
MANTINGAN menarik napas panjang-panjang. “Jadi dikau telah mengetahui jati diriku, Rashid?”
Rashid menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Bagi seorang Rashid, itu terlalu mudah untuk ditebak.”
“Tidak masalah jika perjalananmu belum selesai, Pahlawan Man. Daku hanya akan menulis petualangan dikau hingga sekarang, meskipun itu belum selesai. Dikau bisa datang padaku di kemudian hari untuk menulis lanjutannya, atau daku yang datang pada dikau.”
Tepat setelah Rashid selesai berbicara, pelayan kedai datang mengantarkan teh pesanan Mantingan sekaligus Rashid. Barang tentu perbincangan tidak bisa dilanjutkan dengan keberadaan orang lain di sekitar mereka. Rashid pun mengerti betapa jati diri Mantingan harus dirahasiakan rapat-rapat.
“Umur adalah sesuatu yang tidak akan terduga kapan berhentinya, Pahlawan.” Rashid kembali berkata. Pria berewok itu tidak terlihat tertarik dengan tehnya. “Daku tidak ingin perjalanan dikau sia-sia hanya karena kisah dikau tidak diketahui orang banyak.”
Mantingan diam tidak menjawab. Tampak pula dirinya tidak tertarik dengan teh yang baru dipesannya. Berpikir dan bertimbang matang-matang.
“Kelihatannya dikau masih tidak percaya padaku. Tiada mengapa, memang sudah kuduga tidak akan mudah. Mungkin Rama dengan segenap anggota Perguruan Angin Putih dapat mempercayakan kisah mereka kepadaku, tetapi tentu itu tidak menjamin dikau juga akan percaya kepadaku.” Rashid membetulkan bentuk duduknya. “Daku akan kembali ke Jazirah satu pekan lagi. Selama itu, dikau masih bisa mengubah pikiran. Datang saja ke Penginapan Barisan Bintang, daku akan mendengar dan menulis apa yang dikau kisahkan. ”
“Daku sudah menulisnya. Akan kuberikan kepadamu setelah selesai kuperiksa semuanya.”
“Dikau tidak perlu mengambil keputusan terlalu cepat.” Rashid mengambil cangkirnya. Menghabiskan seluruh teh di dalam cangkir itu dalam sekali tegak. “Namun, daku meminta kepadamu agar tidak membocorkan keberadaanku di sini. Sungguh, sebenarnya daku sedang menyamar, sebab betapa pun daku adalah buronan kotaraja. Di sini, daku menggunakan nama Raksa sebagai namansamaran. Panggilah daku dengan nama itu jika kita sedang berada di tempat umum.”
“Buronan?”
“Ya. Daku membuat tulisan yang cukup keren, tetapi pemerintah agaknya tidak senang dengan itu.” Rashid bangkit berdiri dari bangkunya. “Kejujuran memang sangat berharga. Sangat mahal harganya.”
Tepat setelah itu, Rashid membalik badan dan berjalan pergi dari kedai itu. Kepulan asap cangklong mengiringi kepergiannya.
Mantingan mengembuskan napas panjang. Dibuatnya keputusan seperti itu bukanlah tanpa pertimbangan yang matang. Keputusan memang harus diambilnya sesegera mungkin, tetapi tidak berarti bahwa dirinya tidak memiliki waktu untuk berpikir bulat-bulat.
Perkataan Rashid tadi sedikit banyak benar. Seringkali kematian menjadi sesuatu yang datang tanpa terduga-duga, membuat seorang manusia tidak lagi berbuat sesuatupun sebab sukma telah terpisah dari raga, melayang pergi entah ke mana gerangan.
Tak terkecuali Mantingan. Ia tidak tahu kapan kematiannya menjemput. Bukankah bagi seorang pendekar, pertaruhan nyawa ada di setiap detik dalam hidupnya? Bukankah bagi seorang pendekar, kematian dapat datang kapan saja dengan seringkas-ringkasnya?
Mantingan meraih cangkir tehnya, ketika dirasakannya kotak penyimpanan lontarnya bergetar hebat. Raut wajah pemuda itu berubah tajam dalam seketika, teramat tajam malahan. Ia bangkit berdiri. Cangkir tehnya terpelanting, seluruh isinya tumpah ruah di atas meja. Napasnya menggebu-gebu. Tiada terkendali.
