Sang Musafir

Sang Musafir
Kedai di Penginapan


__ADS_3

PERLUKAH Mantingan pergi ke kedai itu untuk mendapatkan apa yang ia perlukan?


Kini disadarinya bahwa memang wajar keterangan-keterangan yang menyangkut tentang telaga maupun rimba persilatan dijual mahal.


Mungkin cukup mudah mendapatkan kabar dan keterangan yang menyangkut tentang dunia persilatan. Hanya dengan masuk ke dalam kedai dan duduk untuk satu-dua peminuman teh saja, mereka sudah bisa mendapatkan kabar-kabar dari berbagai percakapan para pendekar di kedai.


Namun, untuk terlepas dari tanggungan berat setelah mendengar kabar-kabar itu, bukanlah sesuatu yang mudah. Biasanya bagi pendekar yang tidak suka akan kehadiran pendekar lain di dalam kedai ketika mereka sedang bertukar kabar, akan membunuh pendekar itu secara diam-diam setelah segala urusan mereka di kedai itu selesai.


Walaupun risiko itu sedikit bisa diatasi dengan cara menyamar seperti orang awam, yang sama saja tiada menyoren pedang sama sekali. Namun terkadang, orang-orang dunia persilatan mampu dengan mudah membedakan langkah pendekar dan langkah orang awam. Jika sudah tertangkap basah seperti itu, maka dapat dipastikan bahwa pendekar yang sedang menyamar tanpa membawa persenjataan itu akan sangat buruk nasibnya—kecuali jika dia menguasai ilmu tangan kosong tinggi dan senantiasa memasang kewaspadaan meski telah lama meninggalkan kedai sekalipun.


Mantingan tentu tidak akan melakukan hal seperti itu karena bukan saja membahayakan dirinya sendiri, melainkan pula Bidadari Sungai Utara dan segala rencana penyergapan yang disimpan rapat-rapat oleh Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih.


Maka satu-satunya yang dapat ia lakukan sekarang untuk menggapai tujuan itu adalah dan hanyalah berlatih. Mungkin saja dengan sedikit banyak melatih Ilmu Mendengar Tetesan Embun, jangkauan pendengarannya dapat bertambah.


Meski tidak disebutkan batasan jarak terjauh yang dapat ditempuh Ilmu Mendengar Tetesan Embun dan hanya menyebutkan bahwa ilmu tersebut dapat dikendalikan sesuka hati dalam sebelas tombak jauhnya, tetap saja ada sedikit kemungkinan bahwa ilmu tersebut dapat menjangkau lebih dari sebelas tombak.


Suara ketukan pintu seketika membuyarkan pemikiran Mantingan. Lekas saja ia berbalik badan sebelum berjalan ke arah pintu yang dikuncinya.


Namun Mantingan tidak langsung membuka pintu, melainkan sekali lagi mengedarkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk melihat rupa seseorang yang mengetuk pintunya. Setelah mengetahuinya, Mantingan lantas membuka pintu dan menarik tangan orang itu masuk ke dalam kamarnya.


“Mantingan, apa yang kaulakukan?!” Bidadari Sungai Utara meringis kesakitan sebab Mantingan menariknya terlalu kuat.


Sedangkan pemuda itu tidak lekas menjawab melainkan langsung mengunci pintu. Melihat tindakan Mantingan itu, raut wajah Bidadari Sungai Utara berubah menjadi pucat pasi.


“Mantingan, engkau tidak ....”

__ADS_1


“Saudari, engkau keluar dengan tampang seperti ini.” Mantingan berkata pelan sambil matanya menatap Bidadari Sungai Utara dari atas sampai bawah. “Engkau masih belum berganti pakaian, Saudari. Ini tidak dengan sesuai kesepakatan kita.”


Menurut kesepakatan yang telah mereka buat sebelumnya, Bidadari Sungai Utara harus mengganti pakaian yang benar-benar berbeda dengan pakaian yang sering dia pakai sebelumnya. Dalam lain kata, Bidadari Sungai Utara harus mengganti gaya berpakaiannya.


Jikalau biasanya Bidadari Sungai Utara mengenakan pakaian berwarna cerah, maka ia harus mengubahnya menjadi lebih gelap. Cadarnya harus diganti menjadi topeng. Rambutnya pun haruslah digelung ke atas. Begitulah kesepakatan mereka.


Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara sama sekali tidak mengubah gaya berpakaiannya, bahkan belum mengganti pakaiannya semenjak memasuki penginapan.


