Sang Musafir

Sang Musafir
Melanjutkan Perjalanan Melintasi Agrabinta


__ADS_3

MANTINGAN tidak banyak mengucapkan kalimat perpisahan. Dirinya akhirnya dilepas oleh penduduk kota, diiringi nyanyian yang telah mereka buat khusus untuk Mantingan.


Di luar tembok kota adalah ribuan penduduk kota yang datang untuk melihatnya pergi. Hampir semua dari mereka membawa lentera merah atau paling tidak obor buluh, menyulap malam yang gelap menjadi indah dipandang. Laksana kunang-kunang yang terdiam tatkala sang musafir melangkah pergi. Bahkan angin seperti sungkan berembus memadamkan cahaya-cahaya itu. Awan bergeser menuju tempat yang lain sehingga indah rembulan bisa mengiringi langkah Mantingan malam itu.


Hebat. Lahan pertempuran kini diisi oleh ribuan penduduk yang diselimuti oleh kedamaian dan ketenangan hidup. Lahan tempur yang merasakan sentuhan kaki Mantingan untuk yang terakhir kali. Bersama jiwa 13 prajurit yang melayang di sana. Mereka menghaturkan hormat setinggi-tingginya.


Tidak sedikit gadis-gadis perempuan yang menangis haru setelah melihat rupa Mantingan. Sungguh saat pertempuran sedang berlangsung, mereka hanya bisa mendengar cerita tentang Mantingan dan membayang-bayangkan rupanya saja. Kini mereka merasa telah lega setelah melihat pahlawan kota itu. Lega yang dilampiaskan pada tangis haru. Dan sungguh rupa Mantingan tidak mengecewakan.


Benar-benar Mantingan. Jika dirinya pergi, selalu saja ditangisi wanita. Kepergiannya dari sana tanpa menyisakan apa pun selain Lontar-Lontar Sihir yang sudah tidak dapat bekerja lagi. Hanya itu buah karyanya sekaligus kenang-kenangan untuk kota.


***


Perjalanan Mantingan melintasi Agrabinta kembali berlanjut. Dua hari sudah ia berjalan tanpa henti, kecuali untuk makan, minum, dan mandi. Mantingan seolah-olah tidak membutuhkan tidur, padahal ia sebenarnya tidur sambil berjalan.


Sungguhan. Mantingan dapat tidur sambil berjalan. Ia menirukan cara kerja ikan yang tidur. Ikan dapat tertidur sedangkan siripnya terus bergerak, bahkan ikan tidur dengan mata terbuka.


Entah dari mana pemikiran itu datang, tiba-tiba saja sudah menjadi sebuah ilmu tidur. Mungkin leluhur Mantingan mewarisi ilmu ini padanya, sehingga Mantingan hanya perlu berpikir sekilas sebelum sebuah ilmu hinggap di kepalanya.


Meskipun ilmu ini adalah ilmu warisan, Mantingan tidak tahu nama dari ilmu itu. Maka untuk tidak memusingkan di masa mendatang, Mantingan menamai ilmu itu sebagai Ilmu Ikan Tidur. Nama ilmu yang cukup sederhana sesuai dengan dasarannya.


Ilmu Ikan Tidur tetap memiliki kekurangan, yaitu tidak bisa tertidur pulas. Orang yang menggunakan ilmu itu hanya bisa setengah tidur, karena otak dan badannya masih perlu bekerja. Tetapi itu tidak jadi masalah besar karena Mantingan menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Ilmu Ikan Tidur, itu setimpal dengan tidur satu malam setiap harinya.

__ADS_1


Dalam dua hari perjalanan yang tanpa henti itu akhirnya membuahkan hasil setelah Mantingan melihat penanda batas wilayah dan beberapa buah arca. Itu berarti ia berhasil melintasi wilayah Agrabinta, kini ia berada di Kelapa Larang.


Jika melihat peta, maka di sebelah utara Kelapa Larang adalah Sundapura; Kotaraja; Sunda.


Andai saja tidak sedang terjadi kekacauan, Mantingan ingin sekali berkunjung dan melihat kemegahan di Kota Sunda. Orang berkata, di Sundapura tidak diisi orang Javadvipa saja, banyak pendatang dari negeri-negeri seberang yang ada keperluan dagang di sana, bahkan banyak pula yang datang untuk membangun kerjasama dengan Tarumanagara.


