
PERKEMBANGAN BIDADARI Sungai Utara dalam berlatih seni bela diri juga dapat dikatakan telah meningkat pesat. Kini, dirinya dapat memanfaatkan ilmu meringankan tubuh ke dalam sebuah pertarungan. Bidadari Sungai Utara juga belajar banyak tentang cara menghadapi pengepungan.
Bahkan pada saat ini juga, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara hendak melakukan suatu latihan di kebun bunga Mantingan. Mereka saling terpisah sepuluh langkah kaki jauhnya. Angin berembus pelan, malu-malu ia menggoyangkan lonceng angin. Sedangkan itu, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara masih berpandang-pandangan.
Wiranti bersama Kana dan Kina hanya menyaksikan mereka berdua dari teras rumah. Entah harus mendukung siapa.
Terdengarlah suara helaan napas dari Bidadari Sungai Utara. “Apa yang akan kita lakukan?”
Memang sebenarnyalah Bidadari Sungai Utara tidak mengetahui apa yang harus dirinya perbuat bersama Mantingan. Pemuda di depannya itu tidak mengabarinya sebelum memulai latihan. Mantingan hanya meminta Bidadari Sungai Utara untuk berdiri sepuluh langkah di depannya. Itu saja.
“Kita akan berlatih,” jawab Mantingan singkat. Matanya masih tajam menatap.
“Aku tidak membawa pedang.”
“Kita tidak gunakan pedang.”
“Pertarungan tangan kosong?”
“Juga bukan.”
“Lalu apakah?” Bidadari Sungai Utara bertanya dan menatapi Mantingan penuh selidik.
“Kita akan menangkap seekor lalat.” Mantingan menyunggingkan senyum.
“Lalat? Bukankah serangga itu cukup menjijikkan untuk dipakai ke dalam sebuah latihan?”
“Karena itu aku memilihnya.”
Bidadari Sungai Utara paham, bahwa seorang pendekar tak sepatutnya merasa jijik atau takut dengan lalat. Namun kembali Mantingan berkata, “Dalam pelatihan ini, kita tidak perlu menyentuhnya.”
Bidadari Sungai Utara mengangkat alisnya. “Tidak perlu menyentuhnya?”
“Ya.” Mantingan mengangguk sekali. “Bahkan tidak diperkenankan menyentuhnya.”
__ADS_1
“Apa maksud Saudara?”
“Kita akan menangkap seekor lalat dan memasukkannya ke dalam bumbung. Akan tetapi, kita tidak boleh menyentuhnya. Untuk memastikan tidak ada satupun dari kita yang berniat curang, maka alangkah baiknya kita lumuri tangan menggunakan perekat. Jika salah satu dari kita sampai menyentuh lalat, maka sudah barang tentu lalat itu akan menempel di tangan kita.”
"Bagaimana cara memasukkannya?"
Mantingan tersenyum lebar. "Itulah yang akan dipikirkan kita masing-masing."
“Daku setuju dengan perkataanmu itu, Saudara. Akan tetapi, rasa-rasanya latihan ini akan memakan panjang.” Bidadari Sungai Utara memberikan pendapatnya.
“Itu jika tidak satupun dari kita berhasil menangkap lalat.”
“Sudah pasti Saudara akan menang,” kata Bidadari Sungai Utara. Tersenyum kaku. Kehilangan harapan di helaan napas pertama.
“Belum tentu itu terjadi.” Mantingan tersenyum hangat. “Tidakkah engkau mengingat bahwa aku tidak bisa mengeluarkan banyak tenaga dalam?”
Tepat setelah Mantingan berkata seperti itu, wajah Bidadari Sungai Utara menunjukkan sinar cermelang. Gadis itu turut tersenyum, yang akan dilihat orang lain sebagai senyuman kejam.
Mantingan mengambil dua bumbung di dalam pundi-pundinya, melemparkan salah satu bumbung kepada Bidadari Sungai Utara. Dengan sigap, gadis itu menangkap.
Bidadari Sungai Utara mengangguk perlahan. Sesaat kemudian, mereka menuangkan dan meratakan cairan perekat itu ke tangannya masing-masing.
Dan kini mata Bidadari Sungai Utara menatap mata Mantingan dengan sangat-sangat tajam. Bagaikan harimau buas yang menatap mangsanya. Entah apa maksud dari tatapannya itu.
Bertanyalah Mantingan, “Mengapa engkau menatapku seperti itu?”
Bidadari Sungai Utara lalu menjawab tanpa melepas tatapannya, “Berdasarkan kitab yang kubaca, menatap lawan dengan tajam akan menghancurkan pemusatan olah pikir dan kepercayaan dirinya.