Bidadari Sungai Utara mengerti alasan mengapa Mantingan menarik tangannya masuk ke dalam kamar, maka menjawablah dia, “Daku telah memastikan bahwa tidak ada orang yang mengawasiku, Saudara. Kurasa cukup aman untukku berjalan ke kamar dikau tanpa mengganti pakaian sama sekali.”


Mantingan menggeleng pelan, memilih untuk melupakan hal itu dengan cepat. “Gerangan apakah yang membawa dikau kemari?”


Bidadari Sungai Utara terlihat ragu, tetapi Mantingan memberikan tatapan untuk meyakinkannya. Gadis itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Perbekalanku habis, Saudara. Daku ingin makan sesuatu yang lezat. Meskipun daku bisa makan tenaga dalam, tetapi itu rasanya sangat tidak enak.”


“Lalu, apakah yang harus kulakukan untukmu, Saudari?” Mantingan tersenyum samar, sengaja memancing Bidadari Sungai Utara untuk menyampaikan keinginannya lebih jelas.


Mantingan mengangkat bahunya. “Daku hanya ragu.”


Bidadari Sungai Utara berdecak kesal. “Belikan daku makanan di lantai bawah. Dikau tidak ingin diriku sendiri yang turun ke bawah, bukan?”


“Baiklah, akan kulakukan. Mengapakah engkau tidak mengatakannya sedari awal?” Mantingan melebarkan senyumnya sebelum mengambil pundi-pundi berisi uang. “Tetaplah di sini sampai daku kembali, Saudari.”


Mantingan membuka pintu, bertepatan dengan Bidadari Sungai Utara menggumal di belakangnya.


“Dikau sebenarnya sudah tahu, Mantingan. Jelas dikau mengetahuinya.”

__ADS_1


***


MANTINGAN menemukan sebuah kedai kecil di lantai dasar penginapan. Awalnya ia berpikir penginapan ini tidak menyediakan kedai sama sekali sebab telah banyak kedai-kedai yang berdiri di luar penginapan. Namun ternyata, dugaannya salah.


Kedai itu terletak di sudut aula. Ada beberapa meja dan bangku di sana. Namun jika ingin memesan makanan, haruslah pergi ke ruangan lain yang berdekatan dengan dapur.


Mantingan berharap di kedai kecil ini, ia bisa mendapatkan kabar-kabar kekinian menyangkut dunia persilatan. Namun agaknya, harapan itu terlalu mustahil terwujudkan. Betapa pun, tempat itu hanyalah kedai kecil dan terbuka di dalam sebuah penginapan, tentu akan menjadi tempat yang sangat buruk untuk melangsungkan sebuah perundingan rahasia.


Mantingan pergi ke ruang pemesanan dan memesan sejumlah makanan untuk Bidadari Sungai Utara serta Kana dan Kina. Pelayan di sana mengatakan bahwa hari masih terlalu dini, sehingga masakan belum sepenuhnya matang dan siap disajikan, jadi Mantingan diminta menunggu sebentar sampai masakan siap dihidangkan.


Sebagai gantinya, Mantingan diberikan secangkir tuak secara cuma-cuma, yang pada akhirnya ditukar dengan secangkir teh karena Mantingan menolaknya.


Mantingan keluar dari ruangan pemesanan dan berjalan ke arah meja-meja makan di sudut aula. Di sana, ia memilih meja paling sudut sehingga dapat memantau keadaan tanpa menjadi pusat perhatian.


Lalu lalang penginapan dapat dikatakan cukup ramai. Beberapa orang bertampang selayaknya saudagar masuk dan memesan kamar untuk beberapa hari bersama istri dan gundiknya; beberapa tamu penginapan lainnya justru keluar sambil membawa bundelan yang besar dan berat.


Kegiatan pelabuhan yang terlihat melalui pintu penginapan pun dapat dikatakan cukup ramai. Lautan manusia berlalu-lalang tanpa henti. Membawa urusan mereka masing-masing. Pedati-pedati kerbau berjalan perlahan mendekati dermaga. Pekerja-pekerja kasar memanggul beban bawaan tuannya.


Begitulah segala-galanya tampak ramai meskipun hari masih cukup dini.


Namun di antara bising suara peradaban, samar-samar Mantingan mendengar suara berbisik yang baru dapat dengan jelas didengarkannya setelah menajamkan pendengaran dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.


___


catatan:

__ADS_1


Terima kasih yang sudah berkunjung ke kedailakon.blogspot.com . Semoga cerita saya di sana bisa menghibur.



__ADS_2