Diraihnya selembar Lontar Sihir di dalam kotak penyimpanannya. Lontar itu merupakan sumber getaran. Seluruh permukaannya berwarna merah pekat, bercahaya terang meski cahaya mentari pagi yang baru saja terbit telah menerpanya.
“Chitra Anggini!”
***
CHITRA Anggini menambatkan Munding pada tiang tambatan di halaman sebuah kedai. Di antara kuda-kuda yang ada di sana, hanyalah Munding yang merupakan kerbau. Sudah kerbau, dekil dan bau pula. Namun kerbau itu justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan tatapan merendahkan yang ditunjukkan kepada kuda-kuda di sekitarnya itu. Siapa pun yang melihat Munding saat ini, telah pasti akan menyeringai jijik sambil menggelengkan kepala iba.
Chitra Anggini menyibak tirai kain yang menutupi pintu kedai itu. Sambil tersenyum lebar, dia melangkah masuk. Melempar pandang ke sekitar. Kedai itu memiliki ukuran yang cukup besar, tetapi hanya tersisa beberapa meja saja yang masih kosong. Sisanya telah terisi oleh pengunjung lainnya.
Suara gelak tawa lelaki terdengar begitu nyaring. Sampah makanan berserakan hampir di segala tempat meskipun para pelayan tampak telah berusaha keras untuk membersihkannya, tetapi betapa dalam sekedipan mata selalu saja ada makanan yang jatuh ke lantai. Seluruhnya makan dengan barbar.
Bagaimanakah tidak begitu jikalau kedai yang Chitra Anggini datangi saat ini bukanlah kedai biasa melainkan kedai tuak tempat orang biasa bermabuk-mabukan?
Namun agaknya, semua pemandangan kacau-balau di depannya itu tidak lantas membuat Chitra Anggini jijik atau takut. Sebaliknya, perempuan itu semakin tinggi mengangkat kedua sudut bibirnya. Tersenyum lebar.
Perempuan itu berjalan menuju meja terdekat yang masih kosong, dan setelah duduk dia mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan.
“Satu kendi tuak terbaik yang kalian punya,” kata perempuan itu ketika pelayan kedai yang merupakan seorang lelaki remaja serba tanggung dengan pakaian yang serba kumal pula menghampirinya dengan buru buru.
“Baiklah, Puan, akan kami bawakan sekendi tuak yang kami datangkan dari Negeri Atap Langit. Namun untuk satu kendinya, Puan harus membayar lima puluh keping emas. Apakah kiranya Puan bersetuju?”
“Kalian memiliki tuak dari Negeri Atap Langit? Dikau tidak sedang berbual bukan?”
“Sahaya tidak berani berbual pada pelanggan, Puan, sama sekali tidak.” Lelaki remaja serba tanggung dengan pakaian yang serba kumal itu beringsut mundur satu langkah. Wajahnya yang sedari awal telah tampak menyedihkan itu jadi tambah mengenaskan lagi. “Tuak itu baru datang kemarin hari, Puan, tuan kami sendiri yang membelinya ke pelabuhan, menjadi tangan pertama. Kualitas dan keasliannya sudah terjamin betul, Puan. Mohonlah Puan tidak marah di sini ....”
“Huh! Memangnya daku terlihat ingin marah?” Chitra Anggini mendengus tajam. “Jika kalian memang menyimpan tuak dari Negeri Atap Langit, maka itu adalah kabar yang sangat baik. Daku tidak jadi beli satu kendi saja, melainkan tiga kendi. Bawalah kemari secepat-cepatnya atau daku akan marah sungguhan. Dan jika itu terjadi, daku pastikan kedai ini akan rata dengan tanah.”
Chitra Anggini menarik salah satu sudut bibirnya. Membentuk senyum keji. Sengaja membuat pelayan remaja yang serba tanggung itu menjadi ketakutan setengah mati.
“Saya akan membawakannya secepat mungkin Puan!” Lelaki itu berlari tunggang-langgang, menabrak beberapa pelayan lain yang sedang membersihkan sampah makanan.