Mantingan mengangguk pelan sebelum menatap Bidadari Sungai Utara lebih tajam lagi. Bagai menancapkan sebilah pisau terbang tepat ke dahi Bidadari Sungai Utara. Gadis itu tak bertahan lama. Nyatanya, ia salah tingkah. Meminta Mantingan untuk tidak menatapnya lagi.
“Dalam latihan ini, apakah boleh menggunakan tenaga dalam?”
“Ya.” Mantingan mengangguk.
__ADS_1
“Meskipun begitu, engkau tidak boleh menggunakan terlalu banyak tenaga dalam.”
“Pada latihan ini, diriku tidak akan menggunakan tenaga dalam.”
“Lalu bagaimana denganku?” Bidadari Sungai Utara menunjuk dirinya sendiri.
“Tidak mengapa kalau Saudari ingin pakai tenaga dalam.”
“Baiklah.” Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan sebelum mempersiapkan kuda-kudanya. “Daku pikir, dirimu jauh lebih berbakat daripada diriku. Maka dari itu, daku tidak akan segan mengeluarkan segenap kemampuan.”
Mantingan menarik salah satu kakinya ke belakang, turut mempersiapkan kuda-kuda. “Ya, itu bagus. Lakukan saja sesukamu.”
“Kapankah kita bisa mulainya?”
“Mungkin ... SEKARANG!”
Bidadari Sungai Utara melesat cepat. Tubuhnya tidak lagi terlihat. Menjadi kelebatan bayang-bayang. Sedangkan Mantingan tidak menggunakan tenaga dalam barang sedikitpun. Sudah tentu dirinya tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Bidadari Sungai Utara. Dirinya hanya bisa berlari sekuat tenaga, meskipun itu tidak akan menyamai kecepatan Bidadari Sungai Utara.
Akan tetapi Mantingan tetap terdiam di tempat. Dari wajahnya yang tampak tenang, pemuda itu tidak memiliki minat untuk menyusul Bidadari Sungai Utara. Dengan tenang pula, Mantingan memandangi kebun-kebun di sekitarnya. Lalu berjalanlah ia dengan tenang pula. Menyenandungkan nada-nada tak beratur.
Mantingan berjalan melewati pematang di antara gundukan-gundukan tanah. Masih saja dapat bersenandung riang. Sesekali Bidadari Sungai Utara melintas di dekatnya, tak kasatmata. Hanya kibasan angin sebagai pertanda bahwa dirinya telah lewat.
Baik Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara sedang mencari lalat untuk ditangkap. Namun mereka melakukannya dengan cara yang jelas berbeda. Jika Mantingan memilih untuk bergerak lambat serta tenang, maka Bidadari Sungai Utara memilih untuk bergerak lebih cepat lagi.
Kebun Mantingan adalah kebun yang bersih. Bahkan pupuk kandang pun telah diberikan sebuah ramuan khusus dari Wiranti agar tidak menimbulkan bau. Jelas saja, sangat sulit bagi mereka untuk menemukan lalat barang seekor saja.
Hingga tampaklah Mantingan menyunggingkan senyum lebar. Dirinya berjalan lebih cepat setelah menemukan seekor lalat tak jauh dari tempatnya. Namun, Mantingan sudah tahu pekerjaannya ini tidak akan berlangsung dengan mudah.
Bidadari Sungai Utara tiba-tiba saja datang. Berniat mendapatkan seekor lalat itu lebih dahulu. Padahal, Mantingan hanya perlu selangkah lagi untuk sampai di tempat lalat tersebut.
Mantingan tentu tidak membiarkan Bidadari Sungai Utara mendapatkannya lebih dulu. Melompat jauh ke depan. Tak ayal bertabrakan dengan tubuh Bidadari Sungai Utara. Setelah tabrakan yang sedemikian keras itu, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara terguling-guling di atas tanah. Berdebam keras.
Adalah hal yang sangat mudah bagi Bidadari Sungai Utara untuk menghentikan laju tubuh. Memanfaatkan tenaga dalam. Tepat saat itu, dirinya berteriak, “Saudara, apa yang kaulakukan?!”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara bergerak cepat menghampiri Mantingan yang masih terkapar di atas tanah. Wiranti, Kana, dan Kina turut bereaksi. Bagi seorang pendekar seperti Bidadari Sungai Utara, tubrukan tadi tidak berarti apa-apa. Namun bagi Mantingan yang tidak menggunakan tenaga dalam, tubrukan tadi dapat berarti banyak.