Tetapi untuk saat ini, Mantingan hanya bisa menghela napas panjang saja dan berharap situasi kembali membaik secepatnya.


Setelah menemukan kedai yang buka di pinggir jalan dekat perbatasan wilayah, wajah Mantingan bersinar cerah. Seolah telah menemukan air di tengah gurun gersang. Mantingan bersikap seperti itu bukan tanpa alasan, sejak tadi malam ia merasa tidak enak badan dan butuh istirahat penuh. Maka menemukan kedai sama saja menemukan air di tengah gurun gersang.


Tanpa banyak pertimbangan lagi Mantingan segera masuk ke dalam kedai besar bertingkat dua itu. Sama dengan kedai besar di Agrabinta yang pernah Mantingan kunjungi, kedai yang satu ini juga memiliki penjagaan ketat. Tidak tanggung-tanggung, penjaga-penjaga yang disewa merupakan sosok-sosok pendekar.


Seperti yang Mantingan lihat saat ini, Kelompok Purnama Merah mendirikan rumah makan. Mereka juga mendirikan asosiasi dagang, pelayaran, bahkan sampai pembuatan pusaka.


Namun, ada satu yang mereka enggan mendirikan usaha di sana, yaitu usaha pendekar bayaran. Mereka menganggap anggota kelompoknya seperti saudaranya sendiri, sudah tentu tidak dapat dibeli atau disewakan.


Kalau begitu, pendekar-pendekar yang menjaga kedai bukanlah pendekar bayaran, mereka adalah pendekar dari Kelompok Purnama Merah itu sendiri. Pantas saja kedai ini masih berdiri, kekuatan besar berdiri di belakang mereka.


Mantingan masuk ke dalam kedai. Di lantai pertama sudah cukup banyak pelancong-pelancong yang singgah makan atau murid-murid sebuah perguruan yang sedang menjalankan tugas. Hampir tidak ada meja yang kosong kecuali meja yang berada di tengah-tengah ruangan. Mantingan akan merasa canggung jika ia makan di sana, maka ia melangkahkan kaki menuju lantai dua.


Tetapi di ujung tangga menuju lantai dua, seorang pendekar muda menahan dan memberitahu Mantingan tentang aturan di lantai kedua.

__ADS_1


“Saudara sependekaran, lantai kedua ini harus membayar sepuluh keping emas untuk mendapatkan satu meja. Di sini merupakan ruangan paling tenang untuk tamu yang mau membayar.”


Mantingan tanpa banyak bicara dan tanpa keberatan merogoh pundi-pundinya dan mengeluarkan sepuluh keping emas. Mantingan merasa kesehatan dirinya lebih penting ketimbang sepuluh keping emas.


“Silakan, Saudara.” Pendekar itu mundur beberapa langkah dan mempersilakan Mantingan.


Setelah sampai di lantai dua, Mantingan dapat melihat penataan meja-meja yang berjauhan, jadi para tamu bisa berbicara atau makan dengan tenang.


Lantai dua diisi oleh lima orang pemuda di meja paling ujung, dan enam pemudi di dekat jendela besar. Mereka tidak tampak saling berhubungan dan berbicara pelan-pelan.


Mantingan memilih meja di pojok ruangan yang cukup jauh dari mereka semua. Seorang pelayan datang dari lantai bawah ke arahnya, sepertinya telah dipanggil untuk melayani pesanan Mantingan.


“Tuan yang terhormat ingin makan apa hari ini? Kami menyediakan hampir seluruh makanan di bumi Jawa.”


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.” Mantingan melambaikan lengannya pelan. “Aku ingin seporsi makanan yang sehat, apa pun itu, datangkan yang benar-benar sehat. Aku juga ingin bertanya, apakah ada penginapan di sekitar sini?”


Perempuan pelayan itu agak sedikit canggung saat ia berkata, “Saya mengerti dan saya akan bawakan pesanan dikau secepatnya. Untuk penginapan, kami juga memiliki beberapa kamar di lantai ketiga, apakah dikau ingin memesannya satu?”


Mantingan mengernyitkan dahinya heran. “Jadi kedai ini memiliki tiga lantai?”


“Ya, memang kelihatannya hanya dua lantai jika dilihat dari luar. Lantai teratas kami menyatu dengan atap, itu merupakan penginapan untuk tamu-tamu yang mau menginap.”

__ADS_1


__ADS_2