Sang Musafir

Sang Musafir
Daun yang Tidak Tajam


__ADS_3

CHITRA Anggini tergelak keras.


“HAHAHAHA! Kalian hendak mengambil hatinya dengan cara seperti itu? Jangan mimpi! Seribu pembunuh bayaran yang kalian kirim akan binasa di tangannya semudah mengedipkan mata!”


Tawanya baru berhenti ketika perempuan itu kembali menegak tuak dalam di kendi yang tersisa. Para lelaki penyoren pedang itu saling berpandangan dengan wajah bersemu merah. Jelas saja bahwa ucapan Chitra Anggini telah menyinggung harga diri mereka sebagai pendekar-pendekar yang selalu mesti berhasrat menjadi yang terkuat.


“Wahai, Puan! Kami memang bisa mengirim pembunuh bayaran, tetapi itu bukan berarti kami tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan orang yang dikau maksud itu, kami hanya malas mengotori tangan untuk urusan remeh-temeh!”


“Urusan remeh-temeh?” Chitra Anggini membalas dengan sinis setelah bersendawa panjang. “Kalian semualah yang baginya hanya urusan remeh-temeh. Jika kalian mencoba melawan dia, maka dia akan menghabisi kalian bagai hanya menginjak semut kecil yang tiada berdaya. Bukankah itu remeh temeh, heh?Dasar pendekar-pendekar dungu yang tidak bisa melihat langit!”


“Apa katamu?!” Salah seorang dari mereka mencabut pedangnya. Yang lain mengikuti. Nafsu birahi mereka telah tergantikan oleh nafsu amarah. Menatap Chitra Anggini dengan teramat benci.


Kedai tuak itu hening seketika.


Chitra Anggini tampak tidak takut sama sekali. Setelah meletakkan kendi tuak di atas meja, tangannya merogoh salah satu pundi-pundi di pinggangnya. Dia mengeluarkan sesuatu, yang nyata-nyatanya adalah selembar daun hijau.


“Kalian lihat ini apa?”


Ditanya seperti itu, para penyoren pedang kembali saling berpandangan. Mereka jelas tahu jawaban atas pertanyaan Chitra Anggini: itu adalah selembar daun. Namun, tidak satupun dari mereka yang mengerti selembar daun itu memaksudkan apa.


“Dungu!” umpat Chitra Anggini setelah pertanyaan itu tidak menuai jawaban. “Ini adalah selembar daun! Ya, hanya selembar daun! Tetapi dengan ini, daku dapat membunuh kalian semua bahkan dengan mata tertutup.”


Salah satu dari penyoren pedang itu menjadi berang teramat, jauh lebih berang ketimbang kawan-kawannya. Sama sekali tidak percaya jika kesaktiannya dapat tertandingi oleh selembar daun tiada berarti. Maka dengan nyalang, pendekar penyoren pedang itu berkata, “Nah, biar kami tidak menganggap mulut busukmu itu hanya mengeluarkan kata-kata kosong, buktikanlah segera segala ucapanmu!”


Chitra Anggini menyimpulkan senyum sebelum bergerak cepat melempar selembar daun yang terapit di antara dua jari tangannya. Begitu terlepas, daun itu melesat dengan cepat dan tepat ke arah dahi penyoren pedang yang menantangnya tadi.


Tentu saja betapa pun serangan Chitra Anggini tampak amat remeh-temeh, penyoren pedang itu telah terlatih untuk menghadapi segala macam jenis penyerangan. Serangan yang sekecil-kecilnya maupun serangan yang sebesar-besarnya, selalu mesti dihadapi olehnya. Bukankah dunia persilatan senantiasa penuh dengan siasat-siasat tipu daya yang membuat setiap pendekar di dalamnya selalu mesti berwaspada terhadap segala jenis penyerangan?

__ADS_1


Penyoren pedang itu bergerak secepat mungkin untuk menangkis sekaligus menghindar. Mengempaskan tubuhnya ke belakang sembari memutar pedangnya laksana sebuah baling-baling ke hadapan. Namun alangkah sayangnya, daun kiriman Chitra Anggini melesat jauh lebih cepat daripada seluruh gerakan penyoren pedang itu.


Tak terbantahkan lagi, selembar daun hijau segar itu menghantam kening si penyoren pedang!


Chitra Anggini tersenyum teramat puas. Dia berpikir bahwa serangan itu akan langsung membunuh si penyoren pedang yang berani menantangnya, tetapi nyatanya anggapan itu benar-benar salah telak!


Selembar daun yang dikirimkannya itu memanglah sampai membentur jidat si penyoren pedang, tetapi tidak lantas sampai membunuhnya. Bahkan tidak pula menyebabkan luka sekecil apa pun. Justru daun itulah yang terpesuk hingga bentuknya bukan lagi menyerupai selembar daun segar.


Penyoren pedang itu kembali menapakkan kedua kakinya ke lantai kedai. Berhenti berkelebat. Wajahnya tampak merah padam bagaikan kepiting rebus. Napasnya menderu-deru.


