Sang Musafir

Sang Musafir
Sesobek Kain Hitam dari Negeri Atap Langit


__ADS_3

“Sebab yang melarikan diri justru akan mendapat kecurigaan besar. Dan Datuk Sra pastinya mengetahui, bahwa siapa pun yang membunuh kepala desa di bawah naungan Kerajaan Koying, itu sama saja seperti menyatakan perang ke kerajaan. Pemerintahan tidak akan membiarkan perkara ini begitu saja tanpa terselesaikan. Kuduga, esok hari akan ada pendekar-pendekar dari kotaraja yang diutus untuk menyelidiki sekaligus menuntaskan perkara pembunuhan ini. Mereka memiliki jaringan mata-mata yang terbesar di seantero negeri, melebur menjadi satu dengan kehidupan masyarakat. Maka kuduga, dalam waktu satu-dua pekan lagi, pendekar-pendekar yang kabur dari desa ini akan tertangkap.”


Suasana menjadi hening sejenak. Mantingan sempurna membatu di tempatnya. Raut wajahnya datar, tetapi jantungnya berdebar cukup kuat. Menyadari betapa permasalahan ini menjadi semakin rumit.


Chitra Anggini menoleh ke arahnya. Tanpa mengeluarkan suara, tatapan matanya telah melempar sebuah pertanyaan, apa yang mereka bicarakan?


Mantingan hanya sekadar mengangkat bahu sebagai balasan. Ia merasa tidak dapat menjelaskan semuanya pada perempuan itu di tempat ini.


***


“Lantas, apakah yang harus kita lakukan terhadap mereka?”


PARA petua desa saling berpandangan, sebelum beralih menatap Mantingan dan Chitra Anggini yang duduk jauh di depan mereka. Agaknya dalam pandangan mata yang berlangsung teramat singkat itu, mereka telah menemui kesepakatan.


“Kami meminta pengakuan kalian yang sejujur-jujurnya,” ujar salah satu petua desa dengan suara lantang. “Jika kami menjumpai tanda-tanda kebohongan, sekecil apa pun itu, maka kami akan langsung menahan kalian hingga utusan kerajaan tiba. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, sebab cepat atau lambat kalian pasti tertangkap. Jaringan mata-mata kerajaantersebar luas hingga pelosok pulau. Jika kalian melarikan diri, telah pasti hukuman kalian ditambahkan.”


Mantingan menarik napas panjang sebelum melirik Chitra Anggini di sebelahnya. Berkata dalam pandangan mata, apa kausetuju jika aku ungkapkan semua yang kita lihat malam itu?


Chitra Anggini tampak terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Dia mulai bisa dengan lancar membaca perkataan yang terselip di pandangan mata Mantingan, setelah menjalani hubungan yang boleh dikata semakin hari semakin dekat.


Mantingan menarik punggungnya dari sandaran kursi. Ia mulai bersungguh-sungguh.


“Datuk-Datuk sekalian yang terhormat, mesti kami akui bahwa kami berdua memang telah melihat pembantaian tidak beradab yang terjadi di kediaman kepala desa malam itu.”


Barang satu tarikan napas kemudian, terdengar gemuruh suara yang datang dari kerumunan warga desa. Gemuruh yang bernada tak terima, kemarahan, dan kekecewaan. Senjata-senjata yang semulanya disembunyikan, kini mulai disibak dan diangkat kembali. Salah satu petua desa bangkit berdiri dan memberi tanda agar orang-orang itu tenang, tetapi nada-nada penentangan terus berdatangan.


“Bunuh dua iblis itu!”


“Manusia tidak beradab! Bunuh saja!”

__ADS_1


“Dewa-dewa akan tersenyum lebar jika mereka berdua mati di sini! Kita bunuh saja berbarengan!”


“Daku sama sekali tak takut pada dua pendekar tiada kenal adab itu! Biar diriku mati di sini, asal dendam desa kita terbalaskan! Bunuh saja!”


“Bunuh saja!”


“Bunuh saja!”


“Bunuh saja!”


“Bunuh saja!”


Mantingan masih terlihat tenang di tempatnya, seolah saja semua suara itu tidak sampai di telinganya. Namun, berbeda hal dengan Chitra Anggini, wajah jelita perempuan itu berubah menjadi teramat jengah. Bahkan tangannya mulai bergerak membuka ikatan pundi-pundi di pinggangnya, yang barang tentu berisi puluhan lembar dedaunan tipis setajam pedang mestika, tetapi Mantingan telah lebih dahulu menggenggam tangannya sebelum terjadi hal-hal yang teramat sangat tidak diinginkan.


“Izinkan daku berbicara!”


Suara itu menggelegar keras. Menyibak udara. Membuat gendang telinga berdentang. Membungkam kicauan-kicauan burung. Seluruh warga desa yang ada di sekitar balai pun serentak tercekat. Betapakah tidak? Mantingan telah menyalurkan cukup banyak tenaga dalam pada suaranya. Tak hanya itu, dirinya juga menebar cukup banyak hawa pembunuh, membuat orang-orang yang ada di sekitar memandanginya bagai sedang melihat hewan buas yang teramat lapar!