Sedangkan itu, Chitra Anggini tertawa pelan, tanpa menyadari bahwa tindakannya barusan telah mengundang perhatian seluruh pengunjung kedai yang semua dari mereka adalah lelaki yang boleh dikata memiliki sifat tidak baik-baik!
BATASEPISODE
TIGA kendi tuak datang tak berselang lama. Lelaki remaja serba tanggung dengan pakaian yang serba kumal itulah yang memngantarkannya langsung pada Chitra Anggini. Tampang wajahnya masih terlihat teramat takut. Namun, bukanlah Chitra Anggini jikalau peduli dengan pelayan malang itu. Bahkan dalam benaknya, dia tertawa penuh kemenangan. Membayar seratus lima puluh keping emas di muka.
Begitu pelayan itu pergi, Chitra Anggini lekas menuang salah satu kendi tuak ke dalam cangkirnya. Lantas menegaknya hingga habis. Matanya terbuka lebar seketika itu pula. Betapa nikmatnya!
Chitra Anggini tidak lagi menggunakan cangkirnya untuk minum, melainkan menegaknya langsung dari corong kendi. Baru berhenti setelah mulut dan tenggorokannya penuh. Wajahnya memerah padam. Kendi di tangannya itu tinggal setengah.
“Aku tidak salah, bukan? Aku tidak salah ... ya, aku tidak salah. Bukankah Mantingan sudah bilang bahwa uang ini boleh kubelanjakan apa pun? Ah ... lagi pula setelah menjual pedati dan beras sialan itu, aku sangat haus ... sangat-sangat haus ... dan tuak adalah minuman yang terbaik ... tuak adalah minuman yang terbaik ....”
Tuak itu bekerja dengan sedemikian cepatnya. Chitra Anggini mulai mabuk. Melantur tidak jelas.
“Angin menunggang rembulan ... berarak ke Suvarnadvipa ... di manakah gerangan dikau sekarang? Dikau dicari banyak orang ... dikau dipuja banyak orang ... oh, lalu mengapakah kiranya masih mau berteman dengan perempuan rendahan seperti diriku ini? Terkadang dikau menyebalkan ... terkadang daku ingin menghancurkan wajah dikau ... tetapi daku sayang, oh, tetapi daku sayang ....”
__ADS_1
Chitra Anggini terus melantur. Berbicara selayaknya seorang penyair. Tinggi dan rendah suaranya.
“Dikau mencintainya ... tetapi dikau malah ditinggalkan ... atau justru dikau yang meninggalkannya ... oh, betapa malangnya kisah cinta kalian berdua. Yang pria terlalu angkuh, yang wanita terlalu lembut ... oh, betapa menyedihkannya kisah cinta kalian berdua.”
Meski yang terdengar hanyalah sekadar reracauan tidak jelas, tetapi betapa orang-orang di kedai itu tidak memahami betapa dalamnya makna yang terkandung dalam syair-setengah-syair Chitra Anggini. Mereka hanya memahami bahwa perempuan jelita itu sedang mabuk berat, dan kesempatan emas terbuka lebar!
Benar saja, lima orang pria penyoren pedang yang masih tampak cukup segar berdiri dari kursi mereka dan berjalan mendekati Chitra Anggini yang masih saja meracau dengan syair-syairnya. Perempuan itu sama sekali tidak sadar betapa bahaya besar sedang menghampirinya!
“Wahai Puan yang cantik jelita! Mengapakah berbicara sendirian? Dikau tidak memiliki teman? Jika benar begitu, aduhai, kasihan sekali. Biarlah kami berdua menemani Puan berbincang-bincang.”
“Buaya buntung!” Chitra Anggini menyemburkan tuak yang baru saja diteguknya ke arah lima penyoren pedang itu. “Masihlah lebih baik diriku yang tidak memiliki teman, ketimbang kalian yang tidak mempunyai istri sehingga malang-melintang mencari belaian wanita lain!”
Disembur dan dihina seperti itu tidak lantas membuat lima penyoren pedang itu menjadi marah. Justru sebaliknya, mereka tertawa lebar.
“Huahahahahaha! Wanita yang menyembur!”
“Daku suka, daku suka, huahahahahaha!”
“Teruslah menyembur! Teruslah! Basahi tubuhku dengan ludahmu!”
