datuk sekalian. Sahaya bersama kawan sahaya hanya berniat singgah sebentar di desa indah ini, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kotaraja Koying.”
“Maka dari itulah Anak berdua menyewa kamar di penginapan?”
Mantingan kembali mengangguk.
“Berdasarkan pada keterangan yang kami dapatkan, Anak berdua ini bukanlah pasangan. Lantas dengan demikian, mengapakah hanya menyewa satu kamar?”
Kali ini, Mantingan menggeleng. “Tidak, Datuk. Kami berdua adalah pasangan.”
Para tetua desa melangsungkan percakapan antara satu sama lain dengan berbisik-bisik. Terpaksa Mantingan menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui isi percakapan mereka.
“Jika mereka berdua nyata-nyatanya adalah pasangan, kita tidak perlu curiga lagi mengapa mereka menyewa satu kamar saja. mereka bukannya hendak menyusun rencana penyerangan ke rumah kepala desa di dalam satu kamar itu.”
“Namun, Datuk Jai, kita tidak mengetahui apakah pemuda itu berkata benar atau tipuan, mengingat kamar yang tersedia di penginapan itu memang tinggal satu buah saja.”
“Benar, tetapi bagaimanakah jika hal itu hanya kebetulan semata? Bukankah kita justru akan merepotkan mereka berdua saja dengan urusan yang sebenarnyalah tidak mereka campuri?”
“Sebenarnya, kemungkinannya sangat kecil jika mereka yang telah membunuh datuk kepala desa beserta seluruh prajurit kita malam itu. Semulanya ada banyak pendekar yang singgah di sini, tetapi begitu kabar tentang pembantaian itu tersiar, mereka semua menghilang entah ke mana.”
“Pendekar-pendekar yang datuk maksudkan itu ... apakah mereka tidak menginap di penginapan desa?”
“Tidak. Dari keterangan yang kudapat, mereka memilih menumpang di rumah warga atau kedai nasi. Tidak punya uang untuk menyewa kamar di penginapan.”
__ADS_1
Para petua desa serentak menghela napas panjang sambil menatap Mantingan dan Chitra Anggini dengan iba.
“Hanya mereka berdua yang tidak melarikan diri. Padahal jika mereka mau, maka sungguh akan teramat mudah mereka melakukannya. Mereka dapat saja menghilang, ditelan kegelapan malam, cuci tangan dari pembantaian itu.”
“Kurasa tidaklah begitu, Datuk Sra. Jika seandainya—sekali lagi kutekankan seandainya—daku adalah pembunuh datuk kepala desa, maka diriku tidak akan melarikan diri dari desa ini.”
“Mengapakah demikian?”
“Sebab yang melarikan diri justru akan mendapat kecurigaan besar. Dan Datuk Sra pastinya mengetahui, bahwa siapa pun yang membunuh kepala desa di bawah naungan Kerajaan Koying, itu sama saja seperti menyatakan perang ke kerajaan. Pemerintahan tidak akan membiarkan perkara ini begitu saja tanpa terselesaikan. Kuduga, esok hari akan ada pendekar-pendekar dari kotaraja yang diutus untuk menyelidiki sekaligus menuntaskan perkara pembunuhan ini. Mereka memiliki jaringan mata-mata yang terbesar di seantero negeri, melebur menjadi satu dengan kehidupan masyarakat. Maka kuduga, dalam waktu satu-dua pekan lagi, pendekar-pendekar yang kabur dari desa ini akan tertangkap.”
Suasana menjadi hening sejenak. Mantingan sempurna membatu di tempatnya. Raut wajahnya datar, tetapi jantungnya berdebar cukup kuat. Menyadari betapa permasalahan ini menjadi semakin rumit.
Chitra Anggini menoleh ke arahnya. Tanpa mengeluarkan suara, tatapan matanya telah melempar sebuah pertanyaan, apa yang mereka bicarakan?
Mantingan hanya sekadar mengangkat bahu sebagai balasan. Ia merasa tidak dapat menjelaskan semuanya pada perempuan itu di tempat ini.
___
catatan:
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]
Favorit 1400\= +3 episode [TERPENUHI]
Vote 950\= +3 episode [TERPENUHI]
Vote 1000\= 5 episode
__ADS_1