“Apakah dikau berusaha membodohiku?!”


Chitra Anggini mengerutkan kening. Dirinya masih tidak mengerti mengapa selembar daun yang dilesatkannya barusan bagai tidak memiliki ketajaman sama sekali. Bukankah seharusnya seluruh dedaunan yang ada di dalam pundi-pundinya itu memiliki ketajaman yang telah melebihi ketajaman pedang?


Hinggalah tiba Chitra Anggini melebarkan matanya sebab telah menyadari duduk kesalahannya. Dirinya lekas berdiri dari bangku meski sulit baginya untuk menjaga keseimbangan di tengah kemabukan. Lantas dia membungkukkan tubuh sambil menjura.


“Mudah sekali dikau meminta maaf! Makanlah pedang ini!”


Seorang dari mereka mengayunkan pedangnya. Chitra Anggini bersiap memapas pisau bertali di balik pakaiannya, yang sama saja mengawali pertarungan terbuka. Namun, sebelum hal itu sampai terjadi, penyoren pedang lain memberi tanda kepada kawannya untuk tenang. Chitra Anggini pun urung mengeluarkan senjatanya.


Suasana hening sesaat.


“Betapa pun, kawanku memang benar,” kata penyoren pedang itu dengan suara pelan sambil tersenyum tipis.


Chitra Anggini melihat secercah harapan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara damai. Namun perkataan selanjutnya dari penyoren pedang itu membuat harapannya kandas seketika.


“Kami tidak mudah menerima maaf begitu saja. Puan, dikau harus membayar ampunan maaf kami dengan harga yang pantas. Dan tiadalah saat ini kami membutuhkan uang, sebab pundi-pundi kami telah terisi penuh oleh kepingan emas; yang kami butuhkan hanyalah kesediaan Puan untuk menemani kami melewati malam nanti yang akan menjadi teramat dingin. Kami yakin, Puan pun sebenarnya menginginkan hal itu.”

__ADS_1


Chitra Anggini tersenyum tipis untuk membalas senyuman penyoren pedang itu yang pula sama tipisnya. Lantas kemudian dia berkata, “Kotaraja memang selalu menghadirkan malam yang teramat dingin, tetapi sepertinya kalian tidak membutuhkan diriku sebagai penghangat tubuh. Bukankah kalian berlima sudah lebih dari cukup untuk membuat kehangatan tiada tara dengan berangkul-rangkulan sambil bergesek-gesekan di atas ranjang?”


Senyum tipis di bibir penyoren pedang itu luntur seketika. Ucapan Chitra Anggini jelas-jelas mengandung penghinaan yang menohok.


“Lagi pula, daku masih memiliki satu senjata lagi untuk menghadapi kalian.” Chitra Anggini tersenyum lebar ketika tangannya mengambil selembar lontar dari dalam pundi-pundi penyimpanannya. “Kalian lihat ini apa?”


“Jangan coba bermain sihir dengan kami, wanita ******!”


Kelima penyoren pedang itu akhirnya menodongkan pedangnya masing-masing ke arah Chitra Anggini. Sontak saja membuat sebagian besar pengunjung kedai yang merasa tidak memiliki kemampuan melindungi diri sendiri jika sampai terlibat dengan masalah ini sesegera mungkin angkat kaki dari kedai itu, tetapi masih ada pula beberapa pendekar lain yang tidak bergerak barang sedikitpun dari kursi makannya. Mereka yang memilih untuk menetap telah pasti memiliki keahlian yang bukan sembarang, kelima penyoren pedang itu tidak akan bernyali melibatkan mereka dalam masalah.


“Ketahuilah, wahai perempuan yang sok menjual mahal dirinya, kami juga menguasai ilmu sihir!” teriak salah satu penyoren pedang dengan lantang. “Kami sama sama sekali tidak takut kepadamu.”


“Siapakah yang peduli?” Chitra Anggini berkata sinis sebelum mematahkan lembar lontar di tangannya itu menjadi dua bagian. “Kalian hebat atau lemah, itu tidak menjadi urusanku. Toh dus, yang akan melawan kalian semua bukanlah diriku.”


Chitra Anggini tertawa geli. Mulanya memang perlahan, tetapi lamat-lamat menjadi keras juga. Tawa yang terdengar jahat sekali.


Kelima penyoren pedang itu saling berpandangan. Tidak mengerti maksud perkataan Chitra Anggini, tetapi tetap merasa terhina dengan perkataan itu. Bukanlah pendekar baik-baik jika tidak merasa terhina dengan perkataan yang tidak mereka mengerti. Segeralah ancang-ancang menyerang dipersiapkan!


___


catatan:


Terima kasih sudah setia menunggu! Saya sangat menghargai itu.


Bicara-bicara, Indonesia kalah saat versus dengan Vietnam. Saya tidak heran. Bukankah Rara, Dara, dan Chitra Anggini dikalahkan oleh Bidadari Sungai Utara untuk urusan mendapatkan hati Mantingan?


__ADS_1


__ADS_2