“Daku senang dengan wanita keras kepala. Biasanya juga cerewet!”
“Dan wanita cerewet biasanya bermulut besar! Hahahaha!”
Kelima pria penyoren pedang itu terus tertawa lepas sambil memukul-mukul meja, membuat salah satu kendi arak milik Chitra Anggini jatuh ke lantai. Pecah berkeping-keping. Membuat kedai itu seketika sunyi.
Namun beberapa kejap mata kemudian, kedai kembali seperti sediakala. Seolah saja mereka telah melupakan Chitra Anggini yang jelas-jelas saja sedang berada dalam bahaya!
“Aiiih, kalian telah membuang-buang tuak enak, kalian telah membuang tuak enak!” Chitra Anggini meratap marah. Menggebrak meja. Berusaha bangkit berdiri, tetapi tiada sanggup, kembali lagi terduduk lemas di bangkunya. “Kalian! Awas kalau kalian mengganti tuak itu!”
“Oh, tentu saja kami akan menggantikannya!”
Salah satu dari kelima penyoren pedang itu melempar puluhan keping emas ke atas meja sambil tertawa keras. Disusul dengan yang lainnya. Sehinggalah dalam seketika, meja tempat Chitra Anggini memesan makanan telah penuh oleh ratusan keping emas. Bergelimangan!
“Nah, dengan keping-keping emas ini, apakah dikau mau mengobrol bersama kami? Ah, tetapi sepertinya di sini sangat ramai. Kita harus pergi ke tempat lain biar lancar berbincang-bincang. Bagaimanakah jika kami menyewa kamar di penginapan? Dikau hanya perlu ikut bersama kami, nanti akan kami belikan apa saja yang dikau kehendaki.”
“Buaya buntung sialan!” Chitra Anggini kembali menggebrak meja, tetapi kali ini dengan menggunakan kendi di tangannya. “Jika kalian bisa membeli hatinya, maka daku akan sudi mengobrol bersama kalian!”
“Duhai, hati siapakah yang hendak dikau ambil? Cepat, sebutkan nama! Kami akan langsung menyewa pembunuh bayaran untuk mengambil hatinya!”
BATASEPISO
MANTINGAN menarik napas panjang-panjang. “Jadi dikau telah mengetahui jati diriku, Rashid?”
Rashid menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Bagi seorang Rashid, itu terlalu mudah untuk ditebak.”
“Tidak masalah jika perjalananmu belum selesai, Pahlawan Man. Daku hanya akan menulis petualangan dikau hingga sekarang, meskipun itu belum selesai. Dikau bisa p daku bisa datang di kemudian hari untuk menulis lanjutannya.”
Tepat setelah Rashid selesai berbicara, pelayan kedai datang mengantarkan teh pesanan Mantingan sekaligus Rashid. Barang tentu perbincangan tidak bisa dilanjutkan dengan keberadaan orang lain di sekitar mereka. Rashid pun mengerti betapa jati diri Mantingan harus dirahasiakan rapat-rapat.
“Umur adalah sesuatu yang tidak akan terduga kapan berhentinya, Pahlawan.” Rashid kembali berkata. Pria berewok itu tidak terlihat tertarik pada tehnya. “Daku tidak ingin perjalanan dikau sia-sia hanya karena kisah perjalanan dikau tidak diketahui orang banyak.”
Mantingan diam tidak menjawab. Tampak pula dirinya tidak tertarik dengan teh yang baru dipesannya. Berpikir dan bertimbang matang-matang.
“Kelihatannya dikau masih tidak percaya kepadaku. Tiada mengapa, memang tidak akan mudah. Mungkin Rama dengan segenap anggota Perguruan Angin Putih dapat mempercayakan kisah mereka kepadaku, tetapi tentu itu tidak menjamin dikau juga akan percaya kepadaku.” Rashid membetulkan bentuk duduknya. “Daku akan kembali ke Jazirah satu pekan lagi. Selama itu, dikau masih bisa mengubah pikiran. Datang saja ke Penginapan Barisan Bintang, daku akan mendengar dan menulis apa yang dikau kisahkan. ”
“Daku sudah menulisnya. Akan kuberikan kepadamu setelah kuperiksa semuanya.”