Mantingan menebar pandang ke sekitar sebelum mulai bercerita tentang kejadian dua malam lalu. Meskipun semua yang Mantingan katakan adalah kebenaran, tetapi ia tidak sampai menyinggung pembicaraannya dengan Chitra Anggini tentang perkara penyelamatan Tapa Balian. Karena kejujuran itulah, semua kalimatnya terdengar meyakinkan.


Chitra Anggini di sebelahnya tidak memberi tanggapan. Diam dan mendengarkan. Perempuan itu pun tidak luput dari tekanan hawa pembunuh yang Mantingan keluarkan.


Setelah menyelesaikan penceritaan, barulah Mantingan menarik seluruh hawa pembunuhnya.


Para tetua desa melepas helaan napas yang teramat panjang. Penuh sesal. Sedangkan warga desa yang berkerumun di sekitar balai itu memasang raut wajah yang tidak jauh berbeda.


“Datuk-Datuk yang terhormat, pastinya kalian memahami alasan semacam apa yang membuat kami tidak mengambil tindakan malam itu.” Mantingan memungkas.


Para petua desa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanda bahwa mereka telah mengetahui alasan yang Mantingan maksudkan. Salah satunya bahkan berkata, “Kalian berdua adalah pendekar pengelana. Jarang mau terlibat dengan urusan-urusan yang bersifat mengikat. Lagi pula, kalian telah memiliki tujuan, yakni untuk sampai di kotaraja secepat mungkin untuk menyelesaikan urusan yang tidak kami ketahui. Sebagai pendekar pengembara, kalian juga selalu menghindari permusuhan yang tidak perlu. Maka dapat kami semua pahami bahwa kalian memang tidak seharusnya campur tangan terhadap urusan ini, atau yang dengan kata lain, kalian tidak wajib menolong orang lemah tiada berdaya seperti kepala desa kami ketika menghadapi serangan tidak beradab dari musuh yang pula tidak kenal adab.”

__ADS_1


Mantingan menarik napas panjang. Yang dimaksudkan oleh petua desa itu adalah kesantunan. Seluruh pendekar di telaga persilatan, terutama pendekar aliran putih dan merdeka, selalu memiliki kesantunan untuk menolong orang-orang lemah yang tertindas. Telah jelas bahwa Mantingan dan Chitra Anggini dianggap tidak memiliki kesantunan tersebut.


Namun dalam kepentingan yang teramat sangat penting ini, tiadalah dapat kesantunan menjadi yang utama, sebab kepentingan itu sendiri yang selalu mesti diutamakan di atas segala-galanya. Atas hal ini, Mantingan turut menyesal.


“Akan tetapi kalian berdua tetap harus tinggal di desa ini sampai pendekar utusan pemerintahan datang memeriksa kalian.” Salah satu petua, yang memiliki wajah paling tegas di antara yang lainnya, berkata sambil mengelus dagu. Ditatapnya Mantingan tajam-tajam, tak menghiraukan keberadaan Chitra Anggini di sebelah pemuda itu. Tatapan tajamnya tersebut benar-benar hanya terarah pada Mantingan seorang.


“Tidak perlu menunggu mereka. Jujur saja, kami berdua sedang terburu-buru.” Berkata dengan tenang, Mantingan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung jubahnya. Lalu ia memandang ke arah kerumunan warga desa. “Adakah kiranya seorang pedagang yang telah berpengalaman belasan tahun di antara kalian? Jika ada, mohon keberkenanannya untuk maju dan melihat benda ini.”


Tidak perlu menunggu lama, seorang pria paruh baya yang tampak bersahaja berjalan keluar dari kerumunan. Menapakkan kaki di atas lantai bangsal setelah menghaturkan sembah kepada para tetua. Dia menghampiri Mantingan pula dengan tenang; pemuda itu berdiri untuk menyambutnya.


“Terima kasih sudah berkenan membantu kami, Bapak.” Mantingan tersenyum tipis. “Sekarang, cobalah Bapak ambil kain ini, lalu katakanlah kepada kami tentang apa yang Bapak lihat dari kain ini.”


Mantingan menyerahkan selembar kain hitam. Tampak seperti sepotong robekan, sebab bentuknya tidak bisa dikata rapi. Pria paruh baya itu menerima kain tersebut sambil mengangguk pelan. Dia meraba-rabanya barang sejenak. Menganggukkan kepala sekali lagi.


“Datuk-Datuk yang sahaya junjung setinggi-tingginya, izinkanlah hamba sahaya mengatakan apa yang hamba lihat dari serobekan kain ini.” Si pria paruh baya menghadap ke barisan petua desa sambil berkata lantang tetapi penuh hormat. “Berdasarkan kasar permukaannya, beratnya, warnanya, bahannya, dan bahkan aromanya, dapat hamba sahaya simpulkan bahwa benda ini adalah kain sutra dari Negeri Atap Langit.”


Seketika itu pula, suara desir angin menyibak udara!


___


catatan:


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.


Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]


Favorit 1400\= +3 episode [TERPENUHI]


Vote 950\= +3 episode [TERPENUHI]

__ADS_1


Vote 1000\= 5 episode


Bonus episode untuk 1400 favorit: 1/3


__ADS_2