“Dikau tidak perlu mengambil keputusan terlalu cepat.” Rashid mengambil cangkirnya. Menghabiskan seluruh teh di dalam cangkir itu dalam sekali tegak. “Namun, daku meminta kepadamu agar tidak membocorkan keberadaanku di sini. Sungguh, sebenarnya daku sedang menyamar, sebab betapa pun daku adalah buronan kotaraja. Di sini, daku menggunakan nama Raksa sebagai samaran. Panggilah daku dengan nama itu jika kita sedang berada di tempat umum.”
“Buronan?”
“Ya. Daku membuat tulisan yang cukup keren, tetapi pemerintah agaknya tidak senang dengan itu.” Rashid bangkit berdiri dari bangkunya. “Kejujuran memang sangat berharga. Sangat mahal harganya.”
Tepat setelah itu, Rashid membalik badan dan berjalan pergi dari kedai itu. Kepulan asap cangklong mengiringi kepergiannya.
Mantingan mengembuskan napas panjang. Dibuatnya keputusan seperti itu bukanlah tanpa pertimbangan yang matang. Keputusan memang harus diambilnya sesegera mungkin, tetapi tidak berarti bahwa dirinya tidak memiliki waktu untuk berpikir bulat-bulat.
Perkataan Rashid tadi sedikit banyak benar. Seringkali kematian menjadi sesuatu yang datang tanpa terduga-duga, membuat seorang manusia tidak lagi berbuat sesuatupun sebab sukma telah terpisah dari raga, melayang pergi entah ke mana gerangan.
Tak terkecuali Mantingan. Ia tidak tahu kapan kematiannya menjemput. Bukankah bagi seorang pendekar, pertaruhan nyawa ada di setiap detik dalam hidupnya? Bukankah bagi seorang pendekar, kematian dapat datang kapan saja dengan seringkas-ringkasnya?
Mantingan meraih cangkir tehnya, ketika dirasakannya kotak penyimpanan lontarnya bergetar hebat. Raut wajah pemuda itu berubah tajam dalam seketika, teramat tajam malahan. Ia bangkit berdiri. Cangkir tehnya terpelanting, seluruh isinya tumpah ruah di atas meja. Napasnya menggebu-gebu. Tiada terkendali.
Diraihnya selembar Lontar Sihir di dalam kotak penyimpanannya. Lontar itu merupakan sumber getaran. Seluruh permukaannya berwarna merah pekat, bercahaya terang meski cahaya mentari pagi yang baru saja terbit telah menerpanya.
“Chitra Anggini!”
***
__ADS_1
CHITRA Anggini menambatkan Munding pada tiang tambatan di halaman sebuah kedai. Di antara kuda-kuda yang ada di sana, hanyalah Munding yang merupakan kerbau. Sudah kerbau, dekil dan bau pula. Namun kerbau itu justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan tatapan merendahkan yang ditunjukkan kepada kuda-kuda di sekitarnya itu. Siapa pun yang melihat Munding saat ini, telah pasti akan menyeringai jijik sambil menggelengkan kepala iba.
Chitra Anggini menyibak tirai kain yang menutupi pintu kedai itu. Sambil tersenyum lebar, dia melangkah masuk. Melempar pandang ke sekitar. Kedai itu memiliki ukuran yang cukup besar, tetapi hanya tersisa beberapa meja saja yang masih kosong. Sisanya telah terisi oleh pengunjung lainnya.
Suara gelak tawa lelaki terdengar begitu nyaring. Sampah makanan berserakan hampir di segala tempat meskipun para pelayan tampak telah berusaha keras untuk membersihkannya, tetapi betapa dalam sekedipan mata selalu saja ada makanan yang jatuh ke lantai. Seluruhnya makan dengan barbar.
Bagaimanakah tidak begitu jikalau kedai yang Chitra Anggini datangi saat ini bukanlah kedai biasa melainkan kedai tuak tempat orang biasa bermabuk-mabukan?
Namun agaknya, semua pemandangan kacau-balau di depannya itu tidak lantas membuat Chitra Anggini jijik atau takut. Sebaliknya, perempuan itu semakin tinggi mengangkat kedua sudut bibirnya. Tersenyum lebar.
Perempuan itu berjalan menuju meja terdekat yang masih kosong, dan setelah duduk dia mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan.
“Satu kendi tuak terbaik yang kalian punya,” kata perempuan itu ketika pelayan kedai yang merupakan seorang lelaki remaja serba tanggung dengan pakaian yang serba kumal pula menghampirinya dengan buru buru.
“Baiklah, Puan, akan kami bawakan sekendi tuak yang kami datangkan dari Negeri Atap Langit. Namun untuk satu kendinya, Puan harus membayar lima puluh keping emas. Apakah kiranya Puan bersetuju?”
“Kalian memiliki tuak dari Negeri Atap Langit? Dikau tidak sedang berbual bukan?”
“Sahaya tidak berani berbual pada pelanggan, Puan, sama sekali tidak.” Lelaki remaja serba tanggung dengan pakaian yang serba kumal itu beringsut mundur satu langkah. Wajahnya yang sedari awal telah tampak menyedihkan itu jadi tambah mengenaskan lagi. “Tuak itu baru datang kemarin hari, Puan, tuan kami sendiri yang membelinya ke pelabuhan, menjadi tangan pertama. Kualitas dan keasliannya sudah terjamin betul, Puan. Mohonlah Puan tidak marah di sini ....”
“Huh! Memangnya daku terlihat ingin marah?” Chitra Anggini mendengus tajam. “Jika kalian memang menyimpan tuak dari Negeri Atap Langit, maka itu adalah kabar yang sangat baik. Daku tidak jadi beli satu kendi saja, melainkan tiga kendi. Bawalah kemari secepat-cepatnya atau daku akan marah sungguhan. Dan jika itu terjadi, daku pastikan kedai ini akan rata dengan tanah.”
Chitra Anggini menarik salah satu sudut bibirnya. Membentuk senyum keji. Sengaja membuat pelayan remaja yang serba tanggung itu menjadi ketakutan setengah mati.
“Saya akan membawakannya secepat mungkin Puan!” Lelaki itu berlari tunggang-langgang, menabrak beberapa pelayan lain yang sedang membersihkan sampah makanan.
Sedangkan itu, Chitra Anggini tertawa pelan, tanpa menyadari bahwa tindakannya barusan telah mengundang perhatian seluruh pengunjung kedai yang semua dari mereka adalah lelaki yang boleh dikata memiliki sifat tidak baik-baik!
***
TIGA kendi tuak datang tak berselang lama. Lelaki remaja serba tanggung dengan pakaian yang serba kumal itulah yang memngantarkannya langsung pada Chitra Anggini. Tampang wajahnya masih terlihat teramat takut. Namun, bukanlah Chitra Anggini jikalau peduli dengan pelayan malang itu. Bahkan dalam benaknya, dia tertawa penuh kemenangan. Membayar seratus lima puluh keping emas di muka.
Begitu pelayan itu pergi, Chitra Anggini lekas menuang salah satu kendi tuak ke dalam cangkirnya. Lantas menegaknya hingga habis. Matanya terbuka lebar seketika itu pula. Betapa nikmatnya!
Chitra Anggini tidak lagi menggunakan cangkirnya untuk minum, melainkan menegaknya langsung dari corong kendi. Baru berhenti setelah mulut dan tenggorokannya penuh. Wajahnya memerah padam. Kendi di tangannya itu tinggal setengah.
“Aku tidak salah, bukan? Aku tidak salah ... ya, aku tidak salah. Bukankah Mantingan sudah bilang bahwa uang ini boleh kubelanjakan apa pun? Ah ... lagi pula setelah menjual pedati dan beras sialan itu, aku sangat haus ... sangat-sangat haus ... dan tuak adalah minuman yang terbaik ... tuak adalah minuman yang terbaik ....”
Tuak itu bekerja dengan sedemikian cepatnya. Chitra Anggini mulai mabuk. Melantur tidak jelas.
“Angin menunggang rembulan ... berarak ke Suvarnadvipa ... di manakah gerangan dikau sekarang? Dikau dicari banyak orang ... dikau dipuja banyak orang ... oh, lalu mengapakah kiranya masih mau berteman dengan perempuan rendahan seperti diriku ini? Terkadang dikau menyebalkan ... terkadang daku ingin menghancurkan wajah dikau ... tetapi daku sayang, oh, tetapi daku sayang ....”
Chitra Anggini terus melantur. Berbicara selayaknya seorang penyair. Tinggi dan rendah suaranya.
“Dikau mencintainya ... tetapi dikau malah ditinggalkan ... atau justru dikau yang meninggalkannya ... oh, betapa malangnya kisah cinta kalian berdua. Yang pria terlalu angkuh, yang wanita terlalu lembut ... oh, betapa menyedihkannya kisah cinta kalian berdua.”
Meski yang terdengar hanyalah sekadar reracauan tidak jelas, tetapi betapa orang-orang di kedai itu tidak memahami betapa dalamnya makna yang terkandung dalam syair-setengah-syair Chitra Anggini. Mereka hanya memahami bahwa perempuan jelita itu sedang mabuk berat, dan kesempatan emas terbuka lebar!
Benar saja, lima orang pria penyoren pedang yang masih tampak cukup segar berdiri dari kursi mereka dan berjalan mendekati Chitra Anggini yang masih saja meracau dengan syair-syairnya. Perempuan itu sama sekali tidak sadar betapa bahaya besar sedang menghampirinya!
“Wahai Puan yang cantik jelita! Mengapakah berbicara sendirian? Dikau tidak memiliki teman? Jika benar begitu, aduhai, kasihan sekali. Biarlah kami berdua menemani Puan berbincang-bincang.”
“Buaya buntung!” Chitra Anggini menyemburkan tuak yang baru saja diteguknya ke arah lima penyoren pedang itu. “Masihlah lebih baik diriku yang tidak memiliki teman, ketimbang kalian yang tidak mempunyai istri sehingga malang-melintang mencari belaian wanita lain!”
Disembur dan dihina seperti itu tidak lantas membuat lima penyoren pedang itu menjadi marah. Justru sebaliknya, mereka tertawa lebar.
“Huahahahahaha! Wanita yang menyembur!”
“Daku suka, daku suka, huahahahahaha!”
“Teruslah menyembur! Teruslah! Basahi tubuhku dengan ludahmu!”
“Daku senang dengan wanita keras kepala. Biasanya juga cerewet!”
“Dan wanita cerewet biasanya bermulut besar! Hahahaha!”
Kelima pria penyoren pedang itu terus tertawa lepas sambil memukul-mukul meja, membuat salah satu kendi arak milik Chitra Anggini jatuh ke lantai. Pecah berkeping-keping. Membuat kedai itu seketika sunyi.
Namun beberapa kejap mata kemudian, kedai kembali seperti sediakala. Seolah saja mereka telah melupakan Chitra Anggini yang jelas-jelas saja sedang berada dalam bahaya!
“Aiiih, kalian telah membuang-buang tuak enak, kalian telah membuang tuak enak!” Chitra Anggini meratap marah. Menggebrak meja. Berusaha bangkit berdiri, tetapi tiada sanggup, kembali lagi terduduk lemas di bangkunya. “Kalian! Awas kalau kalian mengganti tuak itu!”
“Oh, tentu saja kami akan menggantikannya!”
Salah satu dari kelima penyoren pedang itu melempar puluhan keping emas ke atas meja sambil tertawa keras. Disusul dengan yang lainnya. Sehinggalah dalam seketika, meja tempat Chitra Anggini memesan makanan telah penuh oleh ratusan keping emas. Bergelimangan!
“Nah, dengan keping-keping emas ini, apakah dikau mau mengobrol bersama kami? Ah, tetapi sepertinya di sini sangat ramai. Kita harus pergi ke tempat lain biar lancar berbincang-bincang. Bagaimanakah jika kami menyewa kamar di penginapan? Dikau hanya perlu ikut bersama kami, nanti akan kami belikan apa saja yang dikau kehendaki.”
“Buaya buntung sialan!” Chitra Anggini kembali menggebrak meja, tetapi kali ini dengan menggunakan kendi di tangannya. “Jika kalian bisa membeli hatinya, maka daku akan sudi mengobrol bersama kalian!”
__ADS_1
“Duhai, hati siapakah yang hendak dikau ambil? Cepat, sebutkan nama! Kami akan langsung menyewa pembunuh bayaran untuk mengambil hatinya!”